NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — PENGAKUAN TERAKHIR KEVIN SANTOSO

Pukul sembilan pagi, Arga Pratama sudah berada di sebuah perpustakaan umum di pusat Jakarta. Di atas meja di hadapannya terdapat buku catatan, laptop, dan salinan foto laporan keselamatan ARX-9 yang diterimanya semalam.

Ia belum menunjukkan foto itu kepada siapa pun selain Nadia.

Bukan karena ia ingin menyembunyikan informasi, melainkan karena ia tidak ingin sebuah gambar yang belum terverifikasi berubah menjadi tuduhan yang merusak kehidupan seseorang.

Di sudut ruangan, Nadia sedang membaca kembali catatan lama. Fajar duduk di seberang mereka, sesekali memeriksa ponselnya.

Ratih belum datang.

“Menurutmu, Kevin benar-benar menandatangani laporan itu?” tanya Nadia.

Arga menatap foto di layar laptop.

“Bentuk tanda tangannya memang mirip. Tetapi gambar ini terlalu buram untuk dijadikan dasar kesimpulan.”

“Kalau benar, berarti pengakuannya kemarin belum lengkap.”

“Atau seseorang sengaja menggunakan namanya untuk mengarahkan kita kepadanya.”

Fajar meletakkan ponselnya.

“Ada kemungkinan lain. Kevin menandatangani dokumen yang berbeda, lalu tanda tangannya disalin ke laporan final tanpa sepengetahuannya.”

Arga mengangguk.

“Itu juga harus diperiksa.”

Mereka tidak sempat melanjutkan pembicaraan karena seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun memasuki perpustakaan. Ia mengenakan kemeja sederhana dan membawa tas hitam yang tampak sudah lama digunakan.

Perempuan itu berhenti di dekat meja mereka.

“Arga Pratama?”

Arga berdiri.

“Benar. Ibu Ratih?”

Perempuan itu mengangguk.

“Saya Ratih Wulandari. Fajar mengatakan kalian sedang mencari arsip lama ARX-9.”

“Terima kasih sudah bersedia bertemu dengan kami.”

Ratih duduk, tetapi tidak segera membuka tasnya. Ia memandang Arga dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Saya ingin mengatakan sesuatu sebelum kita mulai. Saya tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antarpihak. Saya hanya bersedia menjelaskan apa yang benar-benar saya ketahui.”

“Itu yang kami butuhkan,” jawab Arga. “Kami tidak meminta Ibu menuduh siapa pun.”

Ratih mengamati wajahnya beberapa detik, seolah mencoba memastikan ketulusan kalimat tersebut.

Kemudian ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah map plastik.

“Saya bekerja sebagai staf administrasi dokumentasi proyek ARX-9 selama hampir tiga tahun. Tugas saya bukan menguji mesin atau membuat keputusan teknis. Saya memastikan dokumen yang sudah disetujui masuk ke arsip dengan urutan yang benar.”

Nadia segera menyiapkan buku catatan.

“Apakah Ibu pernah menangani dokumen CC-117B?”

Ratih terdiam sejenak.

“Pernah.”

Arga merasakan ketegangan di dadanya meningkat.

“Apakah Ibu masih menyimpan salinannya?”

“Saya tidak menyimpan dokumen perusahaan secara lengkap. Namun, saya mempunyai beberapa catatan kerja yang pernah saya buat untuk mencocokkan versi dokumen sebelum dikirim.”

Ratih mengeluarkan tiga lembar kertas.

Kertas-kertas itu bukan dokumen asli, melainkan daftar pemeriksaan administrasi yang mencatat nomor referensi, waktu penerimaan, dan status pengiriman berkas.

Arga membaca setiap baris dengan saksama.

Pada halaman pertama tercantum nomor CC-117B.

Pada halaman kedua terdapat catatan mengenai permintaan revisi.

Sementara halaman ketiga memuat sebuah keterangan yang membuat Nadia langsung mendekat.

Lampiran keselamatan belum disertakan dalam paket final. Pengiriman ditunda sampai ada konfirmasi tertulis.

Arga mengangkat wajah.

