NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Flashback satu tahun yang lalu

Setahun yang lalu...

Siang itu, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di halaman Pondok Pesantren Darussalam.

Seorang wanita paruh baya berjilbab rapi keluar dari mobil sambil menggandeng seorang bocah perempuan yang mengenakan gaun mungil berwarna merah muda.

Wanita itu adalah Bu Almira, ibu dari Mayor Abimanyu Wicaksono sekaligus nenek dari Kahiyang Ayudia.

Sementara bocah kecil yang digandengnya adalah cucu semata wayang yang begitu disayanginya.

"Kaning, Sayang, ayo turun. Kita sudah sampai," ujar Bu Almira lembut.

Namun, Kahiyang justru menggeleng kuat-kuat. Kedua tangannya semakin erat memeluk kaki sang nenek.

"Enggak mau, Nek! Kaning mau pulang!"

Bu Almira menghela napas lirih.

"Nak, ini tempat yang bagus. Nanti Kaning bisa belajar mengaji, bermain dengan teman-teman, dan belajar banyak hal baru."

"Enggak mau!" Kaning menggeleng sambil mulai menangis. "Kaning mau sama Nenek! Kaning enggak mau ditinggal!"

Bu Almira berjongkok, kemudian memeluk cucunya.

"Nenek tidak akan meninggalkan Kaning selamanya, Sayang. Nenek akan menjenguk Kaning nanti."

"Tapi, Papah juga enggak ada! Mama juga enggak ada!" tangis Kaning semakin keras. "Kaning cuma punya Nenek!"

Hati Bu Almira terasa diremas mendengar ucapan itu.

Sejak ibunda Kaning meninggal dunia, cucunya memang tumbuh dengan kerinduan yang sulit diungkapkan. Terlebih lagi, Abimanyu sudah bertahun-tahun menjalankan tugas di Lebanon.

Sebagai seorang ayah, Abimanyu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putri semata wayangnya. Ia ingin Kaning tumbuh menjadi anak yang mandiri, berakhlak mulia, dan memiliki fondasi agama yang kuat sebelum memasuki sekolah dasar.

Karena itulah, atas permintaan putranya, Bu Almira membawa Kaning ke Pondok Pesantren Darussalam.

Keputusan itu bukan berarti Bu Almira tega berpisah dari cucu kesayangannya. Justru karena menyayangi Kaning, ia ingin membantu mewujudkan harapan putranya.

Namun, melihat cucunya menangis seperti itu, hatinya nyaris tidak sanggup.

"Ya Allah, Nak..." bisiknya sambil mengusap rambut Kaning. "Semoga keputusan ini menjadi jalan terbaik untukmu."

Saat itulah Latifah yang baru saja selesai mengajar beberapa santri menghampiri mereka.

"Assalamualaikum. Maaf, Bu, apakah ada yang bisa saya bantu?"

Bu Almira menoleh.

"Waalaikumsalam. Apakah benar ini Pondok Pesantren Darussalam?"

"Benar, Bu. Saya Latifah, salah satu pengajar di sini. Ibu datang bersama putrinya?"

Bu Almira tersenyum tipis, meskipun matanya terlihat berkaca-kaca.

"Ini cucu saya, namanya Kahiyang Ayudia. Kami biasa memanggilnya Kaning. Saya ingin menitipkannya di sini untuk belajar agama dan membentuk kemandiriannya."

Latifah tersenyum ramah, lalu menunduk untuk menyapa bocah kecil itu.

"Halo, Kaning. Nama saya Bu Latifah. Wah, cantik sekali, ya, namanya."

Namun, Kaning justru bersembunyi di balik tubuh sang nenek.

Latifah tidak memaksa. Ia malah duduk berjongkok beberapa langkah di depan Kaning, menjaga jarak agar bocah itu tidak merasa terancam.

"Kaning suka menggambar?" tanyanya sambil menunjuk gambar bunga kecil di tas yang dibawa bocah itu.

Kaning mengintip dari balik tubuh neneknya.

Latifah tersenyum.

