**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rukmini
Komputer tua di meja kasir butuh dua menit untuk menyala. Selama itu tak seorang pun bicara. Dimas menancapkan flashdisk ke lubang di belakang casing, dan layar cembung itu menampilkan tiga ikon berurutan: *1_jangan.mp4*, *2_putar_ini.mp4*, *3_rekaman.mp3*.
"Bima bilang yang kedua dulu," kata Laras. Jarinya sudah di tetikus sebelum ia sempat ragu.
Video terbuka. Wajah Bima memenuhi layar, mata cekung, rambut berantakan, latarnya tembok kamar mereka dulu. Jam di pojok layar menunjukkan 03.52.
"Mbak," katanya. "Kalau Mbak nonton ini, berarti aku belum telepon, dan kemungkinan aku sedang di kantor Darmawan." Ia mencoba tersenyum. "Jangan panik dulu."
Ibu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Aku tahu soal kanker Bapak tiga bulan lalu. Aku tahu soal pembayaran itu. Dan aku tahu Bapak menyimpan bukti di laci meja kerjanya, karena beliau sendiri yang menunjukkan caranya padaku, bukan pada Mbak." Ia menelan ludah. "Itu yang aku nggak enak hati bilang. Bapak menyuruhku merahasiakannya, bahkan dari Mbak."
"Brengsek kamu, Bim," gumam Laras, tetapi suaranya pecah.
"Aku sengaja tanda tangan perjanjian itu, Mbak. Bukan karena aku bodoh. Darmawan nggak akan bicara jujur kalau dia pikir kita lawan. Dia cuma mau bicara kalau dia merasa sudah menang." Bima mengangkat sesuatu ke depan kamera: kotak kecil sebesar bungkus rokok, lampu merah di ujungnya. "Ini perekam. Aku bawa ke kantornya pagi ini, aku pura-pura menyerah, dan aku bikin dia ngaku. Sepuluh menit saja. Cukup untuk polisi."
"Itu terlalu berbahaya," bisik Dimas.
"Jangan datang jam sepuluh. Kalau aku berhasil, aku telepon sebelum jam tujuh. Kalau nggak, bawa semua ini ke polisi, dan jangan, tolong jangan, Mbak, biarkan Ibu bicara sama Darmawan sendirian." Wajah Bima mengeras. "Karena ada sesuatu yang cuma Ibu yang tahu, dan Darmawan akan memakainya. Ibu pasti nggak mau bilang. Makanya ada file ketiga."
Video berhenti. Layar menampilkan wajah Bima yang membeku di tengah kata terakhirnya.
Hening. Dari jalan, terdengar bunyi gerobak sayur melintas.
"Sekarang jam enam lewat lima puluh," kata Pak Surya dengan suara serak. "Dia belum menelepon."
Laras menggeser tetikus ke ikon ketiga.
"Jangan," kata Ibu.
"Bu ..."
"Jangan putar itu, Nak. Tolong."
Untuk pertama kalinya sejak kemarin, Ibu memohon. Bukan memerintah, bukan menenangkan. Matanya merah dan bibirnya gemetar, dan Laras nyaris menarik tangannya.
Tetapi ia memikirkan wajah Bima di kaca jendela Darmawan. Mata yang sedang menghitung, mata yang sudah dewasa terlalu cepat.
"Maaf, Bu," katanya, dan menekan tombol.
---
Rekaman itu dimulai dengan desis panjang, lalu suara Bapak. Serak, lebih tua dari yang Laras ingat, tetapi tak salah lagi.
*"... ya, Mbak Sumi, saya sudah tahu. Saya cuma mau dengar dari mulut Mbak sendiri sebelum saya mati."*
Laras menahan napas. Di sebelahnya, Dimas menegang.
Suara kedua menjawab, perempuan, sepuh, dengan logat Cilacap yang kental: *"Mas Hartono, sudah dua puluh tahun lebih. Buat apa digali lagi."*
*"Karena Rukmini nggak pernah dikasih pilihan, Mbak. Dari awal."*
Layar komputer berpendar di wajah Ibu yang sudah putih seperti lilin.
*"Rukmini itu keras kepala,"* kata suara Budhe Sumi di rekaman. *"Waktu saya jemput dia dari rumah si Kardi di Wonosobo, umurnya tujuh belas, perutnya sudah besar. Dia nggak mau cerita siapa bapaknya. Cuma bilang jangan bawa balik ke kampung."*
Laras menoleh pelan. Ibu menutup mata, kedua tangannya mengepal di pangkuan.
*"Bayinya laki-laki,"* lanjut Budhe. *"Lahir selamat. Si Kardi datang tiga hari kemudian. Dia bawa bayi itu pergi, katanya itu anaknya, katanya Rukmini nggak punya hak. Saya nggak sanggup melawan. Saya cuma perempuan janda, Mas."*
*"Dan Rukmini?"*
*"Saya ganti namanya jadi Wulan. Saya bilang pada tetangga dia keponakan saya yang yatim piatu. Dia nggak pernah nyebut Rukmini lagi. Nggak pernah, Mas, sampai mati."*
Suara Bapak, pelan dan sangat lelah: *"Dua tahun lalu Darmawan menemukan anak itu."*
Rekaman berdesis. Tak ada yang bergerak.
