Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib Janin Tak Berdosa
Bab 8 Istri Polos Tuan Garra
Elisa akhirnya memberanikan diri. Setelah dua hari menangis dan menatap dua garis merah itu, ia tahu ia tidak bisa terus lari. Ia harus tahu pasti. Ia harus mendengar dari dokter, bukan hanya dari alat kecil yang ia beli di apotek.
Ia mencari klinik yang paling jauh. Sengaja. Ia cari di Google Maps, klinik kandungan yang lokasinya jauh dari kos dan jauh dari kampus. Ia adalah mahasiswi beasiswa penuh. Jika sampai kabar ini bocor ke kampus, bukan hanya malu yang ia dapat, tapi ia bisa di-DO. Beasiswanya dicabut. Masa depannya hancur.
Dengan jaket hoodie kebesaran dan masker dobel, ia memesan ojek online. Hampir 45 menit perjalanan menembus macetnya jalanan ibu kota siang itu. Jauh. Sepi. Tempat yang ideal untuk menyembunyikan aib.
Sesampainya di sana, hatinya langsung was-was. Klinik itu ramai. Sangat ramai. Dan semuanya adalah ibu-ibu hamil dengan perut buncit yang bahagia, ditemani suami mereka yang siaga membawakan tas, memijit punggung, mengusap perut.
Dan di tengah-tengah kebahagiaan itu, Elisa duduk sendirian. Paling muda. Paling pucat. Perutnya masih rata, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana jika dilihat kasat mata. Wajahnya yang masih sangat belia, dengan baju kuliah yang ia sembunyikan di balik hoodie, membuat beberapa suster dan ibu-ibu di sana meliriknya dengan tatapan aneh. Tatapan menghakimi. Tatapan yang seolah berkata, "Anak sekecil ini sudah hamil? Pasti hamil di luar nikah."
Elisa hanya bisa menunduk semakin dalam. Ia meremas ujung Hoodie nya sampai kuku-kuku jarinya memutih. Malu. Takut. Sendirian. Ia mengelus perutnya yang rata di balik jaket, seolah ingin memberi kekuatan pada janin kecil yang bahkan belum berbentuk itu.
"Maaf ya... aku cuma punya kamu sekarang," batinnya.
Antrean terasa seperti seabad.
Sementara di belahan tempat yang lain.
Di lantai 42 sebuah apartemen mewah dengan pemandangan seluruh kota, Anggara baru saja pulang.
Pukul 3 sore. Terlalu awal untuk seorang Tuan Anggara yang biasanya pulang jam 10 malam.
Alex, sekretaris pribadinya, mengikutinya dari belakang dengan wajah cemas.
"Pak, Anda pucat sekali. Dokter Wijaya sudah saya panggil, sebentar lagi sampai. Anda harus istirahat."
Anggara melempar jas mahal-nya ke sofa. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar. Wajahnya memang pucat, tapi sorot matanya tajam dan tidak fokus.
Dari kemarin ia tidak selera makan. Mual. Pusing. Dokter pribadinya bilang asam lambungnya naik karena telat makan dan stres pekerjaan. Disuruh jaga pola makan.
Tapi Anggara tahu, bukan itu penyebabnya. Pikirannya melayang ke satu wajah. Wajah polos yang menangis di bawahnya malam itu. Gadis yang ia suruh mandi karena ia benci perempuan kotor. Gadis yang bergetar hebat di bawah kuasanya.
Sudah seminggu gadis itu tidak ia cari. Anggara memang sedang sibuk-sibuknya dan ia sedikit sengaja. Ia ingin melupakannya. Baginya, Elisa hanyalah transaksi. Selesai. Meskipun kemarin sempat terpikirkan terus.
Tapi kenapa bayangannya terus muncul? Kenapa rasa penasaran yang aneh ini terus menghantuinya?
Beberapa saat kemudian.
Bukannya fokus pada kesehatannya, Anggara justru meraih ponselnya.
Ia menelepon Alex yang baru saja keluar dari apartemen setelah mengantarnya.
"Alex! Cari tahu, apa saja yang dilakukan gadis itu akhir-akhir ini!"
Di seberang telepon, Alex terdiam sepersekian detik. "Gadis itu... maksud Tuan Elisa? Sekarang, Pak?"