"Bu Ifah punya banyak buku bergambar di dalam. Ada gambar bunga, kupu-kupu, kelinci, bahkan kucing yang lucu. Kalau Kaning mau, nanti kita lihat bersama-sama."

Kaning tidak menjawab, tetapi tangisnya perlahan mereda.

Latifah kemudian mengeluarkan sebuah buku bergambar dari tasnya dan memperlihatkan ilustrasi seekor kelinci kecil.

"Lihat, Sayang. Ini kelinci. Menurut Kaning, kelinci ini sedang mencari apa, ya?"

Kaning menatap gambar itu cukup lama.

"Mencari wortel..." jawabnya lirih.

Latifah langsung tersenyum lebar.

"Masyaallah! Pintar sekali Kaning!"

Bocah itu mengangkat wajahnya, menatap Latifah dengan mata yang mulai berbinar.

"Bu Ifah punya gambar yang lain?"

"Tentu saja! Ada banyak. Tapi, Kaning harus janji tidak menangis lagi, ya? Kita lihat gambarnya bersama-sama."

Kaning menoleh kepada sang nenek.

"Nenek ikut?"

Bu Almira mengusap pipinya.

"Nenek temani dulu, Sayang."

Perlahan, Kaning mulai melepaskan pelukannya dari kaki sang nenek. Ia menerima uluran tangan Latifah, meskipun sesekali masih menoleh untuk memastikan Bu Almira tetap berada di dekatnya.

Melihat perubahan itu, Bu Almira menghembuskan napas lega.

Hari itu, Latifah berhasil melakukan sesuatu yang sejak tadi sulit dilakukan oleh siapa pun, yakni membuat Kaning merasa aman di tengah lingkungan yang masih asing baginya.

Setelah beberapa waktu, Kaning bahkan mulai tertawa kecil saat Latifah mengajaknya bermain tebak gambar.

Bu Almira yang menyaksikan pemandangan itu tak kuasa menahan haru.

"Terima kasih banyak, Nak Latifah," ucapnya tulus. "Sejak tadi Kaning tidak mau lepas dari saya. Saya sempat khawatir dia tidak akan mau tinggal di sini."

Latifah tersenyum hangat.

"Tidak apa-apa, Bu. Kaning hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Insyaallah, kami akan membantu Kaning merasa nyaman di sini."

Bu Almira mengangguk, matanya berkaca-kaca.

"Semoga Allah membalas kebaikanmu, Nak."

Sebelum pulang ke Jakarta, Bu Almira kembali memeluk cucunya erat-erat.

"Nenek pulang dulu, ya, Sayang. Kaning harus jadi anak yang pintar. Rajin mengaji, dengarkan nasihat Bu Ifah, dan jangan lupa berdoa untuk Papah."

Kaning kembali memeluknya, tetapi kali ini ia tidak menangis sekeras sebelumnya.

"Nenek nanti datang lagi?"

"Tentu, Sayang. Nenek akan menjenguk Kaning."

Setelah berkali-kali mengecup kening cucunya, Bu Almira akhirnya melangkah menuju mobil. Ia menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan.

Kaning membalas lambaian itu dari samping Latifah.

Mobil perlahan meninggalkan halaman pesantren.

Dan sejak hari itu, Pondok Pesantren Darussalam menjadi rumah kedua bagi Kahiyang Ayudia.

Kenangan itu perlahan memudar ketika Latifah merasakan jemari kecil Kaning menarik ujung kerudungnya.

"Bu Ifah..."

Latifah tersadar.

"Iya, Sayang?"

"Kalau Kaning sudah besar nanti, Kaning mau jadi anak yang kuat seperti kata Papah. Tapi, Kaning juga boleh tetap kangen sama Papah, kan?"

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Latifah kembali terasa sesak. Ia tersenyum, kemudian menggenggam kedua tangan kecil Kaning.

"Tentu saja boleh, Sayang. Menjadi anak yang kuat bukan berarti Kaning tidak boleh menangis atau merasa sedih. Anak yang kuat juga boleh merindukan orang yang disayanginya."

"Benarkah?"

"Iya. Yang penting, Kaning tetap semangat belajar, rajin berdoa, dan tidak menyerah."

