📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.
⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.
🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.
⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.
🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.
🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Bab 4 ] » Bayang-Bayang di Balik Palu Karat
Malam sebelum Ritual Kebangkitan Roh di Desa Holy Spirit terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin pegunungan berhembus melalui celah-celah dinding kayu rumah keluarga Tang yang sudah reyot, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran batu bara dari tungku pandai besi.
Di sudut ruangan yang gelap, Tang Hao duduk di atas bangku kayu tua. Di depannya, sebotol arak murah sudah kosong setengahnya. Matanya yang tampak cekung dan lelah menatap ke arah dua dipan kecil di sudut ruangan lainnya, di mana kedua putra angkatnya sedang terlelap.
Tang San tidur dengan posisi sempurna punggung lurus, napas yang teratur, dan tangan yang seolah-olah siap bergerak kapan saja. Sementara di sebelahnya, Tang Siyun tidur dengan kaki menjuntai keluar dari dipan, satu bantal entah bagaimana berakhir di lantai, dan mulut yang sedikit terbuka.
Hao mendengus kecil. Seulas senyum yang jarang terlihat muncul di wajahnya yang kasar.
Dua bocah yang sangat berbeda, batinnya.
Hao teringat enam tahun lalu, saat ia menemukan Siyun yang terbungkus kain lusuh di pinggiran hutan, tidak jauh dari tempat ia menyembunyikan diri. Awalnya, ia hanya ingin memastikan bayi itu bertahan hidup, namun melihat ketenangan di mata Siyun bayi ketenangan yang tidak wajar bagi seorang anak yang ditinggalkan Hao merasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka. Sejak saat itu, Siyun tumbuh menjadi kakak bagi Tang San, meskipun dalam hal kedisiplinan, perannya seolah tertukar.
Hao meneguk sisa araknya, merasakan sensasi terbakar di tenggorokannya. Ia tahu Tang San adalah anak yang berbakat. Ia melihat putranya itu berlatih teknik misterius setiap fajar di puncak bukit. Namun, yang selalu mengusik rasa ingin tahu seorang mantan Douluo sepertinya adalah Siyun.
Bagi penduduk desa, Siyun adalah bocah pemalas yang hanya tahu cara membuang waktu. Namun, mata Tang Hao yang sudah melihat ribuan pertempuran tidak bisa dibohongi.
Seringkali, saat Hao berpura-pura mabuk berat dan tidak sadarkan diri, ia mengamati Siyun. Ia melihat bagaimana Siyun menatap tangannya sendiri dengan ekspresi yang sangat dewasa, seolah-olah ia sedang mencoba memecahkan kode rahasia alam semesta. Ada saat-saat di mana Siyun bergerak untuk menghindari sesuatu sebelum hal itu terjadi seperti saat sebuah bara api meloncat dari tungku, Siyun sudah menggeser posisinya beberapa detik sebelumnya tanpa menoleh.
"Kau menyembunyikan sesuatu, Nak," gumam Hao pelan.
Ia bangkit berdiri, langkahnya yang biasanya berat kini tidak bersuara sama sekali saat ia mendekati dipan Siyun. Ia meletakkan tangan besarnya yang kapalan di atas kepala Siyun. Secara mengejutkan, Siyun tidak terbangun, namun detak jantung bocah itu melambat secara drastis selama beberapa detik, seolah-olah tubuhnya secara otomatis masuk ke dalam mode hibernasi untuk menyembunyikan kehadirannya.
Hao menarik tangannya kembali. Ia merasakan fluktuasi energi yang sangat halus dari dalam tubuh Siyun. Bukan energi Spirit Power biasa, melainkan sesuatu yang terasa... berdetak. Seperti jam mekanis yang sangat presisi.
Hao berjalan menuju jendela, menatap bulan sabit yang menggantung di langit. Besok adalah hari di mana utusan dari Spirit Hall akan datang. Nama "Spirit Hall" selalu memicu rasa pahit di hatinya, membangkitkan kenangan tentang kehilangan, darah, dan pengkhianatan yang membuatnya berakhir menjadi seorang pandai besi miskin di desa terpencil ini.
Ia dilematis. Di satu sisi, ia ingin kedua anaknya tetap menjadi orang biasa, hidup tenang di desa ini tanpa harus bersentuhan dengan dunia Spirit Master yang penuh dengan intrik dan kekerasan. Ia ingin Tang San tetap menjadi pandai besi dan Siyun tetap menjadi pemalas yang berbahagia.
Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Tang San adalah darah dari klan Clear Sky. Dan Siyun... anak itu memiliki aura yang terlalu unik untuk terkubur di dalam debu desa ini selamanya.
