NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:31.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Dua Hati Memilih Takdir

Suasana kediaman Ustaz Malik di kawasan Lembang masih dipenuhi kehangatan setelah pertemuan keluarga yang berlangsung sejak pagi. Namun, di balik senyum bahagia para kerabat yang menyaksikan pertemuan Abimanyu Wicaksono dan Latifah Azalea, ada dua hati yang kini tengah berusaha memahami takdir yang tiba-tiba mempertemukan mereka.

Bagi Kaning, hari itu merupakan hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Doa yang selama ini ia panjatkan akhirnya menjadi kenyataan. Perempuan yang sangat dirindukannya ternyata adalah calon istri ayahnya sendiri.

Namun, bagi Latifah, kenyataan itu justru menghadirkan pergulatan batin yang tidak sederhana.

Ia menyayangi Kaning. Ia juga menghormati Abimanyu sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Akan tetapi, menerima perjodohan bukan sekadar menyetujui sebuah pertemuan. Ada kehidupan baru yang harus dijalani, ada tanggung jawab sebagai seorang istri, dan ada seorang anak kecil yang kelak mungkin akan memanggilnya Bunda.

Belum lagi hatinya yang selama ini masih menyimpan nama Ustaz Firman.

Sementara itu, Bima pun tidak sepenuhnya bebas dari keraguan. Ia telah lama menutup hatinya setelah kehilangan Alika, perempuan yang pernah menjadi istrinya dan ibu dari putri kecilnya. Ia tidak pernah membayangkan akan kembali memikirkan pernikahan, terlebih dengan perempuan yang ternyata sudah lebih dahulu memiliki tempat istimewa di hati Kaning.

Namun, ada sesuatu dalam diri Latifah yang membuatnya sulit bersikap biasa saja.

Entah karena ketulusan perempuan itu dalam menyayangi putrinya, sikapnya yang lembut, atau kekaguman yang perlahan tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di Darussalam.

Yang jelas, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bima merasa hatinya mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali membangun sebuah keluarga.

*

*

Menjelang siang, setelah para tamu menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga Ustaz Malik, pembicaraan mengenai perjodohan kembali dilanjutkan.

Ustaz Malik duduk di ruang keluarga bersama Ustaz Umar, Umi Aisyah, Bu Almira, serta Bima dan Latifah. Kaning sendiri duduk di dekat neneknya sambil sesekali melirik kepada Latifah, seolah takut perempuan itu akan pergi meninggalkannya lagi.

Ustaz Malik membuka pembicaraan dengan suara tenang.

"Alhamdulillah, hari ini kita semua sudah mengetahui siapa yang akan dipertemukan dalam perjodohan ini. Bahkan, ternyata Bima dan Latifah sudah pernah bertemu sebelumnya."

Beberapa orang tersenyum mendengar perkataannya.

"Menurut saya, ini sebuah awal yang baik. Namun, tentu saja keputusan akhirnya tetap berada di tangan kalian berdua. Tidak ada yang boleh merasa terpaksa dalam menjalani pernikahan."

Ustaz Umar mengangguk setuju.

"Benar. Abi dan Umi sudah menyampaikan harapan kami kepada Ifah, tetapi kami tidak ingin dia mengambil keputusan hanya karena merasa harus memenuhi janji keluarga."

Bu Almira pun menatap Latifah dengan lembut.

"Ibu juga tidak ingin Nak Latifah merasa terbebani. Ibu tahu Bima memiliki seorang anak dan masa lalu yang tidak mudah. Karena itu, Ibu berharap kalian bisa saling mengenal dengan baik."

Latifah menunduk sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.

"Maaf, Abi, Umi, Ustaz Malik, dan Bu Almira. Bolehkah Ifah meminta sedikit waktu untuk memantapkan hati?"

Suasana ruang keluarga seketika menjadi lebih tenang.

Latifah melanjutkan dengan suara pelan, tetapi jelas.

