NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELUARGA SHEN KEDUA YANG TIDAK PUNYA HATI

Xiao Luo menahan napas. Ia merapatkan punggungnya ke dinding batu sumur tua yang dingin dan berkeringat.

​Udara malam Pulau Pengasingan mendadak terasa menusuk hingga ke sumsum tulang. Bukan sekadar karena hembusan angin laut yang tajam, melainkan juga akibat ketegangan murni yang merambat melalui gelombang suara di luar sana.

​Dari balik celah reruntuhan batu sumur, Xiao Luo mengintip ke arah halaman gubuk bobrok tempat Nyonya Shen berteduh. Di bawah remang temaram cahaya bulan, beberapa sosok orang berdiri di depan rumah keluarga Shen.

​Di barisan paling depan, berdiri seorang pria paruh baya berwajah licik dengan kedua tangan terlipat angkuh di dada. Dengkusannya terdengar kasar dan penuh cemooh. Tepat di sampingnya, sang istri berdiri membusungkan dada, sementara ketiga putra mereka berjajar di belakang bagaikan algojo.

​Pria itu adalah Shen Guanshan—kepala keluarga cabang kedua. Di antara seluruh klan, ia terkenal paling serakah dan gemar menindas cabang utama.

sejak mereka dilempar ke pulau pembuangan ini. Padahal, jauh sebelum nasib mereka hancur, segala kemewahan dan kehormatan yang dinikmati Shen Guanshan adalah hasil keringat dan pertumpahan darah Jenderal Besar Shen dari keluarga pertama.

​Brak!

​"Buka pintunya, Kakak Ipar!" bentak Shen Guanshan tanpa sedikit pun norma kesopanan. Kaki kotornya menendang pintu kayu keropos itu hingga berderit nyaring dan berguncang hebat. "Jangan pura-pura tuli! Kami tahu kalian masih bernapas di dalam!"

​Pintu reyot itu perlahan berderit terbuka. Nyonya Shen muncul di ambang pintu dengan wajah pucat dan muram. Meski tubuhnya kian kurus digerogoti penderitaan, sorot matanya masih memancarkan ketegasan—sisa-sisa wibawa dan harga diri keluarga bangsawan yang tak sanggup dilunturkan oleh status pengasingan.

​Di belakangnya, Shen Tingting berdiri memeluk erat Shen Yujin yang menangis histeris. Balita itu baru saja terlelap, namun terbangun karena terkejut oleh bentakan liar Shen Guanshan.

​"Ada apa ini, Adik Ipar?" suara Nyonya Shen terdengar parau, namun tetap tajam menembus malam. "Untuk apa tengah malam begini kalian mendobrak pintu rumah kami?"

​Shen Guanshan tertawa meremehkan. Suaranya yang serak menggema congkak di tengah keheningan pulau. "Keluargaku ikut diseret dan diasingkan ke tempat terkutuk ini karena kesalahan putra kesayangan kalian! Jadi sudah sepatutnya kebutuhan kami kalian yang penuhi! Lagipula, klan kita belum resmi berpisah!"

​"Apa maksudmu?" sela Nyonya Shen, mengurut dada. "Kita sama-sama dilempar ke tempat ini hanya dengan membawa pakaian di badan. Kebutuhan apa lagi yang kau maksud?!"

​"Jangan berbelit-belit! Bukankah Tingting baru saja menemukan obat herbal langka? Serahkan obat itu pada kami!"

​Shen Tingting sontak memucat. Ia menggigit bibirnya erat-erat, menahan gemetar. "K-kami tidak punya apa-apa! Jangan memfitnah!"

​"Diam, gadis kecil!" sergah Shen Guanshan galak. "Anak bau kencur tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!"

​Nyonya Shen pasang badan, melangkah maju menyembunyikan cucunya. "Keluarga kami hanya tersisa tiga orang wanita dan satu balita. Apa kau begitu tidak tahu malu hingga tega menindas kami? Kau ini masih punya nurani sebagai lelaki, atau—"

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat di pipi Tingting saat gadis itu mencoba menyela lagi.