“Apa yang terjadi setelah catatan ini dibuat?”

Ratih merapatkan kedua tangannya.

“Saya menerima permintaan untuk mengirim ulang paket dokumen. Katanya, ada perubahan pada daftar persetujuan dan susunan lampiran.”

“Siapa yang meminta?”

“Saya tidak menerima instruksi langsung dari orang yang membuat keputusan. Permintaan itu masuk melalui sistem administrasi, kemudian diteruskan kepada saya.”

“Apakah Ibu melihat siapa yang menyetujuinya?”

“Di layar, permintaan itu menggunakan otorisasi yang berasal dari kantor pengawasan proyek. Tetapi saya tidak bisa memastikan siapa yang benar-benar mengoperasikan akun tersebut.”

Arga mengangguk. Jawaban itu selaras dengan beberapa catatan sebelumnya.

“Bagaimana dengan lampiran keselamatan?”

Ratih menunduk.

“Lampiran itu tidak masuk ke paket final yang saya kirim.”

“Apakah Ibu menghapusnya?”

“Tidak.”

Jawaban Ratih terdengar tegas.

“Saya tidak punya kewenangan untuk menghapus lampiran keselamatan yang sudah terdaftar. Saya hanya boleh menandai dokumen yang belum lengkap dan meminta persetujuan ulang.”

Nadia menunjuk catatan di halaman ketiga.

“Lalu mengapa Ibu menulis bahwa pengiriman ditunda?”

“Karena saya melihat ada perbedaan antara daftar lampiran pada versi awal dan versi final. Saya menolak mengirim paket itu sampai ada konfirmasi.”

“Siapa yang memberikan konfirmasi?”

Ratih menarik napas panjang.

“Marcus Hale.”

Arga terdiam.

Ratih melanjutkan, “Dia mengatakan perubahan tersebut sudah disetujui oleh pihak yang berwenang dan saya boleh melanjutkan pengiriman. Saya meminta konfirmasi tertulis. Beberapa waktu kemudian, saya menerima dokumen yang menyatakan bahwa paket final telah disetujui.”

“Apakah dokumen itu memuat tanda tangan Adrian Voss?” tanya Arga.

Ratih tampak terkejut mendengar nama tersebut.

“Ya. Namanya tercantum dalam kolom persetujuan final.”

Nadia menatap Arga sekilas.

“Apakah Kevin Santoso juga menandatangani dokumen itu?”

Ratih tidak segera menjawab.

Ia membuka halaman terakhir map dan menunjukkan sebuah catatan singkat.

“Nama Kevin muncul pada daftar pemeriksaan teknis. Namun, saya tidak tahu apakah tanda tangannya digunakan untuk menyetujui laporan keselamatan atau hanya untuk mengonfirmasi bahwa ia menerima salinan data.”

Arga kembali teringat pada foto buram yang diterimanya semalam.

“Apakah Ibu memiliki salinan halaman terakhir laporan keselamatan?”

Ratih menggeleng.

“Tidak. Saya hanya memiliki catatan administrasi ini.”

“Lalu siapa yang menyimpan laporan aslinya?”

Ratih menatap Arga cukup lama sebelum menjawab.

“Saya tidak tahu siapa yang menyimpannya sekarang. Tetapi saya ingat bahwa sebelum paket final dikirim, Marcus meminta satu salinan laporan keselamatan disimpan secara terpisah dari arsip presentasi.”

“Apakah Ibu tahu alasannya?”

“Katanya, untuk kepentingan audit internal.”

Arga mengembuskan napas perlahan.

Informasi itu memperkuat dugaan bahwa laporan awal memang pernah ada. Namun, lokasi penyimpanannya tetap menjadi misteri.

Ia menutup map dengan hati-hati.

“Bu Ratih, apakah Ibu bersedia memberikan salinan catatan ini untuk dibandingkan dengan arsip lain?”

“Bersedia, selama salinannya tidak diubah dan sumbernya dicatat dengan benar.”

“Kami akan melakukan itu.”

Ratih mengangguk, lalu mulai membereskan barang-barangnya.

