NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEREMPUAN YANG DIKUBUR

"Bu Tuti?"

Nama itu keluar dari bibir Laras seperti bisikan seseorang yang takut membangunkan hantu.

Perempuan tua di tepi ranjang itu mengangguk pelan. Senyumnya tipis dan letih, tapi hangat, seperti seseorang yang sudah lama membayangkan momen ini dan akhirnya bisa menghirup udaranya.

"Duduklah, Nak. Kakimu gemetar."

Laras tidak sadar kakinya memang gemetar. Ia menarik kursi kayu kecil di dekat meja dan terduduk di sana, tak sanggup mengalihkan pandang dari wajah itu. Wajah yang sama dengan foto hitam putih. Lebih tua, jauh lebih kurus, tapi tak salah lagi.

Sumi berdiri di ambang pintu dengan tangan menutup mulut, bahunya berguncang pelan.

"Kamu mati," kata Laras bodoh. "Pak Hendarto hadir di pemakamanmu."

"Pak Hendarto hadir di pemakaman peti kosong." Tuti terkekeh kecil, lalu batuk. Sumi bergegas memberinya segelas air. Setelah menyesap sedikit, perempuan tua itu melanjutkan dengan suara yang lebih jernih. "Dua minggu lalu, dua orang berjas datang ke rumah sakit tempat aku dirawat. Mereka bilang dari 'bagian administrasi'. Tapi seorang perawat muda yang baik hati sempat berbisik padaku bahwa orang-orang itu tidak punya kartu pengenal resmi."

"Orang Rudi."

"Aku kenal salah satunya. Dulu dia sopir pribadi Rudi. Dia sering menjemput Rudi di kantor Pak Hendra bertahun-tahun lalu." Tuti menatap jendela, matanya menerawang. "Malam itu aku tahu waktuku hampir habis. Bukan karena penyakitku, tapi karena Rudi sudah tahu salinan wasiat masih ada."

"Siapa yang memberi tahu dia?"

"Itu yang belum kutemukan jawabannya." Tuti menggeleng pelan. "Aku hanya bicara pada tiga orang soal wasiat itu: Sumi, Dimas, dan satu orang lagi di kejaksaan. Salah satu dari mereka, atau seseorang yang mendengar mereka, membocorkannya."

Laras menoleh pada ibunya. Sumi menggeleng cepat dengan mata membelalak. "Bukan Ibu, Nak. Demi Tuhan."

"Aku tahu bukan kamu, Sum," kata Tuti lembut. "Kalau kamu pengkhianat, aku sudah mati sepuluh tahun lalu."

---

Tuti bercerita pelan, dengan jeda-jeda panjang untuk mengatur napas.

Malam setelah dua orang berjas itu pergi, ia menelepon Sumi dari ponsel tersembunyi yang ia simpan di bawah bantal. Mereka merencanakan sesuatu yang gila, tapi satu-satunya jalan. Seorang dokter muda, anak mantan tetangga Sumi di kampung, bersedia menandatangani surat kematian palsu. Peti kosong dikirim ke pemakaman dengan upacara lengkap. Tuti sendiri dibawa lewat pintu belakang rumah sakit dalam sebuah ambulans, lalu dipindahkan ke rumah Sumi di pinggiran kota.

"Di kamar ini aku bersembunyi dua minggu," katanya. "Sumi merawatku. Memasak bubur, membelikan obat, menutup tirai setiap sore. Dan setiap malam, aku keluar lewat pintu dapur menuju rumah lamaku di kota, mengambil foto-foto, mengamati, mencatat."

"Mengamati aku," kata Laras.

"Melindungimu." Tuti menatapnya langsung. "Sepuluh tahun aku menjagamu dari jauh, Nak. Setiap kali ada orang asing mendekatimu di sekolah Kenzo, aku tahu. Setiap kali Dimas pulang membawa bau parfum yang bukan milikmu, aku mencatatnya. Aku tidak punya anak lagi. Anakku meninggal waktu muda. Dan Sumi, sahabat yang menyelamatkan hidupku waktu aku sendirian, memintaku menjaga satu-satunya anaknya."

Laras merasakan tenggorokannya tercekat. Ia memandang tangan Tuti yang keriput dan gemetar di atas map cokelat.

"Kamu yang mengambil map di dermaga."

"Aku. Aku mengikuti kalian dari rumahmu sampai pelabuhan." Tuti tersenyum samar. "Perempuan tua yang naik angkot dan jalan kaki di antara kontainer tidak menarik perhatian siapa pun. Waktu semua orang sibuk dengan sirene dan asap, aku mendekati mobil temanmu. Dia sudah pingsan di jok. Aku hanya mengambil yang seharusnya diamankan."

"Dan wasiat asli?"

"Kukirimkan padamu dan Reza lewat rumah sakit. Karena itu hak Reza." Tuti menyentuh map di pangkuannya. "Tapi sisanya, rekaman suara Rudi, catatan keuangan, daftar rekening, aku tahan. Bukan karena aku tidak percaya kalian. Tapi karena ada seseorang di antara kita yang tidak bisa dipercaya."

"Siapa?"

Tuti menarik napas panjang. Jemarinya mengetuk-ngetuk map itu pelan.

