NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Hanya Lagu

Bellona menyuap nasinya sendiri secara perlahan. Rumah tua Devan yang remang dan bernoda debu di beberapa sudut ini kini tak lagi terasa mengerikan. Di antara piring-piring sederhana, aroma masakan rumahan, dan ocehan konyol pria di hadapannya, Bellona merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya: sebuah kehangatan yang jujur dan apa adanya.

"Btw, Bocah," panggil Devan pelan, menyapu sisa kuah di piringnya menggunakan potongan tempe terakhir.

Bellona mendongak. "Apaan?"

"Duit jualan lo di kantin tadi... terserah mau lo pake buat apa. Buat jajan lo sendiri aja," kata Devan, nadanya mendadak berubah agak serius meski tatapannya tetap santai. "Soal beras, lauk, atau token listrik ke depannya... biar paman konyol lo ini yang usahain. Lo fokus sekolah aja."

Bellona membisu sejenak. Jemarinya meremas sendok stainless di tangannya. Ia menatap Devan lekat-lekat—pria berkaus oblong kusam dengan rambut berantakan ini mungkin jauh dari kata sempurna, tapi ia sedang berusaha keras menjadi benteng yang tak pernah Bellona miliki sebelumnya.

"Gue bisa cari duit sendiri," bisik Bellona kaku, memalingkan wajahnya agar Devan tidak melihat matanya yang mendadak hangat. "Lagian duit gue juga masih ada sisa."

Devan menyeringai tipis, menjangkau ujung kepala Bellona lalu menepuknya pelan satu kali. "Ngelunjak terus. Yaudah, habiskan makanannya, habis itu nyuci piring. Tugas lo cuma itu hari ini."

Bellona tidak menepis tangan Devan kali ini. Gadis itu hanya mendengkus pelan, menyembunyikan senyum tipisnya di balik mangkuk sayur hangat di hadapannya.

***

Malam semakin larut, menutupi rumah kusam Devan dengan kesunyian yang tenang. Setelah menyelesaikan urusan dapur dan mencuci piring, Bellona kembali ke kamarnya untuk mengulang beberapa pelajaran sekolah yang sempat tertinggal.

Di ruang tamu, Devan menyandarkan badannya di sofa sambil memangku gitar tua kesayangannya. Jemari tangannya yang kapalan mulai memetik senar secara acak, menciptakan alunan nada akustik yang teratur dan lembut.

Tring... Tereng...

Suara petikan gitar Devan yang pelan menembus dinding kamar Bellona. Gadis itu menghentikan ketukan pulpennya di atas buku catatan, memiringkan kepala mendengarkan melodi yang mengalun di luar. Nada-nada itu terasa begitu tenang, tanpa lirik, melayang lembut mengisi kekosongan rumah tua tersebut.

Bellona meletakkan pulpennya, lalu beranjak berdiri. Ia membuka sedikit celah pintu kamar belakang dan mengintip ke ruang tamu.

Devan sedang memejamkan mata, memetik gitar dengan begitu fokus. Wajahnya yang biasa dipenuhi cengiran tengil dan ekspresi slengean kini tampak begitu serius dan dalam. Cahaya lampu neon kekuningan menerpa separuh wajahnya, memperlihatkan garis rahang tajam dan profil yang—bagaimanapun Bellona enggan mengakuinya—memang punya kemiripan yang nyata dengan cermin di kamarnya.

Kriiiieeet.

Pintu kamar berderit pelan saat Bellona melangkah keluar. Petikan gitar Devan seketika terhenti. Pria itu membuka matanya, menoleh ke arah Bellona.

"Napa? Gitar gue ganggu lo belajar?" tanya Devan pelan, siap meletakkan gitarnya.

"Gak," sahut Bellona singkat. Gadis itu berjalan melintasi ruang tamu, mendekati jendela depan untuk melihat langit malam yang dipenuhi bintang. "Lagu apaan itu tadi?"

Devan terkekeh pelan, kembali memetik beberapa nada dasar. "Kagak tahu. Nada asal lewat aja di kepala gue. Dulu pas zaman masih sering main band, gue biasa bikin lagu pas lagi bingung atau banyak pikiran."

