NovelToon NovelToon
ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

ANAK TIRI YANG TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Suasana di dalam ruang rapat utama PT Cipta Sentosa terasa sangat hening dan mencekam.

Seluruh dewan komisaris dan para direktur lama menundukkan kepala mereka dalam-dalam tanpa ada yang berani bersuara.

Bima duduk dengan tenang di kursi pimpinan tertinggi sambil memperhatikan satu per satu wajah orang-orang di depannya.

Tatapan mata pemuda itu tajam menusuk, membuat siapa pun yang dipandangnya merasa merinding ketakutan.

"Kalian semua tahu kenapa aku mengumpulkan kalian di sini pagi ini?" tanya Bima memecah keheningan ruangan.

Tidak ada seorang pun yang berani menjawab pertanyaan itu, semua orang memilih diam merapatkan bibir.

"Perusahaan ini pernah hampir hancur bukan karena krisis pasar, tapi karena pembusukan moral dari dalam," ucap Bima dingin.

Ia membuka map dokumen tebal di atas meja kayu mahoni yang besar itu.

"Mulai hari ini, aku sebagai pemilik mayoritas mutlak menyatakan pembersihan besar-besaran di struktur internal perusahaan," tegas Bima.

Pak Hartawan mengangguk pelan memberikan dukungan penuh di samping kanan Bima.

"Silakan sebutkan siapa saja yang harus segera diberhentikan, Tuan Bima," kata Pak Hartawan sopan.

Bima menunjuk lembaran kertas berisi daftar nama para pejabat korup yang dulu membantu Hendra menggelapkan dana.

"Nama pertama, Direktur Keuangan bernama Bagas," sebut Bima dengan suara penuh penekanan.

Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk di ujung meja mendadak membelalakkan matanya kaget.

"Tunggu dulu, Tuan Bima! Saya sudah bekerja di perusahaan ini belasan tahun!" protes Bagas panik setengah mati.

Bima menatap tajam pria gemuk itu tanpa sedikit pun rasa iba di dalam dadanya.

"Belasan tahun mengabdi tapi kerjanya hanya mencuri uang perusahaan lewat laporan fiktif?" sindir Bima telak.

Bima melemparkan lembaran bukti transaksi ilegal ke hadapan Bagas.

Brak!

Kertas-kertas itu berserakan tepat di depan meja Bagas.

Bagas memeriksa lembaran tersebut dan seketika wajahnya berubah pucat pasi seperti mayat hidup.

"Data ini... dari mana kamu dapatkan data rahasia itu?!" tanya Bagas terbata-bata ketakutan.

"Itu bukan urusanmu, yang jelas kariermu di perusahaan ini sudah resmi berakhir hari ini juga," jawab Bima dingin.

"Keamanan! Seret orang ini keluar dari ruangan dan serahkan dokumen bukti korupsinya ke pihak kepolisian!" perintah Bima tegas.

Dua petugas keamanan berbadan besar langsung masuk ke dalam ruang rapat dan mencengkeram kedua lengan Bagas.

"Lepaskan aku! Tuan Bima, mohon beri saya kesempatan kedua!" ronta Bagas histeris diseret menjauh.

Suara teriakan ketakutan Bagas perlahan menghilang di balik pintu ruang rapat yang kembali tertutup rapat.

Semua direktur yang tersisa semakin gemetar ketakutan melihat ketegasan mutlak dari direktur utama yang baru.

Mereka menyadari bahwa pemuda di hadapan mereka bukanlah anak kemarin sore yang bisa dibodohi dengan mudah.

"Nama kedua, Kepala Divisi Personalia bernama Siska," lanjut Bima menyebut nama berikutnya dari daftar.

Seorang wanita berpenampilan rapi langsung lemas di kursinya mendengar namanya dipanggil.

"Saya tidak tahu apa-apa soal penggelapan dana itu, Tuan Bima!" bela Siska dengan suara bergetar.

"Kamu memang tidak terlibat penggelapan, tapi kamu ikut menutupi pemecatan semena-mena terhadap pegawainya di masa lalu," balas Bima tajam.

"Mulai hari ini, surat pemecatan kalian berdua akan diproses secara hukum tanpa pesangon sepeser pun," putus Bima mutlak.

Tidak ada satu pun peserta rapat yang berani membantah keputusan mutlak dari sang pemilik saham mayoritas.

"Pembersihan internal ini akan kita selesaikan hari ini juga, pastikan operasional perusahaan kembali bersih mulai besok," pesan Bima kepada Pak Hartawan.

"Baik, Tuan Bima, saya akan awasi langsung proses restrukturisasi ini," jawab Pak Hartawan patuh.

Bima bangkit berdiri dari kursi pimpinannya dan merapikan jas hitam yang ia kenakan.

"Rapat selesai, silakan kembali ke divisi masing-masing dan bekerja dengan benar," ujar Bima lalu melangkah keluar ruangan.

