Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Udara pagi terasa sejuk menyelinap masuk lewat celah jendela. Cahaya matahari baru saja menyinari sudut kamar dengan warna keemasan yang lembut.
Hari ini adalah tanggal yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Hari di mana Erlyn melangkah masuk ke rumah ini sebagai istri. Genap sepuluh tahun ia dan Iqbal membangun rumah tangga bersama.
Erlyn bergerak perlahan di atas tempat tidur agar tidak membangunkan suaminya, Iqbal, yang masih tertidur pulas.
Wajahnya terlihat tenang, napasnya bergerak teratur, satu tangannya terulur ke arah istrinya, kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, seolah tanpa sadar ia ingin memastikan Erlyn tetap ada di sisinya.
Erlyn menatap wajah itu lama sekali, hatinya terasa hangat sekaligus sesak. Sepuluh tahun Iqbal menjaganya, menyayanginya, memperlakukannya seperti hal paling berharga yang dimilikinya. Sementara Erlyn sendiri, menyimpan bagian terbesar dari masa lalunya di balik pintu yang dikunci rapat-rapat, tak akan pernah ia buka untuk siapa pun.
Ia mengusap rambut suaminya yang sedikit berantakan, mencium keningnya pelan, lalu turun perlahan dari tempat tidur. Hari ini harus berjalan indah. Setidaknya untuk satu hari ini, segalanya harus terasa sempurna.
Di dapur, Erlyn menyalakan kompor. Merebus air, menyiapkan teh manis kesukaan Iqbal, lalu mengaduk nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi persis seperti yang disukai suaminya.
Di atas meja makan, sudah terselip secarik kertas yang ditulisnya semalam:
"Happy Anniversary, Mas. Terima kasih sudah membuatku merasa dicintai setiap hari."
Tulisan itu sederhana, namun setiap hurufnya tertulis dari hati yang paling dalam.
Tak lama berselang, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah lorong.
"Ibu..." Rara muncul di pintu dapur, rambutnya masih berantakan, matanya masih mengantuk. Anak perempuan mereka berusia delapan tahun, pipinya masih tembem, matanya bulat dan cerah persis seperti ayahnya.
"Selamat pagi, Sayang. Ayo ke sini," panggil Erlyn sambil merentangkan tangannya. Rara berlari kecil memeluk pinggang ibunya.
"Kenapa Ibu tersenyum terus?" tanya anak itu sambil mendongak.
Erlyn mengelus pipinya lembut. "Hari ini hari istimewa, Nak. Hari ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu."
"Wah! Berarti ada kue?" Mata Rara langsung berbinar cerah.
"Ada dong. Nanti sore kita beli bersama, ya?"
"Siap!" Rara meloncat kecil, lalu berjalan menuju kamar mandi sambil bersenandung pelan.
Tak lama kemudian, Iqbal keluar kamar. Ia sudah berpakaian rapi, kemejanya bersih dan wangi. Saat melihat istrinya berdiri di dapur, senyum langsung terukir di wajahnya, senyum yang sama yang membuat Erlyn jatuh cinta sepuluh tahun silam.
Iqbal mendekat, merangkul pinggang istrinya erat, lalu mencium keningnya.
"Selamat pagi, Sayang. Sudah sibuk saja?" suaranya terdengar lembut sekali.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Mas," jawab Erlyn menatapnya lekat.
Iqbal tersenyum lebih lebar, merapatkan pelukan. "Kamu ingat saja. Aku tadi sempat khawatir kalau kamu akan lupa."
"Mana mungkin aku lupa," jawab Erlyn pelan. "Sepuluh tahun yang lalu hari ini... kamu mengubah hidupku menjadi sesuatu yang indah."
"Bukan aku yang mengubahnya, Erlyn. Kamulah yang membuat rumah ini terasa seperti surga," ucap Iqbal tulus.
Mereka duduk bersama di meja makan. Rara sudah datang, duduk di kursinya dengan wajah ceria. Suasana pagi itu begitu tenang, begitu hangat.
Saat melihat kertas yang ditinggalkan istrinya, Iqbal memegang tangan Erlyn di atas meja. Ia membaca tulisan itu pelan, lalu menatap istrinya dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih, Erlyn. Sepuluh tahun rasanya belum cukup untuk menyayangimu."