"Jika mereka memiliki bakat, apakah aku punya hak untuk menguburnya?" Hao bertanya pada kegelapan.
Ia teringat kejadian beberapa minggu lalu, yang tidak tercatat dalam sejarah desa. Seekor serigala hutan yang kelaparan masuk ke pinggiran desa saat Siyun sedang tidur di bawah pohon. Hao saat itu mengawasi dari kejauhan, siap untuk meluncurkan serangan jika diperlukan. Namun, ia melihat sesuatu yang mustahil.
Saat serigala itu melompat, gerakan serigala itu tiba-tiba terlihat kaku di udara, seolah-olah ia melompat menembus air yang sangat kental. Siyun, tanpa membuka matanya, hanya berguling ke samping dengan gerakan yang sangat lambat namun tepat sasaran. Saat serigala itu mendarat di tanah yang kosong, Siyun sudah berada tiga meter di belakangnya, masih tampak tertidur lelap.
Hao tahu itu bukan kebetulan. Itu adalah manifestasi kekuatan yang bahkan di dunia Spirit Master sekalipun sangat langka: manipulasi waktu.
Fajar mulai menyingsing. Cahaya ungu mulai muncul di cakrawala, pertanda Tang San akan segera bangun untuk latihannya.
Hao kembali ke tempat duduknya, mengambil palu godam besarnya dan mulai memukulkannya ke besi panas dengan ritme yang monoton.
Ting! Ting! Ting!
Suara itu adalah alarm bagi kedua anaknya. Ia melihat Tang San bangun seketika, memberikan penghormatan singkat padanya, dan langsung berlari menuju bukit. Tak lama kemudian, Siyun bangkit dengan malas, mengucek matanya, dan menatap ayahnya dengan pandangan mengantuk yang terlihat sangat polos.
"Ayah, kau terlalu berisik sepagi ini," keluh Siyun sambil menguap lebar.
Hao tidak menoleh. "Seorang pandai besi yang tidak berisik adalah pandai besi yang mati, Siyun. Pergilah menyusul adikmu. Jangan sampai kau pingsan di jalan hanya karena malas bernapas."
Siyun terkekeh, mengambil topi jeraminya, dan melangkah keluar dengan santai.
Hao berhenti memukul besi sejenak. Ia melihat punggung kedua bocah itu yang berjalan menjauh. Tang San dengan langkah mantapnya, dan Siyun yang sesekali berhenti untuk menendang batu kecil atau melihat burung.
"Dunia akan mencoba menghancurkan kalian," bisik Hao pada api tungku yang berkobar. "Spirit Hall akan melihat bakat kalian sebagai ancaman atau alat. San-er memiliki kemarahan yang tenang, tapi kau, Siyun... kau memiliki ketidakpedulian yang mematikan. Aku bertanya-tanya, siapa di antara kalian yang akan menjadi pelindung bagi yang lain?"
Ia tahu bahwa mulai hari ini, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi. Ritual itu bukan hanya sekadar membangkitkan Roh, tapi membangkitkan takdir yang telah ia coba sembunyikan selama enam tahun terakhir.
Hao kembali mengangkat palunya. Kali ini, setiap pukulannya membawa kekuatan yang lebih besar, seolah-olah ia sedang menempa bukan hanya besi, melainkan masa depan yang penuh badai bagi kedua putranya.
"Jadilah kuat, Siyun. Jadilah malas sesukamu, tapi pastikan saat jam itu berdentang, kau adalah orang yang memegang kendalinya."
Hao meletakkan palunya saat ia melihat sosok Su Yun Tao utusan Spirit Hall memasuki gerbang desa. Pria muda itu berjalan dengan kesombongan seorang Spirit Master pangkat rendah, tidak menyadari bahwa di desa ini tinggal seorang pria yang bisa menghancurkan seluruh Spirit Hall jika ia mau.
Hao masuk ke dalam rumah, menenggak sisa araknya, dan membaringkan diri di kursi malas. Ia akan berpura-pura menjadi ayah yang acuh tak acuh. Ia akan membiarkan dunia menilai anak-anaknya sebagai pemilik "Roh Sampah".
Karena ia tahu, berlian yang paling berharga seringkali disembunyikan di bawah lapisan debu yang paling tebal. Dan di benua Douluo ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seorang pria yang tahu persis berapa banyak waktu yang tersisa sebelum lawannya hancur.
Saat teriakan anak-anak mulai terdengar dari balai desa, Hao memejamkan matanya, mendengarkan suara detik jam yang entah mengapa kini bisa ia dengar dengan sangat jelas di dalam kepalanya detak jantung Siyun yang mulai selaras dengan aliran waktu dunia.
"Pertunjukan dimulai," gumam sang Douluo yang terlupakan.