Namun, sebelum berdiri, ia menatap Arga sekali lagi.

“Ada satu hal yang belum saya ceritakan.”

Arga menunggu.

“Pada malam sebelum laporan final dikirim, seseorang datang ke ruang dokumentasi. Dia tidak meminta dokumen tertentu. Dia hanya menanyakan apakah semua salinan laporan keselamatan sudah dikumpulkan.”

“Siapa orang itu?”

“Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lampu di lorong sedang diperbaiki. Namun, saya ingat dia membawa kartu akses berwarna hitam.”

Nadia mengerutkan kening.

“Kartu akses khusus?”

“Mungkin. Saya tidak tahu. Yang jelas, kartu itu berbeda dari kartu pegawai biasa.”

Arga mencatat informasi tersebut.

“Apakah orang itu meninggalkan sesuatu?”

Ratih menggeleng.

“Tidak. Dia hanya bertanya, kemudian pergi.”

“Apakah Ibu pernah melaporkan kejadian itu?”

“Saya menyebutkannya kepada atasan, tetapi tidak ada tindak lanjut.”

Ratih memasukkan map ke dalam tas.

“Saya berharap informasi ini membantu kalian. Namun, saya tidak ingin nama saya disebarkan tanpa alasan yang jelas.”

Arga berdiri untuk mengantarnya.

“Kami akan menjaga catatan ini dan tidak menyebarkannya di luar kebutuhan pemeriksaan.”

Ratih mengangguk.

Sebelum pergi, perempuan itu berkata pelan, “Saya harap kali ini orang-orang yang mencari kebenaran tidak kembali dihukum karena berani bertanya.”

Setelah Ratih meninggalkan perpustakaan, Arga kembali duduk.

Untuk beberapa saat, ia hanya menatap meja.

Lima tahun lalu, ia mengira seluruh persoalan ARX-9 berasal dari sebuah kesalahan teknis. Sekarang, ia mulai memahami bahwa masalahnya jauh lebih rumit.

Ada perubahan konfigurasi.

Ada perbedaan laporan keselamatan.

Ada lampiran yang tidak masuk ke paket final.

Dan ada seseorang yang berusaha memastikan seluruh salinan dokumen terkumpul sebelum laporan diserahkan.

Namun, belum ada satu pun fakta yang membuktikan bahwa semua kejadian itu dirancang oleh orang yang sama.

“Setidaknya sekarang kita memiliki catatan yang bisa dibandingkan,” kata Nadia.

Arga mengangguk.

“Dan kita tahu Marcus pernah terlibat langsung dalam proses pengiriman laporan final.”

Fajar menambahkan, “Kita perlu berbicara dengannya lagi.”

“Ya,” jawab Arga. “Tetapi sebelum itu, aku ingin mendengar penjelasan Kevin.”

Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana di Jakarta, Kevin Santoso duduk di depan meja kerja yang dipenuhi dokumen lama.

Sejak pertemuannya dengan Arga, ia nyaris tidak bisa tidur dengan tenang.

Ia tahu foto yang dikirimkan kepada Arga dapat membuatnya terlihat seperti orang yang mengkhianati proyek ARX-9 untuk kedua kalinya. Namun, ia juga tahu bahwa terus berdiam diri hanya akan memperburuk keadaan.

Kevin membuka sebuah kotak penyimpanan kecil.

Di dalamnya terdapat buku catatan, beberapa kartu identitas lama, dan sebuah amplop cokelat yang sudah menguning.

Ia mengambil amplop tersebut.

Lima tahun lalu, setelah proyek dihentikan, ia menerima dokumen yang memintanya memberikan kesaksian mengenai insiden pengujian. Dokumen itu menyatakan bahwa Arga telah menyimpang dari prosedur keselamatan dan mengabaikan peringatan sistem.

Kevin sebenarnya tidak pernah melihat Arga melakukan hal tersebut.

Ia hanya melihat ringkasan laporan yang diberikan kepadanya.

Namun, ketika seorang pejabat mengatakan bahwa penolakan untuk memberikan kesaksian dapat dianggap sebagai pelanggaran kerahasiaan proyek, Kevin memilih diam.