​"Aku bicara baik-baik, tapi kalian tidak tahu diri! Aku ini pamanmu!" bentak Shen Guanshan garang.

​"Uwaaaa...!" Tangisan Shen Yujin makin melengking, ketakutan.

​Shen Tingting tidak sempat memikirkan rasa panas dan perih yang membakar pipinya. Dengan tangan gemetar, ia terus menepuk-nepuk punggung Yujin, berusaha menenangkan sang keponakan.

​Istri Shen Guanshan melangkah maju, menatap Yujin dengan pandangan jijik. "Lebih baik bayi itu Kakak Ipar serahkan saja pada keluarga Xin! Anak itu cuma pembawa sial bagi klan kita!"

​"Benar!" sahut salah satu anaknya. "Untuk apa mempertahankan anak pembawa sial seperti dia?"

​"Kalian yang pembawa sial!" teriak Shen Tingting dengan muka memerah padam, air mata amarah menetes di pipinya.

"Kalian selama ini makan dan hidup enak dari hasil keringat Ayah dan Kakakku! Sekarang setelah kami jatuh, kalian masih mau memeras kami?! Dasar keluarga egois tak tahu diri!"

​Di balik kegelapan sumur tua, jemari Xiao Luo mengepal hingga memutih. Kemarahan membakar dadanya bagai kobaran api.

Baru saja ia melihat secercah harapan untuk menyambung hidup keluarga Shen yang malang ini, sekelompok lintah darat berdarah dingin sudah datang untuk merampasnya kembali.

​Mereka benar-benar iblis tanpa nurani, batin Xiao Luo geram.

​Xiao Luo melirik ransel di sampingnya—berisi makanan hangat, barang kebutuhan harian, dan uang tunai hasil penjualan ginseng tadi.

Namun, otak modernnya yang terbiasa berpikir cepat dan rasional segera mengambil alih. Melawan lima pria dewasa berbadan tegap secara fisik adalah tindakan konyol. Ia harus menggunakan kecerdikan dan memanfaatkan kepanikan psikologis mereka.

​Dengan gerakan senyap, Xiao Luo merogoh saku jaketnya. Ponselnya menyala redup, menampilkan sinyal jaringan dimensi yang terhubung amat tipis. Namun, matanya tertuju pada benda lain yang sempat ia sambar dari supermarket tadi malam: sebuah senter taktis LED standar militer berdaya lumens tinggi yang dilengkapi mode strobe (kilatan menyilaukan) serta alarm darurat bersuara 130 desibel.

​Xiao Luo menyunggingkan senyum tipis di dalam gelap. Di zaman kuno dan di tempat terisolasi yang sarat mitos seperti ini, ketakutan terhadap hal supranatural adalah senjata paling mematikan.

​Di halaman, desakan Shen Guanshan semakin menjadi-jadi. Pria itu bahkan sudah mengayunkan tangannya, mendorong Nyonya Shen hingga wanita renta itu hampir terjungkal jika tidak ditahan oleh Tingting.

​"Beri mereka pelajaran sedikit agar tahu rasa! Geledah gubuknya!" perintah Shen Guanshan pada anak-anaknya.

​Tepat saat tangan kasar salah seorang anak Shen Guanshan hendak mencengkeram bahu Shen Tingting—

​CRAAAK! BZZZZT!

​Suasana malam yang sunyi pecah seketika oleh suara raungan melengking yang memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu, kilatan cahaya putih benderang menyambar dahsyat dari arah sumur tua—tempat yang selama ini dikeramatkan dan ditakuti oleh penduduk pulau.

​Cahaya menyilaukan bertubi-tubi menyapu langsung ke arah mata Shen Guanshan dan kelompoknya.

​"Argh! Mataku! Cahaya apa itu?!" jerit istri Shen Guanshan sambil menutup wajah. Retinanya tersengat cahaya taktis hingga air matanya meleleh seketika.

