NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN OM

BERMAIN API DENGAN OM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.

Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.

Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6.

Christian membeku di atas ranjang. Napasnya tertahan saat merasakan kehangatan tubuh Bella yang menempel erat di sisinya. Sentuhan lembut dan isakan pelan itu menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar bernuansa remang tersebut.

​"Arabella, sadarlah. Kamu salah orang," suara bariton Christian terdengar rendah, bernada peringatan yang kaku.

​Namun, kesadaran Bella benar-benar telah terkikis habis oleh cairan beralkohol yang ia tenggak di klub tadi. Dalam dunianya yang berputar, pria di hadapannya ini hanyalah Vero—kekasih yang sangat ia takuti akan meninggalkannya.

​Sebelum Christian sempat melepaskan diri dan bangkit, Bella bergerak semakin mendekat. Dengan sisa tenaga yang dipengaruhi ilusi, gadis itu mendongakkan kepalanya, mempertemukan wajah mereka dalam jarak yang begitu dekat hingga hembusan napas beraroma alkohol menerpa bibir Christian.

​"Vero..." bisik Bella lemah, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya di bibir Christian.

​Tubuh Christian tersentak hebat. Pria itu mematung, matanya membelalak lebar dalam keheningan. Ciuman itu begitu polos, sarat akan keputusasaan dan rasa takut kehilangan.

Selama bertahun-tahun, disibukkan dengan dunia kedokteran dan tuntutan hidup yang ketat, naluri maskulin Christian seolah mati rasa. Namun sentuhan tiba-tiba dan kelembutan bibir keponakannya sendiri seketika membangkitkan sesuatu yang telah lama terkunci rapat di dalam diri pria itu.

​Sentuhan intim tersebut menghantarkan sengatan panas yang langsung menjalar menembus kemeja abu-abunya, membangunkan hasrat maskulin Christian yang seketika bereaksi di luar kendali akal sehatnya. Untuk sepersekian detik, Christian terbuai, hampir membalas tautan bibir itu.

​Namun, akal sehat seorang dokter dan kedewasaan seorang pria dewasa langsung mengambil alih dengan cepat. Christian tersadar. Matanya membelalak semakin tajam, dan dengan gerakan tegas, ia menahan kedua bahu Bella, lalu menjauhkan wajah gadis itu dari wajahnya.

​"Arabella! Cukup!" suara Christian meninggi, tegas namun tertahan, sarat akan ketegangan yang hebat.

​Bella terengut, napasnya tersengal-sengal. Air mata kembali menetes membasahi pipinya saat melihat pria di depannya menolak.

​"Kenapa, Vero...?" racau Bella parau, isak tangisnya kembali pecah. Ia kembali merosot, mencengkeram erat kemeja Christian. "Kenapa kamu mau ninggalin aku juga? Papa sama Mama di luar negeri nggak peduli sama aku... Kak Nathan sibuk sendiri... Di rumah ini aku sendirian, Nggak ada satu pun orang yang sayang sama aku..."

​Kalimat-kalimat itu meluncur polos dari bibir Bella, penuh luka dan kehampaan yang selama ini ia pendam rapat-rapat.

​Christian tertegun di tempatnya. Kalimat itu menusuk tepat di bagian terdalam hatinya. Jemarinya yang tadi bersiap mendorong tubuh Bella perlahan melemas. Ia menatap wajah keponakannya yang basah oleh air mata, melihat kerapuhan mutlak di balik topeng gadis pembangkang yang selama ini dikenal keluarganya sebagai pembuat onar.

​Tidak ada kemarahan lagi di benak Christian. Yang tersisa hanyalah keheningan yang pekat dan rasa berat yang menghimpit dadanya.

​Isakan Bella lama-kelamaan melemah. Deru napasnya mulai teratur, digantikan oleh kelelahan fisik yang teramat sangat setelah seharian penuh emosinya terkuras. Perlahan, pelukan erat di pinggang Christian mengendur. Bella akhirnya terlelap sepenuhnya dalam posisi miring, masih dengan sisa air mata di sudut matanya.

​Christian menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas berat yang sarat akan beban. Ia menatap wajah tidur Bella sejenak, lalu dengan sangat hati-hati melepaskan jemari gadis itu dari kemejanya.

​Pria itu bangkit dari ranjang, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, dan membenarkan selimut untuk menutupi tubuh Bella. Tanpa bersuara sedikit pun, Christian membalikkan badan, melangkah keluar dari kamar tersebut, meninggalkan malam yang panjang dengan sejauh tanda tanya yang mulai menggelayut di kepalanya.

*

Pintu kamar tamu tertutup rapat tanpa suara. Christian melangkah masuk ke dalam ruangannya yang remang, menyandarkan punggungnya pada daun pintu, lalu memejamkan mata erat-erat.

Di dalam keheningan malam itu, udara di sekitarnya mendadak terasa begitu panas dan menyesakkan. Christian menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang masih bergemuruh hebat, namun usahanya sia-sia. Sentuhan bibir Bella yang begitu polos namun menuntut tadi terus berputar di dalam kepalanya, menghantui setiap sel kesadarannya.

