Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dunia Aetheria
Satu minggu berlalu sejak insiden di tepi tebing.
Selama tujuh hari itu, Arya menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar. Ia tidak melakukan banyak hal selain makan, tidur, dan mencoba meregangkan persendiannya secara perlahan. Bubur gandum hambar dan sup sayur yang disediakan dapur selalu ia habiskan tanpa sisa, mengabaikan rasanya yang tak karuan demi memastikan tubuh ini mendapatkan kalori untuk proses penyembuhan.
Luka robek di pelipisnya sudah mengering dan mulai menutup, meninggalkan bekas memanjang yang tertutup rambut depannya. Pergelangan kakinya yang bengkak juga sudah bisa digunakan untuk menapak ringan di atas lantai kayu. Rasa sakit di tulang rusuknya masih tersisa saat ia menarik napas terlalu dalam, namun itu adalah rasa sakit yang bisa ditoleransi.
Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kayu kamarnya. Arya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah dinding. Ia sudah muak berdiam diri. Tubuhnya butuh istirahat, tetapi pikirannya mulai terasa tumpul karena kurangnya stimulasi.
Terdengar ketukan pelan di pintu, disusul suara decit engsel saat pintu itu terbuka. Hans melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan rutin: semangkuk bubur gandum, sepotong roti keras, dan segelas air hangat.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa Hans sambil meletakkan nampan itu di atas meja kecil. "Nyonya Lisa menitipkan pesan agar Anda menghabiskan sarapan Anda. Beliau sedang mengurus pembukuan dapur di bawah."
Arya mengangguk pelan. "Terima kasih, Hans." Ia menatap pelayan tua itu sejenak. Ini adalah waktu yang tepat untuk mulai memetakan situasi. "Hans, sebelum kau pergi, ada yang ingin kuminta."
Hans menoleh, sedikit terkejut. Biasanya, tuan mudanya jarang meminta sesuatu selain selimut tambahan atau perapian yang dihangatkan. "Tentu, Tuan Muda. Apa yang Anda butuhkan?"
"Aku butuh buku," jawab Arya singkat. "Peta wilayah, sejarah kerajaan, catatan geografis, atau penjelasan tentang benua ini. Tolong bawakan ke kamarku."
Kerutan di dahi Hans semakin terlihat jelas. Tuan mudanya tidak pernah menyukai buku bacaan yang berat. Namun, melihat raut wajah Arya yang tenang dan serius, Hans menunduk hormat.
"Kastil ini memiliki sebuah ruang baca kecil di lantai dasar, Tuan Muda," jawab Hans. "Buku-bukunya mungkin berdebu, tetapi saya akan mencarikan beberapa peta dan buku sejarah untuk Anda."
"Jangan hanya sejarah lokal. Cari buku yang membahas dunia ini secara keseluruhan," tambah Arya.
Setengah jam kemudian, Hans kembali dengan tumpukan buku bersampul kulit kusam dan beberapa gulungan perkamen yang ujungnya mulai menguning. Ia meletakkan semuanya di atas meja tulis, membersihkan debu-debunya dengan sehelai kain, lalu pamit undur diri agar tuan mudanya bisa membaca dengan tenang.
Arya segera berpindah dari ranjang ke kursi kayu. Ia menyingkirkan mangkuk sarapannya yang kosong, lalu membuka salah satu gulungan perkamen terbesar. Perkamen itu berderak kaku saat dibentangkan, menampilkan sebuah peta benua yang sangat detail.
Di bagian bawah peta tersebut tertulis sebuah nama: Aetheria.
Matanya menyapu seluruh daratan yang tergambar. Dunia ini jauh lebih kompleks dari dugaannya. Peta itu membagi benua menjadi delapan belas wilayah kerajaan dan kekaisaran yang membentang dari wilayah es di utara hingga daratan di selatan.
Ia mencari posisinya saat ini. Telunjuknya berhenti di sebuah wilayah pesisir di bagian barat daya benua: Kerajaan Mossgate. Dilihat dari skala peta, Mossgate tampak terjepit di antara dua kekuatan besar. Di sebelah timurnya membentang wilayah Kekaisaran Verdentia, sementara tepat di utara Mossgate berdirilah Kekaisaran Suci Luminaria.
Posisi Baroni Denwick sendiri ditandai dengan lingkaran merah kecil di ujung utara Mossgate. Tempat ini bukan sekadar perbatasan biasa. Baroni rawa ini berbatasan langsung dengan Kekaisaran Suci Luminaria di utara, dan daratan Verdentia di timur. Posisi ini adalah sebuah chokepoint geografis yang sangat rawan. Jika Luminaria atau Verdentia memutuskan untuk melancarkan agresi militer ke Mossgate, wilayah Baroni Denwick akan menjadi titik pijak pertama yang rata dengan tanah.
