Agas berstatus duda setelah istrinya Tara yang telah berselingkuh dengan sahabatnya Damar mengguggat cerainya.
Dihianati, ditinggalkan dan dihina membuatnya ingin membuktikan kalau dirinya lebih hebat. Ia pun bertekad ingin sukses lagi.
Agas berubah menjadi duda nackal dengan pergaulan kelas atas. Menikmati hidupnya dan menyepelekan arti pernikahan.
Sampai Agas mengenal Tari, cewek polos yang memintanya untuk dinikahi hanya agar Agas menolongnya. Mampukah Tari membuat Agas kembali ke jalannya yang benar?
Mampukah Tari membuat Agas melupakan Tara dan membuka hatinya untuk cinta yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Bapak tiri Tari mengenakan kaos kebesaran di tubuhnya yang kecil. Tubuh pemabuk yang hari ini terlihat lebih rapi karena berharap akan mendapatkan uang dengan cara instan. Tatapan matanya memperlihatkan uang, uang dan uang.
Laki-laki itu berusia sekitar 45 tahun namun terlihat lebih tua dari usianya. Mungkin karena keseringan mabuk membuatnya tambah tua.
Senyum licik di wajahnya sejak tadi ingin membuatku menampolnya. Bagaimana Tari bisa tahan hidup dengan laki-laki seperti itu.
"Dia anak saya! Suka-suka saya mau diapakan!" katanya menantang dan memancing emosiku.
"Oh ya? Anak kandung anda? Tentunya bukan, mana ada ayah kandung yang tega menjual anaknya sendiri demi uang?" kataku dengan sinis.
"Dia anak angkatku, jadi dia anakku juga!" suaranya mulai naik, pertanda Ia mulai tersulut emosinya.
"Oh ya? Ada surat-suratnya? Setahu saya almarhumah istri anda yang mengadopsinya bersama suaminya yang pertama. Tak ada nama anda dalam surat adopsi, yang artinya anda bukan siapa-siapanya Tari," aku kini tersenyum menggantikan senyum Bapak tirinya Tari yang memudar.
"Tari akan saya nikahi, jadi anda sudah tidak ada urusan lagi dengannya. Saya sebagai suaminya lebih kuat posisinya dibanding anda! Masih mau berseteru dengan saya?" tanyaku dengan nada yang kutekankan.
Kini Bapak tirinya Tari hanya bisa diam. Tak mampu lagi Ia membalas perkataanku. Wajah sombongnya sudah tak ada taringnya lagi.
"Tari itu putri saya. Saya menyayanginya dengan sepenuh hati. Hanya Tari keluarga saya satu-satunya." kini laki-laki berkata dengan melas.
Aku menengok ke arah Tari yang menggelengkan kepalanya. Tanpa Tari kasih tau aku pun tau kalau laki-laki itu berbohong. Meski baru mengenal Tari belum lama, aku tau gadis polos ini berkata yang sebenarnya padaku tentang kekejaman Bapak tirinya.
"Utang Bapak sudah lunas dengan menjual rumah peninggalan almarhum ibunya Tari. Saya akan memberikan Bapak seratus juta dan meminta Bapak jangan lagi mengganggu Tari!"
"Ha-hanya seratus juta? Saya minta dua milyar!" kini nada bicara Bapak tirinya Tari kembali meninggi.
"Oh tentu akan saya berikan dua milyar, jika anda benar Bapak kandungnya Tari. Nyatanya anda cuma orang lain dalam hidup Tari. Orang lain yang bahkan tega menjual Tari pada mucikari! Tidak saya polisikan saja sudah untung!" balasku.
"Ya sudah, satu milyar!" negonya.
"Dua ratus juta, lebih dari itu saya proses hukum. Saya tak rugi karena justru tidak mengeluarkan uang kalau anda dipenjara!" kataku tak mau kalah gertak.
Bapak itu menatap ke arah Tari yang makin menyembunyikan dirinya di belakangku. Ia semakin ketakutan saja berada di bawah ancaman Bapaknya.
"Jangan mencoba menakuti calon istri saya, Pak! Itu akan membuat daftar tuntutan saya terhadap anda makin panjang!" ancamku.
Aku melihat jam tanganku, sebagai isyarat aku tak mau berlama-lama menghabiskan waktuku dengan laki-laki ini.
"Baiklah. Dua ratus juta." akhirnya Ia menyerah.
Aku berbicara dengan pengacara Papa, "Pak, siapkan surat pernyataan yang menyatakan kalau Ia tak akan mengganggu Tari lagi! Kalau Ia melakukannya, seret saja ke penjara beserta barang bukti yang kita punya! Saya akan transfer begitu semua surat sudah Ia tandatangani! Saya permisi dulu!"
"Baik, Pak." jawab pengacara Papa. "Selanjutnya saya yang urus!"
Aku berdiri dan mengulurkan tanganku pada Tari. "Ayo Sayang! Jangan lupa lambaikan tangan pada mantan Bapak tiri kamu!"
****
Tari hari ini begitu ceria. Sejak meninggalkan Bapak tirinya, Ia tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih padaku.
