Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Pukul sepuluh pagi tepat, langit New York diliputi mendung tipis yang membawa hawa dingin menusuk.
Namun, di dalam jagat maya dan panggung hiburan kelas atas, sebuah ledakan informasi terjadi secara masif, membakar seluruh lini media sosial, koran bisnis, dan saluran televisi nasional.
Sebuah judul berita berhuruf cetak tebal dan berwarna merah menyala mendadak membeludak di setiap layar portal berita utama:
"SKANDAL TERBESAR MANHATTAN: DEDRICK ASHFORD, PEWARIS KEDUA IMPERIUM ASHFORD, DIRUMORKAN MENJADI ORANG KETIGA DALAM PERNIKAHAN REXANA NYCEKERH DAN ARTHUR BOND!"
Bukan sekadar gosip burung tanpa alas, berita menggelegar itu dilampiri oleh bukti foto resolusi tinggi yang sangat tajam dan tak terbantahkan.
Foto yang menampilkan Diedrick Ashford tengah tertidur pulas di atas ranjang sutra kelabu miliknya tanpa busana, dengan sosok wanita berambut pendek—Rexana—yang terbaring di sampingnya dalam dekapan yang begitu hangat dan intim.
Foto itu tak lain adalah potret yang diambil sendiri oleh Rexana sebagai bukti penuntasan "tugas" yang disyaratkan Arthur, yang kemudian dikirimkannya ke ponsel sang suami.
Namun, dalam kemurkaan dan keputusasaan setelah dihancurkan oleh kekalahan di tepi jalanan tadi pagi, Arthur Bond yang licik dan berhati busuk memilih untuk menyebarkan foto ranjang privat tersebut ke seluruh jaringan media massa New York.
Pria itu berniat menghancurkan nama besar Ashford dan mengubur kehormatan Rexana hingga tak bersisa.
Sementara itu, di dalam kabin Ferrari hitam yang melaju tenang menuju penthouse, keheningan yang melingkupi Diedrick dan Rexana mendadak terganggu oleh dengung getaran ponsel yang tak henti-hentinya berguncang di meja konsol.
BZZZ... BZZZ... BZZZ...
Layar ponsel Diedrick menyala, menampilkan nama kontak sang kembaran: Dominic Ashford.
Rexana, yang duduk di kursi penumpang depan dengan memeluk tubuhnya sendiri, melirik samar ke arah layar yang terus berkedip itu.
Suasana hati Rexana yang baru saja merasakan kehangatan janji Diedrick kembali diliputi kecemasan samar.
"Kenapa tidak diangkat?" bisik Rexana pelan, suaranya parau dan bergetar. "Dominic menelponmu berturut-turut..."
Diedrick hanya melirik sekilas ke arah ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya. Pria itu menggelengkan kepala pelan, mengulurkan tangan kirinya untuk mengabaikan panggilan tersebut dan mematikan nada getarnya.
"Biarkan saja," sahut Diedrick dengan suara berat yang menenangkan, lalu menggenggam jemari dingin Rexana di atas paha wanita itu.
"Paling-paling Dominic hanya ingin menanyakan soal urusan pekerjaan. Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita saat ini."
Namun, belum sempat layar ponsel itu meredup, panggilan berikutnya merangsek masuk kembali.
Kali ini giliran kontak asisten pribadinya yang tertera di sana: Mark.
BZZZ... BZZZ... BZZZ...
Ponsel itu berguncang hebat bagai kepanikan yang tak terbendung.
Baik Diedrick maupun Rexana sama sekali belum menyadari skandal raksasa yang baru saja meledak di seluruh penjuru New York sepuluh menit yang lalu.
Mereka berdua berasumsi bahwa panggilan-panggilan darurat itu hanyalah urusan kantor biasa.
"Diedrick, angkatlah... bagaimana jika ada hal penting di perusahaan?" bujuk Rexana lembut, menatap wajah tegas pria di sampingnya.
Diedrick menghela napas pendek, akhirnya menyerah. Dia memencet tombol speaker di roda kemudi, menghubungkan panggilan asistennya ke sistem audio mobil.
"Bicara, Mark. Aku sedang mengemudi," ujar Diedrick datar.
Dari balik speaker mobil, suara Asisten Mark terdengar panik luar biasa, terengah-engah seolah-olah dunia baru saja kiamat.
"Tuan Muda Diedrick! Demi Tuhan, Anda ada di mana sekarang?! Tuan Arthur Bond baru saja membocorkan foto ranjang Anda ke seluruh media New York! Beritanya sudah menyebar ke seluruh negeri!"
Deg.
Darah di dalam tubuh Rexana mendadak membeku seketika.
Seluruh persendiannya lemas, napasnya tertahan di kerongkongan.
Di sisi lain kota, di dalam ruang keluarga Mansion Mewah Ashford yang megah dan berbalut interior klasik, atmosfer hangat yang biasanya melingkupi keluarga elit itu luluh lantak digantikan oleh gelombang duka dan amarah.
Parrie Ashford duduk tersungkur di sofa beludru, menangis sesenggukan dengan saputangan sutra yang membasahi pipinya.
Di hadapannya, layar televisi raksasa berukuran delapan puluh inci memajang berita skandal putranya secara berulang-ulang.
Parrie menangis hebat, dadanya naik-turun menahan rasa guncangan batin yang teramat sangat.
Ibu mana yang tidak hancur hatinya menyaksikan putra yang dibesarkannya dengan kebanggaan dan nilai-nilai kehormatan, kini dicap oleh seluruh dunia sebagai pria perebut dan perusak rumah tangga orang lain?
"Kenapa... kenapa harus istri orang lain, Kaetos?!"
Histeris Parrie pecah di dalam ruangan yang sunyi, menatap suaminya dengan mata yang sembab.
"Dari sekian banyak gadis terhormat di New York, kenapa Diedrick justru kepincut pada istri orang?! Apa tidak ada wanita lain di dunia ini?!"
Bagi Parrie, tindakan perselingkuhan—terlebih melibatkan wanita yang masih berstatus istri sah pria lain—adalah sebuah noda hitam yang tak terampuni.
Parrie tidak sanggup membayangkan bagaimana putranya bisa terjebak dalam hubungan terlarang di belakang publik tanpa sepengetahuan mereka.
Kaetos Ashford berdiri kaku di dekat jendela besar, kedua tangannya terkepal kencang di belakang punggungnya.
Wajah tampannya yang matang memerah padam menahan ledakan murka yang siap mencabut nyawa.
Sebagai kepala keluarga Ashford yang sangat dihormati di New York, berita pagi ini merupakan pukulan telak yang meremukkan kebanggaannya.
"Kaetos! Katakan sesuatu!" tangis Parrie makin kencang, memegang lengan suaminya.
"Putramu itu entah mengikuti jejak siapa sampai berbuat sejahat ini pada pernikahan orang lain! Kau harus memberinya hukuman! Kau harus menghukum Diedrick!"
"Dia akan mendapat hukumannya, Parrie," sahut Kaetos dengan suara rendah, berat, dan mencekam hingga ke tulang.
"Panggil Diedrick pulang ke mansion ini sekarang juga. Jika dia tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal atas kehancuran ini... aku sendiri yang akan mencoret namanya dari silsilah keluarga Ashford!"
boleh up lagi gak Thor 🤭
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