Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 022 - Mengikis Simpul Tiang Ketujuh
Uap merah beracun yang membubung dari permukaan kolam darah merayap lambat di udara, menyebarkan aroma anyir bangkai dan belerang asam yang menusuk dinding tenggorokan. Gu Yuan segera menarik kain selendang compang-camping dari balik kerah jubah abu-abunya, membasahinya dengan sedikit air bersih dari kantong minum bambunya, lalu melilitkannya rapat-rapat menutupi hidung dan mulutnya. Udara dingin yang basah dan beracun itu terasa perih di kelopak matanya, namun ia tidak membiarkan rasa tidak nyaman itu mengaburkan pandangannya.
Ia tidak boleh membiarkan kabut beracun itu mengalihkan fokusnya barang sekejap mata pun. Waktu yang ia miliki di dalam gua tertutup ini terus bergulir seperti pasir hisap yang tak kenal ampun; setiap tarikan napas adalah kemewahan yang harus dimanfaatkan sebelum dinding batu tebing di ambang depan dijebol oleh pasukan sekte yang sedang mengepung di luar.
Gu Yuan berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer hitam yang dingin tepat di depan tiang ketujuh. Tiang batu obsidian itu terasa sedingin balok es jurang saat telapak tangan kirinya menyentuh permukaan batu yang kasar dan basah oleh rembesan embun darah. Di dasar tiang setinggi dua jengkal dari lantai marmer, terpahat ukiran rune berbentuk kepala banteng bertanduk tiga yang dikelilingi oleh lingkaran garis urat darah halus—simpul penstabil yang mengunci simpul pengendali arus spiritual utama agar energi darah tidak meluap ke luar jalur formasi.
Gu Yuan meletakkan ujung mata pahat besi kecilnya tepat di pangkal tanduk tengah ukiran kepala banteng tersebut. Pahat ini ia ambil dari bengkel perkakas tambang barak luar saat fajar tadi, terbuat dari baja tuang berkadar karbon tinggi yang biasa digunakan oleh para penambang untuk membelah urat batu besi hitam di terowongan bawah tanah.
Sret… sret… krik.
Gu Yuan menekan gagang kayu pahat dengan telapak tangan kanan sambil memukulkan pangkal belati berkaratnya ke ujung pahat secara perlahan dan berirama. Setiap ketukan dilakukan dengan kekuatan tenaga raga lapis ketiga yang sangat terkendali, memastikan mata pahat hanya mengikis lapisan terluar dari rajahan rune tanpa mematahkan struktur tiang batu secara mencolok yang bisa menimbulkan suara patahan keras.
Getaran logam merambat naik ke pergelangan tangannya, mengirimkan sensasi nyeri pegal ke tulang jarinya. Namun Gu Yuan tidak menghentikan ayunan tangannya. Debu batu obsidian berwarna hitam keperakan mulai rontok menuruni dinding tiang, berceceran di atas lantai marmer seperti serbuk besi halus.
Namun Gu Yuan tidak membiarkan debu batu itu berserakan begitu saja. Jika garis urat rune terputus secara mentah tanpa penanganan khusus, sisa gelombang Qi spiritual yang mengendap di dalam tiang akan bocor ke udara, memicu getaran keganjilan pada pelat giok pengendali formasi yang saat ini masih terhubung dengan kesadaran Tetua Mo Cheng di aula balai obat. Jika Mo Cheng merasakan ada getaran simpul yang mati sebelum waktunya, tetua itu akan tahu ada sabotase yang sedang berlangsung.
Gu Yuan membuka ikatan tali kantong kanvas abu-abu di pinggangnya, mengambil sejumput garam pemadam formasi yang berbau belerang asin dingin. Dengan jemari tangan kirinya yang basah oleh keringat, ia mengoleskan serbuk garam tersebut tepat ke celah alur rune yang baru saja ia kikis dengan mata pahat baja.
Cesss…
Suara desis halus terdengar saat garam pemadam formasi bereaksi dengan sisa tenaga spiritual di dalam batu obsidian. Serbuk putih keabu-abuan itu meleleh menjadi pasta lengket berwarna kelabu gelap yang menutup celah kikisan, menyamarkan kerusakan fisik tiang dari luar sekaligus membekukan aliran Qi di dalam simpul tersebut secara permanen. Dari kejauhan atau melalui pantauan indra spiritual biasa, tiang ketujuh akan tetap terlihat utuh dan berfungsi normal, padahal simpul pengatur tekanannya telah lumpuh total.
Gu Yuan mengulang proses tersebut dengan ketelitian yang luar biasa: memahat alur rune seperenam depa, meniup debunya secara perlahan, lalu menambal celahnya dengan pasta garam pemadam. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya menuruni pipi yang tertutup kain basah, menetes membasahi kerah jubah abu-abunya yang kotor.
Tanduk ketiga ukiran kepala banteng berhasil ia kikis hingga rata dengan dinding tiang. Alur urat darah yang menghubungkan tiang ketujuh dengan kolam penampung utama kini telah bergeser posisinya, siap memuntahkan seluruh tekanan ke arah barat begitu formasi dipaksa berputar pada kecepatan puncaknya saat ritual berlangsung.
Separuh pekerjaan sabotase di tiang ketujuh telah selesai dengan sempurna tanpa memicu alarm formasi.
Namun, tepat saat Gu Yuan hendak menarik napas panjang dan membersihkan sisa serbuk garam di tangannya, suara gemuruh aneh mendadak bergetar dari dasar kolam darah di sampingnya. Lantai marmer hitam tempatnya berlutut bergetar halus, disusul oleh suara gemerincing rantai tembaga purba yang berkarat di kedalaman cairan merah.
Bruk… bluk… bluk!
Cairan merah kental di dalam kolam selebar sepuluh langkah itu mendadak mendidih hebat. Gelembung-gelembung gas sebesar kepalan tangan meletup liar di permukaan air, memuntahkan kabut merah darah yang jauh lebih tebal dan pekat dari sebelumnya. Kabut itu membubung tinggi memenuhi langit-langit aula gua, menelan formasi stalaktit batu kapur ke dalam kegelapan merah temaram yang mengerikan.
Gelombang riak air kolam menghempas bibir marmer hitam dengan suara deburan keras, memercikkan cairan darah busuk ke sepatu jerami Gu Yuan.
Dari dasar kolam yang berputar membentuk pusaran air merah raksasa, sebuah siluet makhluk hidup berukuran luar biasa besar perlahan mulai bergerak naik ke permukaan, membelah cairan merah dengan gerakan bergelombang yang lambat dan mematikan.