Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di dalam kepalanya, panduan dari Sistem sudah menyala terang benderang.
[Langkah 1: Ambil nasi putih dingin sisa semalam, dua butir telur, bawang putih, bawang merah, dan kecap manis!]
Dewi bergerak dengan kecepatan dan ketepatan yang tidak wajar baginya.
Tangannya seolah baru saja dirasuki oleh memori otot seorang koki legendaris.
Trak, trak, trak.
Suara pisau beradu dengan talenan kayu terdengar sangat cepat dan berirama saat Dewi mencincang bawang.
Chef Arnold dan para asisten koki lainnya sampai menghentikan aktivitas mereka untuk melihat aksi Dewi.
"Pisaunya bergerak terlalu cepat, apa dia tidak takut jarinya terpotong?" bisik salah satu asisten koki ngeri.
Sreng!
Dewi memasukkan bumbu ke dalam wajan yang minyaknya sudah panas, menciptakan kepulan asap yang harum.
Aroma gurih bawang merah dan bawang putih yang digoreng seketika memenuhi seluruh ruangan dapur yang besar itu.
[Langkah 2: Masukkan nasi, aduk dengan ritme puting beliung mini, tambahkan kecap manis dan sejumput garam!]
Tangan kanan Dewi memegang gagang wajan dan mengayunkannya ke depan dan belakang tanpa ragu.
Wush, wush.
Nasi goreng itu melompat-lompat di udara membentuk lengkungan sempurna sebelum kembali jatuh ke dalam wajan tanpa tumpah sedikit pun.
Gerakan Dewi terlihat sangat indah dan penuh tenaga, seolah dia sedang menari di depan perapian.
"Mustahil, teknik membalik wajan itu setara dengan koki bintang lima," gumam Chef Arnold yang wajahnya mulai memucat.
Hanya butuh waktu lima menit, seporsi nasi goreng berwarna kecokelatan yang mengkilap sudah tersaji di atas piring.
Dewi tidak berhenti sampai di situ, dia mulai memecahkan dua butir telur ke teflon datar.
Dengan hati-hati, Dewi membuat telur dadar tipis lalu menyelimuti nasi goreng itu dengan sangat rapi.
Lalu dia mengambil saus tomat dan menggambar dua mata serta satu garis senyum yang lebar di atas telur itu.
"Taraaa! Nasi Goreng Selimut Senyum ala Mama Dewi sudah siap!" seru Dewi dengan bangga.
Aroma masakan rumahan yang sangat hangat dan menggugah selera membuat perut beberapa pelayan berbunyi pelan.
Dewi membawa piring itu ke ruang makan utama yang letaknya tak jauh dari area dapur.
Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kaca tebal itu, Raka Mahardika sedang duduk membaca tabletnya.
Di depannya hanya ada secangkir kopi hitam pekat tanpa gula.
Raka mendongak saat mendengar suara langkah kaki dan kursi yang ditarik.
Dewi mendudukkan Elvan di kursi sebelahnya, lalu meletakkan piring nasi goreng lucu itu di depan sang anak.
"Wah, senyum!" pekik Elvan girang melihat gambar dari saus tomat itu.
"Ayo buka mulutnya yang besar, pesawat masuk nih, ngenggg!" Dewi menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Elvan.
Hap.
Elvan mengunyah makanan itu pelan, dan detik berikutnya matanya membulat sempurna.
Anak itu langsung mengambil sendok dari tangan Dewi dan mulai menyendok makannya sendiri dengan sangat rakus.
"Nyam nyam nyam, enak Mama!" seru Elvan dengan mulut penuh yang terlihat sangat menggemaskan.
Raka meletakkan tabletnya dan menatap pemandangan di depannya dengan dahi berkerut tajam.
"Makanan apa yang kau berikan pada anakku? Kelihatannya sangat murah dan terlalu banyak minyak," kritik Raka dengan nada sinis.
Dewi memutar bola matanya malas menanggapi pria yang selalu protes ini.
"Tuan Jas Mahal, ini namanya Nasi Goreng Kasih Sayang."
"Makanan murah inilah yang membuat anakmu makan dengan lahap, tidak seperti bubur sultan buatan kokimu itu."