Ia mengenakan gaun yang waktu itu aku belikan. Sangat cantik dikenakan di tubuhnya. Ia tetap mengkepang dua rambutnya, membuatnya terlihat layaknya gadis polos.
"Makasih banyak ya, Om! Semua berkat Om. Kalau bukan karena Om, hidup Tari masih terus dalam ancaman Bapak." ucap Tari dengan tulus.
"Kamu udah bilang terima kasih berapa kali hari ini sama aku? Sampai bosan mendengarnya!" kataku. sambil tersenyum. Rupanya kebahagiaan Tari juga menyebar denganku. Membuatku ikut merasa bahagia.
"Soalnya jasa Om sangat banyak dalam hidup Tari. Om minta apapun akan Tari berikan. Tari milik Om sekarang!"
Dengan susah payah kutelan salivaku. Milikku? Tari mililkku? Pikiranku sudah traveling kemana-mana.
Kugelengkan kepalaku, mengenyahkan pikiran nackal yang menguasaiku karena terpengaruh kata-kata Tari.
"Aku harus mengambil berkas dulu di kantor." jawabku seraya mengemudikan mobilku ke arah showroom.
"Cuma mengambil berkas saja kan Om? Tidak meminta Mbak Cici memuaskan Om?" tanya Tari.
"Memangnya kenapa kalau aku juga sekalian minta Cici puaskan?" tanyaku dengan ketus. "Kamu tunggu di mobil saja! Jangan turun!"
Tari memegang tanganku seakan merengek. "Ajari Tari. Biar Tari yang melakukan apa yang Mbak Cici lakukan! Tari sekarang milik Om. Biar Tari yang memuaskan Om!"
Anak ini, tau apa dia tentang memuaskanku? Namun sorot matanya yang polos dan penuh keteguhan membuatku merasa yakin. Ia bisa melakukan apapun yang Ia inginkan.
"Nanti saja kalau sudah menikah. Aku turun dulu! Jangan keluar sebelum aku datang. Jangan khawatir, kaca mobil ini gelap jadi tak ada yang akan tau keberadaan kamu!" aku turun dan mematikan mesin mobil. Kubuka sedikit jendela dan kutinggalkan Tari di dalam mobil.
Aku langsung menuju lantai atas tempat ruanganku berada. Menyalakan komputer dan mencetak laporan yang kebetulan aku simpan dalam komputer. Tak lupa aku mengirim laporan tersebut ke emailku agar aku dapat mengaksesnya dari laptopku.
Tok...tok... tok...
Cici menongolkan wajahnya dari balik pintu.
"Ada apa Ci?" tanyaku.
Cici sudah mengunci pintu ruanganku.
"Cici kangen sama Om." Ia berjalan mendekatiku dan duduk di sandaran tangan diatas kursiku. Bergelayut dengan manja seperti biasanya.
"Aku sedang sibuk, Ci." tolakku dengan halus. "Kalau kamu butuh uang jajan, nanti aku transfer."
"Cici enggak butuh uang jajan. Cici kangen sama Om!" Ia menarik wajahku dan menundukkan wajahnya. Menempelkan bibirnya dengan bibirku lalu mulai menciumku.
Aku mana bisa tahan mendapat godaan begini di siang hari? Mau aku tolak kok rasanya rugi? Wong Cici yang menyodorkan dirinya padaku, masa sih aku menolak rejeki.
Kubalas ciumannya, bahkan saat Ia membuka kancing kemejanya dan menunjukkan dua buah sintalnya. Aku tak menolaknya.
Cici membenarkan posisi duduknya dan kini duduk diatas pangkuanku. Ia terus menciumiku dengan ganas. Memaksaku membuka mulutku dan menjelajahi dengan lidahnya.
Ia sudah berani membuka kancing kemejaku dan membelai lembut dadaku yang bidang. Jari jemarinya bergerak semakin lihai dan tau-tau sudah membuka kancing celanaku.
Ia juga mulai menurunkan roknya dan ingin melakukan penyatuan saat aku lengah dengan permainannya. Namun aku menahannya.
"Please Om... Cici pengen... " pintanya dengan suara yang mendesah.
Aku menggelengkan kepalaku. "Kita sudahi saja ya!"
"Jangan! jangan sudahi!" Ia lalu berjongkok dan mulai memberiku kenikmatan.
"Ah... Ah..." aku pun mendesah kenikmatan.
Cici terus menikmati meski Ia ingin aku juga memberinya kepuasan. Sampai aku mendapatkan kepuasan atas servicenya.
Dengan telaten Ia mengelap cairan putihku dan tetap tersenyum.
"Sejuta cukup?" tanyaku.
"Cici mau Om. Bukan uang!" katanya sambil mengancingi kemejanya. "Mau sampai kapan Om menggantung Cici seperti ini?"
"Yaudah kita akhiri saja!" jawabku dengan tegas. "Hubungan kita hanya hubungan simbiosis mutualisme. Kalau kamu meminta aku melakukan lebih, aku akan menolaknya." aku mengancingi lagi kemeja dan celanaku. Sudah terlalu lama aku berada di ruangan ini, Tari sedang menungguku di bawah.
****