*"Dia sudah besar, Mbak. Empat puluh satu tahun. Namanya sekarang dipakai orang lain, tapi wajahnya mirip Wulan sekali. Darmawan memeliharanya sejak lima tahun lalu, dikasih pekerjaan, dikasih tempat tinggal. Dia nggak tahu apa-apa. Dia mengira Darmawan orang baik yang menolongnya."*
*"Ya Allah,"* bisik Budhe Sumi.
*"Itu cadangan Darmawan, Mbak. Kalau semua senjatanya habis, ini yang terakhir. Dia akan bilang pada Wulan, 'Anak yang kamu tinggalkan sekarang bekerja untukku.'"*
Rekaman berhenti di tengah napas Bapak. Layar menampilkan bar putih yang tak lagi bergerak.
---
Ruangan toko seolah kehabisan udara.
Laras menoleh ke Ibu. Ibu sudah duduk di bangku kasir, bahunya menciut, jauh lebih kecil dari biasanya. Matanya terbuka, tetapi tidak tertuju pada siapa pun.
"Namanya Rukmini," ucapnya akhirnya. Suaranya datar, tanpa warna. "Budhe yang mengganti jadi Wulan. Ibu menikah pertama kali umur enam belas, dengan Kardi, duda pemilik kebun teh di Wonosobo. Orang tua Ibu butuh uang. Ibu tidak pernah dilamar. Ibu dijual dengan sopan."
"Bu," bisik Sekar, yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu belakang, pucat dengan kerudung miring. "Aku ... aku ikut Dimas ke sini."
Ibu tidak menoleh. "Tujuh belas tahun. Hamil sembilan bulan. Ibu lari dari rumah itu dengan perut sebesar semangka, dan Budhe Sumi menjemput Ibu di terminal. Anak itu lahir di Cilacap, laki-laki. Ibu belum sempat memberinya nama. Tiga hari kemudian Kardi datang."
"Dan Ibu nggak pernah mencari dia?" tanya Laras.
"Dua puluh enam tahun pertama, tiap hari." Ibu tersenyum, dan itu senyum yang terlalu dalam untuk disebut senyum. "Lalu Ibu menikah dengan Bapakmu, punya kalian, dan belajar pura-pura lupa. Itu cara bertahan paling kejam yang pernah Ibu temukan."
"Siapa dia sekarang?" Suara Laras hampir tak keluar. "Anak itu. Darmawan bilang ... Bapak bilang namanya sudah diganti."
Ibu menunduk. Sangat lama.
Sebelum ia sempat menjawab, Dimas melangkah maju. Wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka lebar, seperti orang yang baru menyusun potongan terakhir sebuah gambar yang selama ini ia pandangi terbalik.
"Empat puluh satu tahun," ucapnya pelan. "Bekerja untuk Darmawan sejak lima tahun lalu. Tinggi, bahu lebar, rambut dipangkas pendek."
Laras merasa lantai toko itu berputar pelan.
"Jaket hitam," bisiknya. "Mobil hitam di ujung gang."
"Kemarin dia berdiri di bawah tenda," kata Dimas. "Dia menatap lurus ke jendela, ke arah Ibu."
Ibu mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tetapi untuk pertama kalinya ia tampak benar-benar siap, seperti seseorang yang baru saja ditarik dari dasar air dan dipaksa bernapas.
"Haryo," katanya. "Kemarin Ibu melihatnya dari jendela, dan Ibu tahu. Ibu *tahu*, Nak. Ibu mengenali caranya memiringkan kepala, persis Kardi."
Laras tidak mampu menjawab. Ia teringat lelaki itu, senyum sopannya, amplop cokelat yang disodorkan dengan tenang, dan kalimat yang menyesap ke tengkuknya kala itu: *Pak Darmawan selalu tahu apa yang terjadi di rumah ini.*
Haryo tidak hanya tahu. Ia pernah menjadi bagian rumah ini, tanpa seorang pun menyadarinya, selama empat puluh satu tahun.
Ponsel Laras bergetar di atas meja kasir.
Nomor Bima.
Ia menyambarnya sebelum dering kedua, menekan tombol hijau dengan tangan gemetar. Tak ada suara selama dua detik, hanya napas berat, dan bunyi seperti pintu besi berdentam di kejauhan.
"Bim?"
"Mbak," bisik Bima, nyaris tak terdengar. "Jangan datang. Aku bilang jangan datang."
"Kamu di mana?"
"Kantor." Suaranya tertahan. "Mbak, perekamnya ketahuan. Haryo menemukannya di kantong jaketku."
Dari balik suara Bima terdengar langkah sepatu mendekat, perlahan, tenang, tak terburu-buru, dan suara seorang lelaki yang sudah Laras dengar kemarin siang di bawah tenda biru.
"Sudah cukup bicaranya, Mas Bima," kata Haryo. "Teleponnya, tolong."
Sambungan terputus.