Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 11
Yuri meremas jemarinya yang dingin, menahan napas sampai dadanya terasa sesak. Angin siang yang berembus pelan sama sekali tak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih. Langkah pria itu begitu tenang, begitu percaya diri, seolah-olah tuduhan Yuri hanyalah angin lalu yang menggelitik pendengarannya.
Dari balik pintu kaca, Ajeng mengintip dengan mata membelalak lebar. Begitu melihat Yuri berjalan kembali dengan wajah memerah menahan gusar, Ajeng langsung menyambut sahabatnya itu di ambang pintu.
"Gimana, Yuri? Dia ngaku nggak?!" bisik Ajeng panik sambil memegang kedua lengan Yuri.
"Dia beneran mata-mata si Sandra, kan? Duh, aku makin cemas deh! Nanti kalau dia ambil foto kamu terus diedit-edit buat dijatuhin ke si Abimana gimana?"
Yuri menghela napas panjang, mengibaskan tangannya pelan seraya mencoba menguasai emosinya kembali.
"Dia nggak membantah, Jeng. Dia malah nantangin secara halus," jawab Yuri dengan nada rendah tapi penuh penekanan.
"Dia bilang dia bakal 'merhatiin gerak-gerik aku lebih detail lagi' biar laporannya lengkap. Gila banget kan orang itu?"
Ajeng langsung menepuk jidatnya sendiri.
"Astagfirullah! Muka ganteng, penampilan perlente, tapi kelakuan jadi suruhan pelakor! Dasar pria aneh! Sekarang dia ngapain di dalam?"
Yuri melirik sekilas ke meja sudut. Pria itu sudah kembali duduk santai di kursinya. Kacamata tipisnya sudah bertengger manis di pangkal hidung, dan jemarinya kembali menari di atas papan ketik seolah-olah percakapan tajam di luar tadi tidak pernah terjadi. Bahkan, cangkir Americano yang sudah agak dingin itu kembali ia seruput dengan gestur begitu menikmati.
"Biarkan saja, Jeng," tegas Yuri sambil menyambar apron hitamnya di meja kasir dan mengikatnya kencang di pinggang.
"Kalau si Sandra pikir bisa bikin aku ciut cuma pakai orang suruhan yang sok misterius begini, dia salah besar. Mulai sekarang aku bakal kerja kayak biasa. Biar dia puas ngeliat aku nggak terpengaruh sedikit pun!"
"Sip! Itu baru Yuri yang aku kenal!" seru Ajeng membakar semangat.
"Biarin aja itu cowok lumutan di sana!"
Sore harinya, sekitar pukul lima, suasana kedai kopi mulai ramai oleh pengunjung yang pulang kerja. Aroma biji kopi segar menyatu dengan riuh rendah perbincangan di area dalam.
Pintu depan kedai mendadak terdorong agak keras. Lonceng berdentang cepat, diikuti langkah kaki yang tergesa-gesa dan napas yang memburu.
Yuri yang sedang mengelap meja bar mendongak, dan seketika dadanya berdesir dingin.
Abimana berdiri di sana.
Pria itu tampak sangat berantakan. Kemeja putihnya yang tadi pagi disetrika licin kini kusut dan agak lecek di bagian lengan. Dasi yang biasa ia banggakan sudah dilepas entah ke mana. Raut wajahnya dipenuhi kecemasan yang teramat sangat.
Mata Abimana menyapu seluruh ruangan dengan liar sampai akhirnya bertabrakan dengan tatapan dingin Yuri.
"Yuri!" panggil Abimana dengan suara parau.
Tanpa peduli pada beberapa pengunjung yang menoleh terkejut, ia melangkah lebar mendekati meja kasir.
Ajeng yang sedang berdiri di dekat mesin espresso langsung memasang posisi siaga, tangannya sudah menggenggam gagang pemukul kopi dengan erat.
"Mau ngapain lagi si baji-ngan ini ke sini?!" bisiknya sengit.
"Ada apa, Mas? Tumben datang ke toko?" tanya Yuri datar. Ia tetap berdiri di balik meja kasir, meletakkan kain lapnya tanpa riak emosi.
Abimana mencengkeram tepi meja kasir dengan kedua tangannya yang gemetar. Peluh dingin menetes di pelipisnya.
"Yuri... tolong Mas, Dek..." bisik Abimana dengan nada memelas yang sangat tertahan, takut didengar orang lain.
"Tolong transfer uang tabungan kamu dua puluh juta aja. Tolong banget, Yuri..."
Yuri menaikkan sebelah alisnya. "Bukannya tadi malam aku sudah kasih jawaban tegas? Kenapa kamu masih nanya hal yang sama?"
"Yuri! Ini darurat!" potong Abimana, suaranya naik setengah oktav hingga bibirnya bergetar hebat.
"Pihak bank tadi siang udah telepon aku! Jatuh tempo cicilan KPR rumah kita sore ini jam lima! Kalau hari ini aku nggak setor minimal lima juta lima ratus, nama aku langsung masuk daftar hitam sistem bank, Yuri! Rumah kita bisa kena penalti!"