Langkah kaki Bima berderap mantap meninggalkan ruang rapat diiringi rasa hormat bercampur takut dari para bawahannya.

Ia berjalan menuju ruang kerja direktur utama yang kini resmi menjadi ruangannya sendiri.

Krek...

Pintu ruangan itu terbuka lebar dan menampilkan suasana ruangan yang luas dan sangat mewah.

Jendela kaca besar di ruangan itu menyajikan pemandangan seluruh gedung pencakar langit kota.

Bima mendudukkan dirinya di kursi kulit empuk di balik meja kerja kayu mahoni yang besar.

Ia menatap ke luar jendela dengan senyum kemenangan yang terukir tipis di bibirnya.

"Ibu, lihatlah dari surga... anakmu berhasil merebut kembali apa yang dulu dirampas darinya," batin Bima penuh haru.

Namun di saat ia menikmati kemenangannya, sebuah keributan kecil tiba-tiba terdengar dari arah lobi lantai bawah.

Suara teriakan histeris seorang perempuan menggema memecah ketenangan lantai gedung perkantoran mewah itu.

Rina dan Kevin yang baru saja datang secara nekat memaksa masuk ke dalam gedung perusahaan.

"Lepaskan aku! Suamiku adalah pemilik gedung ini! Berani sekali kalian melarangku masuk?!" bentak Rina histeris di meja resepsionis.

Dua orang satpam kewalahan menahan Rina yang mengamuk seperti orang kehilangan akal sehat.

Kevin berdiri di samping ibunya dengan wajah kesal dan pakaian kusut masai tanpa mandi seharian.

"Iya benar! Panggilkan ayahku atau Bima sekarang juga! Kami mau minta uang!" ancam Kevin arogan.

Resepsionis wanita itu menatap mereka dengan pandangan jijik dan heran melihat penampilan seperti gelandangan.

"Maaf, Nyonya, Tuan Hendra sudah dipecat dan tidak punya hak apa pun di gedung ini lagi," jawab resepsionis itu sabar.

"Pembohong! Gedung ini milik keluarga kami!" ronta Rina semakin brutal mencakar udara kosong.

Keributan itu langsung dilaporkan kepada bagian keamanan pusat yang segera menghubungi sekretaris pribadi direktur utama.

Tok, tok, tok.

Pintu ruang kerja Bima diketuk tiga kali dengan cepat. "Masuk," ucap Bima dengan suara tenang tanpa mengubah posisi duduknya.

Sekretaris wanita berjas rapi masuk dengan wajah sedikit cemas melaporkan situasi di lobi.

"Maaf, Tuan Bima, di lobi bawah ada dua orang mengaku sebagai ibu tiri dan adik tiri Anda yang membuat keributan besar," lapor sekretaris itu sopan.

Bima tersenyum tipis mendengar laporan tentang kedatangan dua orang pengacau tersebut.

"Biarkan mereka naik ke ruangan ini," perintah Bima santai.

"Tapi, Tuan... penampilan mereka sangat berantakan dan bisa mengganggu kenyamanan lantai eksekutif," ragu sekretaris itu.

"Tidak apa-apa, biarkan mereka naik ke sini," ulang Bima dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Baik, Tuan Bima, saya laksanakan perintahnya," jawab sekretaris itu lalu berbalik keluar ruangan.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati pintu ruang kerja direktur utama.

Brak!

Pintu ruangan itu didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar.

Rina dan Kevin berdiri terengah-engah di ambang pintu dengan wajah kotor dan pakaian compang-camping.

Begitu melihat Bima duduk tenang di kursi direktur utama yang megah, mata Rina langsung membelalak lebar.

"Bima?! Jadi benar kamu yang duduk di kursi ini sekarang?!" teriak Rina tidak percaya.

Bima menatap kedua orang itu sekilas dengan pandangan mata yang sangat dingin dan acuh tak acuh.

"Ada perlu apa kalian datang ke kantor kerjaku dengan penampilan menjijikkan seperti itu?" tanya Bima datar.

Kevin yang melihat kemewahan di dalam ruangan langsung melangkah maju dengan nada menuntut.

"Bima! Jangan sombong kamu ya! Cepat kasih kami uang sepuluh juta sekarang untuk makan dan sewa hotel!" bentak Kevin kurang ajar.

Bima mendengus kecil mendengar permintaan tidak tahu malu dari saudara tirinya itu.

"Uang? Kenapa aku harus memberikan uang kepada orang asing yang tidak punya hubungan darah denganku?" tanya Bima tenang.

"Orang asing kamu bilang?! Ayahmu adalah pemilik perusahaan ini!" seru Rina histeris membela anaknya.

"Suamimu itu sekarang sudah menjadi gelandangan jalanan dan bukan siapa-siapa lagi di perusahaan ini," balas Bima dingin.

