Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Cincin di Kantin
Sejak Karin tidur di mess tamu ber-AC, suasana pabrik jadi aneh.
Karyawan jadi dua kubu. Kubu ibu-ibu yang kagum sama dokter cantik dari Medan, dan kubu Mbak Sari, Bu Lastri, Pak Bambang yang kasian sama Nadia.
Jam makan siang, kantin pabrik yang biasanya berisik jadi hening pas Karin masuk.
Karin masuk dengan seragam dokter putih yang masih sangat bersih, padahal di luar lumpur di mana-mana. Sepatu hak tingginya sudah diganti sepatu flat putih, tapi tetap tidak cocok dengan lantai kantin yang licin oleh minyak.
Di belakangnya, Arif berjalan dengan wajah datar. Ia bawa nampan makan siang Karin.
"Sayang, kamu duduk sini saja. Yang bersih," kata Karin manja, tarik kursi untuk Arif di meja paling bersih, meja yang biasanya untuk Manager Hendra.
Semua mata melirik.
Nadia, Mbak Sari, dan Bu Lastri makan di meja pojok, meja kayu yang sudah miring. Nadia pura-pura tidak lihat.
Karin duduk, sengaja hadap ke arah meja Nadia. Lalu dengan gerakan yang sangat pelan dan disengaja, Karin angkat tangan kanannya untuk betulkan rambut.
Di jari manis tangan kanannya, ada cincin berlian kecil yang berkilau kena sinar matahari dari jendela kantin.
Cincin tunangan.
"Arif, cincin aku kendor ya? Kemarin habis cuci tangan pakai hand sanitizer, jadi licin," kata Karin keras, sengaja biar satu kantin dengar. "Untung berliannya tidak lepas. Ini kan berlian asli dari toko emas di Medan, kamu belikan pas anniversary kita yang kedua tahun lalu. Ingat gak Sayang?"
Arif mengangguk kaku. "Iya, aku ingat."
Karin senyum puas, lalu sengaja putar-putar cincin itu di jarinya, kilauannya sengaja dipamerkan ke arah meja Nadia.
"Nanti kalau kita nikah resmi kamu mau belikan yang lebih besar lagi kan yang? Yang 2 karat. Soalnya aku kan dokter, jadi harus pakai cincin yang pantas sama gelar aku. Dokter kan beda sama admin, ya kan, Sayang?" kata Karin lagi, suaranya manja tapi tajamnya minta ampun.
Satu kantin diam. Semua paham Karin nyindir siapa.
Bu Lastri yang duduk sebelah Nadia langsung geram, mau berdiri. Mbak Sari tahan tangan Bu Lastri.
Nadia menunduk, menatap cincinnya sendiri. Cincin dari Rizki. Cincin emas biasa, tidak ada berlian, sudah lecet karena sering kena oli dan air sabun.
Tiba-tiba Nadia merasa cincinnya jelek sekali dibanding cincin Karin.
Nadia sembunyikan tangannya di bawah meja.
Arif yang lihat itu, wajahnya berubah. Ia lihat Nadia sembunyikan tangan. Ia lihat Karin putar-putar cincin.
"Sayang, udah...makan aja. Nanti ayamnya dingin lagi ," kata Arif pelan, coba menghentikan Karin.
Tapi Karin belum puas.
"Oh iya, ngomong-ngomong, Nadia, kamu kapan nikah sama tunangan kamu yang guru itu? Katanya mau bikin pelaminan Ivory Cream ya? Wah, pasti bagus. Beda sama saya dan Arif, kami mau konsepnya simple saja, di aula hotel di Medan, terus bulan madu ke Bali. Soalnya kami kan sama-sama sibuk. Saya dokter, Arif asisten manager. Tidak sempat urus pelaminan yang heboh-heboh," kata Karin, masih dengan senyum dokter yang palsu, tapi kata-katanya sombong minta ampun.
Nadia tidak jawab. Matanya sudah panas.
Mbak Sari tidak tahan.
