Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Nathan terdiam kaku, matanya menatap tajam ke arah dinding di seberang ruangan. Ia meremas botol wiski di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menolak mentah-mentah setiap kata yang meluncur dari bibir pamannya.
"Om salah," suara Nathan akhirnya memecah keheningan malam, dingin dan penuh penyangkalan. "Aku nggak peduli seberapa besar Om membela dia. Anak itu memang pembawa masalah dari dulu. Dan soal Vero..."
Christian menaikkan sebelah alisnya, menunggu lanjutan kalimat sang keponakan.
"Aku minta tolong sama Om. Lacak keberadaan bajingan itu sampai dapat," pinta Nathan penuh geram, rahangnya mengetat keras. "Dia udah mempermalukan keluarga kita, dan dia harus bayar harga mahal atas apa yang dia lakuin ke Bella."
Christian mengangguk kecil, tatapannya menyiratkan kepastian yang mematikan. "Tanpa kamu minta pun, orang-orang saya sudah bergerak melacak persembunyiannya. Bajingan itu tidak akan bisa lari jauh dari Jakarta," ucap Christian dengan nada rendah penuh otoritas.
*
Keesokan paginya, suasana di mansion Allegra masih menyisakan sisa-sisa ketegangan yang pekat.
Pukul delapan pagi, pintu kamar tidur utama dibuka secara paksa dengan hantaman keras.
Brak!
Bella yang masih terlelap lelap di atas ranjang king-size langsung tersentak kaget. Sebelum ia sempat mengumpulkan kesadarannya, sebuah sensasi dingin yang mengguyur sekujur tubuhnya membuat ia menjerit histeris.
"Argh!" teriak Bella, terbangun dengan napas memburu dan sekujur tubuh basah kuyup akibat seember air dingin yang disiramkan langsung ke atas tempat tidurnya.
Ia mendongak dengan mata terbelalak, mendapati sosok Nathan berdiri di samping ranjang dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala-nyala penuh kemarahan. Di tangan pemuda itu, sebuah ember plastik kosong terlempar begitu saja ke lantai.
"Kak Nathan?! Apa-apaan ini?!" jerit Bella panik, meraba selimut yang kini ikut basah kuyup, sementara tubuhnya menggigil hebat.
"Bangun kamu, anak tidak tahu diuntung!" maki Nathan dengan suara menggelegar yang mengguncang kamar. Ia melempar sebuah tablet miliknya tepat di atas tempat tidur, tepat di hadapan Bella. "Lihat apa yang sudah kamu perbuat! Lihat dengan mata kepala kamu sendiri!"
Bella yang masih kebingungan meraih tablet itu dengan tangan gemetar. Saat layar menyala, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Sebuah berita utama dari akun gosip daring terpampang jelas dengan foto-foto yang sukses meremajakan sekujur darahnya. Di sana, terpampang potret dirinya yang hanya mengenakan tanktop minim dan celana pendek, tengah berjoget liar dikerumuni oleh puluhan pria hidung belang di tengah kelab malam, lengkap dengan narasi tentang "Gadis Elite yang Dilelang di Kelab Malam".
"I-ini... apa...?" bisik Bella syok, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya langsung tumpah seketika. "Kapan... kapan aku difoto kayak gini? Sumpah, Kak, aku nggak ingat apa-apa..."
"Jangan pura-pura amnesia!" bentak Nathan geram, mencengkeram seprai ranjang di sebelah Bella. "Akibat kelakuan liarmu semalam, bukan cuma harga diri keluarga kita yang hancur! Usaha yang aku bangun selama bertahun-tahun sekarang terancam hancur sia-sia!"
Bella tertegun, menatap kakaknya dengan isak tangis yang semakin menjadi. "Usaha...?"
"Banyak klien penting dan mitra kerja sama yang meneleponku pagi ini untuk membatalkan kontrak secara sepihak karena nggak mau nama perusahaan mereka tercemar!" lanjut Nathan dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Bahkan pihak sekolahmu tadi sudah menghubungi pihak keluarga untuk meminta klarifikasi! Kamu hampir dikeluarkan dari sekolah, Bella! Kamu sadar nggak?!"
Bella menggelengkan kepalanya panik, menepis wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya berubah menjadi jeritan pilu. "Aku nggak tahu, Kak... sumpah aku nggak ingat apa-apa selain nemuin Vero... Tolong percaya sama aku..."
"Percaya?" Nathan tertawa hambar, penuh kepahitan. "Nggak ada lagi yang bisa dipercaya dari anak pembawa sial seperti kamu!"
"Cukup, Nathan."
Suara bariton yang tenang namun berwibawa itu menghentikan amukan Nathan seketika.
Christian melangkah masuk ke dalam kamar dengan kemeja rapi tanpa jas, wajahnya tampak dingin tanpa ekspresi. Ia melirik sekilas ke arah Bella yang basah kuyup dan meringkuk ketakutan, lalu beralih menatap tajam ke arah sang keponakan.
"Keluar dari kamar ini, Nathan," perintah Christian mutlak. "Kemarahanmu tidak akan menyelesaikan masalah apa pun."
Nathan mengepal kedua tangannya erat-erat, menatap pamannya dengan napas memburu. Namun, di hadapan otoritas Christian, ia tidak bisa membantah. Dengan tatapan penuh kebencian terakhir pada Bella, Nathan memutar tubuhnya dan membanting pintu kamar saat melangkah keluar.
*
Kini, hanya tersisa Christian dan Bella di dalam kamar yang luas itu.
Bella menunduk dalam-dalam, memeluk lututnya yang basah, menangis sesenggukan tanpa henti karena merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya.
Beberapa saat kemudian, ia merasakan tepukan pelan di tepi tempat tidurnya. Christian duduk di sana, mengulurkan sehelai handuk kering untuk menutupi bahu Bella yang gemetar.
"O-Om..." cicit Bella parau, mendongak menatap pamannya dengan mata bengkak penuh air mata. "Makasih... makasih udah belain aku... Dan maafin aku soal uang di dompet Om..."
Christian menatap lurus ke dalam iris mata keponakannya. Tidak ada kemarahan di sana, melainkan sebuah ketenangan yang dingin.
"Saya sudah memperingatkanmu sejak awal, Arabella," ucap Christian pelan namun menusuk ulu hati. "Keputusan bodoh selalu membawa konsekuensi yang jauh lebih mengerikan dari yang bisa kamu bayangkan."
Bella terdiam, isak tangisnya semakin tertahan mendengar kalimat itu.
Christian berdiri dari tepi ranjang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mendial sebuah nomor sambil memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
"Jangan khawatirkan soal berita dan sekolahmu," kata Christian dingin sebelum ia melangkah keluar kamar. "Saya sudah menghubungi orang saya untuk membersihkan pemberitaan media sosial dari sampah-sampah itu, dan pihak sekolah akan diam setelah donasi besar masuk ke yayasan mereka. Kamu cukup diam di kamar ini dan renungkan kebodohanmu."
Klik.
Pintu kamar tertutup rapat, meninggalkan Bella seorang diri dalam keheningan yang menyesakkan, menyadari bahwa satu-satunya orang yang memegang kendali atas sisa hidupnya kini hanyalah pria dingin bernama Christian Gerald.
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang