Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Kematian
Dentuman peluru memecah keheningan malam yang semula sunyi. Suaranya menggema keras, menembus dinding rumah besar berlapis kayu dan baja itu, seakan merobek ketenangan yang selama ini dijaga ketat. Haikal Sopin tersentak hebat. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat, dan jantungnya berdetak kencang hingga terasa menghantam dadanya sendiri.
Dalam sepersekian detik, kepanikan menyergap seluruh benaknya. Tak ada banyak hal yang ia pikirkan malam itu. Hanya satu nama yang langsung muncul, mengalahkan rasa takut, mengalahkan logika, bahkan mengalahkan naluri bertahannya sendiri.
Bella.
Tanpa membuang waktu, Haikal berlari masuk ke dalam rumah megah itu. Pintu besar yang biasanya tertutup rapat kini terbuka lebar. Lantai keramik putih yang berkilau memantulkan cahaya lampu, sementara chandelier kristal yang menggantung anggun di langit-langit tetap bersinar seolah tak menyadari kekacauan yang sedang terjadi. Pegangan tangga berlapis emas murni memantulkan kilau keemasan yang dingin. Namun bagi Haikal, semua kemewahan itu kini tak berarti apa-apa.
Langkahnya cepat dan berat. Napasnya tersengal saat ia menaiki tangga, membuka satu per satu pintu kamar dengan kasar. Rasa cemas menekan dadanya semakin kuat setiap detik berlalu, seperti ada tangan tak terlihat yang mencekik jantungnya.
“Bella… Bella…” panggilnya dengan suara bergetar, hampir tak terdengar. “Bella, kamu di mana?”
Suara langkahnya terhenti ketika sebuah suara kecil menjawab dari arah lain.
“Ayah?”
Haikal membeku sejenak. Ia menoleh cepat ke arah suara itu.
Bella Shofie berdiri di ambang pintu sebuah kamar. Wajahnya pucat, matanya yang bulat dan jernih dipenuhi kebingungan dan ketakutan. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru terbangun dari tidur. Di tangannya, sebuah box classical ballerina ia peluk erat ke dada, seperti benda itu adalah benda yang sangat penting bagi dirinya.
“Ayah, kenapa?” tanyanya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Haikal tidak menjawab. Ia langsung melangkah cepat, meraih tangan putrinya, lalu menggenggamnya sekuat tenaga. Genggaman itu penuh ketegasan, namun juga ketakutan yang disembunyikan.
Dentuman peluru kembali terdengar, kali ini lebih dekat, lebih jelas, dan jauh lebih mengancam.
“Ayah!” seru Bella terkejut.
Tanpa penjelasan, Haikal menarik Bella dan berlari menuju lantai atas. Langkah mereka terburu-buru, suara sepatu menghantam lantai berpadu dengan gema tembakan yang terus mendekat. Di tengah kepanikan itu, box kesayangan Bella terlepas dari genggamannya. Benda itu jatuh ke lantai, membentur keras, lalu berguling perlahan hingga berhenti di dekat tangga.
Bella menghentikan langkahnya.
“Tunggu, Ayah!” serunya.
Ia melepaskan tangan Haikal dan berbalik.
“Bella, jangan!” teriak Haikal panik.
Namun gadis kecil itu sudah berlari mengambil box tersebut. Saat itulah suara tembakan kembali menggema, bertubi-tubi.
“Dar! Dar! Dar!”
Beberapa orang berpakaian hitam muncul dari arah tangga. Wajah mereka tertutup helm, tubuh mereka dilindungi rompi tebal. Senjata api di tangan mereka terangkat tanpa ragu, moncongnya langsung membidik ke arah Haikal dan Bella.
Haikal berlari menghampiri putrinya, menariknya ke dalam pelukan singkat sebelum kembali menggenggam tangannya dengan kuat.
“Ayah di sini. Jangan lepas,” ucapnya tegas, meski suaranya bergetar menahan emosi.
Mereka berhasil mencapai lantai dua. Haikal segera masuk ke sebuah kamar, membuka laci tersembunyi, lalu mengambil senjata. Tangannya gemetar saat menggenggamnya, bukan karena takut mati, melainkan karena rasa takut yang jauh lebih besar: takut kehilangan Bella.
