Follow Akun IG: Oni_RA
ANINDYA VANISHA atau sering di panggil anin, harus menikah dengan kakak iparnya yang bernama KENATH ABRAHAM.
Cobaan cinta dan pengorbanan masa mudanya pun harus ia perangi demi meraih cinta sejati.
Suatu peristiwa yang menimpa kehidupan anin, membuat hidup anin berubah begitu cepat, bahkan senyum di bibir anin, cinta dan bahagia semua telah di renggut oleh satu peristiwa yang terjadi dalam sehari. peristiwa yang tak terduga merubah kehidupan anin dan menjatuhkan dirinya dengan sangat tajam.
Penasaran dengan kisah nya????
Dari pada penasaran, mending baca langsung deh...hehehe....
Jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN POSITIF agar menambah semangat author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oni_C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episod 22
"Terlalu banyak bicara" Ucap kenath, mengambil makanan anin di meja.
"Makan!" Perintah kenath memberikan bubur untuk anin.
Anin mengambil bubur itu dari tangan kenath, karna kondisi anin yang sangat lemah, maka anin memasukan makanan itu sedikit lama kedalam mulutnya.
"Lambat" Kenath memerhatikan gerak anin.
"Sini" Kenath mengambil alih bubur anin.
"Buka!" Kenath menyuapi anin.
Anin hanya memerhatikan kenath yang menyuapi nya, ini adalah hal pertama kenath bersikap seperti ini terhadap anin, ada rasa bahagia di hati anin karna sikap kenath.
"Terimakasih mas" Ucap anin setelah bubur itu habis.
"Jangan terlalu besar kepala, aku hanya kasian terhadap mu" Kenath bangkit meletakan mangkok bubur di atas meja.
"Kau tau...karna kau sakit...hari ini gagal aku meeting....sungguh merepotkan" Ucap kenath.
Anin hanya diam mendengarkan ucapan kenath.
"Mas...boleh anin meminjam HP punyamas sebentar saja" Ucap anin memelas.
"Untuk apa?" Tanya kenath.
"Menelpon kak silvi" Jawab anin.
"Kau ingin mengadu?" Kenath menatap anin.
"Tidak" Jawab anin.
Kenath memberikan ponsel nya ke anin, anin segera mengetik nomor kak silvi.
"Hallo kak" Ucap anin.
"Ada apa anin?" Tanya silvi.
"Kak..anin sedang di rawat di RS bisakah kakak menemanin anin di sini?" Ucap anin.
"Haaa...!!!! kamu sakit apa anin?" Tanya kak silvi kaget.
"Hanya demam biasa kak" Ucap anin.
"Kakak siap siap dulu ya, kakak segera ke sana" Ucap silvi.
"Terimakasih kak" Anin mematikan telpon.
"Terimakasih mas" Anin memberikan ponsel ke kenath.
"Kenapa kau menyuruh kakak mu untuk menjaga mu" Ucap kenath.
"Anin hanya tidak ingin merepotkan mas" Anin menatap kenath.
❤❤❤
Setelah beberapa menit, Silvi dan revan pun sampai di rumah sakit, mereka membuka pintu ruang rawat anin dan terlihat anin yang sedang tertidur pulas dengan wajah pucat.
Revan mendekati kenath yang sedang duduk di ruang rawat anin.
"Kenapa dia bisa sakit seperti ini?" Revan duduk di samping kenath.
"Ntahlah..." Jawab kenath.
Revan menatap kenath dengan pandangan dingin dan tajam.
"Kata dokter dia hanya butuh istirahat dan makan tepat waktu" Sambung kenath.
Revan memilih untuk mendekati tubuh anin yang masih tertidur.
"Maafin abang ya dek" Revan mengelus pipi anin.
"Seharus nya abang tidak egois, abang tidak ikut menyalahkan mu, ini semua adalah takdir, maafin abang dek" Revan menggenggam tangan anin.
Kenath hanya melihat kejadian itu tanpa ingin berbicara.
"Abang" Anin membuka mata nya.
"Istirahatlah...jangan bangkit" Revan menahan anin saat ingin bangkit dari tempat tidur.
"Apa abang tidak marah lagi pada anin?" Tanya anin dengan mata sayu.
"Maafin abang" Revan memeluk anin.
"Eehhmmmm" Kenath berdehem.
"Aku ingin ke kantor dulu" Ucap kenath.
"Terimakasih ya mas" Anin menatap kenath.
"Untuk?" Tanya kenath.
"Terimakasih sudah menjaga anin" Ucap anin.
"Yasudah...aku pergi dulu" Kenath melangkah untuk ke kantor.
"Mas...." Panggil anin, kenath berbalik badan.
"Haaiiisss wanita ini sungguh menyebalkan" Gumam kenath di hati.
"Ada apa?" Tanya kenath.
Anin mengulurkan tangan nya, untuk mencium tangan kenath.
Kenath menyambut tangan anin dan anin langsung mencium tangan kenath.
"Hati hati mas" Anin tersenyum.
Tanpa menjawab kenath langsung pergi meninggalkan anin.
"Apa sikap dia seperti itu?" Tanya revan pada anin.
"Tidak bang...dia memang sedikit berbicara tapi dia sangat baik terhadap anin" Anin tersenyum.
"Maafin anin bang...anin sudah berbohong, andai abang tau dia begitu kasar dan arogan terhadap anin" Lirih anin di hati.
sdah retak susah untuk di sembuhkan
dia benar2 menyesal