"Alex, sejak kapan kau jadi bodoh dan banyak bertanya?!" bentak Anggara, suaranya naik satu oktaf. Mood-nya langsung jelek seketika.
Ponsel langsung dimatikan dengan kasar. Anggara memejamkan mata, memijat pelipisnya. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Di Klinik.
"Ibu Elisa...?"
Nama itu dipanggil. Elisa tersentak kaget. Jantungnya berdebar kencang.
Ia berdiri dengan langkah gontai, menundukkan kepala dalam-dalam, berjalan melewati tatapan-tatapan ibu-ibu itu menuju pintu pemeriksaan.
Pintu itu terasa seperti pintu menuju vonis.
"Silahkan berbaring di sini, Mbak," kata seorang dokter perempuan paruh baya yang ramah. Senyumnya tulus.
Dengan rasa yang sangat tidak nyaman, malu, dan takut, Elisa naik ke ranjang pemeriksaan yang dingin itu. Ia berbaring kaku. Hoodie-nya ia singkapkan sedikit, memperlihatkan perutnya yang masih putih dan rata.
Dokter itu mengoleskan gel dingin ke perutnya. Elisa menggigit bibirnya, menahan rasa takut.
"Rileks ya, Mbak. Tarik napas," kata dokter itu sambil menempelkan alat USG ke perutnya.
Mata Elisa tidak berani melihat layar monitor di sampingnya. Ia menatap plafon, air matanya sudah menggenang lagi.
Lalu ia mendengarnya.
Bukan suara tangisan, tapi suara detak.
Dug... dug... dug... dug... cepat dan lemah.
Dokter itu tersenyum. "Mbak Elisa, ini..."
Perlahan Elisa memberanikan diri menoleh ke layar monitor hitam putih itu.
Di sana, ada sebuah titik kecil. Hanya bintik hitam kecil dengan kedipan kecil di dalamnya.
"Itu kantung janinnya, Mbak. Dan itu..." dokter menunjuk kedipan kecil itu, "...detak jantungnya. Sudah ada. Usia kehamilan sekitar 7 minggu. Selamat ya, Mbak, calon ibu masih muda. Jaga kondisi kesehatan baik-baik."
Detak jantung itu. Detak jantung anaknya.
Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, antara takut, bersalah. Ia hamil. Benar-benar hamil. Anak itu nyata. Detak jantungnya nyata. Anak dari pria asing malam itu. Pria yang tidak ia ketahui latar belakangnya.
Lalu sekarang apa yang harus dia lakukan? Tetap membiarkan anak itu lahir atau sebaliknya, tidak pernah memberikan kesempatan bayi itu lahir ke dunia.
Bersambung.
🔥Jangan sungkan untuk berkomentar 🙏😆
internet nya fool,,, kalau biasa Pak Su JM 10 di matiin kecuali Anak Anak nya ada tugas desain baru ga matiin bisa kena semprot Anak gadis Ku galak,,,😁😁 tapi
pawang nya sang Bapak e gemes kadang
di cono kang bingung....
astagaaa Mak cerita mu bikin yg BCA nahan nafas krna emosi jiwa 🤦🤦🤦
kn udh di bilangin ma dokter klau ibu hamil 🫄🫄🫄🫄🫄iku GK boleh stres GK boleh di bikin sedih tau gak cih 🤦🤦🤦
tlong yaaaa kak thorr,,,nnti d buat bucin sebucin nya tuhhh pak anggara👍👍👍😀
lebih baik di goreskan di lapak MT Ok cus lanjut 💪💪
sebenarnya pada dasarnya mungkin baik asalkan kitanya nurut dan ikuti perintah nya ,,,bila sesuai tapi tak sesuai ya protes
tetapi menurut gitu kale ya,,,, tetapi kalau masih seperti diktaktor siluman Doberman
Yo jangan menyerah lawan Coyyyy 😁 hmm gregetan kan jadi Yo gerem,,,memang si kalau di pikir hidup di sangkar berlian bukan Mas saja si ya tapi
Yo gitu kata kata si siluman' Doberman itu
bikin. TREMOSI jiwa,,,Elisa sabar ya semoga hati siluman' di lembut kan dan di kasih sabarrrr seluas dada bidang siluman Garra wis ngono ae,,,kabur ga iso 😂