Ia menandatangani pernyataan yang isinya tidak ia verifikasi sepenuhnya.

Keputusan itu menghantuinya selama bertahun-tahun.

Kini, ketika ia membuka amplop tersebut, sebuah lembar catatan kecil jatuh ke lantai.

Kevin mengambilnya.

Pada kertas itu terdapat nomor dokumen dan tulisan tangan yang sudah memudar.

Laporan Keselamatan Awal — Salinan Audit.

Di bawahnya terdapat sebuah nama yang pernah ia lihat sekali, lima tahun lalu.

Bima Saputra.

Kevin mengerutkan kening.

Bima bukan anggota tim pengembang utama ARX-9. Saat itu, ia bekerja sebagai teknisi pendukung yang membantu pemeriksaan perangkat pengujian.

Mengapa namanya tercantum pada catatan mengenai salinan audit?

Kevin segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Arga.

Namun, sebelum ia menekan tombol panggil, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Berhentilah menghubungi Arga Pratama. Kesempatanmu memperbaiki kesalahan sudah habis.

Kevin menatap layar.

Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.

Jika kau membuka kembali catatan lama, orang lain akan ikut kehilangan sesuatu.

Kevin meletakkan ponsel, kemudian memandang lembar catatan di tangannya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ancaman tersebut mungkin bukan hanya tentang dirinya.

Seseorang masih berusaha menjaga agar laporan keselamatan awal tidak ditemukan.

Dan orang itu tampaknya mengetahui bahwa Kevin baru saja mulai berbicara.

Siang harinya, Arga, Nadia, dan Fajar kembali ke kompleks kompetisi.

Status Arga masih ditangguhkan sementara dari penggunaan sistem teknis tertentu. Namun, panitia mengizinkannya mengikuti sesi pengarahan dan menyaksikan evaluasi peserta lain.

Di ruang utama, Rendy sedang menguji sebuah kendaraan demonstrasi bersama timnya.

Arga berdiri di belakang garis pembatas, memperhatikan cara Rendy membaca data dan berkomunikasi dengan rekan setimnya.

Rendy menyadari kehadirannya setelah beberapa menit.

“Bagaimana hasil pertemuanmu?” tanyanya ketika sesi pengujian selesai.

“Kami menemukan catatan administrasi yang menunjukkan adanya lampiran keselamatan yang tidak masuk ke paket final.”

Rendy mengerutkan kening.

“Apakah itu membuktikan seseorang mengubah laporan?”

“Belum. Itu membuktikan bahwa versi dokumen perlu dibandingkan dan diperiksa.”

Rendy mengangguk.

“Ayahku sudah menghubungi seseorang yang mungkin memiliki salinan dokumen bisnis lama. Dia sedang mencari waktu untuk memeriksanya.”

“Itu bisa membantu, selama sumbernya jelas.”

Rendy menyandarkan tangan di pinggang.

“Aku tidak pernah membayangkan kompetisi mekanik akan berubah menjadi penyelidikan seperti ini.”

“Begitu juga aku.”

Rendy menatap kendaraan demonstrasi.

“Kalau kau kembali diizinkan bertanding, aku tidak akan mengalah.”

Arga tersenyum tipis.

“Aku juga tidak mengharapkanmu mengalah.”

Rendy tertawa kecil.

“Kali ini, aku ingin menang tanpa harus membuatmu terlihat buruk.”

“Kalau begitu, kita akhirnya sepakat dalam satu hal.”

Mereka berjabat tangan singkat.

Tidak ada persahabatan mendadak atau janji besar. Hanya pengakuan bahwa persaingan yang sehat harus berdiri di atas kemampuan, bukan manipulasi.

Namun, momen itu segera terputus ketika Bima Saputra menghampiri mereka.

“Arga, aku perlu bicara denganmu.”

Arga menatapnya.

“Ada apa?”

Bima melihat sekeliling, kemudian mengajak mereka ke ruang konsultasi yang terbuka dan berada di dekat petugas panitia.