Kalimat itu membuat dada Erlyn terasa perih sekaligus hangat. Ia menunduk sebentar, menahan agar matanya yang berkaca-kaca tidak terlihat. Iqbal begitu tulus, begitu baik. Sementara rahasia yang disimpannya bisa menghancurkan semua kebahagiaan ini dalam sekejap.
"Ayo kita makan dulu, nanti terlambat," ucapnya pelan, menarik tangannya perlahan.
Selama sarapan, mereka saling bercerita dan tertawa. Rara berbicara tentang sekolahnya, tentang teman-temannya, tentang hal-hal kecil yang menyenangkan.
Iqbal mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengelus kepala anak mereka. Ia ayah yang penuh perhatian sekaligus suami yang memahami. Terkadang Erlyn bertanya-tanya, apa yang pernah dilakukannya hingga pantas mendapatkan kebahagiaan seperti ini.
Setelah sarapan selesai, Erlyn mengantar mereka berdua ke depan pintu. Iqbal memakai helm, lalu menatap istrinya sebentar sebelum menyalakan motor.
"Sampai nanti sore, ya? Baik-baik di rumah."
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya." jawab Erlyn.
"Jangan terlalu lelah." ujar Iqbal penuh perhatian.
"Iya, mas." Erlyn menjawab dengan tersenyum.
Iqbal pun tersenyum, lalu motornya berjalan perlahan membawa Rara duduk di belakangnya. Anak itu melambaikan tangan sampai sosok mereka tak terlihat lagi di tikungan jalan. Erlyn berdiri di sana cukup lama, sampai suara motor itu tak terdengar sama sekali.
Pintu tertutup di belakangnya. Rumah yang tadi penuh tawa kini hening. Erlyn berjalan perlahan ke ruang tengah, duduk di tepi sofa, menatap foto keluarga yang terpasang di dinding.
Mereka terlihat begitu bahagia. Tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik senyumnya, ada ketakutan yang hidup bersamanya setiap hari.
Ia berdiri, berjalan ke dapur untuk membereskan sisa sarapan. Setiap gerakannya terasa biasa saja, seperti pagi-pagi sebelumnya.
Namun hari ini terasa sedikit berbeda. Ada rasa gelisah yang menyelinap pelan, seolah ada sesuatu yang mengingatkannya bahwa kebahagiaan ini bisa hilang kapan saja.
Erlyn menggeleng pelan. Tidak, tidak boleh berpikir demikian. Hari ini adalah hari peringatan sepuluh tahun pernikahan mereka. Hari ini harus tenang.
Ia membersihkan meja, mencuci piring, merapikan ruangan. Lalu duduk sejenak di teras, memandangi jalanan yang mulai ramai. Orang-orang lewat dengan urusan masing-masing, tak ada yang tahu apa yang tersembunyi di dalam hatinya.
Dua belas tahun lalu, Erlyn datang ke kota ini sendirian, ketakutan, merasa tak berharga. Lalu beberapa bulan kemudian, Iqbal menghampirinya, menyapanya, tanpa pernah bertanya dari mana ia datang atau apa yang ditinggalkannya di belakang. Ia menerima Erlyn apa adanya.
Dan justru itulah yang membuatnya semakin takut. Semakin dicintai, semakin ia sadar betapa beratnya kebenaran yang disembunyikan.
Jika Iqbal tahu siapa laki-laki yang pernah menguasai hidupnya dulu, jika ia tahu semua yang terjadi... apakah ia akan tetap menatapnya seperti ini? Apakah ia akan tetap bangga memanggilnya istrinya?
Erlyn menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa menemukannya. Semuanya sudah berlalu.
Namun perasaan itu tak hilang. Ia tetap ada, diam di sudut hati, seolah menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Erlyn menutup pintu depan, menguncinya rapat. Lalu berjalan ke kamar, menyentuh sisi tempat tidur Iqbal yang masih terasa hangat. Ia harus kuat. Demi suaminya, demi putrinya, demi semua kebahagiaan yang ia miliki sekarang.
Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulannya sendiri. "Semuanya akan baik-baik saja," bisiknya pelan.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
paling dia gugat kamu lyn 🫠