Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Tidak ada siapa-siapa di rumah ini,” jawab Rangga.
Jingga mengernyit. Ada sesuatu dalam percakapan itu yang membuatnya enggan melangkah lebih jauh. Ia berdiri di dekat dinding, bermaksud memastikan bahwa dirinya tidak salah memahami keadaan sebelum memutuskan untuk masuk.
Namun, pemandangan yang terlihat berikutnya membuat seluruh tubuhnya membeku.
Rangga sedang memeluk Dira. Kedua tangannya berada di pinggang perempuan itu, sementara Dira merangkul lehernya. Mereka berdiri begitu dekat, seolah tidak ada lagi alasan untuk menjaga jarak. Sesaat kemudian, Rangga menundukkan kepala dan mencium Dira.
Dira membalasnya.
Jingga menutup mulutnya dengan tangan. Dadanya terasa seperti diremas, sementara matanya mulai panas. Ia mengetahui bahwa Rangga mencintai Dira sejak lama, tetapi menyaksikan pengkhianatan itu secara langsung terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar mendengar pengakuan.
Lelaki yang dahulu berjanji akan menjaganya kini mencium perempuan lain tanpa sedikit pun memikirkan ikatan pernikahan mereka. Lebih menyakitkan lagi, perempuan itu adalah Dira, orang yang selama ini berpura-pura memahami penderitaannya.
Jingga ingin segera pergi. Ia tidak sanggup melihat lebih lama, tetapi sebelum berbalik, pikirannya mengingatkan bahwa Rangga bisa saja menyangkal semuanya nanti. Lelaki itu selalu memiliki cara untuk membalikkan keadaan dan menjadikannya pihak yang bersalah.
Dengan jari gemetar, Jingga mengeluarkan ponsel dari tas. Ia membuka kamera, mengarahkannya ke ruang keluarga, lalu mulai merekam.
Di layar ponselnya, Rangga kembali mencium Dira. Perempuan itu membalasnya tanpa berusaha melepaskan diri. Mereka saling berpelukan dengan jelas, tanpa gerakan yang menunjukkan bahwa kedekatan itu terjadi secara tidak sengaja.
Jingga merekam beberapa saat, memastikan wajah keduanya terlihat. Setelah yakin rekaman tersimpan, ia menghentikan kamera dan membuat salinan berkas tersebut agar bukti itu tidak mudah hilang.
Air matanya jatuh, tetapi ia segera menghapusnya. Ia tidak datang untuk menangisi Rangga. Ia datang mengambil berkas, dan sekarang ia memiliki bukti yang mungkin akan membantunya mengakhiri pernikahan itu tanpa kembali terjebak dalam kebohongan.
Jingga baru hendak menuju tangga ketika suara Rangga terdengar dari belakang.
“Jingga?”
Ia menoleh.
Rangga telah melihatnya, wajah lelaki itu langsung berubah pucat. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dari Dira, sementara perempuan itu mundur dengan ekspresi terkejut.
Untuk beberapa detik, ketiganya hanya saling menatap.
“K-kau... sejak kapan di sini?” tanya Rangga sedikit gelagapan.
“Cukup lama untuk melihat semuanya,” jawab Jingga.
Dira menunduk. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak satu pun kalimat keluar dari mulutnya. Jingga memperhatikan perempuan itu dengan hati yang terluka, lalu mengalihkan pandangan kepada Rangga.
“Jadi, selama ini kalian melakukan ini di belakangku?”
“Jingga, dengarkan dulu penjelasanku.”
“Penjelasan apa?” Jingga tertawa getir. “Aku melihat kalian berciuman. Aku bahkan merekamnya. Apa lagi yang perlu dijelaskan?”
Rangga melirik ponsel di tangan Jingga. Seketika, kecemasan di wajahnya berubah menjadi kemarahan.
“Kau merekam kami?”
Jingga mengangkat ponselnya sedikit. “Ya. Supaya nanti kau tidak bisa mengatakan bahwa aku hanya mengarang cerita.”
“Hapus rekaman itu!”
“Tidak.”
Penolakan Jingga membuat Rangga semakin kesal. Pria itu melangkah mendekat, tetapi Jingga segera mundur. Jingga tidak ingin memberi lelaki itu kesempatan untuk merebut ponselnya.
“Kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku!” bentak Rangga.
Jingga menatapnya tidak percaya. “Urusan pribadi? Kau masih suamiku, Rangga Cendana! Apa kau lupa bahwa kita belum bercerai?!”
“Jangan memutarbalikkan keadaan!”
“Aku?” Suara Jingga bergetar menahan amarah. “Aku yang memutarbalikkan keadaan? Aku datang untuk mengambil berkas, bukan mencari tahu dengan siapa kau menghabiskan waktumu. Kalian sendiri yang melakukan ini tanpa peduli siapa yang mungkin melihat.”
Dira akhirnya mengangkat wajah. “Jingga, aku bisa menjelaskan.”
Jingga menoleh kepadanya. “Nggak perlu, Dira. Bukankah kau yang selalu mengatakan bahwa aku harus berani meninggalkan pernikahan yang menyakitiku? Bukankah kau yang seolah memahami perasaanku ketika Rangga memperlakukanku dengan buruk?” Jingga menarik napas panjang. “Ternyata, di balik semua nasihat itu, kau justru menjadi orang yang ikut menyakitiku.”
“Aku tidak bermaksud membuatmu terluka,” jawab Dira pelan.
“Kalau begitu, kenapa kau membalas ciumannya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Dira tidak mampu menjawab, sementara Rangga semakin gelisah melihat Jingga tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerahkan ponselnya.
Jingga mengalihkan pandangan kepada suaminya. “Aku tidak akan menghapus rekaman ini. Aku akan menyimpannya untuk proses perceraian kita.”
Wajah Rangga mengeras. “Kau pikir kau bisa menggunakan rekaman itu sesukamu?”
“Aku berhak menyimpan bukti tentang apa yang terjadi dalam pernikahanku sendiri.”
Jingga kemudian berbalik menuju tangga. Ia masih harus mengambil berkas yang tertinggal di kamar, dan ia tidak akan membiarkan kemunculan mereka menghalanginya menyelesaikan urusannya.
Di belakangnya, Rangga memanggil namanya dengan suara keras. Namun Jingga tidak berhenti, ia tidak akan terus menanggapi setiap panggilan lelaki itu.
Ia mengambil berkas dari laci meja, memeriksa kelengkapannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Sebelum meninggalkan kamar, ia memandang ruangan itu sekali lagi. Dahulu, ia pernah membayangkan akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama Rangga di sana. Kini, ia hanya ingin memastikan tidak ada lagi barang penting yang tertinggal.
Ketika Jingga kembali ke ruang keluarga, Rangga dan Dira masih berdiri di tempat yang sama. Keduanya tampak gelisah, tetapi Jingga tidak tertarik mendengarkan alasan mereka.
“Aku sudah mendapatkan yang kucari,” katanya dingin. “Aku akan pergi.”
Rangga menatap ponsel milik Jingga dengan gelisah. Ia tahu rekaman itu bisa mengubah banyak hal, tetapi belum menemukan cara untuk menghentikan Jingga.
Sementara itu, Jingga melangkah menuju pintu dengan kepala tegak. Hatinya masih sakit, tetapi keputusan untuk berpisah terasa semakin kuat. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan Rangga untuk membuktikan bahwa pernikahan mereka telah kehilangan maknanya.
Sebelum keluar, Jingga menoleh sekali lagi.
“Aku berharap kalian bahagia dengan pilihan kalian sendiri! Jangan pernah menyalahkanku atas akibat yang kalian ciptakan.”
Setelah mengatakan itu, ia segera meninggalkan rumah Cendana tanpa menunggu jawaban.
Rangga memandangi pintu, Dira berdiri beberapa langkah darinya, tidak berani mendekat. Mereka tahu Jingga telah membawa bukti yang tidak bisa mereka ambil begitu saja.
“Jingga, berhenti!”
Suara Rangga menggema ketika Jingga hampir mencapai pintu utama rumah Cendana. Perempuan itu tidak menoleh, tapi langkah Rangga terdengar semakin dekat. Ketika Jingga meraih gagang pintu, lelaki itu berdiri di hadapannya menghalangi jalan keluar.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu