Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Di Bawah Cahaya Lentera
Dingin seperti batu yang terkubur di dasar sungai selama seratus tahun. Ia menarik tangannya kembali.
"Shen Rui..." bisiknya lirih dengan suara gemetar
Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada lelaki itu. Mengapa ia berada di sini? Siapa yang membunuhnya? Apakah ia sempat menyadari bahwa dirinya sedang dijebak?
Namun, orang mati tidak akan menjawab.
Dan di istana, orang hidup sering kali lebih berbahaya daripada orang mati.
"Permaisuri Wang Laoyin! Buka pintu sekarang!" Kali ini, suara itu tidak lagi sekadar meminta. Itu adalah perintah.
Wang Laoyin berdiri tegak. Ia merapikan jubah luarnya, menyeka darah dari telapak tangannya dengan selembar kain, lalu mengangkat dagu. Ia tidak memiliki mahkota di kepalanya. Rambutnya masih terurai berantakan. Gaun tidurnya ternoda darah.
Meski dalam kekacauan ketika ia berdiri di tengah ruangan yang berantakan itu, masih terpancar martabat seorang perempuan yang telah dilahirkan untuk berdiri di hadapan seluruh kerajaan.
"Masuklah," Ucapan itu terdengar tegas dan dingin
Pintu terbuka dengan suara keras.
Angin malam menerobos masuk, memadamkan dua lilin sekaligus. Puluhan pengawal berzirah memenuhi ambang pintu, disusul kepala pengawal istana dan beberapa pejabat yang membawa lentera. Cahaya mereka menyapu lantai giok, melewati meja cendana, menimpa tirai sutra merah yang ternoda.
Lalu berhenti pada ranjang besar tempat mayat Shen Rui terbaring.
Seorang pelayan menjerit ketakutan melihat pemandangan mengerikan di depannya, pengawal yang paling depan tersentak mundur. Kepala pengawal memucat, sedangkan seorang pejabat tua langsung menutup mulutnya dengan lengan jubah. Tetapi tidak semua orang menunjukkan keterkejutan.
Wang Laoyin menyapu pandangan ke semua orang yang kini berdiri didalam kamarnya itu dengan dagu setengah terangkat. Di antara para pejabat yang berdiri di belakang, ada seorang kasim yang segera menundukkan kepala. Tangannya gemetar, namun matanya sempat melirik ke arah pedang di lantai, paras wajahnya memancarkan kegelisahan yang berusaha di sembunyikannya. Wang Laoyin melihat gerakan kecil itu, Ia menyimpannya dalam ingatan.
"Yang Mulia..." Kepala pengawal berlutut dengan wajah pucat.
"Apa yang terjadi di sini?" Pertanyaan itu nyaris lewat seperti gema di telinga sang permaisuri
Wang Laoyin menatapnya lekat
"Aku terbangun dan menemukan pengawalku telah mati." Jawab Wang Laoyin dengan nada tegas.
"Apakah Yang Mulia mengetahui bagaimana korban dapat memasuki kamar ini?"
"Tidak."
"Apakah Yang Mulia mengetahui penyebab kematiannya?"
"Tidak."
"Apakah Yang Mulia melihat seseorang memasuki paviliun malam ini?"
"Tidak."
Setiap jawaban pendek yang di lontarkannya dengan cepat itu, terasa seperti duri yang menusuk lidahnya sendiri. Ia tahu betapa buruknya keadaan yang sedang dihadapinya. Ia tahu bahwa setiap jawaban yang tidak disertai bukti dapat diputarbalikkan oleh orang-orang yang telah menunggu kesempatan untuk menjatuhkannya.
Sebagai seseorang yang punya harga diri tinggi, ia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya. Kepala pengawal menoleh kepada para penjaga, yang berdiri beku di belakangnya.
"Tutup seluruh paviliun! Tidak seorang pun boleh menyentuh mayat atau senjata sebelum tabib kerajaan tiba!" Perintahnya sambil berdiri tegak.
"Berhenti."
Suara Wang Laoyin memotong perintah itu.
Semua orang dalam ruangan itu menoleh. Menatap terpaku pada Permaisuri mereka yang masih terlihat berwibawa meski dalam kondisi baru bangun dari tidur itu.
Tatapan permaisuri menyapu wajah para pengawal satu per satu. Di bawah cahaya lentera, matanya tampak gelap dan tajam seperti permukaan danau yang menyimpan kedalaman tak terukur.
