NovelToon NovelToon
Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Sang Raja Mafia -the King Of Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 4: SEPULUH TAHUN SETELAH ASAP ITU

...Malam itu pintu akhirnya dibuka, tapi lelaki di baliknya tidak pernah melangkah masuk. Kenzo, yang bersembunyi di belakang Axel dengan napas tertahan, hanya sempat melihat sepotong lengan jas gelap dan sebuah koper kulit yang diletakkan di ambang pintu dengan hati-hati, seperti meletakkan hadiah di depan rumah anjing yang belum jinak. Di dalamnya ada uang dalam jumlah yang tidak pernah Kenzo lihat seumur hidupnya, selembar kertas berisi alamat, dan sebuah mainan kayu berbentuk kapal kecil yang catnya masih basah. Victor menatap kapal itu lama sekali dengan wajah yang tidak bisa dibaca, lalu menyimpannya di dasar lemari dan tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya lagi. Setelah malam itu, semua yang mereka butuhkan datang tanpa pernah diminta, dan Kenzo kecil belajar bahwa ada pemberian yang justru paling menakutkan karena tidak pernah bisa dibalas....

...Itu sepuluh tahun yang lalu....

... ...

...Pabrik es di dekat pelabuhan Sarvenna itu masih berbau amis laut, hanya saja sekarang lantainya sudah dilapisi matras tebal yang tambalannya berlapis-lapis, dan di sudut ruangan tergantung samsak kulit yang jahitannya sudah tiga kali diperbaiki. Kenzo, tujuh belas tahun, berdiri di tengah matras dengan tubuh yang tidak lagi ada hubungannya dengan anak kurus yang dulu menangis di bawah jembatan. Bahunya lebar, otot lengannya liat dan padat, dan di bawah tulang rusuk kanannya ada bekas jahitan panjang dari latihan pisau yang ia lakukan terlalu cepat setahun lalu. Matanya masih sama, hanya saja sekarang jarang sekali ada yang bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan, bahkan orang yang paling lama mengenalnya....

..."Sudah, Kenzo, maju. Jangan cuma berdiri kayak patung."...

...Victor berdiri di seberangnya dengan kedua tangan terbalut kain putih, rambutnya yang dulu hitam kini sudah dihiasi uban di pelipis, dan ada garis-garis baru di sekitar mulutnya yang tidak pernah ada waktu itu. Ia masih tegap, tapi lututnya kiri sedikit menekuk saat bertumpu, kebiasaan kecil yang diam-diam selalu Kenzo perhatikan dan tidak pernah berani ia komentari....

..."Om yakin? Kemarin dokter bilang..."...

..."Dokter itu tahu apa soal Muay Thai." Victor menyeringai, dan seringai itu masih seringai yang sama dengan waktu ia salah menghitung soal pembagian dulu. "Ayo. Lima ronde. Kalau om yang menang, kamu cuci piring seminggu."...

..."Om kan nggak pernah masak, Om cuma bakar nasi."...

..."Justru itu, makanya piringnya nggak pernah kotor, kamu ngerti nggak sih..."...

...Ronde pertama berjalan seperti biasa, dengan Victor mengandalkan pengalaman dan Kenzo mengandalkan kecepatan, saling mengukur jarak, saling menepis, siku bertemu lengan dengan bunyi yang keras dan bersih. Ronde kedua Victor mendaratkan satu tendangan rendah ke paha Kenzo yang membuat anak itu mundur setengah langkah sambil mendesis, dan lelaki itu tersenyum tipis seakan berkata *nah, masih belum*. Tapi di ronde ketiga sesuatu berubah. Kenzo berhenti mendengarkan suara-suara di kepalanya, dan gerakannya menjadi lebih sunyi, lebih ekonomis, lebih mirip air yang menemukan celah di antara batu-batu. Ia menangkap tendangan Victor dengan lengan kirinya, menyapu kaki tumpuan lelaki itu, memutar pinggul, dan sebelum ia sadar apa yang dikerjakan tubuhnya sendiri, Victor sudah terbaring telentang di matras dengan napas tersengal, dan lutut Kenzo menekan dadanya....

...Kepalan kanan Kenzo sudah terangkat di atas wajah lelaki itu. Satu pukulan saja. Satu pukulan dan ronde ini, dan seluruh pertandingan ini, selesai....

...Kepalan itu tidak turun....

...Ia bisa merasakan napas Victor di buku-buku jarinya yang gemetar. Dari jarak sedekat itu ia melihat setiap hal yang biasanya luput: bulu mata yang sudah mulai memutih, bekas luka tipis dari alis ke pelipis yang dulu ia lihat di bawah cahaya api, dan mata kelabu itu, yang sedang menatapnya tanpa takut sedikit pun....

..."Kenapa berhenti?" tanya Victor pelan....

