NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 : Pasukan Emas Zirah Kekaisaran

Di kedalaman Hutan Kematian, jauh dari jangkauan sinar matahari, sebuah gua batu raksasa berdiri menyerupai istana mimpi buruk. Tulang belulang siluman raksasa berserakan menjadi pilar. Di ujung gua, di atas singgasana yang terbuat dari tengkorak naga tanah, duduklah Ba Mofeng, Raja Iblis Rawa yang wajahnya bisa membuat bayi menangis tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Kulitnya bersisik hijau pucat, memiliki tiga mata merah menyala, dan dua gading melengkung keluar dari rahang bawahnya yang asimetris.

Di tengah gua, Iblis Serigala Primordial sedang mengaduk sebuah kuali perunggu raksasa berisi air mendidih.

Sementara itu, Shen Rui duduk bersila di dalam sangkar besi berukir rune penyegel darah. Bukannya gemetar ketakutan atau menangis minta ampun, pemuda itu justru sedang mengupil dengan wajah bosan.

"Hei, Tuan Serigala Berbulu Domba! Kau sedang memasak sup apa?" teriak Yui memecah keheningan gua yang seram. "Baunya lumayan, tapi kurang bawang putih dan daun bawang. Kalau kau mau, aku punya sedikit sisa lada di kantongku!"

Iblis Serigala itu menggeram marah. "Tutup mulutmu, daging segar! Aku sedang menyiapkan kuah kaldu rempah untuk merebus tubuhmu!"

Yui berkedip. "Merebusku? Wah, kau pasti bercanda. Dagingku ini alot karena aku jarang mandi air hangat. Kalau kau merebusku, gigimu bisa rontok." Yui lalu mengalihkan pandangannya ke arah singgasana, menatap Ba Mofeng dengan mata menyipit. "Ngomong-ngomong, siapa kakek tua jelek bertanduk di atas sana itu? Apa dia peliharaanmu yang sedang sakit pencernaan? Wajahnya luar biasa menyedihkan."

Ba Mofeng yang sedang menikmati hawa pembunuhan mendadak tersedak ludahnya sendiri. Tiga matanya melotot. "APA KATAMU, BOCAH TENGIL?! AKU ADALAH BA MOFENG! RAJA IBLIS RAWA! TUAN DARI SEGALA SILUMAN DI HUTAN INI!"

"Oh, Raja Iblis?" Yui manggut-manggut dengan wajah tanpa dosa. "Kukira kau adonan bakpao yang gagal mengembang lalu tidak sengaja diinjak keledai lumpuh. Maaf, maaf. Habisnya, penempatan gadingmu itu sangat tidak simetris. Apakah ibumu dulu menggunakan wajan penggorengan untuk membentuk wajahmu?"

"KAU BERANINYA MENGHINAKU?!" Ba Mofeng bangkit dari singgasananya, auranya meledak menghancurkan stalaktit di atasnya. "Aku akan memakan jantungmu mentah-mentah! Serigala! Cepat masukkan anak ini ke dalam kuali!"

"Tunggu, tunggu, tunggu!" Yui melambaikan tangannya dengan santai dari balik jeruji besi yang memancarkan pendar sihir. "Sebagai calon santapan yang baik hati, aku hanya ingin memberi saran medis. Mengonsumsi pria tampan sepertiku bisa menyebabkan keracunan ketampanan. Nanti wajahmu yang sudah hancur itu malah meledak karena tidak kuat menampung auraku. Lagipula, jeruji besi ini dipenuhi sihir panas. Kalau kalian memaksaku keluar, dagingku akan gosong duluan sebelum masuk kuali. Kalian tidak suka daging gosong, kan?"

Iblis Serigala dan Ba Mofeng saling pandang, tiba-tiba merasa ucapan bocah ini ada benarnya juga.

"Lalu apa maumu, Manusia?!" geram si Serigala.

"Matikan dulu sihir jerujinya, biarkan aku meregangkan otot sebentar agar dagingku empuk, baru kalian boleh memakanku. Bagaimana? Aku ini perfeksionis soal tekstur makanan," tawar Yui dengan senyum cerah.

Sambil terus mengoceh dan mengalihkan perhatian kedua iblis bodoh bertubuh besar itu, tangan Yui yang disembunyikan di balik lengan jubahnya diam-diam menyentuh gembok besi sangkar. Aliran elemen es murni yang sangat tipis dan tak kasat mata perlahan-lahan merayap masuk ke dalam lubang kunci, membekukan mekanisme internalnya dari dalam tanpa memicu alarm pelindung. 'Teruslah marah, Kakek Jelek. Sedikit lagi gembok ini akan hancur,' batin Yui penuh kelicikan.

 

Sementara Yui sibuk mengerjai iblis di Hutan Kematian, keadaan Perguruan Cang Yue sedang dilanda duka dan kehancuran. Asrama Selatan dan sebagian halaman utama runtuh. Para murid sibuk membersihkan puing-puing di bawah terangnya obor malam.

