Seorang ratu yang kehilangan mahkota karena fitnah dan seorang putri yang tumbuh dalam pengasingan tanpa mengetahui bahwa darahnya menyimpan kunci takhta.
Enam belas tahun kemudian, seorang dayang baru memasuki istana dengan wajah polos, tangan terampil, dan rahasia yang dapat mengguncang dua kerajaan. Ia datang bukan untuk mencari cinta.
Ia datang untuk membersihkan kembali nama ibunya, membongkar dosa masa lalu, dan mengambil kembali takhta yang dirampas.
Namun, takdir mempertemukannya dengan dua pangeran: seorang pewaris takhta yang kejam tetapi kesepian, dan seorang pangeran dari kerajaan musuh yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Ketika pernikahannya dengan putra mahkota diumumkan, sang kekasih menculiknya tepat pada malam pertama. Satu tindakan nekat itu memicu perang yang mengancam menghancurkan kedua kerajaan di tengah pertumpahan darah, rahasia kelahirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suesant SW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Dipanggil Raja
Pagi itu, Istana Weishan diselimuti kabut yang begitu tebal hingga menara-menara pengawas di kejauhan tampak seperti bayangan raksasa yang berdiri di antara langit dan bumi. Udara dingin merayap di sepanjang koridor batu giok, menyusup melalui celah-celah pintu kayu cendana, lalu menggoyangkan tirai sutra yang tergantung di setiap paviliun. Lentera-lentera merah yang semalam menyala terang kini tampak redup, seolah-olah bahkan cahaya pun enggan menjadi saksi atas kebusukan yang sedang tumbuh di dalam istana.
Di balik kemegahan tembok merah dan atap berlapis emas itu, sebuah keputusan sedang menunggu untuk dijatuhkan.
Bukan keputusan tentang perang.
Bukan pula keputusan tentang pengkhianatan seorang jenderal di medan pertempuran.
Ini tentang keputusan seorang raja terhadap perempuan yang selama bertahun-tahun berdiri di sisinya, membagi suka dan duka, serta menjaga kehormatan takhta yang kini justru digunakan untuk menghancurkannya.
Raja Han Quan telah memanggil permaisuri Wang Laoyin ke Istana Qianzheng.
Panggilan itu disampaikan melalui seorang kasim senior menjelang matahari terbit. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada alasan resmi selain titah agar Permaisuri segera menghadap. Namun, Wang Laoyin memahami bahwa pertemuan itu bukan sekadar pemeriksaan lanjutan atas kematian Shen Rui ataupun surat cinta palsu yang ditemukan pada barang-barang pengawal tersebut.
Raja ingin mendengar pengakuannya.
Dan mungkin, jauh di dalam hatinya, Raja Han Quan ingin mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan: bahwa semua kecurigaan itu benar, sehingga ia tidak perlu lagi berhadapan dengan keraguan yang mengusik tidurnya.
Di Paviliun Fengyi, Wang Laoyin berdiri di hadapan cermin perunggunya. Cermin itu berbingkai ukiran burung phoenix yang melebarkan sayapnya di antara awan. Dahulu, cermin tersebut memantulkan sosok seorang permaisuri yang disegani, perempuan yang kecantikannya sering disebut-sebut sebagai keanggunan bulan yang turun ke bumi. Kulitnya putih bersih seperti porselen terbaik dari negeri selatan, matanya jernih seperti telaga setelah hujan, dan garis wajahnya begitu halus hingga tampak seolah-olah dipahat oleh tangan seorang seniman yang tidak pernah mengenal kesalahan.
Namun, pagi itu, bayangan di dalam cermin memperlihatkan seorang perempuan dengan lingkaran gelap di bawah mata, bibir pucat, dan tatapan yang menyimpan luka yang belum sempat menjadi air mata.
Ia belum tidur dengan tenang sejak malam ketika Shen Rui ditemukan tewas di kamarnya.
Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat darah yang meresap ke seprai putih. Setiap kali mendengar langkah pengawal di lorong, ia teringat bagaimana mereka datang begitu cepat, seolah-olah telah menunggu di balik pintu sebelum tubuh Shen Rui ditemukan. Dan setiap kali mengingat surat palsu itu, kemarahannya bangkit seperti api yang menjilat dinding sebuah kota.
Seseorang telah merancang semua ini.
Seseorang mengetahui letak kamarnya, kebiasaan para pelayan, hubungan antara dirinya dan Shen Rui, bahkan cara ia menulis namanya.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa seseorang berusaha menghancurkannya.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Raja Han Quan membiarkan tuduhan itu memasuki hatinya. Merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya
Wang Laoyin mengambil sebuah tusuk konde giok putih, lalu menyematkannya pada rambut hitamnya yang disanggul sederhana. Ia mengenakan jubah merah tua dengan sulaman burung phoenix emas di bagian dada, lambang kehormatan yang telah melekat pada dirinya selama bertahun-tahun. Ia tidak memakai perhiasan berlebihan. Ia tidak ingin terlihat seperti perempuan yang hendak memamerkan kedudukannya di hadapan seorang penguasa. Ia hanya ingin berdiri di hadapan suaminya sebagai dirinya sendiri.
Sebagai Wang Laoyin. Perempuan yang tidak pernah mengkhianatinya.
“Yang Mulia Permaisuri,” panggil Qing'er pelan dari dekat pintu.
“Kereta istana sudah menunggu.”
Wang Laoyin mengalihkan pandangan dari cermin.
