Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
POV Sofía
Hari ini Senin. Karena tak ada yang harus kukerjakan, aku memutuskan membersihkan apartemen kecilku. Lalu aku menerima telepon dari salah satu temanku, Maria, yang mengajakku ke mal.
"Ayo ikut, kau tak pernah keluar. Aku yang traktir," ajak Maria.
"Baiklah. Tapi aku akan menelepon Mateo dulu, siapa tahu dia mau menemani kita. Soalnya terakhir bertemu kami bertengkar. Ya sudah, nanti aku menyusul ke sana," jawabku.
"Baik, sampai jumpa," kata Maria.
Kuputuskan sambungan telepon dan menghubungi Mateo, tapi berdering lalu masuk ke pesan suara. Kucoba menelepon lagi, dan hampir di akhir panggilan dia menjawab.
"Mau apa, Sofía? Masih asyik berpesta rupanya," sindir Mateo.
"Tidak, Mateo, aku di apartemen. Aku mau mengajakmu jalan-jalan bersamaku. Bagaimana?" tawarku.
"Kau tahu aku tak bisa. Lagi pula aku punya urusan yang jauh lebih penting. Sampai jumpa," jawab Mateo, lalu memutuskan sambungan.
Tidak mungkin. Aku sangat menyayangi Mateo, tapi dia selalu menyembunyikan hubungan kami, bahkan dari keluarganya. Namun kukesampingkan semua pikiranku. Aku bersiap dan pergi ke mal.
Setiba di sana, Maria sudah ada. Kami bertegur sapa lalu duduk di sebuah kafe. Kami mengobrol, dan kuceritakan tentang Alejandro. Maria terkejut. Kami membayar tagihan. Aku membayar bagianku sendiri meski dia bilang akan mentraktir, tapi aku tak mau. Kami mulai berjalan-jalan di mal, dan aku melihat sepasang kekasih yang tampak sangat mesra datang mendekat. Betapa terkejutnya aku, itu Mateo dan Myriam.
"Apa-apaan ini, Mateo?" tanyaku dengan sangat marah.
"Aduh, Sofía, kau kan tak pernah memuaskannya. Lagi pula kau dari kelas bawah, sedangkan kami tidak," ujar Myriam.
"Myriam benar. Kau kira apa? Aku dulu bersamamu cuma untuk seks, tapi itu pun tidak, karena kau tak pernah mau. Lagi pula orang tuaku tak akan pernah menerima orang dari kelasmu. Jadi lebih baik selamat tinggal, dan jangan cari aku lagi," kata Mateo.
"Kalian berdua sungguh bajingan. Dan kau, Myriam, katanya kau teman kami, ternyata kau cuma perempuan jalang," bentak Maria.
Keduanya pergi, dan aku hanya berdiri terpaku, memandang. Maria memelukku, tapi sejujurnya aku tak merasa sakit. Aku memang kecewa, tapi hanya itu.
* * *
POV Alejandro
Aku mandi lalu harus menemui Ricardo, sebab dia sudah tiba dan aku tak sempat bicara dengannya. Aku ke ruang kerjaku, dan dia memberiku semua informasi serta urusan yang masih tertunda. Setelah dia pergi, adikku Jessica masuk. Dia hampir tak pernah datang, jadi ini mengejutkanku, sebab hampir sepanjang waktu dia sibuk bepergian.
"Halo, Kak," sapa Jessica.
"Apa yang membawamu ke sini, cantik?" tanyaku.
"Aku cuma mau menemuimu. Kan kau selalu mengomel aku tak pernah datang," jawab Jessica.
"Itu bagus," ujarku.
"Kau tak berniat mengajakku makan di restoran atau ke mal? Kau tahu aku benci terkurung di rumah," kata Jessica.
"Ayolah, Jessica, kau tahu aku banyak pekerjaan dan aku tak suka pergi ke tempat-tempat seperti itu," tolakku.
"Ayolah," pintanya sambil mengerucutkan bibir.
"Jangan begini padaku, Jessica," kataku.
Setelah bujukan yang bertubi-tubi, akhirnya aku mengalah.
Kami naik ke mobil, dan seperti biasa beberapa mobil pengawal mengiringi, ditambah para pengawal Jessica tentunya. Tak ada anggota keluargaku yang bepergian tanpa pengawalan, banyak orang yang ingin mencelakai kami.