Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Cahaya fajar membiaskan warna keemasan di balik cakrawala New York, menembus kaca depan sedan hitam milik Draxler yang dipenuhi embun tipis. Hawa dingin pegunungan masih menggigit, tetapi di dalam kabin mobil yang sempit, kehangatan dari dua tubuh yang saling memeluk membuat suasana terasa begitu aman dan tenang.
Diedrick terbangun lebih dulu.
Mata elangnya mengerjap perlahan, menyesuaikan dengan pendar sinar matahari pagi. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma wangi rambut pendek Rexana yang bersandar pas di atas dadanya.
Jemari tegap Diedrick bergerak pelan, mengusap bahu ramping wanita itu dengan penuh kelembutan.
Rexana melenguh halus, kelopak matanya yang dipenuhi bulu mata lentik perlahan terbuka. Saat menyadari posisinya yang tertidur di atas dada bidang Diedrick dengan tangan terlingkar di pinggang pria itu, pipi porselen Rexana mendadak merona merah.
"Selamat pagi, Bellerina," bisik Diedrick dengan suara serak khas bangun tidur yang begitu hangat di telinga.
"Pagi..." sahut Rexana lirih, buru-buru menarik tangannya dan membetulkan posisi duduknya karena malu, meski senyum tipis tak sanggup ia sembunyikan.
Diedrick terkekeh pelan melihat reaksi menggemaskan dari wanita yang dicintainya. Pria itu menyapu sisa embun di kaca mobil, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sisa uang tunai kertas ratusan dolar—beberapa lembar terakhir yang ia miliki sebelum seluruh aset dan rekening Ashford-nya dibekukan oleh Kaetos.
Diedrick menatap lembaran uang itu dengan senyum miring yang penuh percaya diri.
"Kau tahu, Bellerina?" ujar Diedrick, mengusap rahangnya yang ditumbuhi bayangan kumis tipis. "Sisa uang di dalam dompetku ini masih cukup untuk menyewa sebuah bangunan kecil berlantai dua di pinggiran Manhattan."
Rexana mengernyitkan dahinya, menatap Diedrick dengan tatapan heran sembari merapikan kemeja oversized-nya. "Bangunan berlantai dua? Untuk apa?"
"Aku sudah memikirkannya semalaman," sahut Diedrick mantap, matanya berbinar seperti seorang pengusaha muda yang baru mendapatkan ide bisnis gila.
"Aku akan menggunakan sisa uang ini untuk membuka kafe kecil atau sejenisnya. Lantai satu untuk kedai kopi dan tempat berkumpul, lalu lantai dua bisa kita jadikan tempat tinggal sederhana kita. Aku bisa meracik kopi, dan kau bisa mengatur pembukuannya. Kita mulai usaha dari bawah tanpa menyentuh satu sen pun uang Ashford atau Whitmore."
Rexana membelalakkan matanya, menatap Diedrick seolah pria itu baru saja mengutarakan rencana meluncur ke bulan.
Sebuah derai tawa pelan yang sarat akan rasa tak percaya lolos dari bibir manis Rexana.
"Kau gila, Diedrick Ashford?" tukas Rexana, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Seorang calon penerus imperium Ashford yang memegang saham triliunan... mau membuka kedai kopi kecil di pinggiran kota?"
"Kenapa tidak?" balas Diedrick santai, menyandarkan punggungnya ke kursi kemudi dengan gaya sok keren. "Aku serius, Bellerina. Aku ingin membuktikan pada ayahmu bahwa aku bisa memberimu kehidupan dari keringatku sendiri, bukan karena warisan namaku."
Rexana menatap pria di sampingnya dengan binar haru yang bercampur gemas. Ia tahu betul betapa keras kepalanya seorang Diedrick Ashford jika menyangkut harga diri. Namun, sebelum rencana konyol membuat kedai kopi itu bergulir lebih jauh, ponsel milik Rexana yang tergeletak di dashboard mendadak bergetar hebat.
BZZZ... BZZZ... BZZZ...
Panggilan masuk dari nomor yang sangat dikenal oleh Diedrick.
Rexana melirik layar ponselnya, lalu menatap Diedrick.
"Ini... dari Nyonya Parrie. Ibumu."
Diedrick mengernyitkan dahi, memberi isyarat agar Rexana mengangkatnya dan menyalakan mode speaker.
Klik.
"Diedrick! Rexana! Kalian berdua ada di mana sekarang?!" suara melengking penuh kecemasan dari Nyonya Parrie Ashford langsung memenehi kabin mobil.
"Kami di luar kota, Mom," sahut Diedrick datar.
"Cepat pulang ke mansion sekarang juga!" seru Parrie tanpa jeda, suaranya terdengar panik bercampur kelegaan yang luar biasa.
"Daddymu sudah merobek surat pembekuan asetmu! Tadi pagi Arthur Bond resmi ditahan oleh kepolisian New York atas kasus penipuan, penggelapan dana! Seluruh media massa sudah membalikkan berita, dan nama kalian sudah dibersihkan!"
Diedrick dan Rexana bertukar pandang dalam keterkejutan yang nyata.
"Mommy tidak peduli lagi soal gengsi ayahmu!" lanjut Parrie setengah menangis di balik telepon.