“Aku mendengar namaku muncul dalam penyelidikan ARX-9.”

“Dari siapa?” tanya Arga.

“Aku tidak tahu. Tetapi seseorang menanyakan apakah aku pernah menyimpan laporan keselamatan awal.”

Arga langsung teringat pada catatan yang mungkin ditemukan Kevin.

“Apakah kau pernah menyimpannya?”

Bima terdiam cukup lama.

“Pernah.”

Nadia menatapnya tajam.

“Di mana sekarang?”

“Aku tidak tahu apakah salinan itu masih bisa ditemukan. Lima tahun lalu, aku menerima sebuah berkas untuk pemeriksaan teknis. Aku membuat catatan bahwa data di dalamnya tidak lengkap, lalu mengembalikannya ke bagian administrasi.”

“Apakah berkas itu merupakan laporan keselamatan ARX-9?” tanya Arga.

“Aku tidak bisa memastikan bahwa itu salinan final atau versi awal. Tetapi ada beberapa halaman yang membahas pengujian terakhir.”

“Apakah kau menyimpan catatan pemeriksaannya?”

Bima mengangguk perlahan.

“Seharusnya masih ada di arsip pribadi lamaku. Aku belum memeriksanya.”

Arga tidak langsung mendesak.

“Kalau kau menemukannya, jangan mengubah apa pun. Catat di mana berkas itu ditemukan dan bagaimana kau menyimpannya. Kita perlu memastikan dokumen tersebut memang berkaitan dengan proyek yang sedang kita selidiki.”

Bima menatap Arga.

“Kau tidak akan langsung menganggapku terlibat?”

“Tidak. Aku ingin tahu apa yang kau ketahui, bukan menuduhmu berdasarkan nama yang muncul di catatan.”

Bima tampak sedikit lega.

“Aku akan memeriksanya.”

Setelah Bima pergi, Nadia menoleh kepada Arga.

“Ini mulai mengarah pada sesuatu.”

“Ya,” jawab Arga. “Tetapi kita belum tahu apakah Bima hanya memeriksa dokumen, menyimpan salinan, atau mengetahui perubahan yang terjadi.”

Fajar menutup mapnya.

“Setidaknya sekarang kita memiliki jalur pemeriksaan lain.”

Arga memandang ruang kompetisi yang kembali ramai.

Di satu sisi, para peserta berjuang menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

Di sisi lain, masa lalunya perlahan terbuka melalui potongan-potongan dokumen yang selama lima tahun tersembunyi.

Ia tidak boleh membiarkan penyelidikan itu mengubah dirinya menjadi seseorang yang hanya hidup untuk membalas dendam.

Ia ingin membersihkan namanya.

Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ARX-9.

Dan jika ada orang yang sengaja memanipulasi laporan keselamatan, ia ingin memastikan kesalahan itu tidak terulang pada orang lain.

Menjelang malam, Arga menerima panggilan dari nomor Kevin.

Ia segera mengangkatnya.

“Kevin?”

Suara di seberang terdengar terburu-buru.

“Arga, dengarkan aku. Aku menemukan sesuatu di antara dokumen lama.”

“Apa yang kau temukan?”

“Catatan yang menunjukkan bahwa Bima pernah memeriksa laporan keselamatan awal. Aku belum tahu apa hubungannya, tetapi namanya tercantum pada sebuah lembar audit.”

Arga memejamkan mata sejenak.

“Aku baru saja berbicara dengannya. Dia mengatakan pernah memeriksa berkas yang berkaitan dengan pengujian terakhir.”

“Kalau begitu, kalian harus memeriksa catatannya. Aku tidak bisa memastikan apa pun dari ingatanku saja.”

“Apakah foto laporan yang dikirimkan kepadaku semalam berasal darimu?”

Kevin terdiam.

“Foto apa?”

Arga menegang.

“Sebuah foto halaman terakhir laporan keselamatan. Ada tanda tangan yang menyerupai tanda tanganmu.”

“Aku tidak mengirimkan foto apa pun kepadamu.”

Arga berdiri perlahan.

“Apakah kau yakin?”