Bellona menyandarkan bahunya di kosen jendela, menatap Devan dari samping. "Lo... beneran pemusik?"

"Yee, lo kira gue cuma pengamen jalanan biasa?" Devan merapikan posisi duduknya dengan gaya sok hebat. "Gue ini gitaris handal! Cuma ya gitu, nasib aja belum berpihak. Band gue keburu bubar sebelum sempet rekaman album."

Bellona diam sejenak, menatap jari-jemari Devan yang lincah menari di atas papan fret gitar. Ada kepahitan dalam nada bicaranya, tetapi Devan membawanya dengan santai, seolah-olah sudah berdamai dengan kegagalan masa lalunya.

"Tapi melodi lo... lumayan," bisik Bellona pelan, hampir tak terdengar.

Devan tersentak pelan, lalu cengiran tengilnya mendadak merekah lebar. "Buset! Seorang Bellona memuji gue?! Perlu gue catat di kalender kagak nih hari bersejarah?"

"Dih, kagak usah kegeeran!" bentak Bellona galak, mukanya langsung memerah jengkel. "Gue cuma bilang lumayan, bukan bagus banget!"

"Sama aja kali!" Devan tertawa renyah, melodi gitarnya berubah jadi petikan riang yang mengejek. "Seneng kan lo punya paman rockstar kayak gue?"

"Gila lo!" Bellona memutar tubuhnya cepat, kembali melangkah menuju kamarnya. "Gue mau tidur. Awas lo kalau berisik main gitar sampai subuh!"

BLAM!

Pintu kamar belakang kembali tertutup, walau kali ini tanpa bantingan emosi. Di balik pintu, Bellona menyandarkan punggungnya sambil menghembuskan napas panjang. Sudut bibirnya terangkat tipis, mendengarkan petikan gitar Devan yang kembali terdengar pelan di luar.

Suara di ruang tamu perlahan berganti tempo. Melodi riang yang tadi mengejek Bellona melambat, bertransisi menjadi dentingan nada minor yang dalam dan mengalun pilu.

Di balik pintu kamar yang tertutup, Bellona yang baru saja hendak berbaring di atas ranjang mendadak menghentikan gerakannya. Petikan gitar itu terdengar berbeda—ada getir dan kerinduan yang sangat pekat di setiap celah senarnya.

Lalu, suara Devan terdengar. Bukan suara serak nan tengil yang biasa ia pakai untuk mengomel, melainkan vokal rendah yang serak, berat, dan dipenuhi luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Pria itu bernyanyi pelan, nyaris seperti berbisik pada malam.

Langkah kecil di tengah hujan...

Menunggu bayang yang tak kunjung pulang...

Rumah ini dingin, dindingnya bisu...

Menyimpan cerita yang melukai waktu...

Bellona mematung di tepi ranjang. Dadanya mendadak berdesir hening.

Jangan tanya mengapa aku bertahan...

Di antara puing rasa yang terbuang...

Jika dunia mengutuk kita yang terluka...

Biar kuusap sepi yang kau rasa...

Kita sama-sama asing...

Sama-sama tak punya arah pulang...

Tapi di balik sepi yang dingin...

Genggam tanganku, jangan lagi hilang...

Lagu itu tak punya bait yang rumit, tetapi kesederhanaan liriknya menyayat ulu hati. Devan bernyanyi bukan hanya untuk mengenang ibunya yang telah tiada, melainkan untuk gadis kecil di kamar belakang yang bernasib sama dengannya: dibuang, kesepian, dan merasa tak berharga.

Bellona melangkah pelan mendekati pintu, lalu menyandarkan dahinya di permukaan kayu yang dingin. Air matanya menetes tanpa suara, membasahi pipi.

Di luar, petikan gitar Devan perlahan memelan, menyisakan satu dentingan terakhir yang bergema halus di udara sebelum akhirnya surut dalam keheningan malam.

Devan meletakkan gitarnya di samping sofa. Pria itu menyandarkan kepala, menatap langit-langit ruang tamu yang remang sambil memejamkan mata rapat-rapat.

Di balik pintu kamar, Bellona perlahan mengusap air matanya. Malam itu, tanpa perlu ada satu kata pun yang terucap, dua jiwa yang hancur itu akhirnya saling memahami dalam diam.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!