Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Tes Kesehatan dan Karung 25 KG
Jam delapan pagi, pengumuman di papan tulis kantin bikin heboh.
"Diumumkan: Hari ini akan ada cek kesehatan gratis untuk semua karyawan PKS Dharmasraya oleh Dr. Karin dari Klinik Medan. Wajib hadir di klinik jam 9 pagi. - Ttd Manajemen"
Semua pekerja senang. Cek kesehatan gratis jarang ada. Tapi Nadia, Mbak Sari, dan Bu Lastri saling tatap. Mereka tahu ini bukan cek kesehatan biasa. Semalam Karin baru ditolak Arif di pos security.
"Bu Nadia, hati-hati ya. Firasat saya ndak enak," bisik Mbak Sari sambil pegang tangan Nadia di depan klinik yang kecil dan panas itu.
Klinik pabrik cuma ruangan 4x4 meter, ada satu bed pasien, satu timbangan berat badan, dan lemari obat. Karin sudah di dalam, pakai jas dokter putih bersih, masker, dan sarung tangan karet. Di depannya ada daftar nama karyawan.
Satu per satu karyawan masuk. Pak Bambang dicek tekanan darah, sopir truk dicek mata. Semua cepat.
Giliran Nadia. Nadia masuk, tutup pintu.
Karin yang tadi senyum ramah sama pekerja lain, langsung berubah dingin lihat Nadia.
"Duduk," kata Karin ketus, tunjuk kursi.
Nadia duduk.
"Nama?" tanya Karin, pura-pura tidak kenal.
"Nadia, Dok. Admin," jawab Nadia pelan.
Karin tulis di buku. "Umur 22? Sudah menikah? Oh belum. Tunangan? Oh sudah punya tunangan guru ya? Tapi masih ganggu tunangan orang?"
Nadia menunduk. "Dok, saya di sini untuk cek kesehatan, Dok."
"Oh ya, cek kesehatan. Saya lupa. Kamu kan admin, kerjanya duduk terus. Pasti lemah. Coba saya cek kekuatan fisik kamu. Standar kesehatan untuk pekerja pabrik sawit, semua karyawan harus kuat angkat beban 25 kilo. Itu SOP dari pusat," kata Karin, senyum tipis licik.
Nadia kaget. "Angkat beban, Dok?"
Karin berdiri, buka pintu belakang klinik yang langsung ke gudang pupuk kecil. Di sana ada karung pupuk NPK 25 kilo yang masih baru.
"Ya. Angkat karung itu, pindahkan dari gudang ke klinik. Biar saya lihat kamu kuat atau tidak. Kalau tidak kuat, berarti kamu tidak layak kerja di pabrik sawit. Saya sebagai dokter berhak kasih surat tidak layak kerja," kata Karin, suaranya pelan tapi ancamannya jelas.
Ini bukan cek kesehatan. Ini balas dendam karena semalam Arif nolak dia.
Nadia menatap karung pupuk itu. 25 kilo. Beratnya hampir sama dengan berat badannya.
"Dok, saya... saya admin, Dok. Tugas saya bukan angkat pupuk. Tugas saya di komputer," kata Nadia, suaranya gemetar.
Karin lipat tangan. "Oh, jadi kamu mau melawan dokter? Saya ini dokter lho. Kalau kamu tidak mau, saya tulis di laporan: Admin Nadia menolak cek kesehatan, diduga tidak sehat dan tidak jujur."
Air mata Nadia mulai menggenang. Ia terjepit.
Di luar klinik, antrean pekerja mulai ramai berbisik. Mbak Sari yang intip dari jendela kecil lihat Nadia disuruh angkat karung.
"Bu Lastri! Bu Lastri! Nadia disuruh angkat pupuk sama dokter itu!" bisik Mbak Sari panik.
Bu Lastri langsung gedor pintu klinik.
"Dokter Karin! Apa-apaan ini? Cek kesehatan kok suruh angkat pupuk? Saya kerja 20 tahun di sini tidak pernah ada cek seperti ini!" teriak Bu Lastri dari luar.
Karin buka pintu sedikit, wajahnya pura-pura profesional.
"Bu Lastri, ini prosedur baru dari pusat. Untuk cek kekuatan otot. Semua karyawan wajib," jawab Karin enteng, bawa-bawa nama pusat dan gelar dokter lagi.
Bu Lastri tidak bisa lawan.
Di dalam, Nadia sudah berdiri di depan karung pupuk. Ia jongkok, peluk karung itu. Bau pupuk menyengat. Tangannya licin oleh keringat.
Ia tarik napas, angkat.
Karung itu berat sekali. Kaki Nadia gemetar. Pinggangnya sakit. Ia berhasil angkat setengah meter, lalu jatuh lagi. Debu pupuk beterbangan.
Karin lihat dari belakang, senyum puas, sambil catat di bukunya.
"Ah, lemah. Pantas saja cuma bisa mengandalkan laki-laki untuk hidup. Coba lagi," kata Karin dingin.
Nadia coba lagi. Kali ini ia pakai tenaga dari kaki, seperti yang diajarkan Pak Bambang. Ia peluk karung, angkat dengan teriakan kecil, dan seret karung itu ke lantai klinik. Lantai klinik yang tadinya bersih jadi kotor oleh jejak pupuk.
Satu meter. Dua meter. Tiga meter.
Keringat Nadia bercucuran, seragam navy-nya kotor oleh debu pupuk.
Akhirnya karung itu sampai di tengah klinik. Nadia jatuh terduduk di lantai, napas ngos-ngosan, tangan lecet.
Karin tepuk tangan pelan, pura-pura kagum.
"Wah, hebat. Ternyata kuat juga. Selamat, kamu lulus tes fisik. Tapi sayang, seragam kamu kotor, muka kamu kotor. Tidak pantas jadi admin. Saya sarankan kamu pulang dan mandi dulu. Hari ini saya liburkan," kata Karin.
Nadia menatap Karin dengan air mata yang akhirnya jatuh. Bukan karena capek, tapi karena dipermalukan.
Pintu klinik terbuka keras.
Arif masuk. Wajahnya merah marah. Di belakangnya ada Pak Hendra dan Pak Bambang yang dipanggil Mbak Sari.
"Apa-apaan ini, Karin!" bentak Arif keras. "Siapa suruh kamu suruh admin angkat pupuk? Ini bukan SOP!"
Karin kaget lihat Arif dan Pak Hendra datang. Ia langsung pasang wajah korban.
"Arif, Pak Hendra, saya cuma jalankan SOP kesehatan! Saya dokter, saya tahu prosedur!" jawab Karin.
Pak Hendra lihat Nadia yang duduk di lantai, kotor, nangis, dan karung pupuk di tengah klinik. Pak Hendra paham langsung.
"Dr. Karin, cukup! SOP kesehatan tidak ada yang suruh angkat pupuk 25 kilo di dalam klinik! Ini pabrik, bukan tempat main-main! Saya Manager di sini, saya yang tentukan SOP, bukan dokter tamu! Sekarang keluar dari klinik ini dan kembali ke mess tamu!" bentak Pak Hendra dengan logat Bataknya yang menggelegar.
Satu klinik hening.
Karin terbelalak, malu besar dibentak Manager di depan banyak orang.
"Arif! Kamu lihat Manager kamu bentak aku! Aku ini tunangan kamu! Aku dokter!" teriak Karin.
Arif tidak bela Karin. Arif jalan ke arah Nadia, jongkok di depan Nadia yang masih di lantai, dan ulurkan tangan.
"Nad, bangun. Lantainya kotor," kata Arif pelan.
Nadia ragu, tapi ia pegang tangan Arif dan bangun. Tangan Arif kotor oli, tangan Nadia kotor pupuk. Dua tangan kotor yang saling pegang.
Mbak Sari dan Bu Lastri langsung masuk, bawa Nadia keluar dari klinik.
Karin ditinggal sendirian di klinik yang kotor oleh pupuk, dengan karung 25 kilo di tengah ruangan.
Sore itu, foto Nadia angkat karung pupuk dengan seragam kotor tersebar di grup WA pabrik, tapi kali ini captionnya beda: "Salut sama Bu Nadia, admin baru kuat angkat pupuk 25 kilo! Calon mandor!"
Semua pekerja kasih jempol.
Di mess tamu ber-AC, Karin banting koper pinknya, nangis kencang. Rencana permalukannya gagal total.
Dan di mess putri yang panas, Nadia dimandikan dan dipeluk oleh Mbak Sari dan Bu Lastri.
Bersambung
---