..."Aku..." Tenggorokan Kenzo mengunci. Lengannya yang terangkat mulai bergetar halus, dan perlahan, seperti orang yang menyadari ia sedang memegang sesuatu yang bisa pecah, ia menurunkannya. "Aku nggak bisa, Om."...

..."Nggak bisa apa?"...

..."Aku nggak berani... sakitin Om."...

...Kalimat itu keluar kecil sekali, dan begitu sampai di telinga Victor lelaki itu tidak bergerak. Kenzo menunduk, rambutnya jatuh menutupi mata, dan ia buru-buru bangkit dari atas tubuh Victor seolah baru menyadari ia sedang menindihnya, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri dengan gerakan yang canggung sekali, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan....

..."Om ibu sama ayah buat aku, Om..." katanya terbata, tanpa berani mengangkat wajah, dan baru setelah kalimat itu keluar ia sadar betapa konyolnya susunannya. "Maksudku... Om yang... yang gantiin dua-duanya. Gimana mungkin aku... Om dulu yang gendong aku lewat kali, yang ngajarin aku jatuh, yang... yang nggak pernah pergi. Terus sekarang aku disuruh mukul Om? Nggak. Nggak bisa. Om cuci piring sendiri aja, aku nggak apa-apa kalah."...

..."Dasar anak bodoh."...

...Suara Victor serak, dan ia tidak menerima uluran tangan itu. Ia hanya duduk di matras sambil menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangan yang masih terbalut kain, bahunya naik turun satu kali, dua kali, dan Kenzo yang berdiri kaku di depannya baru mengerti bahwa lelaki itu tertawa, atau mencoba tertawa, karena tawa itu berakhir di tengah jalan menjadi sesuatu yang lain. Dari saku kemejanya yang terbuka saat jatuh tadi, sepotong kertas yang dilipat kecil-kecil menyelip keluar dan jatuh di atas matras. Kertas yang sudah menguning, lembut di lipatannya seperti kain tua, dan di satu sisinya, di antara coretan yang hampir sobek, masih terbaca satu nama dengan tulisan miring seorang anak tujuh tahun....

...Kenzo menatap kertas itu. Sepuluh tahun. Lelaki ini menyimpannya sepuluh tahun di dekat dadanya....

..."Om..." bisiknya....

..."Nanti suatu hari kamu harus bisa, Kenzo." Victor memungut kertas itu dengan jari-jari yang tidak benar-benar stabil, menyimpannya kembali ke saku, dan menepuk dadanya sendiri dua kali seperti orang menenangkan sesuatu di dalam. "Kamu harus bisa mukul orang yang kamu sayang kalau memang dunia ini maksa. Itu yang paling susah diajarin. Om sendiri... om nggak pernah bisa." Ia mengusap hidungnya cepat dengan punggung tangan, lalu berdiri, memaksa lututnya tegak, dan mengacak rambut Kenzo seperti dulu, rambut belakang yang selalu berdiri melawan. "Tapi hari ini kamu menang. Besok om masak. Terserah kamu mau makan apa."...

..."Nasi bakar."...

..."Heh."...

... ...

...Axel menunggu di tangga besi yang menuju lantai dua, dengan kaki menjuntai dan tablet bersandar di lutut, dan Kenzo menangkap bayangan senyum tipis di wajahnya begitu mereka bertatapan. Sembilan belas tahun sekarang. Kurus dan lebih tinggi dari Kenzo setengah kepala, rambutnya masih terlalu panjang menutupi separuh mata, dan bekas luka melingkar di lehernya sudah hampir tak kelihatan di balik kerah hoodie hitam yang selalu ditarik sampai dagu. Ia jarang meninggalkan tempat itu. Semua dunianya berpindah ke layar-layar, ke kabel dan server rakitan yang berjejer di ruangan atas seperti hutan kecil yang berkedip-kedip, tempat ia menghabiskan malam demi malam menelusuri lorong-lorong yang tidak bisa dimasuki siapa pun....

...Tangannya bergerak cepat. Jari-jari itu menunjuk Kenzo, mengepal di depan dada, lalu menyilang dan membuka seperti burung terbang....

...*Kamu kalah sama hatimu sendiri.*...

..."Berisik," gumam Kenzo, tapi sudut bibirnya naik. Mereka tidak butuh kata untuk ini. Sepuluh tahun belajar membaca satu sama lain lewat gerak jari dan sudut alis membuat bahasa mereka sendiri, kasar, penuh singkatan dan lelucon yang tidak akan dimengerti siapa pun di luar ruangan ini, dan bahkan ketika Axel menggerakkan tangannya terlalu cepat atau sengaja tidak menyelesaikan satu kalimat, Kenzo hampir selalu tahu isinya. Kalau tidak, Axel akan mengetik di tablet, dan suara datar mesin dari speaker kecil itu akan mengisi kekosongan dengan nada yang tidak pernah berubah, sebuah lelucon lama yang tak pernah mereka tertawakan lagi karena sudah terlalu akrab....

