NovelToon NovelToon
Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Pengasuh Yang Dibenci Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.

Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.

Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.

Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.

Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.

Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.

Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.

Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Cara Ian Meminta Maaf

Selama ini Ian merasa dirinya paling pintar dalam menilai orang. Ia selalu menganggap dirinya tajam, teliti, dan paling tahu cara melindungi keluarganya.

Tapi kenyataannya, ia hanya pria arogan yang terlalu cepat menghakimi orang lain.

Ia bahkan menuduh seorang gadis berusia dua puluh tahun sebagai parasit, tanpa tahu bahwa gadis itu sedang berjuang mempertahankan martabat keluarganya dari jeratan utang yang semakin menumpuk.

 

Keesokan paginya, pukul 06.45 WIB.

Keira berjalan menyusuri koridor lantai dasar sambil membawa mangkuk berisi potongan buah naga dan apel untuk sarapan Mika.

Matanya masih sedikit sembap karena semalam sempat menangis di kamar. Namun, ia sudah memakai bedak tipis dan mengikat rambutnya rapi agar tidak terlihat terlalu lelah.

Saat melewati pintu dapur utama, langkah Keira mendadak terhenti.

Ian berdiri di depan meja konter. Di atasnya terdapat talenan, pisau dapur, dan setengah buah naga.

Namun, bukan itu yang membuat Keira terkejut.

Di tangan kiri Ian ada penggaris sepanjang tiga puluh sentimeter, sementara tangan kanannya memegang pisau.

Pria itu sedang serius mengukur potongan buah naga di atas talenan.

Sret. Sret.

"Ini... satu koma satu sentimeter. Kegedean nol koma satu."

Ian bergumam sendiri sambil mengiris tipis bagian pinggir buah naga.

Keira melotot.

Mangkuk di tangannya hampir terlepas.

Ia bahkan sempat mengucek mata dua kali. Apa dirinya masih mengantuk sampai berhalusinasi?

Seorang direktur muda yang arogan sekarang berdiri di dapur sambil mengukur buah naga menggunakan penggaris.

"Mas... Ian?" panggilnya ragu dari ambang pintu.

Ian langsung tersentak. Tangannya yang memegang penggaris terangkat, sementara pisau di tangan kanannya hampir menancap ke talenan.

Ia buru-buru berbalik. Wajahnya sedikit memerah karena tertangkap basah melakukan sesuatu yang jelas tidak biasa.

"Kamu... ngapain di situ?!" bentaknya.

Nada suaranya terdengar galak, tetapi kali ini justru seperti orang yang sedang berusaha menutupi rasa malu.

Keira melangkah masuk. Matanya masih tertuju pada potongan buah naga berbentuk dadu yang tersusun rapi di atas talenan.

"Mas Ian lagi... ngukur buah naga?" tanyanya polos. "Pakai penggaris?"

Ian berdeham keras.

"Ekhem!"

Ia meletakkan penggaris dan pisau ke meja, lalu merapikan lengan kemejanya yang sebenarnya tidak berantakan.

"Aku cuma mau memastikan kamu mematuhi SOP yang aku buat," jawabnya asal. "Ternyata potong buah naga satu sentimeter itu gak susah. Biar kamu gak banyak alasan lagi."

Keira mengambil satu potong buah naga dan memperhatikannya dari dekat.

"Buset, presisi banget. Mas Ian cocoknya bukan jadi direktur, tapi arsitek buah naga. Ini kalau diukur pakai jangka sorong, pasti sudutnya pas sembilan puluh derajat."

"Jangan banyak bicara," potong Ian cepat.

Wajahnya semakin merah sampai ke ujung telinga.

"Bawa itu ke atas buat Mika."

Keira tertawa kecil. Suara tawanya membuat dada Ian kembali terasa aneh.

Namun, sebelum perempuan itu sempat mengambil mangkuknya, Ian melangkah mendekat.

Tatapannya tertuju pada wajah Keira. Ia bisa melihat sedikit sembap di bawah mata perempuan itu, meski sudah ditutupi bedak tipis.

"Keira."

Suara Ian terdengar lebih rendah dan lembut dari biasanya.

Keira mendongak.

"Iya, Mas?"

