Menikahi pewaris gila (spin off MBPB) Ini adalah spin off dari novel sebelumnya (Mengandung benih pria beristri) silakan baca novel itu dulu untuk mengerti alurnya. Menceritakan kisah Sagara davitra Fernandez, buah hati dari Citra dan David dan seorang gadis bernama Azalea kirana, disini akan banyak diceritakan bagaimana cerita setelah ending pernikahan David dan citra di novel sebelumnya, Sagara yang di cap sebagai “pewaris gila” harus di hadapkan dengan intrik dan konspirasi yang kejam demi kekuasaan di dalam keluarganya sendiri setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang ia anggap pengkhianat dan meninggalkan nya sendirian saat kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
Aleah masih duduk dengan kaku di kursi rias, mstanya sesekali melirik cemas ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat setelah kepergian wanita bernama Mayang itu.Ada sesuatu yang aneh dari caranya tiba-tiba berubah lembut, sesuatu yang membuat buluk kuduk Aleah berdiri meski ia tak sepenuhnya paham kenapa.
“Nona, coba tengadah sedikit,” pinta salah satu perias, menyapukan bedak tabur ke wajah Aleah dengan gerakan lincah, seolah tak menyadari sama sekali kegelisahan yang tengah bersarang di dada gadis yang ada di hadapannya itu.
“Bu,” Aleah mencoba lagi, suaranya lirih. “Saya benar-benar bukan pengantinnya,saya cuma kebetulan masuk kesini karena—“
“Aduh, nona ini lucu sekali, masih saja bercanda di saat sepenting ini,”sela perias lainnya sambil tertawa kecil,sama sekali tak menganggap serius ucapan Aleah,menganggap nya sekedar gurauan gugup calon pengantin biasa.
Aleah menghela napas frustrasi. Setiap kali ia mencoba menjelaskan,kata- katanya selalu di tepis begitu saja, seolah kebenaran yang ia ucapkan justru terdengar seperti lelucon paling konyol di telinga orang-orang disekitar nya.
Ia melirik ke arah jendela kecil di sudut ruangan, mempertimbangkan untuk kabur lewat sana, namun begitu ia mengintip keluar,matanya menangkap dua orang anak buah Barnas yang masih berjaga tak jauh dari halaman belakang, membuat niatnya langsung surut seketika.
Terjebak. Aku benar-benar terjebak. Batinnya panik,
…..
Sementara itu di aula mansion, tamu- tamu undangan sudah memenuhi kursi- kursi yang tersusun rapi,dihiasi bunga- bunga segar yang wangi semerbak nya memenuhi udara. Sagara berdiri di depan panggung kecil yang dihiasi meja dan kursi bersama penghulu, tempat akad akan diadakan, wajahnya tetap datar seperti biasa, meski di dalam hatinya ada semacam firasat aneh yang tak bisa ia jelaskan.
Terpaksa. Itulah satu-satunya alasan yang menyebabkan kenapa kakinya tetap terpaku disana meski wajahnya menunjukkan keengganan, entah bagaimana kedepannya pernikahan perjodohan ini akan dijalankan ia tak tahu namun yang pasti ia sudah mengemban kewajiban nya sebagai cucu dan seorang pewaris tunggal yang memang harus memiliki pasangan.
Tak jauh dari sana, Sahid duduk di antara keluarganya, sesekali melirik ke arah Sagara dengan raut khawatir yang tersembunyi rapi di balik senyum formal nya.
“Kau baik-baik saja?” Bisik Sahid pelan, begitu berhasil mendekat ke sisi Sagara sesaat sebelum acara di mulai.
“Aku baik-baik saja,” jawab Sagara singkat, meski nada suaranya sendiri terdengar tak sepenuhnya meyakinkan.
“Aneh juga ya,” Sahid melanjutkan berbisik.” Biasanya kalau pengantin wanita belum juga terlihat sampai sedekat ini waktunya, pasti sudah ada yang panik bolak- balik. Tapi ini kok malah tenang- tenang saja?”
Sagara tak menjawab, hanya mengernyit sedikit, menyadari kebenaran dari ucapan sahabatnya itu. Seharusnya sejak tadi ada riuh rendah persiapan dari kubu pengantin wanita.Namun justru suasana terasa aneh,terlalu tenang untuk hari sepenting ini.
Apa ada yang salah? Ataukah terjadi sesuatu kepada Xavia?
Di sisi lain, ada Gino si kecil yang berlari kecil menyusuri lorong mansion, kedua tangannya masih lengket oleh sisa es krim yang sudah ia lupakan begitu saja demi mengejar orang tuanya yang duduk tak jauh dari altar.
“Buna! buna!” Serunya menarik ujung gaun Flora, dengan semangat yang menggebu- gebu. “Gio abis nemuin cecuatu yang penting banget, Buna halus tau!”
Namun Flora yang sedang sibuk mengobrol bersama geng sosialita nya, tak mengindahkan teriakan putranya itu, ia justru berusaha melepas lengan sang putra yang terus menarik- narik bajunya.
“Sayang, bunda lagi sibuk sekarang. Kamu main saja sama abang Kartik sana.”
“Tapi buna—“
Flora yang greget pembicaraan pentingnya di ganggu lantas menoleh pada sang putra dengan tatapan tajam. “Gio nurut sama bunda! Main sama abang aja sana!”
