Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22 Ratu mafia istri dokter dingin
Asap merah yang mengepul tebal membuat suasana di lobi utama Rumah Sakit Sanjaya Utama semakin kacau dan mencekam.
Bunyi alarm kebakaran yang melengking bersahutan dengan jeritan histeris para pasien, perawat, dan pengunjung yang berlarian kesana-kemari menyelamatkan diri.
Pecahan kaca dari meja resepsionis berserakan di atas lantai marmer putih yang kini tampak kotor dan berdarah.
Di tengah kepanikan massal itu, Mike berdiri terpaku di dekat lift lantai satu. Napasnya memburu, matanya melotot tak percaya melihat kehancuran yang terjadi di rumah sakit keluarganya sendiri.
Pikirannya langsung dipenuhi berbagai pertanyaan buruk. Siapa orang-orang ini? Apa mereka kelompok preman yang sama dengan yang menyerangnya semalam?
"Tolong! Siapa pun tolong anak saya!"
Sebuah teriakan histeris memecah deru kepanikan. Di sudut dekat pilar beton besar, seorang wanita paruh baya berseragam keluarga pasien jatuh tersungkur di lantai.
Di sampingnya, seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun tergeletak lemah, terbatuk-batuk hebat akibat menghirup pekatnya asap merah, sementara sebuah pecahan tiang gypsum berukuran sedang jatuh menimpa kaki mungil anak tersebut.
"Ibu! Jangan mendekat!" bentak salah satu preman bertubuh gempal berjaket kulit lusuh.
Pria berbadan besar itu berjalan mendekat sambil menyeret rantai besi di lantai, menyeringai menakutkan ke arah sang ibu.
"Mau cari mati, hah?! Cepat pergi atau kubuat kalian berdua tewas di sini!"
Sang ibu menangis histeris, memeluk erat tubuh anaknya yang merintih kesakitan, tak berdaya melawan ancaman preman beringas itu.
Mike yang melihat kejadian itu dari jarak sepuluh meter langsung tersadar. Naluri dokternya sebagai penyelamat langsung bangkit. Ia melangkah cepat, hendak menerobos kerumunan untuk menolong ibu dan anak tersebut.
"Hei! Jangan berani-berani menyakiti mereka!" teriak Mike lantang.
Namun, sebelum langkah kaki Mike sempat mencapai lokasi, sesuatu yang sangat mengejutkan terjadi dalam sepersekian detik.
Dari balik bayangan pilar lantai dua yang agak remang-remang—tempat jalurnya terhubung langsung dengan tangga darurat V.I.P.—sebuah bayangan hitam meluncur turun dengan kecepatan luar biasa.
Sosok itu mengenakan setelan celana panjang hitam, jaket kulit senada, dan rambut panjang yang diikat tinggi.
Wajahnya tertutup sebagian oleh masker kain hitam, namun sepasang mata tajamnya berkilau dingin mematikan.
Dialah Sindi Permata.
Sindi yang kebetulan berada di area rumah sakit untuk suatu urusan bisnis rahasia mendapati kekacauan ini, dan tanpa ragu memutuskan turun tangan secara diam-diam.
Bugh!
Dengan gerakan beladiri yang begitu cepat dan presisi tinggi, Sindi mendarat mulus tepat di samping sang preman gempal.
Sebelum pria berbadan besar itu sempat mengayunkan rantai besinya ke arah ibu dan anak di lantai, Sindi melayangkan tendangan putar menyamping yang mendarat telak di pelipis sang preman.
Preman itu terpelanting keras, menabrak dinding pilar hingga tersungkur pingsan seketika dalam satu serangan telak.
Suasana di sekitar pilar mendadak hening sejenak. Sang ibu membelalak kaget, menatap sosok wanita berpakaian serba hitam yang berdiri gagah di hadapannya.
"Cepat bawa anak Ibu menjauh dari sini lewat tangga darurat," ucap Sindi dengan suara dingin namun tenang, terdengar sangat berwibawa di balik maskernya.
"B-baik... Terima kasih, Nona! Terima kasih banyak!" cicit sang ibu gemetaran, langsung membopong anaknya berlari menuju pintu darurat.
Dua preman lain yang melihat rekan mereka tumbang langsung murka.
"Sialan! Berani sekali wanita jalang ikut campur! Habisi dia!" teriak mereka berdua sambil menghunuskan pisau lipat dan balok kayu, menerjang ke arah Sindi secara bersamaan.