"Rumah kamu, Mas. Bukan rumah kita," ralat Yuri tenang, meniti setiap kata dengan penuh presisi.
"Kan nama di sertifikat dan KPR itu nama kamu sendiri. Lagian, kamu kan punya gaji empat juta tiga ratus yang tersisa? Pakai aja uang itu dulu."
"Nggak bisa, Yuri!" erang Abimana frustrasi, meremas rambutnya sendiri di depan Yuri.
"Ibu tadi siang datang ke kantor aku! Ibu nangis-nangis di parkiran karena Zaki ngamuk nggak mau masuk sekolah! Aku... aku terpaksa kasih uang dua juta dari gaji aku buat DP motor Zaki di dealer! Sisa uang aku tinggal dua juta seratus! Mana cukup buat bayar cicilan KPR?!"
Mendengar pengakuan polos itu, Yuri terkekeh pelan, sebuah tawa sumbang yang amat dingin.
"Luar biasa..." bisik Yuri sambil menggelengkan kepala.
"Kamu lebih milih ngebeliin adik kamu DP motor daripada menyelamatkan rumah yang kita perjuangkan dua tahun ini? Dan sekarang kamu lari ke sini buat ngemis sisa uangnya dari aku?"
"Yur, aku ini anak tertua! Aku nggak tega liat Ibu menangis!" bentak Abimana, melupakan posisinya yang sedang meminta bantuan. "Kamu sebagai istri harusnya paham posisi aku! Lagian kamu punya uang tabungan tiga puluh juta! Masa cuma minjem lima juta buat bayar KPR aja kamu setega ini sih?!"
"Uang tabungan itu hasil keringat aku sendiri, Abimana!" tembak Yuri tegas, menatap lurus ke dalam mata suaminya tanpa rasa takut.
"Aku kumpulin dari jualan kue dan lembur di sini! Bukan buat nambal kebodohan kamu yang turutin gengsi keluarga kamu!"
"Kamu,"
RINGGG! RINGGG!
Ponsel di saku celana Abimana mendadak berdering kencang, memotong kalimatnya. Nama Sandra terpampang jelas di layar yang terus bergetar.
Abimana seketika membeku. Rasa paniknya menjulang tinggi. Dengan jemari yang gemetaran hebat, ia mematikan nada dering dan mengangkat panggilan itu dengan setengah berbisik.
"Ya... halo?" tanya Abimana panik, melangkah mundur dua tapak menjauhi meja kasir.
Suara melengking Sandra terdengar agak samar namun cukup tegas dari seberang telepon.
"Mas Abi! Kamu di mana sih?! Papa tiba-tiba ngajak makan malam bareng sekarang di restoran biasa! Kamu harus datang sekarang juga, Papa mau bicarain soal promosi dan rencana hubungan kita! Aku jemput atau kamu langsung ke sana?!"
Wajah Abimana yang semula memerah kini berubah seputih kertas. Di satu sisi, KPR rumahnya tenggat satu jam lagi dan istrinya menolak memberi uang. Di sisi lain, panggilan dari Sandra adalah 'pintu emas' sekaligus ancaman terbesar bagi kariernya jika sampai ia membuat Pak Gunawan menunggu.
"Iya, San! Mas... Mas langsung meluncur ke sana sekarang ya!" jawab Abimana gagap, tenggorokannya mendadak mengering.
Tanpa sempat membalas ucapan Sandra lebih lanjut, Abimana mematikan sambungan telepon. Ia menatap Yuri sejenak dengan pandangan penuh amarah, kecemasan, dan rasa terdesak yang bercampur aduk.
"Awas kamu ya, Yuri! Kita belum selesai!" ancam Abimana dengan suara gemetar, lalu berbalik dan berlari tergesa-gesa keluar dari kedai kopi demi mengejar panggilan Sandra.
Yuri hanya menatap kepergian suaminya dengan senyum tipis yang sarat akan cibiran.
Belum sempat Yuri menarik napas lega untuk menata kembali emosinya, tak sampai satu jam kemudian sekitar pukul enam sore suara pintu kedai kembali terbuka dengan dentuman kasar.
Lonceng kedai berdenting nyaring ketika sosok wanita paruh baya berbusana mencolok melangkah masuk dengan wajah cemberut dan napas memburu. Di belakangnya, Zaki mengekor sambil berkacak pinggang dan memegang kunci motor baru yang digantungkan di jarinya.
Ibu Gina, ibu mertua Yuri tiba.
Ibu Gina meneliti sekeliling kedai kopi yang sempit itu dengan tatapan penuh keangkuhan dan rasa jijik, sebelum akhirnya matanya tertuju lurus pada Yuri yang berdiri di balik kasir.
"Yuri!" jerit Ibu Gina tanpa malu di hadapan beberapa pelanggan yang masih ada di dalam kedai. Langkah kakinya menyentak keras menghampiri meja kasir.
Ajeng menepuk jidatnya.
"Ya Tuhan... nenek lampir seniornya datang," bisik Ajeng menepuk dadanya panik.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