Gio yang nyalinya langsung cuit lantas melepas tangan nya sambil memberengut, membuat kedua pipi bulatnya menggelembung lucu. “Huh, buna nda acik!”
Bocah itu lantas berlari hingg bertemu lah dengan sang kak lantas dengan semangat empat lima, Gio menarik baju abangnya hingga membuat Kartik menoleh, namun rupanya pria itu sedang menyetel lagu di ponselnya.
Lagu yang diputar itu kesukaan Gio, membuat bocah itu lantas terhipnotis kontan melupakan apa yang ingin ia ucapkan dan malah mengikuti lirik lagu.
“Celain donatul, tul\~ dilalang ngatul, tul\~ kalena donatul dompet ku cubul\~”
Kartik yang melihat nya juga ikut hanyut dengan irama lagu lantas bersorak heboh. “Aseeek hoba dek, joget yang kenceng.” Ucapnya sambil manggut- manggut sesuai ketukan lagu.
Mereka berdua malah hanyut bergoyang riang sampai akhirnya Gio ingat kembali dengan tujuannya.
“Ich, apa cih abang ini, olang Gio mau ngomong malah di potong- potong.”
Kartik malah semakin berdendang karena lagunya begitu asyik di telinga. “Ngomong penting apa sih dek? Mending kita goyang. Kapan lagi bisa joget di nikahan orang.”
“Hobah\~\~”
Gio yang melihat nya lantas berkacak pinggang, menirukan Ibu mereka jika sedang marah. “Abang celiusss!”
Mendengar hal itu, Kartik langsung mematikan ponselnya menatap sang adik fokus. “Mau ngomong apa sih dek serius banget? Jangan serius- serius yang serius aja di tinggalin.”
Gio sontak menepuk jidatnya sambil menggeleng. “Haduh, malah culhat ni jomblo catu.”
Kartik tertawa lantas berjongkok, mensenjajarkan tingginya dengan sang adik.
“Ya udah, kamu mau ngomong apaan emang?”
“Tadi Gio kan ngintip ke kamal lias,” Gio berbicara cepat, matanya berbinar penuh kebanggaan karena berhasil jadi mata- mata dadakan. “Kakak pengantinnya beda tau bang! yang cekalang cantik banget, bukan cepelti nenek cihil kemalin.”
Mendengar pengakuan sang adik, kening Kartik lantas berkerut dalam. “Yang benar kamu dek?”
“Benelan abangku ganteng. Tadi Gio liat kalik pintu, ada kakak lain dalam kelucian pengantin. Bukan kakak Xavia yang celem itu,” Gio mengangguk mantap. “Dan bibi Mayang cenyam- cenyum aneh cetelah kelual dali cana.”
Zergan yang tak sengaja mendengar perkataan putra nya juga ikut terkejut, lantas bersama Kartik mereka saling bertukar pandang. Keduanya merasakan firasat tak enak yang sama menjalar diantara mereka.
Kejanggalan juga terjadi saat ini, harusnya pengantin wanita sudah datang sejak sepuluh menit lalu namun sampai sekarang belum ada batang hidungnya.
“Kartik,” Zergan lantas berbisik kepada putra nya yang lebih tua,” coba kau diam- diam cek ke ruang rias,lihat siapa sebenarnya yang ada disana. Tapi jangan sampai ketahuan.”
Kartik mengangguk cepat, merasa mendapat misi rahasia yang menyenangkan, lalu menyelinap pergi dari barisan kursi tamu tanpa banyak menarik perhatian.
----------------
Sementara itu di dalam ruang rias, Aleah sudah benar-benar mengenakan gaun pengantin yang berat namun indah itu, kain sutranya berkilau lembut setiap kali ia bergerak, meski hatinya sama sekali tak tenang.
“Sempurna,” seru sang perias kepala, bertepuk tangan puas melihat hasil kerjanya.”Nona benar-benar bersinar hari ini.”
Aleah menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar, nyaris tak mengenali sosok itu sebagai dirinya. Gadis desa yang biasa berlarian di sawah dan mengejar anak- anak di gudang jerami itu, kini berdiri anggun dengan gaun pengantin mewah yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan ia kenakan seumur hidup nya, apalagi untuk pernikahan orang lain.
“Ini gila.” Gumamnya. “Ini benar-benar gila!”
Ia sudah berulang kali menjelaskan,namun setiap kali suaranya tertelan oleh kesibukan para perias yang sama sekali tak mendengar kan. Kini dengan gaun yang sudah terpasang sempurna dan waktu semakin menipis,ia merasa semakin terjebak dalam pusara kejadian yang bahkan tak pernah ia mengerti dari awal.
Tiba-tiba pintu kamar sedikit terbuka,sepasang mata kecil mengintip dari celah sempit itu,mengamati Aleah dengan seksama sebelum akhirnya menghilang secepat ia muncul.
Aleah yang sempat menangkap gerakan itu dari sudut matanya lantas mengernyit heran, “siapa itu?”
“Mungkin cuma pelayan yang lewat nona, tenang saja,” sahut salah satu perias tanpa menoleh, terlalu sibuk merapikan lipatan terakhir gaun.
Namun Aleah ragu dengan ucapan itu.
…..
Bersambung