Sindi tidak panik sedikit pun. Kedua tangannya bergerak sangat lugas. Ia menangkis hantaman balok kayu menggunakan lengan bawahnya yang terlindung jaket tebal, lalu memutar pergelangan tangan musuh, merampas pisaunya, dan menghantamkan sikunya tepat di dada preman pertama hingga tersedak kehabisan napas.
Preman kedua mencoba menusuk dari belakang, namun Sindi meliukkan badannya dengan sangat anggun. Kakinya menyapu lantai, menjegal kaki preman tersebut hingga jatuh terbanting keras mencium lantai marmer.
Brak! Pria itu mengerang kesakitan dan langsung tak sadarkan diri.
Seluruh aksi pertarungan itu berlangsung kurang dari lima detik. Gerakan Sindi begitu efisien, tanpa celah, dan mencerminkan kemampuan bertarung tingkat tinggi yang mustahil dikuasai oleh wanita biasa.
Mike yang berdiri tidak jauh dari tempat kejadian mematung di tempatnya. Matanya membelalak lebar, dadanya bergemuruh hebat menyaksikan pertunjukan bela diri singkat namun sangat mematikan itu.
Gerakan itu... batin Mike tercekat, jantungnya berdegup kencang. Cara bertarung yang begitu dingin, cepat, dan terarah... Kenapa bayangan itu terasa sangat familier? Kenapa gayanya mirip sekali dengan...
Sebelum Mike sempat merangkai teka-teki di kepalanya atau mendekati wanita bermasker hitam tersebut, Sindi sudah berbalik arah.
Sindi melirik sekilas ke arah Mike dengan tatapan dingin tajam dari balik maskernya, lalu melesat cepat menaiki tangga darurat menuju lantai atas sebelum ada orang lain yang mengenalinya.
"Hei! Tunggu! Siapa kamu?!" seru Mike refleks, melangkah maju hendak mengejar.
"Dokter Mike! Awas di belakang!" teriak seorang perawat histeris memperingatkan.
Mike refleks menoleh. Satu preman tersisa datang dari arah samping mengayunkan besi panjang ke arahnya.
Mike dengan sigap menunduk, lalu melayangkan hantaman tinju keras ke rahang preman itu hingga tersungkur pingsan di lantai.
Dalam waktu kurang dari tiga menit, seluruh preman yang mengamuk di lobi utama berhasil dilumpuhkan—sebagian besar oleh wanita misterius berpakaian hitam tadi.
Beberapa saat kemudian, suara sirine mobil kepolisian dan kendaraan pengaman swasta bergema keras memasuki halaman rumah sakit.
Pasukan aparat keamanan bergegas masuk ke dalam lobi, mengamankan situasi, memborgol para preman yang pingsan, dan menenangkan para korban.
Baskoro Sanjaya, yang mendengar kerusuhan hebat dari ruangannya di lantai lima, turun dengan tergopoh-gopoh didampingi beberapa staf keamanan. Begitu melihat lobi yang berantakan dan preman-preman yang terkapar, wajah Baskoro memucat pasi.
"Apa-apaan ini?! Siapa yang berani membuat kerusuhan di rumah sakit saya?!" murka Baskoro dengan suara bergetar menahan amarah.
Mike berdiri di tengah puing-puing lobi, napasnya masih memburu. Pikirannya sama sekali tidak mendengarkan omelan ayahnya. Matanya terus menatap ke arah tangga darurat tempat wanita bermasker hitam tadi menghilang.
Pria itu benar-benar belum memeriksa rekaman CCTV lobi maupun lorong rumah sakit untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini dan siapa wanita hebat yang menyelamatkan situasi tadi. Bagi Mike, identitas wanita berjaket hitam itu kini menjadi misteri besar yang paling mengusik isi kepalanya.
Di saat Mike masih terpaku di tengah kekacauan, ponsel di dalam saku celananya mendadak bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Dengan tangan sedikit gemetar, Mike mengangkat ponsel itu dan menempelkannya ke telinga.
"Halo... Siapa ini?" tanya Mike dingin.
Dari ujung telepon, tidak terdengar suara manusia, melainkan suara napas berat dan sebuah rekaman suara berbisik yang sangat mengerikan:
"Dokter Mike... permainan baru saja dimulai. Perawat kesayanganmu di kontrakan... sepertinya sedang tidak sendirian malam ini..."
Mata Mike membelalak lebar seketika. Darahnya mendadak terasa membeku, dan seluruh tubuhnya menegang kaku di tempat.
Bersambung.....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,