Rina mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar hebat karena menahan amarah yang meluap-luap.

"Anak durhaka! Beraninya kamu bicara begitu kepada ibu tiri yang sudah merawatmu dulu!" maki Rina histeris.

"Merawatku? Kalian memperlakukanku seperti budak dan membuangku di bawah hujan lebat tanpa belas kasihan," ingat Bima tajam.

Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat dingin mendengar pengakuan masa lalu yang menyedihkan itu.

"Itu karena kamu memang anak tidak berguna yang pantas dibuang!" bela Kevin tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Bima bangkit berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan pelan mendekati Rina dan Kevin.

Aura intimidasi yang sangat kuat menguar dari setiap langkah kaki Bima yang mendekat.

Rina dan Kevin reflek mundur beberapa langkah karena merasa terancam oleh tatapan membunuh Bima.

"Dengar baik-baik, era di mana kalian bisa menginjak-injak harga diriku sudah berakhir selamanya," bisik Bima tajam di depan wajah mereka.

"Sekarang, kalian berdua hanyalah sampah masyarakat yang datang mengemis di hadapanku," tambah Bima tanpa ampun.

"Sialan kamu, Bima!" maki Kevin kalap dan langsung melayangkan tinjunya ke arah wajah Bima.

Brak!

Sebelum tangan Kevin sempat menyentuh wajahnya, Bima dengan gesit menangkap pergelangan tangan anak manja itu.

Bima memutar tangan Kevin ke belakang dengan tenaga penuh hingga terdengar bunyi tulang berderet.

Krek...

Suara ringkih dari sendi tangan Kevin berbunyi nyaring di dalam ruangan.

"Arghh! Sakit, Bima! Lepasin tanganku, bodoh!" teriak Kevin kesakitan sambil berlutut di lantai.

Rina histeris melihat anak kesayangannya disiksa di hadapannya sendiri.

"Jangan sakiti anakku, Bima! Bunuh saja aku kalau kamu mau!" tangis Rina histeris memukul dada Bima.

Bima melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Kevin dengan kasar hingga anak itu tersungkur ke lantai.

"Keamanan!" panggil Bima dengan suara keras melengking.

Dua orang petugas keamanan langsung masuk berlari ke dalam ruang kerja dalam hitungan detik.

"Bawa dua pengemis ini keluar dari gedungku sekarang juga, jangan biarkan mereka menginjakkan kaki di sini lagi!" perintah Bima mutlak.

"Baik, Tuan!" jawab petugas keamanan serentak.

Mereka langsung menyeret Rina dan Kevin keluar dari ruangan secara paksa tanpa belas kasihan.

"Lepaskan kami! Bima kamu anak iblis! Kamu akan menyesal!" teriak Rina histeris diseret menjauh.

Suara tangisan dan makian mereka perlahan menghilang seiring tertutupnya pintu ruang kerja mewah itu.

Bima berdiri sendiri di tengah ruangan yang kembali sunyi dengan ekspresi wajah yang tetap tenang.

Pembersihan di dalam dan di luar perusahaan sudah tuntas ia lakukan hari ini.

Tidak ada lagi sisa-sisa ancaman dari keluarga Hendra yang bisa mengusik ketenangan hidupnya.

Bima kembali duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan kepala dingin.

Masa depan cerah dan kekuasaan mutlak kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.

1
Aman Wijaya
lanjut terus Thor di tunggu updatenya 💪💪💪
Cherlly: iya kak ku😘😘
total 1 replies
Cherlly
makasih kaka suport nya😘😍
Aman Wijaya
gaaas njeduk pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat dalam berkarya
Cherlly: makasih kaka udah membaca sejauh ini😘😘😘
total 1 replies
Aman Wijaya
top markotop top lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll mantab Thor lanjut terus
Cherlly: trimakasih sudah baca sejauh ini kaka😍😍😍
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
Cherlly: iya kaka kami akan lanjyutin cerita nya sampai tuntas😊😊😊😘
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor lanjut terus
Cherlly: siap kaka semangat kaka adalah motivasi saya untuk berkarya😍
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll Bima lanjut
Cherlly: siap kaka ikutin ya keseruan nya😊😊😊

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
rahasia Bima mulai terkuak sedikit demi sedikit
Cherlly: iya kaka lanjutin biat nambah seru😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Bima
Cherlly: makasih kaka

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
Tatiek Faruq
aku mampir thor, lama² dibaca seru juga
Cherlly: ttimakasih kaka sudah mampir ikutin keseruan cerita nya ya kaka biar saya nambah semangat untuk berkarya😍😍😍

Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
total 1 replies
༺⬙⃟⛅cap badakℛᵉˣ
kak mampir novelku "Vampir vs Serigala versi novel" makasih
Cherlly: makasih kaka nanti sama2 baca kita
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!