..."Aku capek, Xel. Mau mandi, makan, tidur."...

...Axel menggeleng pelan. Wajahnya, yang tadi masih santai, kini berubah dengan cara yang membuat Kenzo berhenti di anak tangga ketiga. Ia menunjuk ke atas, ke arah ruangan berserver, lalu menunjuk dirinya sendiri, lalu Kenzo, dan akhirnya melipat kedua tangan di depan dada dengan cara yang hanya ia lakukan kalau sesuatu benar-benar penting. Cara yang sama waktu mereka berusia sembilan tahun dan ia menemukan sesuatu di bawah ranjang, sesuatu yang tidak ia izinkan Kenzo lihat sampai ia yakin itu tidak berbahaya....

..."Ada apa?"...

...*Ikut aku. Jangan bilang Victor.*...

... ...

...Ruangan di atas itu gelap kecuali pendar biru dari belasan layar, dan hawanya hangat oleh mesin-mesin yang tidak pernah dimatikan. Axel duduk di depan monitor terbesar, mengetik dengan kecepatan yang membuat jari-jarinya hampir kabur, dan Kenzo berdiri di belakang kursinya dengan tangan terlipat, menunggu. Di layar muncul deretan kolom, daftar nama kapal, tanggal, kode pelabuhan, dan tanda tangan, puluhan, ratusan lembar berisi kolom yang sama yang berulang dalam ritme yang menakutkan....

..."Ini apa?"...

...Axel mengambil tablet dan mengetik pelan. Suara mesin itu menjawab, datar, tanpa emosi, dan justru karena itu setiap katanya jatuh seperti batu ke dasar air....

..."Manifest dermaga. Salinannya. Tiga tahun aku cari, tersimpan di server arsip pelabuhan yang dikubur di bawah tujuh lapis enkripsi. Semalam akhirnya terbuka."...

...Kenzo tidak bergerak. Napasnya tersangkut di dada, dan untuk sesaat ia tidak bisa merasakan jari-jarinya sendiri. *Foto dermaga, daftar kapal, sama nama-nama yang tanda tangan.* Suara Ayah, di dapur yang gelap, di antara mangkuk bubur....

..."Ini yang ada di amplop itu," bisiknya....

...Axel mengangguk. Ia menggulirkan layar ke bawah, lalu berhenti di satu kolom paling kanan yang diberi tanda merah, tempat tanda tangan seorang pejabat tertulis di setiap lembar, dengan goresan yang sama, panjang, miring, berakhir dengan garis lurus yang menusuk ke bawah seperti pisau. Ayah pernah bilang tentang seorang jenderal yang tanda tangannya ada di setiap lembar manifest. Kenzo membungkuk, mendekatkan wajahnya ke layar, dan mulutnya terbuka tanpa suara saat ia membaca nama yang tercetak kecil di bawah goresan itu....

..."V. Pradana."...

...Lalu, di bawahnya, tanggal pengesahan. Kenzo menghitungnya sekali, dua kali, dengan mulut yang menggumam tanpa sadar, jari-jarinya mencengkeram sandaran kursi sampai bergetar. Tanggal itu jatuh tiga bulan setelah Victor dipecat, dipermalukan, dan dilepas bajunya di depan semua orang. Tiga bulan setelah ia, menurut ceritanya sendiri, tidak punya rumah, tidak punya teman, tidak punya apa-apa....

..."Ini... ini pasti dipalsuin," kata Kenzo, suaranya naik dan patah. "Iya, kan, Xel? Bisa aja dipalsuin. Orang itu... orang itu mau nutupin jejaknya, mereka pasti pakai nama Om Victor buat... buat..."...

...Axel tidak menjawab. Ia menatapnya dengan mata yang sudah terlalu lama melihat terlalu banyak hal, mata yang sama dengan waktu mereka pertama bertemu di balik tumpukan karung beras, lalu perlahan menggulir layar sekali lagi. Pada lembar paling bawah, di pojok yang nyaris tak terbaca, ada satu baris tulisan tangan yang berbeda, kecil, rapi, ditulis dengan tinta yang belum pudar: sebuah catatan dari penerima barang, bertanggal dua hari sebelum malam pembantaian....

...*Sudah dikonfirmasi. Adriel Wicaksana mulai mengumpulkan bukti. Pak Victor sudah diberi tahu.*...

...Kenzo tidak sadar kapan lututnya lemas. Ia hanya tahu tiba-tiba ia sudah berpegangan pada pinggir meja, dan di kepalanya satu kalimat terputar berulang-ulang dengan suara yang sudah sepuluh tahun tidak ia dengar, suara serak, terputus, tepat di telinganya di bawah akar besar itu....