Di sudut dapur darurat, Xiao Cui dan beberapa pelayan wanita lainnya duduk berkumpul sambil menangis sesenggukan.

"Hiks... Tuan Muda Yui... padahal aku baru saja mau mengeluh karena dia mencuri jemuran handukku kemarin," isak Xiao Cui sambil mengusap air matanya. "Meskipun dia sangat usil dan sering membuat kita jantungan, dia tidak pernah benar-benar menyakiti kita. Kasihan sekali, dia pasti sudah mati dikunyah monster itu..."

Di saat para pelayan meratapi nasib Yui, tiga tawa sumbang dan menyebalkan terdengar dari arah pendopo yang masih utuh. Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi berdiri melipat tangan dengan wajah berseri-seri, seolah baru saja memenangkan lotre emas.

"Air mata kalian itu buang-buang waktu!" seru Wang Jian dengan nada mengejek yang sangat keras, sengaja agar Shen Yuan yang sedang duduk diam di sudut pendopo bisa mendengarnya. "Bocah kampung itu pantas mati! Berani-beraninya dia menantang Iblis Serigala Primordial. Memangnya dia pikir dia itu siapa? Pahlawan kesiangan? Sekarang dia pasti sudah jadi tulang belulang!"

"Benar sekali, Kak Wang!" timpal Li Mo. "Perguruan ini akhirnya bersih dari parasit es itu. Mulai sekarang, udara terasa jauh lebih segar tanpa kesombongannya!"

Shen Yuan tetap duduk mematung. Kepalanya menunduk, disembunyikan dalam bayang-bayang. Ujung-ujung jarinya mencengkeram pedang kayu patah milik adiknya. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut pemuda dingin itu, namun hawa di sekitarnya begitu menekan hingga membuat napas terasa sesak.

Melihat Yuan diam saja, Lin Yue yang sedang membalut luka di lengannya tak bisa lagi menahan amarah. Gadis berbaju kuning itu bangkit berdiri, matanya menyala marah.

"TUTUP MULUT KALIAN, ANJING PENGECUT!" jerit Lin Yue, suaranya menggelegar memecah kesunyian.

Tanpa ragu sedikit pun, Lin Yue berlari ke arah Wang Jian. Sebelum tuan muda itu sempat bereaksi, Lin Yue melompat dan mendaratkan sebuah tendangan keras tepat di rahang Wang Jian.

BAK!

"ADUH!" Wang Jian terpental ke tanah, giginya nyaris rontok.

"Beraninya kau menendang Kak Wang!" Zhao Qi maju berniat membalas, namun Mei Lin, Su Yin, dan lima bidadari Asrama Selatan lainnya sudah merangsek maju dengan sapu, panci, dan kayu patah di tangan mereka.

"Hajar mereka! Pria-pria tak berguna yang bisanya cuma lari saat ada musuh!" teriak Su Yin, memukulkan panci tembaga ke kepala Li Mo.

"AMPUN! AMPUN! GADIS-GADIS GILA!"

Ketiga pemuda arogan itu dipukuli habis-habisan oleh delapan gadis yang sedang mengamuk. Pukulan panci, sabetan sapu, dan jambakan rambut bertubi-tubi mendarat di tubuh mereka. Sadar bahwa mereka tidak bisa melawan wanita di depan banyak orang tanpa kehilangan harga diri yang tersisa, Wang Jian dan dua anteknya akhirnya lari terbirit-birit menembus kegelapan sambil memegangi kepala mereka yang benjol-benjol.

"RASAKAN! EMANG ENAK! JANGAN BERANI MUNCUL DI DEPANKU LAGI!" teriak Lin Yue sambil mengacungkan sapu lidinya ke arah bayangan mereka yang menjauh. Napas gadis itu memburu, air mata kembali menetes di pipinya. Ia berbalik dan menatap Yuan yang masih membisu. "Kak Yuan... kau tidak apa-apa?"

Belum sempat Yuan menjawab, suara kentongan bambu dipukul dengan ritme darurat berulang kali dari arah Aula Utama.

TENG! TENG! TENG! TENG!

Seorang murid senior dengan pakaian berlumuran darah dan keringat berlari terbirit-birit menuju pendopo dengan napas putus-putus. Matanya membelalak lebar penuh kepanikan luar biasa.

"SEMUANYA BERKUMPUL DI AULA UTAMA! SEKARANG JUGA!" teriak murid senior itu dengan suara serak yang bergetar hebat. "Cepat panggil Tetua Pertama dan Guru Wu! Ada pasukan besar yang baru saja mendarat di gerbang depan sekte kita!"

Lin Yue terkesiap. "Pasukan?! Apakah itu komplotan iblis serigala tadi?!"

"Bukan!" Murid senior itu menelan ludah, kakinya gemetar menahan bobot tubuhnya sendiri. "Itu Pasukan Zirah Emas Kekaisaran! Jenderal Panglima Lei dari Ibukota telah memblokir seluruh akses gunung! Mereka mencari sesuatu... atau seseorang di sekte kita!"

***

Menyerah gak ya

Like

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!