Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Pagi itu, Jingga memulai hari dengan perasaan berbeda. Meski begitu, kebebasan ternyata tidak serta-merta menghapus luka. Saat melihat cincin pernikahan yang masih tersimpan di laci, Jingga terdiam sesaat sebelum memasukkannya ke dalam kotak kecil. Bukan karena masih berharap kembali, melainkan karena ia ingin menutup satu bab hidupnya tanpa terus membawa beban yang sama.
Hari itu, ia berangkat lebih awal ke rumah sakit. Ia ingin mengisi pikirannya dengan pekerjaan, bukan berita tentang keluarga Cendana yang masih ramai diperbincangkan. Namun, ketika melewati lobi, dua orang pegawai yang sedang berbicara mendadak terdiam saat melihatnya.
Jingga tahu mereka mungkin sudah membaca berita perceraian dan skandal Rangga. Ia tidak berhenti untuk menjelaskan apa pun. Ia hanya mengangguk sopan, lalu melanjutkan langkah menuju ruang perawat.
Maya sudah menunggunya di sana.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Maya, memperhatikan wajah sahabatnya.
“Lebih baik. Aku hanya ingin semua orang berhenti membicarakan kehidupanku.”
“Kalau ada yang bertanya, kamu nggak wajib menjawab. Kamu sudah melewati cukup banyak hal.”
Jingga mengikat rambutnya dan memeriksa daftar pasien. “Aku nggak mau terus dikenal sebagai mantan istri Rangga Cendana. Aku ingin dikenal karena pekerjaanku sendiri.”
Maya tersenyum bangga. “Nah, itu baru Jingga yang kukenal.”
Hari berjalan cukup sibuk. Jingga menyelesaikan tugasnya, membantu dokter menangani pasien, dan berusaha menjaga pikirannya tetap fokus. Ketika seorang anak kecil menangis di ruang pemeriksaan, dadanya sempat terasa sesak. Kenangan tentang putranya kembali menyelinap, tetapi kali ini ia tidak membiarkan dirinya tenggelam terlalu lama.
Ia menarik napas perlahan, mengikuti teknik yang pernah diajarkan Samudera, kemudian meminta rekan kerjanya mengambil alih sebentar. Setelah lebih tenang, Jingga kembali bertugas.
Jingga mulai memahami, bahwa pulih bukan berarti tidak pernah terluka lagi. Pulih berarti belajar menghadapi luka tanpa membiarkannya menguasai seluruh hidup.
Menjelang sore saat Jingga menyelesaikan laporan pasien, seorang perawat memberi tahu bahwa ada tamu yang mencarinya di ruang tunggu.
Jingga mengira Maya hendak mengajaknya pulang bersama. Namun, ketika tiba di sana, langkahnya terhenti.
Bu Farah duduk sendirian dengan wajah pucat. Tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan sebelum dirawat di rumah sakit. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, sementara tatapannya segera terangkat ketika Jingga mendekat.
“Tante?”
Bu Farah berdiri perlahan. “Jingga, Tante boleh bicara sebentar?”
Jingga sempat terdiam, ia masih mengingat kata-kata perempuan itu ketika menuduhnya sebagai ibu yang tidak becus, seolah-olah Jingga tidak ikut kehilangan anak yang sangat dicintainya.
“Ada yang ingin Tante sampaikan?” tanyanya akhirnya.
Bu Farah mengangguk. “Tante ingin meminta maaf. Tante sudah memikirkan semuanya sejak keluar dari rumah sakit. Tante terlalu sibuk membela Rangga sampai tidak pernah benar-benar mendengarkanmu. Tante menyalahkanmu atas kematian anakmu sendiri, padahal Tante tahu kamu seorang perawat dan pasti sudah melakukan segala yang kamu bisa.”
Suara Bu Farah bergetar. Ia menunduk, tidak sanggup mempertahankan tatapan Jingga.
“Tante juga tidak berada di sisimu malam itu. Tante malah ikut merayakan ulang tahun Varel, sementara kamu berjuang sendirian di rumah sakit. Ketika mengingatnya, Tante merasa sangat malu.”
Jingga menelan rasa sesak di tenggorokannya. Ada bagian dari dirinya yang ingin menerima permintaan maaf itu, tetapi ada pula luka yang belum sanggup disentuh kembali.
“Tante tahu apa yang paling menyakitkan?” tanyanya lirih. “Bukan hanya kehilangan anak saya. Saya harus menghadapi kehilangan itu sambil terus mendengar bahwa saya tidak becus menjadi seorang ibu. Padahal, saya juga sedang berusaha bertahan.”
Air mata menggenang di mata Bu Farah.
“Tante tahu, Jingga. Sekarang Tante mengerti.”
“Tidak, Tante.” Jingga menggeleng pelan. “Tante mungkin baru menyadari kesalahan Tante, tetapi saya sudah terlalu lama menanggung akibatnya.”
Bu Farah menerima ucapan itu tanpa membantah. “Tante tidak meminta kamu kembali kepada Rangga. Tante juga tidak akan memaksamu memaafkan Tante hari ini. Tante hanya ingin kamu tahu bahwa Tante benar-benar menyesal.”
Jingga menarik napas panjang. “Saya menghargai permintaan maaf Tante, tapi maaf... saya belum bisa melupakan semuanya begitu saja.”
“Tante mengerti.”
“Saya ingin menjalani hidup saya sendiri sekarang. Tolong jangan datang untuk membicarakan Rangga atau meminta saya mempertimbangkan pernikahan itu lagi.”
Bu Farah mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Tante tidak akan meminta itu.”
Untuk beberapa saat, keduanya berdiri dalam keheningan. Tidak ada pelukan, tidak ada janji untuk kembali seperti dahulu. Hanya dua perempuan yang pernah terhubung oleh sebuah keluarga, kini dipisahkan oleh luka dan penyesalan.
Sebelum pergi, Bu Farah menoleh sekali lagi. “Jingga, meskipun kamu belum bisa memaafkan Tante... Tante berharap kamu menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak kamu dapatkan.”
Jingga mengangguk kecil. “Saya juga berharap Tante lekas sehat.”
Bu Farah meninggalkan ruang tunggu dengan langkah pelan. Jingga memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di balik pintu, lalu mengembuskan napas panjang.
Ia tidak merasa menang. Ia juga tidak merasa seluruh lukanya mendadak sembuh. Namun, ia tidak lagi membutuhkan pengakuan Bu Farah untuk membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan yang dituduhkan keluarga Cendana.
Malamnya, Jingga pulang ke kamar sewanya dengan langkah lebih ringan. Ia meletakkan tas, mengganti pakaian, lalu duduk di tepi ranjang. Ponselnya kembali menyala, menampilkan pesan dari nomor yang sudah dikenalnya.
Samudera: [Hari ini bagaimana? Semoga pekerjaanmu berjalan lancar.]
Jingga tersenyum kecil sebelum membalas.
Jingga: [Cukup melelahkan, Dok. Tapi saya baik-baik saja.]
Samudera: [Jangan lupa... kamu boleh sibuk membantu orang lain, tetapi jangan sampai melupakan dirimu sendiri.]
Pesan sederhana itu membuat Jingga terdiam. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengutamakan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang hancur. Kini, ia perlahan belajar bahwa merawat diri bukanlah bentuk keegoisan.
Ia menaruh ponsel, lalu membuka jendela kamar. Udara malam menyentuh wajahnya, membawa ketenangan yang terasa asing sekaligus menyenangkan.
Sementara di tempat lain, Rangga masih memikirkan Samudera dan kedekatan dokter itu dengan Jingga.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu