Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam itu, rumah kecil berpagar putih terasa begitu menyesakkan. Suara deru mesin mobil rental yang dikemudikan Iqbal menjauh, meninggalkan Erlyn yang masih bersimpuh di lantai dingin kamar tidur utama.
Isak tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Suaranya melengking pilu di antara dinding-dinding kamar yang sunyi, namun tidak ada lagi pelukan hangat yang datang untuk menenangkannya. Tidak ada lagi tangan lembut yang mengusap air matanya.
Semuanya telah hancur. Kebohongan yang ia ciptakan dengan susah payah selama berminggu-minggu, pengorbanan batin dan raga yang ia bayar dengan harga dirinya pada akhirnya tetap tidak mampu menyelamatkan rumah tangganya.
Iqbal telah tahu semuanya. Suaminya tahu ia mendatangi apartemen itu, dan kini, pria yang paling dicintainya pergi dalam kemarahan serta kekecewaan yang teramat dalam.
Erlyn merangkul lututnya sendiri, membiarkan tubuhnya bergetar hebat di atas lantai. Pikirannya melayang pada Rara, anak perempuannya yang masih tertidur lelap di kamar sebelah, yang tidak tahu apa-apa kalau dunia kedua orang tuanya baru saja runtuh berkeping-keping.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau Mas Iqbal pergi... bagaimana nasib Rara? batin Erlyn menjerit putus asa.
Ia menangis hingga dadanya terasa sakit dan kehabisan napas.
Waktu terus berjalan, jarum jam dinding bergeser dari pukul sebelas malam, menembus pukul dua pagi, hingga fajar perlahan mulai menyingsing di ufuk timur.
Sepanjang malam itu, Erlyn tidak bergerak dari tempatnya. Ia duduk membeku di lantai kamar, menatap kosong pada pintu yang tertutup rapat, berharap Iqbal akan tiba-tiba membuka pintu dan mengatakan bahwa semua ini hanya mimpi buruk.
Namun, hingga matahari pagi memantulkan cahayanya di celah jendela kamar, pintu itu tetap tertutup sunyi. Iqbal tidak kembali.
Pukul tujuh pagi, suara ketukan kecil dan suara anak kecil terdengar dari balik pintu kamar.
"Ibu...?" panggil suara lembut Rara, disusul dengan gagang pintu yang digerakkan perlahan. "Ibu sudah bangun? Kok pintu kamarnya dikunci?"
Seketika itu juga, Erlyn tersentak dari lamunannya yang panjang. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak parah, dan bibirnya kering pecah-pecah.
Dengan gerakan kaku, ia berusaha menegakkan tubuhnya yang terasa remuk redam. Ia merapikan piyamanya seadanya, mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan suaranya sebelum membuka pintu.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan. Rara berdiri di sana dengan pakaian seragam sekolahnya yang rapi, membawa tas kecil di pundaknya. Anak itu mengerjap menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya.
"Ibu... kok mukanya pucat banget? Sakit ya?" tanya Rara polos sambil menyentuh tangan ibunya yang terasa dingin. "Dan Ayah mana, Bu? Dari tadi Rara cari nggak ada."
Erlyn merasakan tenggorokannya tercekat hebat. Debar jantungnya kembali menggila, namun ia harus mati-matian memasang senyum paling wajar di hadapan putrinya.
Ia berlutut menyetarakan tingginya dengan Rara, lalu memegang kedua pundak kecil anaknya.
"Sayang... Ayah semalam harus pergi keluar kota mendadak karena ada urusan proyek kantor yang penting banget," bohong Erlyn dengan suara yang diatur agar setenang mungkin, meski air matanya nyaris mendesak keluar lagi. "Ayah nggak sempat pamit karena perginya tengah malam tadi."
"Oh..." Rara mengangguk kecil, tampak sedikit kecewa namun langsung mengerti. "Yah, padahal Rara mau pamit minta dibelikan buku gambar baru nanti pulang sekolah. Ya sudah deh. Ibu, yuk sarapan dulu. Rara udah lapar."
"Iya, sayang. Sebentar ya, Ibu siapkan."
Pagi itu, Erlyn menjalani rutinitasnya seperti biasa dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Ia menyiapkan roti panggang untuk Rara, mengantarnya sampai depan pagar, dan melambaikan tangan dengan senyum yang tertata rapi sampai mobil antar-jemput sekolah putrinya berlalu dari pandangan.
Namun, begitu pagar rumah ditutup kembali, senyum di wajah Erlyn seketika lenyap. Ia bersandar pada daun pintu pagar, menatap jalanan kompleks perumahan yang sepi.
Iqbal benar-benar pergi. Dan ia sendirian sekarang.
***
Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka, Iqbal duduk seorang diri di dekat jendela.
Di hadapannya, cangkir kopi hitam yang sudah mulai mengepulkan sisa-sisa uap tipis yang hampir tak terlihat. Mata pria itu merah, menyiratkan bahwa ia sama sekali tidak tidur sepanjang malam.
Ponsel di atas meja bergetar pelan menampilkan notifikasi pesan kantor, namun Iqbal mengabaikannya begitu saja.
Pikirannya berkecamuk hebat, dihantam oleh gelombang emosi yang saling bertarung, rasa marah karena dibohongi, rasa cemburu yang membakar, kekecewaan mendalam atas runtuhnya kepercayaan sepuluh tahun, serta rasa iba yang teramat sangat saat mengingat wajah pucat Erlyn.
Iqbal mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar. Ia tidak pulang karena ia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana cara menatap istrinya setelah malam itu. Kepercayaan yang ia bangun dengan fondasi kejujuran kini telah hancur lebur berkeping-keping.
Namun, di tengah rasa sakit dan kemarahannya yang membara, satu tekad kuat mulai terbentuk di kepala Iqbal.
Ia tidak bisa hanya sekadar pergi dan mendiamkan masalah ini. Ia harus tahu siapa pria di balik apartemen Grand Tower itu.
Ia harus tahu alasan di balik kehancuran istrinya. Jika ada seseorang yang sedang memeras, meneror, atau menghancurkan Erlyn, maka pria itu harus berhadapan langsung dengannya.
Iqbal menyambar ponselnya di atas meja, membuka daftar kontak, lalu mencari nomor telepon seorang teman lama yang bekerja sebagai penyelidik swasta.
"Halo, Don..." ucap Iqbal dengan suara dingin dan tegas saat panggilan itu terhubung. "Aku butuh bantuanmu untuk menyelidiki seseorang. Seseorang yang tinggal di apartemen Grand Tower unit 402."
Langkah awal menuju kebenaran telah dimulai, dan badai yang sesungguhnya kini bersiap menerjang tanpa ampun.
woy jengkel banget gua sumpah 😩
..maaf thor esmosi lihat ini erlyn
jangan bilang habis ini ketemu terus CLBK/Blush//Blush/
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi