NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Bapak

Surat Terakhir Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachman Santoso

**Surat Terakhir Bapak**

*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*

Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.

Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.

Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.

*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran yang Tidak Bisa Di Tawar

Pintu lift berdenting dan terbuka lebar.

"Bu!"

Laras keluar lebih dulu dengan rambut tersangkut di pipi dan napas terengah. Di belakangnya Sekar mencengkeram tali tasnya, dan Pak Surya menyusul sambil memegangi dada. Mereka datang naik Kijang tua itu, menerobos lampu merah, dan menaiki tangga darurat dua lantai karena lift utama dikunci. Tak seorang pun dari mereka siap pada keheningan di ruangan itu.

Laras berhenti di tengah lantai kayu. Ia melihat Ibu duduk tegak di kursi, wajahnya putih. Ia melihat Bima berdiri di belakang Ibu dalam kemeja putih yang bukan miliknya. Lalu ia melihat lelaki enam puluhan di seberang meja, yang menatapnya dengan keramahan sempurna.

"Laras," kata Darmawan. "Kamu mirip ibumu waktu muda. Hanya matamu yang bukan dari dia."

"Jangan bicara padaku."

"Baik." Ia mengangkat dua tangan, mengalah dengan sopan. "Saya bicara pada ibumu saja."

Laras mengabaikannya. Matanya mencari wajah Bima, dan Bima membalasnya dengan anggukan sangat kecil: *aku baik-baik saja, tahan dulu.* Lalu pandangannya bergeser ke ujung ruangan, ke lelaki berjaket hitam yang berdiri kaku di sisi lift.

"Kak Haryo," kata Sekar pelan, dari belakang Laras.

Haryo tersentak. Seumur hidup tak seorang pun memanggilnya begitu. Ia menatap Sekar, lama, seperti orang yang berusaha mengingat bahasa yang pernah ia kuasai. Ibu bangkit dari kursi, melangkah dua langkah ke arahnya, dan menyentuh pipinya dengan punggung jari. Hanya sekali, ringan sekali.

"Kamu sudah makan?" bisiknya.

Haryo menutup mata. Rahangnya bergetar. Ia tidak menangis, tetapi tangannya yang melengkung itu naik pelan, nyaris tak berani, dan menutupi tangan Ibu di pipinya.

"Sudah, Bu," katanya parau. "Tadi pagi."

---

"Menyentuh," ucap Darmawan, dan suaranya mengiris. "Sungguh. Tiga puluh tahun saya menunggu pemandangan keluarga ini berkumpul."

Ia menuang teh ke cangkir keempat yang entah kapan sudah disiapkan, lalu menyandarkan punggung.

"Sekarang kita bicara bisnis. Wulan, kamu sudah baca surat Hartono. Kamu tahu saya tidak berbohong soal kemoterapinya. Pak Surya bisa mengonfirmasi, karena dia yang menyimpan kuitansi transfernya."

Semua mata beralih pada notaris tua itu. Pak Surya menunduk, dan dari diamnya Laras tahu itu benar.

"Dan sekarang saya akan menyederhanakan." Darmawan menyatukan jemarinya di atas lutut. "Pagi ini saya sudah mendaftarkan dua laporan polisi. Pertama, dugaan pemalsuan akta kelahiran atas nama Sekar Prasetyo, dilampiri salinan yang diberikan Pak Surya sendiri enam bulan lalu. Kedua, laporan penculikan oleh Saudara Dimas Prasetyo terhadap seorang ibu lanjut usia, yaitu kamu, Wulan."

"Aku datang sendiri," kata Ibu.

"Pelapornya saya. Hartono sudah wafat, dan kamu tidak akan berani membantah di depan polisi tanpa membuka seluruh kisah akta itu." Ia tersenyum. "Polisi tiba sepuluh menit lagi. Kalau kamu duduk dan menandatangani ini, mereka pulang dengan tangan kosong."

Ia mendorong map tipis ke seberang meja.

Ibu tidak menyentuhnya. Laras maju dan membaca dari balik bahu Ibu, dan darahnya naik ke kepala. Isinya tiga hal. Seluruh hak atas Toko Mebel Jati Hartono, rumah di Jalan Kenanga, dan tanah di Wonosobo dialihkan ke Sentosa Karya Land sebagai pelunasan "pinjaman lama". Dimas dan Sekar mencabut klaim hibah. Dan di halaman terakhir, satu klausul yang membuat Laras mengira ia salah baca:

*Saudara Haryo (nama lahir tidak diketahui) dengan ini dilepaskan dari seluruh hubungan darah dan perwalian dengan Saudari Wulan binti Karto, dan sepenuhnya menjadi anak asuh sah Darmawan Sentosa.*

"Itu yang kamu mau?" bisik Laras. "Dari awal?"

"Aku tidak pernah menginginkan tokonya." Darmawan akhirnya menoleh pada Haryo, dan untuk pertama kalinya senyumnya tidak terlatih. "Aku mengambilnya dari panti ketika dia dua belas tahun. Aku menyekolahkannya, memberinya nama, membesarkannya. Aku bahkan belajar menghapus logat Wonosobo dari mulutnya. Dia anakku lebih dari siapa pun anakmu, Wulan."

"Kamu menculiknya," kata Ibu.

"Aku menyelamatkannya dari tempat yang kamu tinggalkan dia."

"Aku tidak meninggalkannya!"

Suara Ibu menggema di ruangan kaca itu. Untuk sesaat, Darmawan tidak menjawab. Ia hanya menatap Ibu dengan tatapan yang tiba-tiba bukan tatapan musuh, melainkan tatapan lelaki yang sudah terlalu lama menyimpan satu pertanyaan.

"Kamu meninggalkan *aku*," katanya pelan. "Di hari lamaran. Di depan seluruh keluargaku. Aku menunggu tiga jam di bawah tenda itu, Wulan. Tiga jam, dengan seribu orang menatapku. Dan kamu tidak pernah menjelaskan apa pun."

"Aku tidak punya kata-kata."

"Aku memberimu tiga puluh tahun untuk mencarinya." Ia menggeleng. "Dan malam ini, aku hanya meminta satu anak sebagai gantinya."

---

Sunyi.

Haryo berdiri di antara mereka seperti orang yang sedang ditarik dua arah, tanpa tahu siapa yang akan melepaskan lebih dulu. Laras melihat jakunnya bergerak. Ia melihat tangannya yang melengkung mengepal dan terbuka.

"Pak," katanya akhirnya. "Saya tahu Bapak membesarkan saya."

"Dan?"

"Dan saya tahu kenapa Bapak melakukannya." Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti ketenangan yang dilatih bertahun-tahun. "Waktu saya empat belas, Bapak menamparkan saya karena salah menyebut nama Bapak di depan tamu. Waktu saya delapan belas, Bapak bilang saya harus berterima kasih seumur hidup. Waktu saya dua puluh lima, Bapak bilang saya tidak punya orang tua lain, jadi jangan pernah mencarinya."

Wajah Darmawan mengeras.

"Bapak tidak membesarkan saya karena menyayangi saya," lanjut Haryo. "Bapak membesarkan saya karena Bapak butuh sesuatu untuk disimpan. Sesuatu yang bisa dipakai kalau suatu hari Bu Wulan berani muncul."

"Kamu tidak tahu apa yang kamu ucapkan."

"Saya tahu persis." Haryo menoleh pada Ibu, dan matanya basah. "Saya cuma mau dengar sendiri dari Bapak, apakah ada satu hari, satu saja, ketika Bapak memilih saya tanpa maksud lain."

Darmawan membuka mulut, dan menutupnya lagi.

Lalu sesuatu di wajahnya runtuh. Tidak dramatis, tidak keras. Hanya seperti dinding tua yang baru ketahuan retaknya.

"Aku ingin," katanya. "Sungguh."

"Itu bukan jawaban, Pak."

Hening yang lama sekali menyusul. Di luar jendela, kabut mulai menipis, dan dari kejauhan terdengar suara sirene. Satu, lalu dua, merambat naik dari jalan raya.

Darmawan melirik jam di tangannya, lalu menatap Ibu, dan senyum dinginnya kembali, kini lebih rapuh.

"Tujuh menit," katanya. "Tanda tangan, Wulan. Sekarang."

Ibu menunduk. Jemarinya menyentuh pena di sisi map, lalu menariknya perlahan.

"Bu!" Laras mencengkeram lengannya. "Jangan!"

"Tenang, Mbak," ucap Bima.

Semua menoleh. Bima melepas jam tangan kulit dari pergelangannya dan meletakkannya di atas meja, di antara dua cangkir teh yang sudah dingin. Ia tersenyum, senyum yang Laras lihat tadi pagi di video: senyum orang yang sudah menghitung semuanya.

"Pak Darma bilang jam ini murah. Tiga ratus ribu di toko online." Ia mengetuk kacanya yang retak dengan ujung telunjuk. "Betul. Tapi Bapak lupa satu hal. Bapak cuma memindai tubuhku, bukan tasku."

Wajah Darmawan berubah.

"Tas olahraga itu sudah Bapak ambil semua isinya. Dokumen, flashdisk, perekam yang ketahuan." Bima merogoh saku celananya. "Tapi ada satu benda yang tidak masuk daftar karena aku sendiri baru menyadarinya tadi malam."

Ia mengeluarkan ponsel Bapak, ponsel tua yang kasar dan retak layarnya, dan memutarnya hingga layar menghadap ke ruangan. Layar menyala, dan di atasnya tampak jendela panggilan video yang sedang berlangsung, dengan penghitung waktu: *47:12.*

Di bawah penghitung itu, dalam kotak kecil, tampak wajah seorang perempuan berseragam cokelat dengan lencana di dadanya. Di belakangnya, deretan wartawan dengan kamera terbuka.

"Bu Inspektur," sapa Bima ramah. "Sudah dengar semuanya?"

Perempuan itu mengangguk, wajahnya datar. "Sejak menit pertama, Mas Bima. Kami sudah di depan gedung. Silakan matikan sirenenya, Pak Darmawan, tidak ada gunanya lagi."

Cangkir di tangan Darmawan bergetar sekali, sangat halus, lalu mendarat di tatakan tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya sejak Laras melihatnya, lelaki itu tidak tersenyum.

1
ceuceu
Ternyata kerumitan keluarga ini bermula dari kebejatan ibu
ceuceu
Rumit
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, mampir juga yuk ke sc akuu
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!