"Bukan berarti Ifah menolak perjodohan ini. Ifah hanya ingin memastikan bahwa keputusan yang Ifah ambil nanti benar-benar berasal dari hati Ifah sendiri. Ifah tidak ingin menerima hanya karena merasa tidak enak kepada keluarga, apalagi karena Kaning sangat menginginkan Ifah menjadi bundanya."

Kaning yang mendengar namanya disebut langsung mengangkat wajahnya.

"Bu Latifah tidak mau menjadi Bundanya Kaning?" tanyanya polos.

Latifah segera menoleh. Ia mengulurkan tangannya, lalu menggenggam jemari kecil itu.

"Bukan begitu, Sayang."

"Tapi Kaning ingin Bu Latifah menjadi Bundanya Kaning."

Latifah tersenyum sedih, kemudian mengusap kepala bocah itu.

"Bu Latifah tahu. Dan Bu Latifah juga sangat menyayangi Kaning."

"Lalu kenapa Bu Latifah perlu berpikir lagi?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Latifah terdiam sejenak.

Bagaimana ia harus menjelaskan kepada seorang anak kecil bahwa pernikahan bukan hanya tentang rasa sayang? Bahwa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum dua orang memutuskan untuk menjalani kehidupan bersama?

Latifah akhirnya berjongkok di hadapan Kaning.

"Karena menikah itu keputusan besar, Sayang. Bu Latifah ingin kalau nanti Bu Latifah menjadi bagian dari keluarganya Kaning, Bu Latifah bisa menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Bu Latifah ingin menyayangi Kaning bukan hanya hari ini, tetapi juga setiap hari setelahnya."

Kaning memandangnya dengan mata berbinar.

"Berarti Bu Latifah mau menyayangi Kaning terus?"

Latifah mengangguk lembut.

"Tentu, Sayang. Rasa sayang Bu Latifah kepada Kaning tidak akan hilang hanya karena Bu Latifah perlu waktu untuk berpikir."

Kaning akhirnya tersenyum kembali, meskipun masih tampak sedikit khawatir.

"Kalau begitu, Kaning tunggu."

Latifah mengecup keningnya.

"Terima kasih, Sayang."

Bima yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka hanya diam. Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya. Ia memahami alasan Latifah meminta waktu. Bahkan, jauh di dalam hatinya, ia justru menghormati sikap perempuan itu.

Latifah tidak terburu-buru menerima hanya karena semua orang menginginkannya.

Ia ingin memastikan bahwa dirinya mampu menjalankan tanggung jawab tersebut dengan tulus.

Bagi Bima, itu adalah sikap yang patut dihargai.

Ustaz Umar kemudian menatap putrinya.

"Baiklah, Nak. Ambillah waktu yang kamu perlukan. Tidak perlu merasa terburu-buru."

Umi Aisyah mengangguk.

"Umi juga setuju. Kamu bisa menenangkan pikiran dan meminta petunjuk kepada Allah."

Latifah tersenyum lega.

"Terima kasih, Abi. Terima kasih, Umi."

Bima akhirnya angkat bicara.

"Saya juga setuju, Ustaz. Bu Latifah berhak mendapatkan waktu untuk mempertimbangkan semuanya. Saya tidak ingin beliau merasa harus menerima saya hanya karena keinginan keluarga atau karena Kaning sangat menyayanginya."

Latifah menoleh kepada Bima.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, tatapan mereka bertemu tanpa perasaan terkejut yang berlebihan.

Bima melanjutkan dengan suara tenang.

"Saya pun masih perlu memantapkan hati. Pernikahan bukan perkara sederhana. Saya memiliki tanggung jawab sebagai seorang ayah, dan saya tidak ingin keputusan ini justru menyulitkan Bu Latifah di kemudian hari."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,

"Jadi, silakan pertimbangkan dengan tenang. Saya akan menghormati apa pun keputusan Ibu nanti."

Latifah terdiam. Ia tidak menyangka pria yang selama ini ia kenal dengan pembawaan tegas itu akan berbicara dengan begitu bijaksana.

"Terima kasih, Pak Bima," ucapnya lirih.

Bima mengangguk.

"Sama-sama, Bu Latifah."