“Tidak perlu kereta. Aku akan berjalan.” Sahut Wang Laoyin dengan tegas
“Tetapi, perjalanan menuju Istana Qianzheng cukup jauh, Yang Mulia. Lagipula, para pengawal—”
“Biarkan mereka melihatku berjalan.”
Suara Wang Laoyin tenang, tetapi mengandung ketegasan yang membuat Mei'er tidak berani melanjutkan perkataannya.
“Jika mereka hendak mengadiliku sebelum penyelidikan selesai, setidaknya mereka harus melihat wajah perempuan yang sedang mereka tuduh.” Ia melangkah menuju pintu.
Qing'er segera menyusul, membawa jubah luar untuk melindungi tubuh majikannya dari udara dingin. Namun, sebelum mereka meninggalkan paviliun, Wang Laoyin berhenti sejenak dan menoleh ke arah ranjang yang kini telah dirapikan. Di tempat itulah Shen Rui ditemukan tewas.
Di tempat itulah hidupnya mulai berubah menjadi mimpi buruk. Wang Laoyin menatap ranjang tersebut lama sekali.
Jika kau masih hidup, Shen Rui, kau pasti dapat mengatakan siapa yang melakukan ini.
Sayangnya orang mati tidak lagi dapat memberikan kesaksian. Dan mereka yang menginginkan kebenaran terkubur tampaknya telah memahami hal itu dengan sangat baik. Wang Laoyin menarik napas panjang, kemudian melangkah keluar. Ia tidak mengetahui bahwa pagi itu, untuk pertama kalinya, ia akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kedudukannya sebagai Permaisuri.
Ia akan kehilangan kepercayaannya kepada Raja Han Quan.
Istana Qianzheng berdiri di bagian tengah kompleks kerajaan, dikelilingi taman berbatu, kolam teratai, dan koridor panjang yang menghubungkannya dengan aula pemerintahan. Bangunan itu memiliki pilar-pilar merah setinggi beberapa orang dewasa, atap berwarna keemasan, serta pintu besar yang dihiasi ukiran naga bercakar lima. Di atas ambang pintu terpasang papan bertuliskan nama istana dengan huruf emas yang dibuat oleh kaligrafer kerajaan pada masa pemerintahan sebelumnya.
Di dalamnya terdapat ruang pribadi Raja Han Quan, sangat jarang ada orang yang di ijinkan ya masuk kesana termasuk ratu dan para selirnya. Dia hanya datang ke setiap paviliun wanita-wanita ya jika dia menginginkannya saja, bukan memanggil ke istana pribadinya.
Ruangan itu luas dan tinggi, dengan lantai kayu cendana yang mengilap. Di sisi timur berdiri sebuah meja besar yang dipenuhi gulungan laporan, peta wilayah, serta kotak-kotak dokumen bersegel merah. Sebuah tirai sutra berwarna biru tua memisahkan ruang kerja dari tempat istirahat Raja. Pada dinding utara tergantung lukisan naga yang melingkari matahari, sementara dua pedupaan perunggu mengeluarkan asap tipis beraroma kayu gaharu. Di balik jendela berukir itu pepohonan pinus bergoyang diterpa angin.
Raja Han Quan berdiri di dekat meja kerjanya ketika Wang Laoyin memasuki ruangan.
Ia mengenakan jubah kerajaan berwarna hitam kebiruan dengan sulaman naga emas yang membentang dari dada hingga bahu. Rambutnya diikat rapi dengan mahkota kecil berhiaskan giok. Wajahnya masih tampan dan berwibawa, dengan garis rahang yang tegas serta sepasang mata yang selama ini mampu membuat para pejabat paling keras kepala kehilangan keberanian untuk berbicara. Namun, pagi itu, wajah tersebut tampak lebih dingin daripada biasanya.
Di atas meja terletak sebuah amplop putih kekuningan.Surat palsu itu. Wang Laoyin langsung mengenalinya.
“Salam kepada Yang Mulia,” ucapnya sambil membungkuk.
Raja Han Quan tidak segera menjawab. Ia hanya memandang perempuan itu dengan tatapan panjang, seakan-akan sedang mencari tanda kesalahan pada wajah yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.
“Duduklah,” katanya akhirnya. Tidak lagi segarang saat di aula pertemuan.
“Terima kasih, Yang Mulia. Hamba lebih baik berdiri.” Tolak Wang Laoyin dengan tetap menjaga keanggunannya.
Alis Raja sedikit berkerut.
“Sejak kapan kau menolak duduk ketika aku mempersilakanmu?”
Wang Laoyin menatapnya lama, lelaki yang sangat di hormati dan di cintainya itu.
“Sejak hamba tidak lagi mengetahui apakah hamba sedang dipanggil sebagai istri Yang Mulia atau sebagai seorang terdakwa.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Di luar ruangan, seorang kasim yang berjaga menundukkan kepala semakin dalam. Ia tidak berani bergerak, bahkan tidak berani mengatur napas terlalu keras. Para pelayan istana telah lama memahami bahwa pertengkaran antara Raja dan Permaisuri bukanlah sesuatu yang boleh didengar, apalagi diceritakan kembali.Tetapi Kasim itu diam di sana seperti patung dengan telinga yang terpasang tajam
(Bersambung yaaaaaa.....yuk dukung novel ini biar dapat rekom, biar banyak yang baca😘 makasih banyak kesayangan semuaaaaah)