"Sial..." desis Christian rendah, suaranya terdengar serak dan penuh frustrasi di tengah kamar yang kosong.

Ia membuka kacamata berbingkai tipisnya dan melemparkannya begitu saja ke atas nakas. Christian melangkah mondar-mandir di kamar itu dengan rahang mengeras. Pria berusia yang dikenal dingin, kaku, dan memegang kendali penuh atas hidupnya kini mendadak kehilangan akal sehat.

Bagian bawah tubuhnya terasa panas membakar. Batang kejantanannya masih berdiri tegak di balik balutan celana bahan yang dikenakannya, berdenyut menuntut pelepasan yang belum sempat ia dapatkan.

Selama bertahun-tahun, disiplin ketat sebagai dokter bedah dan prinsip hidupnya membuat Christian mampu meredam hasrat biologisnya dengan mudah. Namun malam ini, pertahanan itu runtuh hanya karena sentuhan singkat dari keponakannya sendiri—Arabella.

"Dia ponakan kamu sendiri, Tian," gumam Christian pada dirinya sendiri, mencoba menampar logikanya dengan kenyataan pahit. "Anak itu baru delapan belas tahun. Dia sedang mabuk."

Namun, logika itu hancur berkeping-keping saat bayangan tubuh Bella yang merengkuh pinggangnya kembali terlintas di pelupuk mata. Kulit halus itu, desah napasnya, serta isakan pilu tentang betapa kesepiannya gadis itu—semuanya terekam jelas, mencengkeram pikirannya tanpa ampun. Bibir Bella yang manis dan lembut, pertemuan singkat yang tak sengaja itu, justru meninggalkan rasa ketagihan yang luar biasa di dalam diri Christian. Ia menginginkan lebih.

Frustrasi yang teramat sangat membuat Christian tidak tahan lagi. Ia melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamarnya, membuka keran shower selebar-lebarnya, dan langsung berdiri di bawah kucuran air dingin yang langsung membasahi seluruh tubuhnya.

Air es itu menghantam kemeja abu-abu dan celananya, membuat pakaiannya basah kuyup dalam sekejap. Christian memejamkan mata, membiarkan air dingin itu mengguyur wajah dan rambutnya, berharap suhu ekstrem tersebut mampu memadamkan api yang membakar di dalam darahnya.

Namun, bayangan Bella sama sekali tidak hilang.

Di balik tetesan air yang mengalir di wajahnya, bayangan tubuh mungil Bella dengan gaun malam minim, kulit mulusnya yang tersingkap, serta bibir merah yang merengek memanggil nama kekasihnya terus menghantui Christian. Semakin ia mencoba menepisnya, semakin kuat pula tubuhnya bereaksi. Keringat bercampur air dingin mengalir di pelipisnya; napasnya memburu tak beraturan di dalam bilik mandi yang beruap.

"Arrgh..." Christian mengerang tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih menahan gejolak hasrat yang sudah berada di ambang batas.

Kesadaran moralnya berteriak kencang, mengingatkan status mereka yang terikat hubungan darah. Tapi tubuh dan nalurinya telah dikuasai oleh bayangan terlarang itu. Rasa penasaran dan ketagihan akan rasa bibir Bella mendesak lebih kuat daripada akal sehatnya.

Dengan napas yang makin memburu dan dada naik turun, Christian tidak lagi kuasa menahan diri. Tangan kanannya yang basah perlahan turun, meraba pinggangnya sendiri, lalu mencengkeram erat kejantanannya yang menegang di balik celana basahnya.

Di bawah kucuran air dingin kamar mandi yang sunyi, pria matang yang selama ini dikenal terhormat itu akhirnya menyerah pada bayangan terlarang. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan erangan berat lolos dari bibirnya saat ia mulai menggerakkan tangannya sendiri.

"Aaaakh... Arabella..."

*

*

*

1
🍌
🌚🌚🌚 sikat
Nurmalia Lia
aishhh gak sabar nunggu bella nih thor😍👍
🍌
kapan plok2 🌚
Vira Anisah
lanjut
Ita Putri
munafik tingkat dewa si Alan 🤭
🍌
lama 😗
Mia Camelia
rasakan kau nathan di jutekin Clarisa🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 😍😍😍
Mia Camelia
ceritain Clarisa dan nathan dulu thor, makin penasaran nih 🤭
🍌
jodoh anda 🌚
🍌
bisa dipercepat alurnya 🌚🌚🌚
Mia Camelia
aduh makin rumit nih😔
Mita Paramita
nah gitu dong sih Vero mesti dikasih dipenjara biar sadar🫡 om Christ tegas banget buat lindungi Bella 😍
Mia Camelia
akhirnya bella di Terima keluarga nya😂
Mia Camelia
bella keras kepala banget sih😔😂
Mia Camelia
cristian udh mulai melindungi bella, 🤭
Ita Putri
pergi yg jauh sekalian Bella
kesel banget liat keluarga allegra
Ita Putri
pret lah....
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang
Mia Camelia
plis bella jangan kabur2an mulu, capek nih🤭🤭
🍌
kejar om.. borgol kakinya 🌚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!