NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di balik amarah

Bel masuk yang menandakan berakhirnya waktu istirahat akhirnya berbunyi. Hikari dan Neta segera meninggalkan kantin untuk kembali menuju kelas. Sepanjang perjalanan, Neta masih sibuk membicarakan tugas yang harus mereka kumpulkan minggu depan, sementara Hikari hanya sesekali menanggapi dengan anggukan kecil. Pikirannya masih tertuju pada kabar yang baru saja didengarnya dari Fio mengenai Keiran yang sedang sakit.

Entah mengapa, informasi tersebut terus mengganggu pikirannya. Hikari bahkan beberapa kali mengingat kembali kejadian kemarin ketika dirinya menunggu di taman hingga hari mulai gelap. Saat itu, dia benar-benar merasa kecewa dan menganggap Keiran sengaja mengingkari janjinya. Namun, setelah mengetahui bahwa laki-laki tersebut mengalami demam sejak kemarin, Hikari mulai merasa tidak enak hati. Mungkin Keiran memang tidak bisa datang karena kondisinya sedang tidak baik. Meski begitu, semuanya masih sebatas dugaan dan Hikari tidak ingin kembali mengambil kesimpulan sebelum mengetahui alasan sebenarnya.

Sesampainya di kelas, dia segera duduk dan mengeluarkan buku pelajarannya. Neta yang berada di sampingnya sempat memperhatikan Hikari dengan tatapan penasaran. Sejak tadi, sahabatnya itu terlihat lebih banyak melamun dibandingkan biasanya. "Ki, lo kenapa, sih? Dari tadi kayak lagi mikirin sesuatu," tanya Neta. Hikari sedikit tersentak sebelum menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Net. Cuma agak capek." Neta sebenarnya tidak terlalu percaya dengan jawaban tersebut. Namun, karena guru sudah memasuki kelas, dia memilih tidak melanjutkan pertanyaannya.

Hikari pun segera mengalihkan perhatian ke depan, berusaha mengikuti pelajaran seperti biasa. Sayangnya, hal tersebut tidak semudah yang dia bayangkan. Beberapa kali dia kehilangan fokus ketika guru sedang menjelaskan materi. Dia bahkan sempat tidak menyadari bahwa teman-temannya sudah mulai mencatat bagian penting yang dituliskan di papan tulis. Setelah melihat Neta sibuk menulis, barulah Hikari tersadar dan segera membuka buku catatannya.

Hikari sendiri tidak mengerti mengapa Keiran tiba-tiba menjadi seseorang yang begitu sering muncul dalam pikirannya. Padahal, mereka belum terlalu dekat. Bahkan sebelum kejadian di koridor, Hikari hampir tidak pernah memiliki alasan untuk berbicara dengan laki-laki tersebut. Mungkin semuanya hanya karena rasa bersalah. Setidaknya, itulah yang ingin dipercayainya.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya pelajaran terakhir selesai. Suasana kelas yang sebelumnya tenang langsung berubah ramai. Beberapa siswa mulai membereskan perlengkapan sekolah, sementara sebagian lainnya masih mengobrol sebelum pulang. Hikari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan perlahan, kemudian berjalan bersama Neta menuju koridor utama.

Ketika mereka melewati kelas XII-A1, langkah Hikari tanpa sadar sedikit melambat. Pandangannya bergerak menuju pintu kelas yang masih terbuka. Beberapa siswa terlihat berada di dalam ruangan, tetapi sosok Keiran tentu saja tidak ada di antara mereka. Hikari segera mengalihkan pandangan ketika Neta tiba-tiba bertanya, "Lo nyari siapa?" Hikari langsung menggeleng. "Nggak nyari siapa-siapa." Neta hanya tersenyum kecil tanpa mengatakan apa pun.

Sesampainya di halaman sekolah, keduanya segera berpamitan. Neta berjalan menuju gerbang, sementara Hikari menghampiri mobil Pak Damar yang sudah menunggu di tempat biasanya. Setelah masuk ke dalam mobil, Hikari menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memandang keluar jendela. Pak Damar sempat menanyakan bagaimana kegiatan sekolahnya hari ini, dan Hikari menjawab bahwa semuanya berjalan seperti biasa.

Selama perjalanan pulang, Hikari lebih banyak diam. Sesekali dia menyentuh plester yang masih menempel di pipinya. Luka tersebut sebenarnya sudah mulai membaik, tetapi setiap kali melihatnya, Hikari selalu teringat pada Keiran. Dia teringat wajah laki-laki itu ketika meminta maaf, juga bagaimana Keiran terlihat begitu bersungguh-sungguh saat menawarkan traktiran sebagai bentuk penyesalannya. Sekarang dia justru merasa sedikit bersalah karena sudah berpikir buruk tentang laki-laki tersebut.