“Kamu di belakang Ayah,” katanya singkat tanpa menoleh.
Bella mengangguk cepat. Ia mencengkeram baju ayahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya kembali memeluk box ballerina seerat mungkin, seolah benda itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berpijak pada kenyataan.
Langkah kaki para penyerang terdengar dari bawah. Semakin dekat. Semakin banyak.
Haikal mengangkat senjatanya.
Satu per satu tembakan dilepaskan. Setiap peluru mengenai sasaran. Tubuh-tubuh bersenjata itu berjatuhan di tangga, darah mengalir, suara jeritan bercampur dengan dentuman senjata yang memekakkan telinga.
Namun tembakan balasan tak terhindarkan. Peluru menghantam dinding, vas antik pecah berkeping-keping, kaca jendela berhamburan ke segala arah. Bella menjerit kecil dan memejamkan mata, tubuhnya gemetar hebat.
“Ayah!” panggilnya dengan suara penuh ketakutan.
“Kamu jangan lihat!” bentak Haikal, berusaha menutupi tubuh Bella dengan posisinya sendiri.
Mereka bergerak menuju kamar tamu di lantai dua, namun jumlah penyerang tak kunjung berkurang. Dari berbagai arah, mereka terus mengepung, mempersempit ruang gerak Haikal.
Tenaganya mulai terkuras.
“Dar!”
Sebuah peluru menghantam kaki kanan Haikal. Tubuhnya tersentak keras.
“Ayah!” Bella menangis histeris.
Haikal meringis menahan rasa sakit yang luar biasa, namun ia memaksa dirinya tetap berdiri. Dengan langkah pincang, ia menggenggam tangan Bella dan menyeret tubuhnya menjauh dari serangan.
Peluru lain menghantam tangan kirinya.
“Ahk…” rintih Haikal tertahan.
Darah mengalir deras dari luka-lukanya. Bella terisak, napasnya tersengal, dadanya terasa sesak melihat ayahnya terluka parah di depan matanya sendiri.
“Ayah… Ayah, jangan pergi,” tangisnya pecah.
Haikal berlutut di hadapan putrinya. Dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah, ia memegang wajah Bella, menatap matanya dalam-dalam.
“Dengar… Ayah masih di sini,” katanya lirih namun tegas. “Sembunyi di balik lemari buku. Jangan keluar, apa pun yang terjadi.”
Bella menggeleng panik, air matanya jatuh tanpa henti. Namun Haikal dengan lembut mendorongnya ke balik lemari buku, memastikan tubuh kecil itu tersembunyi dengan baik.
Haikal berdiri kembali. Napasnya berat, penglihatannya mulai kabur, namun tekadnya belum runtuh. Ia mengambil apa pun yang bisa digunakan sebagai pelindung dan menyerang dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Ketika hanya tersisa dua pembunuh terakhir, pelurunya habis. Tanpa ragu, Haikal berlari menghampiri mereka dan bertarung dengan tangan kosong.
Ia menendang tangan salah satu musuh hingga pistolnya terlempar ke samping lemari buku. Senapan musuh lain juga terjatuh. Pertarungan fisik pun terjadi dengan brutal. Haikal menjatuhkan salah satu pembunuh, mengunci kepalanya dengan kaki, lalu menancapkan lukisan ke lehernya tanpa belas kasihan.
Kini hanya tersisa satu pembunuh.
Orang itu bangkit di belakang Haikal, masih sadar dan siap menyerang. Tendangan Haikal sempat mengenai sasaran, namun musuh itu mengeluarkan pisau dan dengan cepat menusuk dada Haikal yang tidak terlindungi rompi.
Bella Shofie, yang bersembunyi di balik lemari buku sambil memeluk box classical ballerina, menyaksikan semuanya dengan tangis tertahan, tubuhnya gemetar hebat.
Haikal Sopin terkapar di lantai. Luka pisau itu dalam. Tubuhnya melemas, kesadarannya nyaris hilang. Namun pembunuh itu belum puas. Ia melangkah mendekat, mengangkat pisau sekali lagi.
“Chukk!”
Pisau tajam menembus perut kanan Haikal. Darah menyembur deras, membasahi lantai putih.
“Dar!”
Suara tembakan kembali terdengar dari arah lemari buku.
...Bersambung~ ...