Ian terdiam sejenak. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia katakan, terutama permintaan maaf atas semua tuduhan dan perkataan kasarnya selama ini.

Namun, entah kenapa, kata maaf terasa begitu sulit keluar dari mulutnya.

Akhirnya, ia merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Amplop itu diletakkannya di samping mangkuk buah naga.

Keira mengernyit.

"Ini apa, Mas?"

"Uang muka gaji kamu."

Ian memalingkan wajah ke arah jendela dapur.

"Papi bilang kamu butuh uang buat keperluan pribadi di kampung. Aku minta sekretarisku tarik tunai pagi ini."

Keira langsung terbelalak.

"Uang muka gaji? Tapi saya baru kerja seminggu, Mas. Pak Nathaniel juga gak pernah ngomong apa-apa soal ini."

"Aku yang menentukan."

Ian kembali menatapnya.

"Di rumah ini, selain Papi, aku juga pegang kendali keuangan internal. Isinya sepuluh juta. Cukup buat membantu urusan kamu di kampung."

Keira membeku.

Sepuluh juta?

Jumlah itu cukup untuk melunasi utang tujuh juta kepada Pak Darto sekaligus mengirim tiga juta untuk mencicil utang kepada Bang Jon.

Namun, yang paling membuatnya bingung adalah sikap Ian.

Bukankah kemarin pria itu menuduhnya sebagai parasit pemburu harta? Lalu kenapa sekarang justru memberikan uang sebanyak itu tanpa diminta?

Keira menatap amplop tersebut, kemudian mengalihkan pandangan kepada Ian.

"Mas Ian..."

Suaranya pelan dan penuh kecurigaan.

"Mas Ian gak lagi jebak saya, kan? Nanti begitu saya terima uang ini, Mas Ian bakal nuduh saya mencuri atau meras keluarga Mahardika lagi?"

JEDAG!

Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Ian.

Ia baru sadar betapa buruknya perlakuannya selama ini sampai-sampai niat baiknya sendiri dianggap sebagai jebakan.

Ian menelan ludah. Ada rasa pahit yang mengganjal tenggorokannya.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Keira.

"Nggak," jawabnya pelan. "Nggak ada jebakan. Itu uang dipotong dari gaji bulan depan."

Ian berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Ambil... dan selesaikan urusan orang tua kamu."

Keira terdiam.

Urusan orang tua?

Jantungnya seolah berhenti sesaat.

Mas Ian tahu?

Dari mana pria itu tahu soal utang keluarganya?

Sebelum Keira sempat bertanya, Ian sudah berbalik. Ia menyambar jas hitam yang tersampir di kursi dapur, lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

"Mas Ian! Tunggu!"

Namun, langkah panjang pria itu sudah lebih dulu menghilang di koridor utama.

Keira berdiri sendirian di dapur. Perlahan, ia mengambil amplop cokelat tersebut dan memeluknya ke dada.

Tangannya sedikit gemetar.

Perasaan jengkel, bingung, sekaligus hangat bercampur menjadi satu. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan pria bernama Ian Xavier Mahardika itu.

Sementara itu, Ian sudah berada di dalam mobilnya.

Ia menyandarkan kepala di kemudi, memejamkan mata, lalu meremas lingkar kemudi dengan kedua tangan.

"Gua bener-bener gak tahu cara minta maaf yang bener," gumamnya pelan.

1
Ael
Ian Ian😄
Ael
udah salting gengsi an lagi
Ael
Ian gampang salting yaa🤣
Ael
😄😄😄
Skyline Scribe
semangat Keira 💪
Fazira
baru aja ketemu Ian, kok kata-katanya kaya gitu 😄
Ael
👍👍
Inaa LA Aeylul Nazha
bagus tapi tidak ada kelanjutanya
Skyline Scribe: Makasih Kak bintang limanya 🤗🤗
novel ini update setiap hari 1 bab yaa, tunggu besok buat kelanjutannya 😄
total 1 replies
Inaa LA Aeylul Nazha
mana untuk kelanjutannya
Ael
semangat kak 💪💪
Ael
uang lima puluh ribu jaman sekarang keliatan dikit yaa
Fazira
Karya baru lagi 😍😍😍
semangat Kak 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!