"Aku tidak tahu namanya pasti. Tapi aku punya petunjuk." Ia membuka map dan mengeluarkan selembar kertas, daftar nama dan tanggal yang ditulis tangan. "Selama sebelas tahun, setiap kali kejaksaan hampir menyentuh Rudi, selalu gagal. Penggerebekan bocor sehari sebelumnya. Saksi mendadak hilang. Dokumen lenyap dari arsip."

"Pak Hendarto bilang itu juga yang dia curigai."

"Dia benar. Tapi dia belum menyadari seberapa tinggi lubang itu." Tuti menatap Laras dengan sorot gelap. "Orang yang membocorkan semuanya bukan penyidik biasa. Dia punya akses ke setiap berkas, setiap rencana operasi. Dia bisa memerintah, bukan sekadar mendengar."

Laras merasakan tengkuknya meremang. "Atasan Pak Hendarto?"

"Aku tidak bisa memastikan tanpa bukti. Itu sebabnya map ini kusimpan." Tuti menyentuh lembar-lembar di dalamnya. "Di dalam sini ada satu rekaman yang belum pernah didengar siapa pun. Percakapan Rudi dengan seseorang, di hari kecelakaan Hendra dan Sari. Suara orang itu terdengar jelas."

"Kamu tahu siapa?"

"Aku mengenali suaranya. Tapi aku tidak akan menyebut nama sebelum Reza ada di sini. Dia berhak mendengarnya pertama kali, bersama bukti." Tuti menutup map itu perlahan. "Panggil dia. Dan jangan bawa siapa pun yang berseragam."

Laras mengangguk pelan. Kepalanya dipenuhi suara-suara yang saling tumpang tindih, ayah yang tak pernah ia kenal sepenuhnya, ibu yang menyimpan sepuluh tahun rahasia, dan suami yang entah korban entah pelaku.

"Bu Tuti," katanya. "Dimas. Apakah dia tahu soal ayahku?"

Tuti terdiam lama.

"Waktu Dimas pertama kali masuk ke perusahaan Rudi, dia anak muda lugu dari kampung. Rudi memilihnya karena dia mudah dikendalikan, tapi Dimas lebih pintar dari yang Rudi kira." Ia menghela napas. "Aku bertemu dengannya delapan tahun lalu di rumah sakit, waktu dia datang menjenguk karena disuruh Rudi mencari tahu apakah aku masih menyimpan sesuatu. Tapi dia justru duduk di samping ranjangku dan menangis."

"Menangis?"

"Dia bilang dia mencintai istrinya. Dan dia baru sadar bahwa dia dikirim untuk menjadi mata-mata di rumah orang yang dia cintai." Tuti memandang Laras dengan lembut. "Dia minta aku memberinya sesuatu untuk menahan Rudi. Aku berikan wasiat itu padanya, dengan syarat dia menyimpannya, bukan menjualnya. Dan untuk beberapa tahun, dia setia pada janjinya."

"Sampai..."

"Sampai takut mengalahkan dia." Tuti menutup mata. "Aku tidak membelanya, Nak. Tapi aku ingin kamu tahu: pernikahanmu mungkin dimulai dengan sandiwara. Tapi sebagian dari cinta Dimas padamu nyata. Itu yang membuatnya akhirnya menerjang peluru."

Air mata Laras jatuh tanpa suara. Ia tak tahu apakah itu kemarahan, kesedihan, atau sesuatu di antara keduanya. Ia hanya tahu dadanya terasa seperti ruang yang terlalu penuh untuk satu orang.

Di luar kamar, terdengar bunyi ponsel yang bergetar di meja dapur. Sumi bergegas keluar, lalu kembali dengan wajah pucat. "Nak, ponselmu ketinggalan di meja. Dari Mira. Sudah lima kali."

Laras menerimanya dan menggeser layar dengan tangan gemetar. Lima panggilan tak terjawab. Satu pesan masuk.

*"Ras, keluar dari rumah itu SEKARANG. Dua petugas kita ditarik pulang barusan. Perintah dari atas. Pak Hendarto bilang ini bukan prosedur biasa. Dia sedang menyusul ke sana. Jangan percaya siapa pun yang datang atas nama kejaksaan."*

Laras menatap layar itu, lalu mengangkat wajah. Tuti sudah berdiri, tubuh rapuhnya bertumpu pada tongkat kayu di samping ranjang. Wajahnya tegang tapi tenang, seperti seseorang yang sudah lama menunggu badai ini datang.

"Mereka sudah tahu aku masih hidup," katanya pelan.

"Bagaimana..."

"Karena satu-satunya orang yang bisa menarik pengawasan jaksa adalah orang yang memegang kunci semua pintu." Tuti memasukkan map ke dalam tas kain tua dan menggenggamnya erat. "Orang yang selama sebelas tahun bersembunyi di balik nama baiknya."

Dari kejauhan, di ujung gang, terdengar deru beberapa mobil yang berhenti serentak. Pintu-pintu dibanting. Langkah-langkah berat menyebar di atas kerikil.

Sumi menarik napas tajam. Dari ruang tidur depan, Kenzo terbangun dan memanggil, "Mama?"

Laras berbalik menatap pintu belakang, lalu pintu depan, lalu perempuan tua yang kini mengangkat tongkatnya dengan dagu terangkat tinggi.

"Ke mana kita lari?" bisiknya.

"Kita tidak lari," jawab Tuti. Senyumnya dingin dan mantap. "Kali ini kita yang menunggu mereka."

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!