Sementara itu, di tempat lain, suasana sebuah kamar terlihat begitu tenang. Tirai jendela yang tertutup sebagian membuat cahaya matahari hanya masuk melalui celah kecil. Keiran masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan wajah pucat. Sejak semalam, suhu tubuhnya belum benar-benar kembali normal. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya masih lemas meskipun sudah beristirahat cukup lama.

Di atas meja kecil di samping tempat tidur terdapat segelas air putih dan obat yang sebelumnya sudah disiapkan untuknya. Keiran perlahan membuka mata ketika mendengar suara ketukan dari pintu kamar. Beberapa saat kemudian, seseorang masuk untuk memeriksa keadaannya dan memastikan apakah dia sudah makan serta meminum obat. Keiran hanya menjawab seperlunya sebelum kembali memejamkan mata.

Setelah orang tersebut meninggalkan kamar, suasana kembali sunyi. Namun, Keiran tidak langsung tertidur. Pikirannya justru kembali pada kejadian kemarin. Dia masih mengingat bagaimana dirinya membuat janji dengan Hikari. Laki-laki itu sebenarnya sudah berniat menepatinya. Bahkan sebelum kondisinya memburuk, dia sempat memikirkan tempat makan yang cocok untuk mereka kunjungi setelah bertemu di taman.

Keiran tidak pernah berniat mempermainkan Hikari. Dia sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan ketika tidak sengaja memukul gadis itu saat pertengkaran dengan Agatha terjadi. Karena itulah, dia ingin memperbaiki kesalahannya dengan cara yang sederhana. Namun, keadaan justru tidak berjalan sesuai rencana.

Keiran menghela napas panjang. Dia tidak tahu apakah Hikari benar-benar datang ke taman kemarin. Akan tetapi, mengingat gadis itu sudah menyetujui ajakannya, kemungkinan besar Hikari memang datang dan menunggunya. Memikirkan hal tersebut membuat Keiran merasa semakin bersalah. Terlebih karena mereka bahkan belum pernah bertukar nomor telepon, sehingga dia tidak memiliki cara untuk menghubungi Hikari secara langsung.

Keiran perlahan mengubah posisi tidurnya. Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di samping bantal. Beberapa pemberitahuan terlihat memenuhi layar, tetapi dia tidak terlalu tertarik untuk memeriksanya sampai akhirnya sebuah nama menarik perhatiannya. Fio.

Keiran membuka pesan tersebut dan membaca pertanyaan singkat mengenai keadaannya. Dia membalas seperlunya, mengatakan bahwa dirinya masih demam tetapi sudah sedikit membaik. Tidak lama kemudian, Fio kembali membalas. Awalnya, gadis itu hanya mengingatkan Keiran agar banyak beristirahat. Namun, pesan berikutnya membuat Keiran sedikit mengernyit.

Eh, tadi ada yang nanyain lo di sekolah.

Keiran menatap layar ponselnya selama beberapa saat. Dia tidak langsung membalas karena menganggap hal tersebut bukan sesuatu yang aneh. Beberapa temannya mungkin memang penasaran mengapa dia tidak masuk. Namun, ketika Fio kembali mengirimkan pesan, perhatian Keiran mulai tertuju sepenuhnya pada percakapan tersebut.

Cewek yang kemarin kena pukul lo itu, namanya hikari, kan?

Keiran langsung terdiam. Dia membaca pesan tersebut sekali lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Mengapa Hikari menanyakan dirinya kepada Fio? Keiran kemudian mengetik balasan singkat, menanyakan apa yang sebenarnya dibicarakan mereka. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya sebuah pesan baru muncul.

Dia nanyain keadaan lo. kayaknya khawatir banget.

Keiran memandangi tulisan tersebut cukup lama. Entah mengapa, mengetahui bahwa Hikari menanyakan keadaannya membuat perasaan bersalah yang sejak tadi memenuhi pikirannya sedikit berubah. Dia tidak menyangka gadis itu masih memedulikannya setelah kejadian kemarin. Padahal, jika memang Hikari datang ke taman dan menunggu tanpa kepastian, seharusnya gadis tersebut merasa kesal kepadanya.

Keiran kemudian mengetik sebuah pesan kepada Fio. Fi, lo punya nomor Hikari? Setelah mengirimkan pesan tersebut, Keiran menunggu balasan sambil memejamkan mata. Tidak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Fio ternyata tidak memiliki nomor Hikari. Namun, sebelum Keiran sempat mengakhiri percakapan, Fio kembali mengirimkan pesan.

Tumben banget nyari nomer cewek. Ada apa nih?