“Aku yakin. Aku hanya mengirim pesan mengenai dua rangkaian persetujuan yang berbeda.”

Arga memandang Nadia yang berdiri di dekatnya.

Jika Kevin berkata jujur, berarti seseorang telah mengirimkan foto itu dengan sengaja untuk membuat Arga meragukannya.

“Kevin, apakah tanda tanganmu pernah digunakan pada dokumen yang tidak kau setujui?”

Suara Kevin menjadi lebih pelan.

“Aku tidak tahu. Aku pernah menandatangani lembar penerimaan data, tetapi aku tidak pernah menyetujui laporan keselamatan final.”

Arga segera mencatat pernyataan itu.

“Kita harus memeriksa dokumen aslinya sebelum menarik kesimpulan.”

“Ada satu hal lagi,” kata Kevin. “Aku baru ingat siapa yang meminta kesaksianku lima tahun lalu.”

Arga terdiam.

“Siapa?”

“Bukan Adrian Voss. Bukan Marcus Hale. Bukan Gunawan Wiratama.”

“Lalu siapa?”

Kevin menarik napas panjang.

“Orang itu mengatakan bahwa ia bertindak atas nama komite audit. Ia tidak memperkenalkan dirinya sebagai pengembang atau pengawas teknis.”

“Apakah kau ingat namanya?”

“Aku ingat nama yang tercantum pada surat permintaan kesaksian.”

Arga menggenggam ponselnya.

“Sebutkan.”

Namun, Kevin belum sempat menjawab.

Terdengar suara ketukan dari sisi lain panggilan, disusul suara seseorang yang memanggil namanya.

“Kevin, tunggu,” ujar Arga. “Kau sedang bersama siapa?”

“Aku sendirian.”

“Kalau begitu, jangan buka pintu sebelum memastikan siapa yang datang.”

Suara ketukan terdengar lagi.

Kevin menarik napas gugup.

“Aku harus menutup telepon sebentar.”

“Kevin, jangan—”

Panggilan terputus.

Arga langsung mencoba menghubunginya kembali, tetapi tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Kevin.

Nama yang tercantum pada surat itu adalah—

Pesan tersebut berhenti di sana.

Tidak ada kelanjutannya.

Arga menatap layar dengan rahang mengeras.

Kemudian ponselnya bergetar sekali lagi.

Bukan dari Kevin.

Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.

Jika kau ingin mengetahui siapa yang meminta kesaksian Kevin lima tahun lalu, periksa daftar anggota komite audit ARX-9.

Arga membuka pesan itu.

Di bawahnya terdapat sebuah foto dokumen lama yang memperlihatkan daftar anggota komite audit.

Sebagian besar nama tidak terbaca.

Namun, satu nama di bagian paling bawah terlihat jelas.

Nama itu bukan milik Adrian Voss.

Bukan Marcus Hale.

Bukan pula Gunawan Wiratama.

Arga membeku ketika membaca nama tersebut.

HENDRA MAHARDIKA.

Ayah Rendy.

Arga menatap layar tanpa bergerak.

Selama ini, Hendra hanya muncul sebagai pengusaha yang memiliki hubungan bisnis dengan pemasok komponen dan konsultan proyek. Tidak ada bukti yang menghubungkannya langsung dengan pengkhianatan terhadap Arga.

Namun, jika foto itu asli, Hendra mungkin pernah menjadi anggota komite yang meminta kesaksian Kevin.

Dan jika foto itu palsu, seseorang sedang berusaha menghancurkan hubungan Arga dengan Rendy sekaligus mengarahkan penyelidikan kepada keluarga Mahardika.

Arga menyimpan foto itu.

Ia tidak akan menuduh Hendra tanpa memeriksa keaslian dokumen tersebut.

Tetapi satu hal kini menjadi jelas.

Penyelidikan ARX-9 tidak lagi hanya menyentuh para insinyur dan pengawas teknis.

Jejaknya mulai mengarah ke lingkaran bisnis yang selama ini berada di luar pandangan Arga.

Dan orang berikutnya yang harus ia temui mungkin adalah ayah dari rivalnya sendiri.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!