Raka tidak terima masakannya dan koki kebanggaannya dihina oleh wanita yang baru direkrutnya kemarin sore.
"Jangan sombong dulu, mungkin anakku hanya sedang kelaparan parah."
"Bawa piring itu kemari, aku akan menilainya sendiri," perintah Raka dengan gaya arogannya yang khas.
Dewi mendengus sebal, tapi dia tetap mengambil piring kecil dan membagikan sedikit porsi nasi goreng itu.
Dia meletakkan piring kecil itu tepat di depan Raka dengan kasar.
"Silakan dicicipi Tuan Raja, awas nanti lidahmu menari-nari kegirangan," ejek Dewi sambil bersedekap dada.
Raka mengambil sendok peraknya dan menyendok nasi goreng yang tampilannya sangat biasa itu ke dalam mulutnya.
Kunyah.
Gerakan rahang Raka mendadak terhenti di kunyahan kedua.
Matanya sedikit melebar, namun dia dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya dengan raut wajah datar seperti biasa.
Ledakan rasa gurih, manis, dan aroma smokey dari wajan yang terbakar berpadu sangat sempurna di lidahnya.
Ini bukan sekadar nasi goreng biasa, rasanya sangat familiar dan seolah menghangatkan dadanya yang kosong.
Rasanya persis seperti masakan mendiang ibunya saat dia masih kecil dulu, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
"Bagaimana? Enak kan? Aku tahu kau mau nambah," goda Dewi yang melihat Raka terdiam cukup lama menatap sendoknya.
Raka berdehem pelan untuk menetralkan suaranya yang tiba-tiba terasa agak serak.
"Rasanya lumayan, tidak terlalu buruk untuk ukuran masakan jalanan," dusta Raka dengan wajah tetap angkuh.
Padahal dalam hatinya, Raka sangat ingin merebut piring utama dan menghabiskan seporsi penuh nasi goreng itu.
"Cih, dasar pria gengsian tingkat dewa," gumam Dewi pelan sambil menoleh kembali pada Elvan yang piringnya sudah bersih.
Ding!
[Misi Harian Selesai!]
[Selamat! Tuan Putri berhasil menaklukkan lidah Sultan Kecil dan Sultan Besar yang sangat gengsi!]
[Skill Memasak Tingkat Dewa sekarang bersifat Permanen!]
[Poin Kasih Sayang +15 ditambahkan ke profil Anda.]
Dewi tersenyum puas melihat layar biru yang kembali menghilang dari pandangannya, pertanda gajinya aman.
"Mulai besok dan seterusnya, kau yang bertanggung jawab penuh atas semua makanan Elvan."
Raka tiba-tiba bersuara sambil berdiri dari kursinya dan merapikan jas kerjanya yang mahal.
"Chef Arnold tidak boleh menyentuh makanan anakku lagi, aku hanya percaya padamu."
"Dan... buatkan porsi lebih untukku saat sarapan," tambah Raka dengan suara yang sengaja dipelankan di akhir kalimat.
Dewi tersenyum jahil mendengar permintaan terselubung bosnya yang sedingin es itu.
"Apa Tuan Raka? Suaramu kurang keras, porsi lebih untuk siapa?" goda Dewi sengaja memancing emosi Raka.
Raka memelototi Dewi dengan tajam, namun telinganya terlihat sedikit memerah karena malu gengsinya ketahuan.
"Kerjakan saja tugasmu dan jangan banyak bicara, Nona Dewi!" bentak Raka pelan sebelum berbalik pergi menuju pintu depan.
Bram yang sedari tadi berdiri di sudut ruang makan hanya bisa menahan senyumnya rapat-rapat.
Baru kali ini ada orang yang berani menggoda Tuan Raka sampai salah tingkah dan kehabisan kata-kata, batin Bram takjub.
Di balik dinding ruang makan yang tersembunyi, Bi Marni memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh kebencian.
Wanita gelandangan ini benar-benar berbahaya, dia sudah mulai mencuci otak Tuan Raka lewat makanan busuknya.
"Aku harus segera melaporkan hal ini pada Nyonya Marissa sebelum semuanya terlambat," gumam Bi Marni sambil merogoh ponsel di sakunya.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