Keiran hanya membaca pesan tersebut tanpa membalas. Dia sudah cukup mengenal sifat Fio yang senang menggoda orang lain, sehingga tidak ingin memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk semakin banyak bertanya. Setelah itu, dia meletakkan ponselnya dan memutuskan untuk beristirahat.

Sementara itu, Hikari baru saja tiba di rumah. Setelah menyapa Bi Sumi dan mengganti pakaian, dia memutuskan menghabiskan waktu di kamar sambil menyelesaikan beberapa tugas sekolah. Awalnya, semuanya berjalan seperti biasa. Namun, setelah hampir setengah jam, dia menyadari bahwa tugas yang dikerjakannya belum banyak mengalami kemajuan.

Hikari akhirnya meletakkan pulpen dan menyandarkan tubuh pada kursi. Dia memandang keluar jendela, memperhatikan langit sore yang perlahan berubah warna. Tanpa sadar, dia kembali teringat pada taman tempat dirinya menunggu Keiran kemarin. Rasanya sedikit aneh. Kemarin, pada waktu yang hampir sama, dia masih mempersiapkan diri untuk bertemu laki-laki tersebut. Namun, semuanya justru berakhir dengan kekecewaan.

Sekarang, setelah mengetahui bahwa Keiran sedang sakit, Hikari mulai melihat kejadian tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin selama ini dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Meski demikian, masih ada satu hal yang membuatnya penasaran. Mengapa Keiran bisa tiba-tiba sakit? Hikari tidak tahu apakah laki-laki itu memang sudah merasa tidak sehat sejak berada di sekolah atau ada sesuatu yang terjadi setelah mereka berpisah kemarin.

Hikari menghela napas kecil sebelum kembali mengambil pulpen. Dia berusaha mengabaikan berbagai pertanyaan tersebut dan melanjutkan tugasnya. Namun, baru beberapa menit menulis, ponselnya tiba-tiba bergetar. Hikari mengambil benda tersebut dan melihat sebuah pesan masuk dari Neta yang mengingatkan mengenai tugas untuk besok. Setelah membalasnya, dia kembali meletakkan ponsel di meja.

Menjelang malam, kondisi Keiran mulai sedikit membaik. Demamnya memang belum sepenuhnya turun, tetapi dia sudah bisa duduk bersandar di kepala tempat tidur tanpa merasa terlalu pusing. Setelah menghabiskan makanan yang disiapkan untuknya, Keiran kembali mengambil ponselnya.

Ada beberapa pesan baru yang masuk, sebagian besar berasal dari teman-teman sekolah yang menanyakan keadaannya. Keiran membalas beberapa di antaranya sebelum akhirnya membuka percakapan dengan Fio. Dia kembali membaca pesan mengenai Hikari yang menanyakan keadaannya tadi siang. Untuk sesaat, Keiran terdiam. Dia tidak tahu mengapa informasi tersebut membuatnya terus memikirkan gadis itu.

Keiran kemudian mengetik sebuah pesan kepada Fio, memintanya untuk menyampaikan sesuatu kepada Hikari jika mereka bertemu besok. Namun, sebelum pesan tersebut sempat dikirim, Keiran mengurungkan niatnya. Dia merasa akan lebih baik jika dirinya menjelaskan semuanya secara langsung ketika kembali masuk sekolah. Lagi pula, ada beberapa hal yang memang ingin disampaikannya sendiri kepada Hikari.

Keiran meletakkan ponselnya di samping bantal, kemudian menyandarkan kepala pada dinding. Dia kembali teringat pada pertengkarannya dengan Agatha. Sebenarnya, Keiran tidak ingin memikirkan laki-laki itu lagi. Namun, perkataan Agatha ketika mereka bertengkar masih terngiang jelas dalam ingatannya.

pembunuh

Keiran memejamkan mata. Rahangnya sedikit mengeras ketika mengingat kata tersebut. Dia tidak mengerti mengapa Agatha selalu menggunakan hal yang sama setiap kali ingin memancing emosinya. Padahal, Keiran sudah berusaha menghindari pembicaraan mengenai kejadian yang pernah terjadi di masa lalu.

Namun, semakin dia berusaha melupakannya, semakin sulit pula ingatan tersebut menghilang.

Keiran menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali berbaring. Dia tidak ingin memaksakan pikirannya untuk mengingat sesuatu yang justru membuat kondisinya semakin buruk. Untuk sekarang, dia hanya ingin segera sembuh dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Di sisi lain, Hikari baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Dia merapikan buku-buku di atas meja sebelum berjalan menuju tempat tidur. Setelah merebahkan tubuh, gadis itu memandangi langit-langit kamar sambil memikirkan kejadian yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Awalnya, Hikari hanya ingin mengetahui alasan Keiran tidak datang ke taman. Namun, setelah berbicara dengan Fio dan mengetahui bahwa laki-laki itu sedang sakit, rasa penasarannya perlahan mulai berubah.

