Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 9
BAB 9
Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, memancarkan pendar jingga keemasan yang membiaskan bayangan-bayangan panjang di antara struktur batu Andesit tua. Batuan vulkanik abu-abu gelap itu berdiri kaku, bertekstur padat dan kokoh menahan gempuran cuaca selama berabad-abad. Udara di kompleks candi kuno itu kian mendingin. Angin pegunungan yang membawa aroma tanah basah, lumut, dan pertanda malam berembus perlahan, menimbulkan bunyi berdesir sengau saat menembus celah-celah relief yang aus dimakan zaman.
Maya berdiri mematung di lorong selasar candi. Tatapannya terpaku pada Rendra yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Pria itu tampak tenang, mengenakan kemeja flanel gelap dengan bagian lengan digulung hingga siku. Sebuah kamera analog tua menggantung di lehernya, sementara tangan kirinya menggenggam erat buku sketsa bersampul kulit kecokelatan.
Namun, bukan hanya kehadiran Rendra yang membuat tenggorokan Maya mendadak tercekat. Tempat ini terasa terlampau hening—sejenis keheningan yang padat dan seolah bernapas. Suara jangkrik sore atau cericit burung malam yang biasa bersahut-sahutan di lereng bukit mendadak senyap. Maya merasa seolah ada belasan pasang mata tak kasat mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik celah-celah lorong batu yang gelap. Hawa dingin merayap pelan di permukaan kulitnya, membawa sensasi asing yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Jangan menatapku seolah aku ini hantu yang mengganggumu, Maya," ujar Rendra memecah keheningan dengan suaranya yang berat dan serak.
Maya menata napasnya, berusaha menekan getaran di dada dan menegakkan kembali benteng gengsinya.
"Aku tidak peduli alasanmu berada di sini. Tapi berada di tempat yang sama denganmu selalu berhasil merusak fokusku," balas Maya dingin.
"Bukan aku yang merusak fokusmu. Pikiranmu sendiri yang buntu karena kau terlalu memaksakan imajinasi tanpa memahami fondasi material," balas Rendra tenang seraya melangkah perlahan menyusuri dinding selasar.
Langkah kaki Rendra terhenti saat derap langkah lain terdengar menepuk permukaan batu pelataran. Seorang juru pelihara candi melintas membawa sapu lidi dan wadah kuningan tempat pembakaran dupa yang asap tipisnya masih mengepul. Lelaki tua berikat kepala batik itu menghentikan langkahnya, menatap Maya dan Rendra bergantian dengan sunggingan senyum sarat makna.
"Sampun sore, Mas, Mbak... Sebentar lagi mau masuk waktu sandikala. Sebaiknya jangan terlalu dekat berdiri berdampingan di depan relief ini kalau matahari sudah benar-benar tenggelam." sapa juru pelihara candi itu ramah.
Maya bertaut dahi. "Memangnya kenapa dengan sandikala, Pak? Ada mitos tertentu soal relief ini?" tanya Maya penasaran.
Juru kunci itu berdehem pelan, suaranya bergaung aneh di dinding batu.
"Tokoh di pahatan ini... Raden Jayendra dan Putri Kirana. Ratusan tahun lalu, mereka adalah pasangan pengrajin kriya dan penenun terhebat kerajaan. Tapi kisah cinta mereka tidak berjalan mudah, karena perang dingin dan fitnah intrik istana," jelas sang juru kunci sambil menatap Rendra dan Maya secara bergantian dengan pandangan dalam. "Konon, demi menyatukan tempaan logam Raden Jayendra dan tenunan Putri Kirana menjadi satu zirah utuh, mereka harus melewati pertumpahan darah dan rintangan yang hampir mustahil. Setiap jengkal zirah itu ditempa dalam penderitaan... meninggalkan bekas getaran yang sering mencari jalan pulang melalui jiwa-jiwa yang mirip dengan mereka."
Juru kunci itu menepuk bahu Rendra pelan—sebuah sentuhan singkat yang membuat Rendra terpaku kaku—lalu menatap Maya. Tatapan mata tua itu memancarkan kedalaman intuisi yang seakan sanggup membaca rahasia terselubung di dalam dada mereka berdua.
Lelaki tua itu kemudian berlalu menelusuri lorong batu yang makin gelap, meninggalkan aroma dupa melati dan kabut pertanyaan yang menggantung tebal.
Aroma wangi dupa lokal itu menyatu dengan bau tanah basah, melayang-layang di udara sore. Rendra kembali menatap panel relief utama tempat sepasang tokoh bangsawan kuno itu terukir. Maya, yang didorong oleh rasa penasaran sekaligus tidak ingin terlihat gentar, melangkah mendekat ke samping Rendra.
"Lihat pahatan ini," tunjuk Rendra dengan telunjuknya, berhenti beberapa milimeter di atas permukaan batu relief tanpa menyentuhnya. "Ini relief tokoh Raden Jayendra dan Putri Kirana. Perhatikan bagaimana pemahat era kuno memperlakukan gaun wanita ini."
Maya mencondongkan tubuhnya, menatap lekat ukiran lipatan kain pada relief sang wanita. Matanya melebar saat menyadari detailnya.
"Pengrajin kuno menggunakan teknik pahat berlapis untuk menciptakan ilusi kain yang melayang ditiup angin," terang Rendra sambil menatap panel relief utama. "Tapi kain yang melayang itu tidak berdiri sendiri. Perhatikan lempengan kerajinan logam yang mengapit pinggang dan bahunya. Logam itu menjadi kerangka penopang utama agar ilusi kelembutan kainnya tidak terkesan runtuh."
"Itu interpretasimu sebagai perancang kerajinan logam yang obsesif pada kekakuan!" sanggah Maya cepat, Entah mengapa ia merasa perkataan Rendra itu dia tujukan untuk mengkritik karyanya. "Sutra dan kain lembut memiliki jiwanya sendiri! Keindahannya justru ada pada fleksibilitas yang memeluk tubuh secara bebas, bukan karena ditahan pelat logam kaku!" lanjutnya sambil menatap Rendra dengan tajam.
"Dan itulah letak kekeliruan persepsimu jika kau hanya melihat kainnya," potong Rendra tegas, namun tanpa intonasi meremehkan. Tangannya menggeser ke arah ornamen di dada sang tokoh pria, lalu merambat ke pinggang sang wanita. "Kain yang melayang itu tidak berdiri sendiri, Maya. Perhatikan lempengan kriya logam—sabuk dan hiasan dada—yang mengapit pinggang dan bahu sang wanita. Logam itu dipahat agak dalam, menjadi kerangka penopang utama agar ilusi kelembutan kainnya tidak terkesan runtuh."
"Sutra dan kain lembut memiliki jiwanya sendiri! Keindahannya justru ada pada fleksibilitas dan pergerakannya yang memeluk tubuh secara bebas, bukan karena ditahan oleh pelat logam kaku!" sanggah Maya cepat, ia mendongak dan menatap Rendra tajam.
"Fleksibilitas tanpa kerangka hanyalah kepasrahan bentuk, Maya," balas Rendra, mendesak maju hingga bayangan tubuhnya menutupi sosok Maya. "Logam pada relief ini diciptakan bukan untuk mengurung kelembutan kain, melainkan untuk melindunginya dari benturan luar. Sama seperti karya busanamu... tanpa kerangka presisi, keindahan yang kau ingin tonjolkan itu sangat rapuh saat diterpa realitas."
"Karyaku tidak rapuh!" bentak Maya pelan, dadanya berdesir naik turun menahan gumpalan emosi yang membakar.
"Lalu kenapa kau ada di sini?" tembak Rendra lurus menatap manik mata Maya. "Kau melarikan diri dari studio karena kau tahu sketsa gaunmu untuk babak berikutnya kehilangan arah, bukan? Kau membenciku bukan karena kritikanku salah, melainkan karena aku satu-satunya orang yang sanggup melihat ketakutan di balik karyamu."
Kata-kata Rendra merambat masuk, menembus celah pertahanan emosional Maya. Di antara keheningan kompleks candi dan terpaan angin sore yang menusuk, kedua insan itu berdiri saling mengunci pandangan.
Tiba-tiba, dari ceruk batu di atas relief, sekilas pendar cahaya keemasan redup berkilat lalu lenyap dalam sekejap. Pada saat yang sama, detak jantung Maya melonjak hebat. Sebuah gema bisikan asing yang tak terartikan bergema halus di balik dinding tengkoraknya, disusul rasa rindu mendalam yang sangat menyiksa—seolah pria di hadapannya ini bukanlah rival di panggung kompetisi, melainkan seseorang yang telah ia kenal selama berabad-abad.
Rendra pun tampak terpaku. Tangannya yang memegang buku sketsa bergetar halus, matanya memancarkan rasa terkejut dan kebingungan.
Maya menahan napasnya, mencoba mencerna rasa rindu asing yang tiba-tiba menyiksa dadanya. Di tengah keheningan candi yang kian pekat dan remang, ia dan Rendra saling mengunci pandangan—terjebak dalam guncangan batin yang tak sanggup dijelaskan oleh kata-kata.