Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Merantau
Malam itu terasa makin panjang. Koper cokelat tua milik ibunya sudah penuh sesak oleh tumpukan pakaian Keira.
Dipan kayu berderit setiap kali gadis itu menggeser posisi, berusaha memasukkan kaos terakhir ke dalam koper.
Ibunya muncul dari balik pintu kamar yang memang sudah lama tidak bisa tertutup rapat. Di tangannya ada secangkir teh hangat dengan aroma melati yang khas.
"Kamu kalau masukin baju dilipat yang rapi, Kei. Bukan ditumpuk kayak mau bikin gunungan," tegurnya.
Beliau meletakkan teh di meja belajar, lalu duduk di samping koper. Tangannya yang kasar mulai merapikan pakaian Keira satu per satu.
"Bu, koper ini emang udah rusak. Resletingnya aja udah aus," bela Keira.
"Koper ini yang Ibu bawa pertama kali datang ke rumah Bapakmu, tahu." Ibunya tetap sibuk melipat pakaian. "Jangan salahin kopernya. Kamu juga maksa masukin jaket, padahal Jakarta lagi panas-panasnya."
Keira tertawa kecil. Namun, tak lama kemudian pandangannya beralih ke tangan ibunya.
"Ibu beneran nggak apa-apa kalau Keira berangkat?"
Gerakan tangan ibunya terhenti sebentar.
"Kalau ditanya rela atau nggak, ya jelas Ibu nggak rela ngelepas anak gadisnya ke kota sebesar Jakarta cuma dengan ongkos pas-pasan." Beliau menatap Keira. "Tapi kalau Ibu tahan kamu di sini, kita mau makan apa bulan depan? Utang ke rentenir bunganya terus jalan. Kemarin Pak Darto juga sempat lewat warung, nanyain Bapakmu. Ibu sampai pura-pura masuk dapur."
Keira terdiam. Ada rasa bersalah sekaligus kesal pada keadaan yang membuat mereka harus berada di posisi seperti ini.
"Makanya Keira harus pergi, Bu." Suaranya pelan, tetapi cukup mantap. "Tujuh juta itu gede banget buat kita. Kalau Keira hemat di sana, Keira bisa kirim lima juta tiap bulan. Setahun juga harusnya utang di kertas kuning itu beres. Setelah itu kita cicil utang ke Pak Darto."
Ibunya tersenyum tipis, lalu mengusap kedua pipi Keira.
"Jakarta itu bukan cuma soal uang gede, Kei. Orang-orang di sana macam-macam. Kamu harus pintar jaga diri. Kalau ada orang rumah yang galak atau ngomongnya nggak enak, ditelan dulu. Jangan sedikit-sedikit dilawan. Kamu di sana numpang cari makan."
"Iya, Bu. Keira tahu. Keira kan anak Ibu yang paling tahan banting."
"Anak Ibu cuma satu, jangan sok tahan banting."
Ibunya mencubit hidung Keira pelan. Gadis itu langsung meringis sambil terkekeh.
Dari kamar depan, terdengar batuk kering ayahnya. Rupanya lelaki itu belum benar-benar tidur.
Keira bangkit dan menghampiri kamar orang tuanya. Tanpa alas kaki, ia berjalan melewati ruang tengah yang hanya diterangi lampu redup.
Ayahnya sedang bersandar pada beberapa bantal.
"Belum tidur, Pak?"
"Kaki Bapak agak linu. Mungkin mau hujan."
Ayahnya menggeser posisi duduk, lalu menatap langit-langit rumah yang dipenuhi bercak hitam bekas bocoran air.
"Kopimu masih ada?"
"Udah habis diminum Bapak tadi pagi, kan?" Keira duduk di lantai, tepat di samping dipan.
Ayahnya terkekeh.
Namun, tak lama kemudian wajahnya kembali murung.
"Bapak merasa gagal jadi laki-laki di rumah ini, Kei."
Keira langsung mendongak. "Pak, jangan ngomong gitu."
"Coba kalau truk itu nggak nabrak empat tahun lalu." Pandangan ayahnya menerawang ke arah pintu. "Kaki Bapak mungkin masih bisa injak pedal kopling. Kamu sekarang mungkin udah kuliah atau kerja di toko baju kecamatan. Nggak perlu sampai merantau sejauh itu. Nggak perlu mikirin kertas-kertas kuning sialan itu."
Keira meraih tangan ayahnya. Kulitnya sudah keriput, dengan bekas luka bakar yang masih terlihat di punggung tangan.
"Bapak kan nggak minta kecelakaan itu terjadi. Kalau Bapak bisa milih, Bapak juga pasti mau ngerem waktu itu, kan?"
Ia mencoba tersenyum.
"Lagian Keira juga pengin lihat Jakarta. Biar nggak dibilang kuper sama Sasa. Katanya gedung-gedung di sana tinggi banget. Kalau nengok ke atas, topi bisa jatuh."
Ayahnya melirik, lalu tertawa kecil.
"Jangan kampungan begitu. Nanti orang kaya tempat kamu kerja malah mikir kamu diturunin dari gunung."
"Biarin. Yang penting gaji lancar, Bapak bisa beli obat rutin, terus Ibu nggak perlu jualan kue cucur sampai subuh lagi."