Dia kini justru ingin mengetahui lebih banyak tentang Keiran.

Bukan hanya mengenai kebiasaannya atau bagaimana sifat laki-laki tersebut ketika berada di sekolah, tetapi juga tentang sesuatu yang membuatnya begitu marah ketika bertengkar dengan Agatha.

Hikari masih mengingat dengan jelas bagaimana suasana koridor berubah tegang setelah Agatha mengucapkan kata "pembunuh". Keiran yang sebelumnya sudah terlihat marah seketika kehilangan kendali. Reaksinya begitu berbeda hingga membuat Hikari merasa bahwa perkataan tersebut bukan sekadar ejekan biasa.

Hikari sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Apalagi, hubungan mereka juga belum bisa dikatakan dekat. Namun, setiap kali mengingat ekspresi Keiran saat itu, dia merasa ada sesuatu yang belum diketahuinya.

Mengapa Keiran begitu marah hanya karena satu kata?

Apakah Agatha sengaja mengatakannya untuk memancing emosi Keiran? Atau memang ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka?

Hikari tidak mengetahui jawabannya. Dia sempat berpikir untuk menanyakan hal tersebut kepada Fio, tetapi segera mengurungkan niat. Jika masalah tersebut memang berkaitan dengan masa lalu Keiran, mungkin tidak seharusnya dia mencari tahu melalui orang lain.

Hikari merasa akan lebih baik jika suatu hari dia bisa mendengarnya langsung dari Keiran. Namun, dia juga menyadari bahwa laki-laki itu belum tentu bersedia menceritakannya.

Setelah beberapa saat, Hikari akhirnya memejamkan mata. Dia berusaha mengabaikan berbagai pertanyaan yang memenuhi pikirannya dan memutuskan untuk beristirahat.

Namun, sebelum benar-benar tertidur, dia kembali teringat pada Keiran.

Hikari berharap laki-laki itu segera sembuh dan kembali masuk sekolah. Setidaknya, jika mereka bertemu lagi, dia ingin mendengar penjelasan mengenai janji yang tidak ditepati.

Sementara itu, mengenai pertengkaran dengan Agatha, Hikari belum tahu apakah dirinya memiliki keberanian untuk menanyakannya.

Malam semakin larut. Di kamarnya, Keiran yang semula berusaha tidur justru kembali membuka mata. Dia memandang langit-langit kamar dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya, tetapi dia terus berusaha mengabaikannya.

Keiran kemudian bangkit dan berjalan menuju meja belajar. Di sana terdapat beberapa buku dan barang-barang yang sudah lama tidak disentuhnya. Dia membuka salah satu laci, seolah ingin memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.

Setelah beberapa saat mencari, tangannya akhirnya berhenti pada sebuah benda yang tersimpan di bagian paling belakang laci.

Sebuah foto lama.

Keiran mengambil foto tersebut dan memperhatikannya dalam diam. Warna foto itu sudah sedikit memudar, tetapi sosok-sosok di dalamnya masih terlihat cukup jelas.

Tatapan Keiran perlahan berubah.

Foto tersebut mengingatkannya pada sebuah kejadian yang sudah lama berlalu. Kejadian yang tidak pernah ingin dibicarakannya, terutama dengan orang-orang yang baru dikenalnya.

Untuk beberapa saat, Keiran hanya berdiri sambil memandangi foto tersebut. Kemudian, dia membaliknya dan membaca sebuah tulisan kecil yang terdapat di bagian belakang.

Tulisan itu membuat tangannya berhenti bergerak.

Keiran menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali memasukkan foto tersebut ke dalam laci. Dia menutupnya perlahan, seolah dengan melakukan hal tersebut semua ingatan yang mengganggunya juga bisa ikut tersimpan.

Namun, Keiran tahu bahwa masa lalu tidak semudah itu dilupakan.

Di tempat lain, Hikari sudah tertidur tanpa mengetahui bahwa laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikirannya ternyata menyimpan sebuah cerita yang jauh lebih rumit daripada yang dia bayangkan.

Dan tanpa Hikari sadari, rasa penasaran yang muncul karena pertengkaran di koridor perlahan akan membawanya semakin dekat pada masa lalu Keiran.

Sebab ada satu hal yang belum diketahui Hikari. Kata "pembunuh" yang diucapkan Agatha bukanlah sesuatu yang baru pertama kali didengar Keiran.

Lalu, apa sebenarnya yang pernah terjadi hingga satu kata tersebut mampu membuat Keiran kehilangan kendali?

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!