"Dok, maaf ya Dok, tapi Nadia tunangannya guru, bukan pelaminan yang penting. Yang penting setia. Tidak seperti orang yang tunangannya jauh tapi masih sempat curigai terus," celetuk Mbak Sari keras.
Kantin langsung heboh. "Wuu..!"
Karin wajahnya merah padam malu.
"Arif! Lihat teman kamu! Dia hina aku!" Karin langsung drama, pegang tangan Arif.
Arif berdiri. Ia tidak membela Karin, tapi juga tidak membela Nadia. Ia netral, karena posisinya terjepit.
"Cukup! Semua nya fokus aja makan! Jangan ribut- ribut di kantin! Ini pabrik, bukan pasar!" bentak Pak Hendra tiba-tiba dari pintu kantin. Suara Bataknya menggelegar. Pak Hendra baru masuk dan lihat semua ribut.
Semua diam.
Pak Hendra menatap Karin. "Dr. Karin, silakan makan. Tapi tolong jangan bawa urusan cincin ke kantin. Di sini semua karyawan sama, tidak ada dokter, tidak ada admin. Semua pekerja pabrik."
Karin malu besar, tunduk makan ayamnya tanpa suara.
Nadia berdiri pelan, bawa piringnya yang masih setengah.
"Bu Lastri, Mbak Sari, saya udah kenyang. Saya ke ruang timbangan dulu ya, mau bantu Mbak Sari input data," kata Nadia pelan, suaranya hampir nangis."ayo.. mbak sari. "
Nadia keluar dari kantin cepat-cepat.
Di luar kantin, di tempat parkir truk yang panas, Nadia nangis pelan di belakang truk tangki CPO. Ia lepas cincin dari Rizki, lihat cincin itu.
Cincin biasa. Tidak ada berlian.
Apakah aku cuma pantas dapat cincin seperti ini? Apakah aku tidak pantas dapat berlian karena aku cuma admin lulusan swasta? batin Nadia.
Dari belakang, ada bayangan.
Arif.
Arif berdiri di belakang Nadia, tidak dekat, jarak dua meter. Ia tidak bicara. Ia hanya lihat Nadia nangis.
"Nad," panggil Arif pelan.
Nadia cepat pakai lagi cincinnya, hapus air mata.
"Maaf, Pak. Saya tidak apa-apa," kata Nadia.
Arif jalan mendekat, tapi tidak terlalu dekat.
"Karin memang begitu, Nad. Suka pamer. Dari dulu. Bukan cuma ke kamu, ke semua orang. Waktu dia dapat gelar dokter , dia pamer cincin ke semua teman kampusnya. Bukan karena dia jahat, tapi karena dia insecure. Dia takut orang tidak melihat dia," kata Arif pelan.
Nadia menatap Arif,dia kaget Arif malah curhat soal Karin.
"Kenapa Bapak masih tunangan sama dia kalau begitu, Pak?" tanya Nadia akhirnya, pertanyaan yang sudah lama ia pendam.
Arif diam lama, menatap kebun sawit yang luas.
"Karena sama seperti kamu sama Rizki, Nad. Dijodohkan keluarga. Mama saya dan Mama Karin teman arisan. Kami dijodohkan sejak saya kuliah. Saya tidak pernah berani bilang tidak. Sama seperti kamu tidak berani bilang tidak sama Mama kamu soal Rizki," jawab Arif jujur.
Untuk pertama kalinya, Nadia lihat Arif bukan sebagai Asisten Manager yang tegas, tapi sebagai laki-laki yang sama-sama terjebak, sama seperti dirinya.
Korban perjodohan.
Nadia tidak jadi nangis lagi. Ia malah merasa ada teman senasib.
"Pak, kita sama ya," bisik Nadia pelan.
Arif mengangguk. "Iya, Nad. Kita sama."
Mereka berdua berdiri di belakang truk tangki CPO yang bau, tidak bicara lagi, hanya menatap kebun sawit.
Di dalam kantin, Karin masih putar-putar cincin berliannya sendirian, tanpa ada yang lihat lagi.
Bersambung