Di sudut ruangan, Bu Almira tersenyum lega. Ia bersyukur karena putranya tidak bersikap keras kepala seperti yang sempat dikhawatirkannya.

Sementara itu, Ustaz Malik menghembuskan napas puas.

"Alhamdulillah. Kalau begitu, kita serahkan keputusan ini kepada Allah. Semoga kalian diberikan ketetapan hati dan jalan yang terbaik."

"Aamiin," jawab mereka hampir bersamaan.

Setelah pembicaraan tersebut selesai, keluarga kembali menikmati waktu bersama. Kaning bahkan mengajak Latifah melihat beberapa bagian rumah yang menurutnya menarik.

Bima memperhatikan mereka dari ruang keluarga.

Sesekali terdengar tawa Kaning ketika Latifah menanggapi cerita-ceritanya. Bocah itu tampak begitu bahagia, seolah-olah telah menemukan kembali bagian dari dirinya yang sempat hilang ketika harus berpisah dengan guru kesayangannya di Darussalam.

Bima tersenyum tipis. Selama ini, ia berusaha menjadi ayah yang baik bagi Kaning. Ia memberikan perhatian, memenuhi kebutuhannya, dan berusaha selalu hadir ketika putrinya membutuhkan dirinya.

Namun, ia menyadari bahwa ada ruang kosong dalam kehidupan Kaning yang tidak bisa sepenuhnya ia isi seorang diri.

Bukan karena ia gagal menjadi seorang ayah, melainkan karena seorang anak terkadang membutuhkan bentuk kasih sayang yang berbeda.

Dan Latifah tampaknya mampu memberikan kehangatan itu tanpa harus diminta.

Bu Almira yang duduk di samping putranya menyadari perubahan ekspresi tersebut.

"Bima."

"Ya, Bu?"

"Kamu sedang memikirkan apa?"

Bima mengalihkan pandangannya dari Latifah dan Kaning.

"Tidak ada, Bu."

Bu Almira tersenyum penuh arti.

"Jangan berbohong kepada ibumu sendiri."

Bima menghela napas kecil.

"Saya hanya memikirkan Kaning."

"Karena dia begitu menyayangi Bu Latifah?"

Bima mengangguk.

"Iya. Bima tidak pernah melihat Kaning sebahagia ini ketika membicarakan seorang perempuan. Bahkan, dia sampai berdoa setiap hari agar Bima menikah dengan Bu Latifah."

Bu Almira tertawa pelan.

"Anak itu memang sangat menyayanginya. Tapi, Bima, bagaimana dengan kamu sendiri?"

Bima menoleh.

"Maksud Ibu?"

"Apakah kamu hanya mempertimbangkan perjodohan ini karena Kaning?"

Pertanyaan itu membuat Bima terdiam. Bu Almira menatap putranya dengan lembut.

"Ibu tidak ingin kamu menikah hanya untuk memenuhi keinginan Kaning. Anak itu memang membutuhkan sosok ibu, tetapi kamu juga perlu menemukan pendamping yang bisa kamu hormati, percayai, dan sayangi."

Bima mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

Beberapa saat berlalu sebelum ia menjawab.

"Bima tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Bu."

"Jelaskan saja apa adanya."

Bima menghembuskan napas panjang.

"Ketika pertama kali bertemu Bu Latifah di Darussalam, Bima menganggap beliau hanya guru yang telah membantu Kaning. Bima sangat berterima kasih kepadanya, tetapi tidak pernah berpikir lebih jauh."

Bu Almira mendengarkan tanpa menyela.

"Namun, setelah mengetahui bahwa beliau adalah calon istri yang dipilihkan untuk Bima, entah mengapa Bima mulai memikirkan beliau dengan cara yang berbeda."

Bima terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil, seolah menertawakan kebingungannya sendiri.

"Bima mengagumi caranya memperlakukan Kaning. Beliau tidak pernah membuat putriku merasa menjadi beban. Beliau juga tidak berusaha mengambil hatinya Bima atau menunjukkan sikap berlebihan hanya untuk membuat Bima terkesan."

"Memang seperti itulah Latifah," sahut Bu Almira.