"Kalian berdua harus pulang ke mansion sekarang juga! Mommy sudah menyuruh koki menyiapkan sarapan besar untuk calon menantu Mommy! Jika kau tidak membawa Rexana pulang detik ini juga, Diedrick... Mommy yang akan mencoret namamu dari silsilah keluarga!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus secara sepihak oleh Nyonya Parrie.
Kabin sedan hitam itu mendadak hening membeku selama beberapa detik. Rexana menahan tawa melihat raut wajah Diedrick yang mendadak melongo kaku.
Rencana agung membangun kedai kopi berlantai dua yang baru saja digagasnya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik oleh telepon sang ibu.
Rexana melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Diedrick dengan tatapan jahil dan senyum miring yang begitu manis.
"Nah, dengar itu?" goda Rexana lembut.
"Tidak perlu ikut-ikutan kemarahan orang tuamu lagi. Mari kita pulang. Baru saja Mommy Parrie menelpon dan menyuruhmu—lebih tepatnya menyuruh kita berdua—untuk pulang ke mansion."
Diedrick berkedip beberapa kali, menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Raut wajahnya yang tadinya siap bersikap seperti pria merdeka yang miskin.
"Tunggu dulu..." gumam Diedrick dengan kerandoman murni, menatap Rexana dengan mata berbinar-binar penuh akal bulus. "Jadi... kita benar-benar tidak jadi miskin, Bellerina?"
Rexana menyipitkan matanya, menahan tawa. "Sepertinya begitu, Tuan Ashford."
"Asetku tidak jadi dibekukan? Kartu kreditku aktif lagi?" tanya Diedrick memastikan, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre triliunan dolar.
"Iya, Diedrick," sahut Rexana gemas.
Mendadak, senyum tampan tapi sangat menyebalkan terukir lebar di wajah Diedrick.
Pria itu memutar tubuhnya sepenuhnya ke arah Rexana, menurunkan sandaran kursi penumpang depan yang diduduki Rexana secara tiba-tiba!
CLLLLICK!
"D-Diedrick! Apa-apaan kau?!" pekik Rexana kaget saat tubuhnya mendadak terbaring telentang di atas kursi mobil.
Diedrick mencondongkan tubuh tegapnya ke atas tubuh Rexana, menahan kedua sisi kursi dengan tangannya, mengurung wanita itu di bawah bayangan tubuhnya. Matanya menyala oleh kejahilan dan gairah tersembunyi yang begitu mengintimidasi.
"Karena rencana kedai kopiku gagal dan kita batal jadi orang miskin..." bisik Diedrick dengan suara serak yang begitu seksi, memamerkan senyum modusnya yang paling beracun. "Bagaimana kalau kita merayakannya sekarang di dalam mobil ini? Mumpung udara puncak masih dingin dan tidak ada yang melihat..."
Pipi Rexana mendadak terbakar hebat! Matanya membelalak tak percaya mendengar modus liar yang begitu tak tahu malu dari pria Ashford di atasnya.
"Diedrick Ashford! Kau gila?!" histeris Rexana dengan suara melengking, mendorong dada bidang Diedrick dengan kedua tangannya sekuat tenaga. "Ini di dalam mobil! Di atas bukit! Pagi-pagi begini?!"
"Kenapa tidak?" goda Diedrick, sengaja merendahkan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya seujung kuku, hembusan napas hangatnya membakar bibir Rexana.
"Anggap saja ini bonus karena aku berhasil melewati malam yang dingin tanpa menyentuhmu sedikit pun."
"Tidak mau! Malu!" teriak Rexana setengah tertawa setengah histeris, berusaha keras mengelak dari tatapan membius Diedrick.
Dengan gerakan cepat dan sigap, Rexana memutar tubuhnya, mendorong dada Diedrick menjauh, lalu menegakkan kembali sandaran kursinya. Wanita itu buru-buru membelakangi Diedrick, melipat tangannya kaku, dan membuang pandangannya keluar jendela mobil dengan napas yang memburu kencang.
Rexana merajuk, merapatkan bibirnya rapat-rapat dengan wajah merah padam sampai ke leher.
Diedrick yang melihat kepolosan dan kekesalan Rexana justru tertawa lepas—sebuah tawa bahagia yang sangat lepas dan lega, memecah keheningan fajar di atas bukit.
Pria itu membenarkan posisi duduknya di kursi kemudi, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut helai rambut pendek Rexana yang merajuk.
"Baiklah, baiklah... maafkan aku, Bellerina," puji Diedrick dengan kehangatan yang merengkuh jiwa, lalu menggenggam lembut jemari wanita yang berpura-pura marah darinya itu. "Kita pulang ke mansion sekarang. Calon ibu mertuamu sudah menunggu."
Rexana melirik Diedrick dari sudut matanya, tak sanggup menyembunyikan senyuman bahagia yang akhirnya mengembang di bibirnya.
Mesin sedan hitam itu menderu halus, berputar arah meninggalkan puncak sunyi menuju Manhattan—menyongsong masa depan baru tempat cinta mereka tak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang.
boleh up lagi gak Thor 🤭
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