Namun, bukan hanya konstelasi politik manusia yang menarik perhatiannya. Peta itu juga mencatat eksistensi ras lain. Di sebelah barat laut terdapat Eldermere Kingdom yang dihuni oleh ras Elf. Di wilayah timur tengah terdapat Emberhold Empire milik para Dwarf. Jauh di utara, wilayah bersalju Icecrown Dominion dikuasai oleh Snow Orc, sementara daratan timur laut dihuni oleh Beastman di Thalason Kingdom.
Arya menarik sebuah buku tebal berjudul Kronik Aetheria dan membuka halaman-halamannya. Ia membaca teks pudar itu dalam diam. Buku tersebut menjelaskan bahwa berbagai ras ini hidup berdampingan, berdagang, namun tak jarang saling membantai demi wilayah dan sumber daya.
Ia membalik halaman berikutnya, mencari bagian yang membahas tentang struktur kekuatan di dunia ini. Ia menemukan bab khusus yang membahas Aura dan Mana.
Mana adalah energi alamiah dunia. Mereka yang lahir dengan sensitivitas tinggi terhadap Mana disebut penyihir, mampu memanipulasi elemen dasar. Di kerajaan-kerajaan besar, para penyihir berfungsi layaknya unit artileri taktis yang bisa menghancurkan formasi musuh dari jarak jauh.
Sementara itu, Aura adalah kebalikannya. Aura adalah energi kehidupan murni yang bersumber dari dalam tubuh fisik. Energi ini dibangkitkan melalui latihan pernapasan khusus dan tekanan fisik yang ekstrem. Pengguna Aura mampu melapisi otot dan senjata mereka, memperkuat refleks, serta menahan serangan fatal yang akan menghancurkan tulang manusia biasa.
Buku itu terjatuh pelan dari genggaman Arya, mendarat di atas pangkuannya. Ia bersandar di kursi kayunya, menatap kosong ke arah peta Aetheria.
Sebuah senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya.
Di Bumi modern, sehebat apa pun dirinya melatih seni tempur, fisiknya selalu memiliki batasan absolut di hadapan teknologi. Tapi di Aetheria, Aura dan sihir menghancurkan batasan itu. Kekuatan individual adalah senjata nyata. Jika seseorang memadatkan auranya dan mengasah instingnya, ia benar-benar bisa menumbangkan formasi pasukan hanya dengan sebilah pedang. Kehormatan pertarungan jarak dekat yang ia dambakan sepanjang hidupnya di dunia modern, adalah hukum mutlak di benua ini.
Kelemahan tubuh yang ia miliki saat ini perlahan terasa seperti tantangan matematis yang harus dipecahkan.
Arya kembali merapikan buku-buku di mejanya, menyingkirkan antisipasinya untuk kembali fokus pada masalah di depan mata. Ia menyusuri buku sejarah lokal Mossgate. Tulisannya menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sistem kekuasaan yang berpusat di ibu kota pesisir, membebankan pajak tahunan yang sangat tinggi bagi baroni-baroni terpencil di wilayah rawa.
Saat membaca bagian hierarki bangsawan, matanya terpaku pada satu nama. Denwick.
Penjelasan tentang keluarganya sangat singkat. Namun, satu kalimat di buku itu menyebutkan latar belakang ayahnya, Aran Denwick. Pria itu adalah mantan pengawal inti raja terdahulu. Setelah perebutan takhta yang berdarah di ibu kota, Aran yang memilih bersikap netral akhirnya diasingkan oleh raja yang baru ke wilayah pinggiran rawa ini.
Arya teringat kembali pada kepadatan aura yang ia rasakan dari ayahnya di pelataran kastil seminggu yang lalu. Energi itu bukan milik seorang baron lemah yang tunduk pada nasib, melainkan milik seorang prajurit kelas atas yang menekan kekuatannya.
Ada rahasia besar di keluarga ini, dan kekuatan militer ayahnya jauh melampaui apa yang terlihat. Arya menutup buku itu. Sebelum ia bisa membersihkan duri di wilayahnya dan membangun pasukan, ia harus mulai memulihkan kapasitas fisiknya sendiri.
Ia menoleh ke arah jendela, menatap ke arah halaman belakang kastil. Langkah pertamanya adalah menguji coba teknik pernapasan dunia ini.
👍