NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LELAKI DI BALIK SEMAK

"Siapa kamu?"

Sinta bertanya sambil berdiri dari kursi tunggu rumah sakit, melangkah menjauh dari Tari ke ujung lorong yang sepi. Suaranya rendah dan stabil, tanpa getar.

"Namaku Reza," jawab suara di seberang. "Kamu pernah mendengar suaraku dua malam lalu, di taman rumah mertuamu. Kamu bersembunyi di balik tiang dan menginjak ranting."

Punggung Sinta menegang. "Kamu tahu itu?"

"Melia cerita, sambil menangis, setelah kamu pergi. Dia pikir kamu mendengar semuanya."

"Dia tidak menangis. Dia mengancamku."

"Itu juga dia ceritakan." Reza terdengar menghela napas panjang dan lelah. "Dengar, aku tidak menyuruhmu percaya. Aku cuma minta dua puluh menit. Warung kopi di belakang terminal lama, buka dua puluh empat jam. Bawa temanmu kalau perlu. Tapi jangan bawa ponsel yang sama dengan yang kamu pakai di rumah itu."

"Kenapa aku harus datang?"

"Karena bayi di perut Melia itu darah dagingku." Jeda pendek. "Dan karena dua laki-laki yang mendobrak pintumu semalam bukan suruhan ibu mertuamu."

Sambungan terputus.

Sinta berdiri lama menatap layar ponsel yang kembali gelap. Tari menghampiri dengan alis berkerut.

"Siapa?"

"Pria yang bicara dengan Melia di telepon malam itu." Sinta menyimpan ponselnya. "Dia ngajak ketemu."

"Itu jebakan, Sin."

"Mungkin."

"Kamu mau datang?"

"Aku mau datang dengan kepala dingin dan mata terbuka." Sinta menatap sahabatnya. "Dan dengan kamu duduk di meja sebelah, merekam semuanya."

---

Warung kopi itu berada di sudut terminal tua yang sudah lama setengah mati. Atapnya seng berkarat, lampunya neon pucat, dan aroma kopi hitam bercampur asap rokok menggantung di udara seperti kabut. Subuh baru mulai merayap di langit, mengubah gelap menjadi kelabu kebiruan.

Seorang lelaki duduk sendirian di pojok dengan jaket kulit lusuh dan topi hitam ditarik rendah. Ia berusia sekitar tiga puluhan, badannya kurus tapi kokoh, tangannya penuh bekas luka kecil dan noda oli yang tak bisa hilang. Ia menegakkan wajah begitu melihat Sinta melangkah masuk.

Tari mengambil meja dua baris di belakang, memesan kopi, dan menyelipkan ponsel yang sedang merekam di balik gelas.

Sinta duduk di hadapan lelaki itu tanpa menyalami.

"Kamu lebih muda dari yang kubayangkan," kata Reza.

"Kamu lebih lusuh dari yang kubayangkan."

Reza tersenyum tipis, pahit. "Aku montir bengkel motor. Wajar."

"Melia anak dokter, kamu montir. Kapan kalian ketemu?"

"Dua tahun lalu. Motornya mogok di depan bengkelku, hujan deras, dia basah kuyup." Reza menunduk, memutar gelas kopi di tangannya. "Awalnya dia ramah sekali. Tidak sombong. Tiap minggu dia mampir cuma buat ngobrol. Setahun kemudian kami pacaran diam-diam."

"Ayahnya tahu?"

"Tahu setelah dia hamil."

Sinta menyipitkan mata. "Berapa bulan sekarang?"

"Tujuh minggu waktu dia periksa pertama kali. Itu dua bulan lalu." Reza mengeluarkan selembar foto USG dari saku jaket dan meletakkannya di meja. Tanggalnya jelas tercetak di sudut kertas. "Dia kasih itu padaku sendiri. Dia bilang, 'Mas, aku mau pertahankan.' Aku bilang aku akan bertanggung jawab. Aku akan lamar dia besoknya."

"Lalu?"

"Besoknya, dia tidak bisa dihubungi. Tiga hari kemudian Pak Hendra datang ke bengkelku."

Sinta menunggu. Reza meneguk kopinya, wajahnya mengeras.

"Dia nggak marah. Justru sopan sekali. Duduk di bangku plastikku, minta teh manis, bicara pelan seperti dokter ke pasien. Dia bilang anaknya sedang dijodohkan dengan keluarga terpandang, dan kehamilan itu 'bisa diselesaikan dengan baik' kalau aku menghilang."

"Menghilang bagaimana?"

"Dia kasih amplop. Isinya uang, banyak. Cukup untuk beli bengkel baru."

"Kamu terima?"

Mata Reza naik, tajam. "Kalau aku terima, aku tidak akan duduk di sini."

"Orang yang menerima uang juga bisa menyesal belakangan."

"Aku menolak." Suaranya merendah. "Dan minggu depannya, bengkelku dibakar."

Sinta terdiam. Tangannya perlahan merapat di atas meja.

"Polisi bilang korsleting. Tapi tiga hari sebelumnya, Pak Wiryo datang. Orang bertubuh besar, suara serak, tanpa senyum. Dia cuma berdiri di depan bengkel sebentar, menyentuh kerangka motor-motor, lalu pergi." Reza meneguk lagi. "Dia bilang satu kalimat padaku: 'Anak muda sepertimu masih punya ibu di kampung, kan?'"

"Pak Wiryo itu orang Bu Retno."

"Bukan."

Sinta mengangkat wajah. "Apa maksudmu bukan?"

"Pak Wiryo memang dulu bekerja untuk Bu Retno, urusan tanah dan sengketa. Tapi dua tahun terakhir dia pindah majikan." Reza mencondongkan badan. "Sekarang dia dibayar Pak Hendra. Bu Retno tidak tahu."

"Itu tidak masuk akal. Bu Retno dan Pak Hendra bersekongkol soal Damar dan Melia."

"Bersekongkol untuk satu hal. Tapi ada hal lain yang hanya Pak Hendra yang tahu." Reza menatap lurus. "Mereka tidak sepakat dalam segala hal, Mbak. Bu Retno ingin cucu yang tampak sah. Pak Hendra ingin sesuatu yang lain."

"Apa?"

"Aku belum tahu pasti. Tapi malam kamu disergap dua orang itu, aku ada di ujung gang, mengamati rumah Melia seperti biasa. Aku lihat mereka datang dengan motor, bicara pendek dengan seseorang yang menunggu di balik pagar belakang."

"Siapa?"

"Pak Hendra sendiri."

Udara di warung itu terasa membeku. Sinta menatap Reza lama, mencari tanda-tanda bohong di wajahnya, di gerak tangannya, di sorot matanya. Yang ia temukan hanya kelelahan dan kemarahan yang sudah terlalu lama dipendam.

"Kenapa kamu tidak ke polisi?" tanyanya.

"Atas dasar apa? Aku cuma montir yang ngaku-ngaku pacar anak dokter. Aku bahkan tidak punya bukti selain foto ini."

"Kamu punya bukti kebakaran."

"Polisi sudah menutup kasus itu."

"Kamu punya nama Pak Wiryo."

"Dan Pak Wiryo punya sepuluh orang yang siap bersumpah dia sedang di tempat lain." Reza tersenyum getir. "Aku sudah mencoba, Mbak. Dua kali. Terakhir aku malah diperingatkan polisi untuk tidak mencemarkan nama baik keluarga terhormat."

"Jadi kamu datang padaku."

"Karena kamu satu-satunya orang di rumah itu yang berani menatap mata Bu Retno." Reza menarik napas. "Melia cerita bagaimana kamu bicara padanya di dapur. Dia ketakutan. Aku belum pernah dengar dia ketakutan pada siapa pun."

Sinta menyandarkan punggung. Pikirannya berputar cepat, menyusun ulang semua yang ia ketahui. Ada Bu Retno yang menutup rahasia kemandulan anaknya. Ada Pak Hendra yang menyembunyikan kehamilan Melia sekaligus mengirim orang untuk mengganggunya. Dan ada Melia, perempuan yang memegang dua tali sekaligus.

"Kamu masih cinta pada Melia?"

Pertanyaan itu membuat Reza terdiam. Rahangnya bergerak, tatapannya jatuh ke meja.

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Yang kutahu aku tidak mau anakku dibesarkan oleh keluarga yang membakar bengkel orang."

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya yang kupunya."

"Kamu pikir aku akan membantumu?"

"Aku pikir kita punya musuh yang sama."

Sinta menatap foto USG di meja. Gambar hitam putih yang kabur itu, seonggok kecil kehidupan yang tak punya salah apa pun, tapi sudah dijadikan senjata oleh orang-orang dewasa yang serakah.

"Kalau aku membantumu," katanya perlahan, "aku tidak akan melakukannya demi kamu. Atau demi Melia. Aku melakukannya demi anak itu, dan demi diriku sendiri."

"Itu cukup."

"Dan satu hal lagi." Ia menatap lurus ke mata Reza. "Kalau ternyata kamu berbohong padaku, kalau ini jebakan, kalau kamu ternyata disuruh seseorang..."

"Aku tidak disuruh siapa pun."

"...maka aku akan pastikan kamu menyesal lebih dalam dari siapa pun yang pernah kamu kenal."

Reza menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil, senyum pertama yang tampak tulus sejak pertemuan itu dimulai. "Aku mulai paham kenapa Melia takut padamu."

"Aku belum mulai, Mas."

"Aku tahu."

Mereka terdiam sejenak. Di luar, matahari mulai naik, menyapu terminal tua dengan cahaya keemasan yang pucat. Tari di meja belakang menyeruput kopinya perlahan, matanya tak lepas dari mereka.

"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu," ucap Reza akhirnya, suaranya merendah menjadi bisikan. "Sesuatu yang kudengar sendiri malam itu, waktu mengintip dari balik pagar."

"Apa?"

"Pak Hendra bicara dengan Pak Wiryo setelah dua orang itu kabur. Aku tidak dengar semuanya, tapi aku dengar satu kalimat dengan jelas."

"Kalimat apa?"

Reza meneguk ludah, lalu menatap Sinta dengan mata yang mendadak dipenuhi sesuatu yang mendekati iba.

"Dia bilang, 'Rencana pertama gagal. Kita pakai rencana kedua. Pastikan Bu Retno tidak tahu, dan pastikan Sinta tidak sempat bicara dengan Damar lagi sebelum hari Jumat.'"

Sinta menegang. "Hari Jumat?"

"Hari Jumat minggu ini." Reza menatapnya tajam. "Hari ketika Damar dijadwalkan ikut Pak Hendra ke luar kota, katanya untuk 'pemeriksaan lanjutan'. Mbak, aku tidak yakin Damar akan pulang dari perjalanan itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!