Keira menepuk pelan paha ayahnya.
"Pak, orang kaya itu beneran kayak di sinetron nggak sih? Kalau marah suka banting gelas, terus rumahnya ada tangga melingkar?"
"Bapak mana tahu. Bapak cuma pernah antar barang sampai depan gerbang rumah orang kaya di PIK. Gerbangnya aja lebih tinggi dari rumah kita. Ada satpamnya bawa pistol."
"Hah? Pakai pistol?"
"Ya nggak tahu. Bapak kan nggak nanya."
Keira tertawa mendengar jawaban santai ayahnya.
Sayangnya, tawa itu nggak bertahan lama. Malam kembali sunyi, hanya ada suara jangkrik dan angin yang masuk lewat celah ventilasi.
Pukul tiga pagi, Keira terbangun.
Entah sudah berapa kali ia membolak-balikkan badan, tetapi matanya tetap sulit terpejam.
Akhirnya, ia bangkit dan berdiri di depan cermin. Kemeja kotak-kotak yang warnanya mulai pudar dan celana hitam kebesaran sudah ia siapkan untuk perjalanan nanti.
Ponselnya yang retak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Sasa: Kei, besok bus jam 6 pagi dari terminal. Aku udah bilang sama Bu Lastri, perantara yang nyari pengasuh itu. Dia bakal nunggu kamu di Pool Bus Kampung Rambutan jam 2 siang.
Sasa: Ingat, Kei. Anaknya orang kaya itu konon agak beda. Kata Bu Lastri, pengasuh sebelumnya cuma tahan dua minggu. Tapi gajinya utuh ditransfer awal bulan.
Keira langsung membalas.
Keira: Beda gimana, Sa? Agresif? Suka mukul?
Sasa: Bukan mukul sih... Katanya pendiam banget, tapi bapaknya itu duda kaya, pengusaha apa gitu. Udah ah, kamu siap-siap aja. Yang penting uangnya cair.
Keira menatap layar cukup lama.
Duda kaya. Anak pendiam. Pengasuh cuma bertahan dua minggu.
Ia menelan ludah. Tiba-tiba saja ada perasaan nggak enak yang muncul.
Jakarta bahkan belum ia pijak, tetapi rumah yang akan menjadi tempat kerjanya sudah menyimpan banyak tanda tanya.
Keira akhirnya keluar kamar menuju dapur.
Di sana, ibunya ternyata sudah bangun. Beliau sedang membungkus beberapa lemper sisa semalam ke dalam plastik bening.
"Buat ganjal perut di bus," katanya. "Sama ini, Ibu ada selipan uang lima puluh ribu. Jangan dipakai kalau nggak kepepet."
Keira menatap uang biru kusam yang disodorkan ibunya.
Ia tahu uang itu pasti diambil dari simpanan darurat yang selama ini disimpan ibunya di lemari.
"Nggak usah, Bu. Keira masih punya dua puluh—eh, sembilan belas ribu."
"Pegang."
Ibunya langsung memasukkan uang itu ke telapak tangan Keira, lalu menggenggamnya.
"Di kota orang, kamu nggak punya siapa-siapa. Kalau ada apa-apa di jalan, uang itu yang bisa nyelamatin kamu."
Kali ini Keira nggak membantah.
Ia memeluk ibunya erat-erat. Aroma minyak kayu putih dan pandan yang menempel di tubuh perempuan itu terasa begitu akrab.
"Keira pasti pulang bawa uangnya, Bu. Semuanya. Kita lunasin tagihan kuning itu, terus perbaiki atap teras."
Ibunya tertawa kecil di sela tangisnya.
"Iya, Nak. Iya. Doa Ibu ikut di setiap langkahmu."
Fajar mulai menyingsing ketika Keira akhirnya menyeret kopernya keluar rumah.
Ayahnya sudah berdiri di teras dengan bantuan tongkat kayu, sementara ibunya menunggu di ambang pintu dengan mata sembap.
Dari ujung jalan, suara mesin bus antarkota mulai terdengar.
Keira berhenti sebentar di depan gerbang bambu. Ia menoleh, menatap rumah kecil yang sudah dua puluh tahun menjadi tempatnya pulang.
Atapnya masih bocor. Cat dindingnya mengelupas. Beberapa bagian kayunya bahkan mulai lapuk.
Namun, di sanalah seluruh kenangan masa kecilnya tersimpan.
Rumah yang selalu melindunginya, sekaligus tempat ia menyaksikan kedua orang tuanya berjuang menghadapi tumpukan utang.
Keira mengepalkan tangan di dalam saku jaket, menggenggam dompet kecil berisi foto keluarga mereka.
"Aku berangkat, Pak, Bu."
Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya berbalik.
Langkahnya terasa berat, tetapi Keira tetap berjalan menuju jalan raya.
Ada tagihan puluhan juta yang harus dilunasi. Ada obat ayah yang harus dibeli. Ada ibu yang sudah terlalu lama bekerja sampai larut malam.
Dan kali ini, Keira ingin menjadi alasan kedua orang tuanya bisa sedikit bernapas lega.
semangat Kak 💪💪