"Dan Bima merasa …." Bima kembali terdiam, mencari kata-kata yang tepat. "Bima merasa nyaman melihat Kaning bersamanya."

Bu Almira mengangguk pelan.

"Itu awal yang baik, Nak. Namun, jangan lupa mengenal Latifah sebagai seorang perempuan, bukan hanya sebagai guru yang menyayangi putrimu."

Bima mengangguk.

"Bima mengerti, Bu."

"Dia memiliki perasaan, impian, dan masa lalu sendiri. Kamu pun begitu. Kalau nanti kalian menerima perjodohan ini, belajarlah saling mengenal. Jangan berharap semuanya langsung sempurna."

Bima terdiam cukup lama.

Kemudian, ia mengucapkan sesuatu yang membuat Bu Almira tersenyum haru.

"Bu, sepertinya Bima ingin menerima perjodohan ini."

Bu Almira menatapnya dengan mata berbinar.

"Benarkah?"

Bima mengangguk.

"Bima memang belum bisa mengatakan bahwa Bima sudah mencintai Bu Latifah. Bima juga tidak ingin berpura-pura seolah-olah Bima sudah siap sepenuhnya untuk menikah lagi."

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Tapi Bima ingin mencoba. Bima ingin mengenalnya lebih jauh dan memberi kesempatan kepada diri Bima sendiri untuk membangun kehidupan baru."

Bima menoleh ke arah Kaning yang sedang menggenggam tangan Latifah.

"Dan kalau perempuan itu bersedia menjadi bagian dari keluarga ku, Aku akan berusaha menerima beliau dengan baik. Bukan hanya sebagai ibu bagi Kaning, tetapi juga sebagai pendamping hidupku."

Bu Almira langsung menggenggam tangan putranya.

"Alhamdulillah, Bima."

Bima tersenyum tipis.

"Tapi aku tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan sebelum mendengar jawaban Bu Latifah."

"Tentu. Itu haknya."

Bu Almira mengusap lengan putranya dengan penuh kasih sayang.

"Ibu hanya berharap kamu tidak lagi takut membuka hati. Mencintai seseorang yang baru bukan berarti kamu mengkhianati Alika."

Senyum Bima perlahan menghilang.

Nama mendiang istrinya selalu memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya. Ada kenangan yang tidak akan pernah bisa dihapus, ada kehilangan yang tidak mungkin dilupakan.

Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa mengenang Alika tidak harus berarti menutup seluruh kemungkinan kebahagiaan di masa depan.

Ia bisa tetap menghormati kenangan tentang istrinya, sambil belajar memberikan ruang bagi seseorang yang baru.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
huhhh baru senyam senyum doang nih mereka ber2 blm ehem ehem msh malu2 jd blm bisa ngintip 🤣🤭
Teh Euis Tea
cieeee udah mulai saling goda mas mayor sm Bu Ifah, ngintip achhh 🤭🤭🤭🤭🤭
Nar Sih
oalah ya ngk apa ,,klau ciuman kan udh sah dan halal
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betoooll
total 1 replies
Nar Sih
jatuh cinta berjuta rasa nya ☺️☺️dan bnr tebakan mu kapten ryan👍
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: Oalah, sabar ya kak... maklum mereka berdua aslinya kalem dan gak mudah akrab sama orang baru 🤗
total 3 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
sudah taman blum ya
atau baru bab 33
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belum kak🤗
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
semangat menulisnya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih kak 🤗☺️
total 1 replies
Ghiffari Zaka
nah kaaaan...ud ada hilal bucin tu😂😂😂.
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
Ghiffari Zaka: iya Thor,seru pakai banget dech😂😂😂
total 2 replies
vania larasati
lanjut kak
Atik Kiswati
yah...tlp nya kok gk berlanjut.....msh penasaran nih...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kalau berlanjut bisa perang dunia ketiga kak, dan Bima pasti tahu soal perasaan Latifah yang masih menyukai Ustadz firman
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
suami mu jahil ya ifah,dan lama,,pasti bikin kmu terpesona☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!