Kaning mengangguk mantap.

"Kalau begitu, Kaning mau belajar mengaji yang rajin supaya Papah bangga!"

Latifah tertawa kecil, lalu mengecup keningnya.

"Masyaallah, putri pintar!"

Tak jauh dari mereka, beberapa santri tersenyum melihat kedekatan guru mereka dengan Kaning.

Bagi Latifah, Kaning bukan sekadar seorang santri. Bocah itu telah menjadi bagian dari hari-harinya, seseorang yang selalu mampu menghadirkan kebahagiaan melalui tingkah polos dan pertanyaan-pertanyaan sederhananya.

Latifah tidak pernah menyangka bahwa di balik kerinduan seorang anak kecil kepada ayahnya, tersimpan sebuah takdir yang kelak akan mengubah kehidupannya sendiri.

Ia tidak tahu bahwa ayah Kaning, pria yang selama ini hanya ia kenal melalui cerita dan foto yang sesekali diperlihatkan Bu Almira, adalah pria yang namanya kini disebut-sebut oleh kedua orang tuanya sebagai calon suaminya.

Mayor Abimanyu Wicaksono.

Dan ketika saatnya tiba, mungkinkah bocah kecil yang kini berada dalam pelukannya menjadi jembatan bagi dua hati yang belum menyadari bahwa mereka sedang dipertemukan oleh takdir?

Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Bersambung...

1
Atik Kiswati
sampe kpn mrk ber2 canggung + kaku kyk gt.....panggilannya aja msh pak / bu.....
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sabar Bu 🤣🤭
total 1 replies
vania larasati
lanjut kak
Sastri Dalila
🤗🤗
susi ana
kok masih panggil pak sama Bu.....
Perempuan
Anda? Formal aaaamat🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: masih kaku kak, belum terbiasa, harap di maklum
total 1 replies
Perempuan
koq masih gitu panggilannya🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍👍
vania larasati
lanjut kak
Dua Putri
baguss. kapan mereka🤭🤭🤭😄😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kapan apa kak? 🤣
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
sudah taman blum ya
atau baru bab 33
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: belum kak🤗
total 1 replies
Nurma Rohma Sari
semangat menulisnya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terima kasih kak 🤗☺️
total 1 replies
Ghiffari Zaka
nah kaaaan...ud ada hilal bucin tu😂😂😂.
bentar lagi pasti ud nemplok aja pak mayor😂😂😂,duuuh semoga dech author buat kayak gt,biar asyik laaaa,eh maaf Thor,sok melangkahi pula aq🤭🤭🤭,lanjut ya Thor....
Ghiffari Zaka: iya Thor,seru pakai banget dech😂😂😂
total 2 replies
vania larasati
lanjut kak
Atik Kiswati
yah...tlp nya kok gk berlanjut.....msh penasaran nih...
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kalau berlanjut bisa perang dunia ketiga kak, dan Bima pasti tahu soal perasaan Latifah yang masih menyukai Ustadz firman
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Nar Sih
suami mu jahil ya ifah,dan lama,,pasti bikin kmu terpesona☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak
total 1 replies
Ghiffari Zaka
yaaaah Latifah sih....ambyar dech momen MLM pertama pengantinnya,ya walaupun gak ngapa2 in ttp aja kan jadi gak enak,lok emang mau lepas dan merelakan masa lalu kan bagus si blokir aja no nya,itu namanya lepasin kepala tapi ttp pegang ekornya....
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah ud SMP t4 tinggal barunya Latifa,semoga bahagia sll dlm keluarga kecil mu🥰🥰
Ghiffari Zaka
Alhamdulillah.......akhirnya halal jg🥰🥰🥰🥰semoga samawa dan saling bergandengan dlm melangkah kedepan🥰🥰🥰🥰
Ghiffari Zaka
semoga setelah ijab nnt baik Latifa maupun bima bs sm2 melangkah maju tanpa di bayangi masa lalu yg memberatkan🥰🥰🥰,tu kan thoooor ,sangking asyik nya baca SMP hampir lupa komen aq🤭🤭🤭,main lanjut aja😂😂😂🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!