​"Setan! Ada hantu di sumur tua! Kutukan pulau!" teriak yang lain, panik luar biasa hingga saling senggol.

​Xiao Luo, yang bersembunyi rapi di balik bayangan sudut sumur, memaksimalkan volume alarm darurat di ponselnya dan menyambungkannya ke speaker portabel kecil. Suara sirene tinggi berpadu dengan raungan mesin modern meliuk-liuk di udara—terdengar bagaikan suara monster atau roh jahat bagi orang-orang era kuno.

​"Si-siapa di sana?!" seru Shen Guanshan dengan suara gemetar hebat. Lututnya lemas bagai lolos dari persendian. Ia berusaha melihat ke depan, tetapi penglihatannya kabur dan memutih akibat efek kilatan senter taktis Xiao Luo.

​"Malaikat pelindung keluarga Shen telah memperingatkan kalian..."

​Suara Xiao Luo bergema berat dan dalam, memanfaatkan pantulan dinding sumur batu sehingga suaranya terdengar magis, seolah-olah datang dari langit dan bumi secara bersamaan.

​"...Pergi dari sini sekarang, atau kutukan abadi akan merenggut nyawa kalian malam ini juga!"

​Mendengar ancaman gaib dari sosok tak berwujud itu, nyali kelompok Shen Guanshan runtuh total. Keserakahan mereka menguap, berganti teror murni yang mencengkeram jiwa.

​"Lari! Cepat lari! Ada hantu!" jerit Shen Guanshan histeris.

​Pria itu bahkan menjatuhkan tongkatnya dan hampir tersandung kakinya sendiri. Tanpa memedulikan anak dan istrinya, ia berlari terbirit-birit menuruni bukit. Beberapa tetangga yang ikut melihat keseruan di kegelapan ikut saling tabrak dan jatuh bangun menembus kegelapan malam, melarikan diri bagai dikejar maut.

​Dalam hitungan detik, suasana halaman gubuk kembali hening. Hanya tersisa hembusan angin malam.

​Nyonya Shen dan Tingting terpaku di ambang pintu, menatap ke arah sumur tua dengan pandangan tak percaya bercampur takjub yang mendalam.

​Xiao Luo mematikan senter dan speaker-nya. Dengan tenang, ia keluar dari balik bayangan sumur tua sambil membopong tas ransel dan bungkusan besar. Senyum hangat terkembang di wajahnya saat menatap kedua wanita yang masih membeku itu.

​"Nyonya Shen, Tingting... kalian tidak apa-apa?" sapa Xiao Luo lembut.

​Shen Tingting langsung berlari menyeberangi halaman dan menghambur memeluk Xiao Luo erat-erat. Air mata ketakutan dan rasa syukurnya tumpah di bahu Xiao Luo. "Kak Xiao Luo... Kamu datang tepat waktu... Mereka... mereka hampir merampas semuanya..."

​Nyonya Shen melangkah mendekat dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya yang renta gemetar, dan ia hendak berlutut untuk bersujud menyampaikan terima kasih.

​Namun dengan cepat, Xiao Luo menahan kedua lengan Nyonya Shen dan membantunya berdiri tegak dengan penuh rasa hormat. "Jangan seperti ini, Nyonya Shen... Kita adalah keluarga. Mulai hari ini, saya pastikan tidak ada seorang pun yang boleh menindas keluarga Shen lagi."

​Xiao Luo membuka bungkusan besar yang dibawanya. Di dalamnya terpampang selimut tebal bernuansa hangat, obat-obatan medis modern, vitamin untuk Yujin, serta kotak-kotak makanan lezat yang masih mengepulkan uap hangat.

​Di bawah langit Pulau Pengasingan yang dingin dan kelam, takdir keluarga Shen resmi berubah malam itu—di bawah perlindungan sosok wanita dari dunia lain.

1
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
Aisyah Suyuti
menarik
Pa Muhsid
lanjuut 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!