"Siapa yang pertama kali melaporkan pembunuhan ini?" Tanya Wang Laoyin dengan penuh selidik.
Tidak seorang pun segera menjawab. Wang Laoyin melangkah maju.
"Siapa yang menemukan tubuh Shen Rui?"
Kesunyian.
"Dan siapa yang memerintahkan kalian datang ke sini sebelum aku memanggil bantuan?"
Kali ini, kepala pengawal terlihat ragu.
"Yang Mulia, kami menerima laporan dari seorang kasim yang berlari ke pos penjagaan. Ia mengatakan bahwa seorang pengawal telah tewas di Paviliun Fengyi." Jawab kepala pengawal itu dengan bingung, mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari sang permaisuri.
"Seorang kasim?"
"Benar, Yang Mulia."
"Kasim yang mana?"
Kepala pengawal menoleh ke belakang.
Namun, lelaki yang tadi berdiri di antara para pejabat itu sudah tidak ada. Hanya tersisa seorang pelayan yang kebingungan dan dua pengawal yang saling berpandangan.
Wang Laoyin merasakan darahnya seolah membeku. Kasim yang sempat dilihatnya gelisah itu tadi telah menghilang. Bukan sekadar meninggalkan ruangan, tetapi lenyap di tengah kerumunan bersenjata.
Ia menatap pintu yang terbuka, lalu kembali memandang mayat Shen Rui. Dalam sekejap, kembali semua potongan kejadian itu menyatu dalam pikirannya. Teh yang diminumnya. Kepalanya yang terasa berat. Ketiadaan ingatan setelah ia beristirahat.
Mayat di ranjang.
Pedang di lantai.
Laporan pembunuhan yang tiba begitu cepat.
Dan seorang kasim yang menghilang sebelum sempat ditanyai. Ini bukan hanya pembunuhan. Ini adalah pertunjukan yang telah dirancang untuk disaksikan seluruh istana.
Dan ia—Permaisuri Wang Laoyin—telah dipilih menjadi tokoh utama dalam pertunjukan tersebut.
"Yang Mulia!" Suara seorang pejabat memecah sunyi. Pejabat itu melangkah maju, lalu membungkuk dengan sikap yang tampak hormat, tetapi menyimpan ketajaman di balik setiap katanya.
"Demi kehormatan kerajaan, hamba memohon agar Yang Mulia menjelaskan mengapa seorang pengawal laki-laki ditemukan tewas di ranjang pribadi Anda." Nada suara itu terdengar menuduh tanpa berusaha disembunyikan
Wang Laoyin menoleh perlahan pada pejabat itu dalam tatapan menusuk.
"Apakah kau sedang bertanya sebagai pejabat kerajaan? " Kalimat itu begitu dingin.
"Atau sedang berusaha menuduh permaisurimu sendiri?" Lanjut Wang Laoyin kemudian dengan tajam.
Pejabat itu terdiam.
"Jangan lupa di mana kau berdiri." Suara Wang Laoyin semakin tegas.
"Ini adalah Paviliun Fengyi. Aku adalah permaisuri sah Kerajaan Weiyang. Sebelum kau berani menodai namaku dengan tuduhan, pastikan kau memiliki bukti yang lebih kuat dari pada keberanianmu membuka mulut." Ucap Wang Laoyin dengan dagu terangkat. Kemarahan berkilat di matanya.
Wajah pejabat itu berubah merah padam, dia segera tertunduk dengan takut.
Namun, sebelum ia sempat membalas, terdengar suara langkah kaki dari ujung koridor.
Kali ini, langkah-langkah itu berbeda.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak pula ragu.
Setiap langkah terdengar mantap, disertai bunyi ujung jubah yang menyapu lantai batu begitu teratur namun panjang dan tak sabar. Para pengawal segera menyingkir dan berlutut. Para pejabat menundukkan kepala seolah-olah tekanan tak terlihat telah menimpa tengkuk mereka.
Ia memasuki Paviliun Fengyi dengan jubah kekaisaran berwarna hitam keemasan. Naga bersulam emas membentang di dadanya, sementara mahkota hitam bertatahkan batu giok menghiasi kepalanya. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras, dan sepasang matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi kemarahan. Di belakangnya berdiri beberapa pejabat tinggi dan pengawal kerajaan.
Raja Han Quan telah tiba.
(Reader sayang, jangan lupa Vote, like dan komen yaaa...)