...*Aku telat... dua jam... aku cuma telat dua jam...*...

...Telat. Atau tepat waktu....

...Di belakang mereka, di dasar tangga besi, terdengar langkah sepatu yang pelan dan berat, langkah seorang lelaki yang lututnya sudah tidak sekuat dulu. Kenzo menoleh perlahan. Victor berdiri di ambang pintu dengan handuk di bahu dan sebuah kaleng biskuit di tangan, mungkin hendak mengajak mereka makan, dan matanya yang kelabu tidak menatap Kenzo, tidak pula Axel, tetapi layar monitor itu, yang masih memamerkan namanya sendiri dalam huruf kecil di bawah tanda tangan yang menusuk seperti pisau....

...Wajahnya tidak berubah. Itu yang paling mengerikan. Wajah itu sama sekali tidak berubah, dan kaleng biskuit di tangannya jatuh dan terbuka, menyebarkan kue-kue kering ke lantai tanpa ada satu pun dari mereka yang menunduk untuk memungutnya....

..."Kenzo," kata Victor pelan. "Dengar om dulu."...

...Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Kenzo yang berusia tujuh belas tahun, yang tidak berani memukul lelaki itu bahkan ketika ia bisa, mundur selangkah....

... ...

...*Bersambung ke Bab 5*...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
iih jadi inget.. 🤭🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu harunya ingat saat pas kalian masih bersama, melewatkan segala susah senang bersama, bahkan saat tersulit pun kalian bisa menghadapinya.. jangan hanya kesalahan yang bahkan membuat Kenzo menyesal seumur hidupnya pun kamu meninggalkan dia, dan juga karena seorang cewek yang sudah memberikan hati ya padanya.. padahal Kenzo sendiri cuek sama dia kan.. dia tidak membalas perasaan Silva...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaahh cinta segitiga gak tuh nantinya... terus Silva gimana dong Ken... kamu jangan memberi harapan palsu ke Silva.. kasihan kan dia.. mana si Axel juga jadi ninggalin kamu kan karena Silva suka sama kamu.. eh kamunya malah suka sama anak musuh mu sendiri.. emang enak ditinggalin sama orang yang pernah kita sayangi dan kita percayai dalam hidup kita....
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah Kenzo dong... super hero datang juga akhirnya... kak authornya pinter banget sih, lagi tegangan tinggi langsung datengin hero nya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh siapa tuh yang pakee motor🤔🤔🤔
tania Weh
kalau kekasih lama. suka gak😍?
tania Weh
dangdut ya 🤭🤭, yang dak dik duk gitu deh, kayak hatiku padamu loh 🤣
tania Weh
mungkin author nya pernah deh
tania Weh
iiiiihhhn jadi flashback deh saat aku di suapin seseorang 😍😍😍😍
tania Weh
peran jahat lagi ini
tania Weh
romantis bangeeeeett 😍😍, jadi pengen deh di peluk kak author nya 🤭
tania Weh
diskusi apa sih, 😍😍😍😍😍 , apaa jangan jangan aku ya 😄😄
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waah kak authornya mau berdiskusi dulu ternyata.. silahkan kak.. nyantai aja...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaaahh Axel kenapa kamu begitu... ahh tidaaakk.. 😥😥😥
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah apa maksudnya si lord ini.. dia mau memecah Axel sama Kenzo... dan siapa 2 orang yang bertopeng dengan tongkat itu.. apakah dia yang tadinya duduk di kursi roda itu kah? 😱😱😱
EVandri Beloved❤❤: yang jelas bukan penjahat waspadalah... waspadalah.. waspadalah
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
aaahh Axel hubungan kamu sama kenzo jangan jadi rusak gara² hal ini dong... hati tidak bisa berpindah begitu saja kan.. hati yang memilih.. kamu juga pasti tahu hati tidak bisa ditebak kita akan menyukai siapa didunia ini.. karena kalau jati sudah memilih maka kita tidak bisa menolak... pliisssss jangan jadi renggang sama Kenzo...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa lagi mereka???
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah kamu Kenzo... kenapa kamu tembak mati dulu... harusnya walaupun kamu tembak, tapi jangan di tempat yang fatal duku biar kamu bisa ngorek. informasi yang kamu cari dari dia...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apakah itu adalah ayahnya si Kenzo itu? 🤔🤔🤔
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waaah cinta segitiga nih.. Axel kamu jangan jadi begitu dong sama Kenzo.. hati tidak bisa dipaksakan untuk mencintai... kita tidak bisa memilih atau menolak haal itu... semoga kamu bisa legowo Axel... ingat kalian sudah tumbuh bersama selama ini, jangan hanya karena hal itu hubungan kalian jadi retak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!