NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA YANG BERHASIL

"Bawa wanita itu ke kamarmu. Jangan lupa ganti pakaiannya. Malam ini biarkan dia istirahat dulu, besok baru kita carikan tabib untuknya," perintah pria paruh baya itu dengan nada tegas.

​"Apa harus aku yang menggantinya? Bukankah ini kurang sopan?" ucap Da Bao dengan ekspresi malu-malu yang dipaksakan.

​Dua orang di hadapannya sontak bergidik ngeri. Mereka lebih baik melihat Da Bao bersikap kasar dan ugal-ugalan seperti biasanya, ketimbang harus menyaksikan pria berandalan itu menampilkan gestur tersipu yang tampak begitu mengerikan.

​Sebenarnya, Shen Munchen juga merasa canggung setengah mati. Namun, apa boleh buat? Ia kini sedang terpaksa memerankan sosok Da Bao. Wajah aslinya yang dulu rupawan kini telah tertutup oleh lebatnya rambut berewok.

​"Apa kau ingin kami yang melakukannya? Kami sih tidak keberatan. Tapi, peluangmu untuk mendapatkan istri pasti bakal tertunda lagi," ledek rekan di sampingnya penuh arti.

​Mendengar ancaman itu, Da Bao langsung berdehem kikuk. "Kalau begitu, biar aku saja. Lagian, aku juga sudah menggendongnya."

​"Baiklah. Malam ini kami tidak akan ikut campur urusanmu. Ingat, besok kita harus menginterogasinya. Jika latar belakangnya bersih dan tidak ada masalah, kau bisa langsung menikahinya."

​"Terima kasih, Ketua... Terima kasih, Paman Li."

​"Sudahlah, kita kan seperti saudara sendiri. Kami pergi dulu. Semoga malammu menyenangkan," ujar Paman Li sambil melangkah pergi diiringi tawa penuh arti.

​Sementara itu, Xiao Luo yang masih berada dalam gendongan Shen Munchen diam-diam merona sekaligus menegang. Jantungnya berdegup kencang karena takut penyamarannya terbongkar.

​Begitu pintu tertutup, Shen Munchen membawa Xiao Luo masuk ke dalam kamar yang remang-remang, lalu segera mengunci pintu rapat-rapat. Sontak, Xiao Luo membuka matanya lebar-lebar dan berniat bangkit.

​"Da Bao... Aku—"

​"Tunggu sebentar. Aku ambilkan pakaianmu dulu," potong Shen Munchen cepat. Beruntung, ia sudah mengantisipasi hal ini dengan membawa buntalan pakaian milik Xiao Luo sejak awal.

​Shen Munchen menyerahkan pakaian itu tanpa berbalik. "Kau bisa ganti baju sekarang. Tenang saja, aku tidak akan melihat."

​Xiao Luo memandangi punggung pria berbadan tegap itu dengan ragu. "Kau... benar-benar tidak akan mengintip, kan?"

​Shen Munchen mendengus pelan, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap berat menutupi kegugupannya. "Apa kau sebegitu tidak percayanya padaku?"

​"Maaf... Aku cuma bercanda. Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu."

​"Hmm."

​Shen Munchen tetap berdiri tegak membelakangi ranjang, menjaga jarak dan pandangannya lurus ke arah dinding kayu yang usang. Di belakangnya, terdengar suara gesekan kain yang bergemerisik pelan di dalam sunyinya malam.

​Beberapa saat kemudian, suasana kembali senyap sebelum akhirnya sebuah suara lembut memecah keheningan.

​"Sudah selesai."

​Shen Munchen perlahan membalikkan tubuhnya. Menatap wanita di hadapannya yang kini tampak lebih baik meski masih menyisakan pucat di wajahnya, ia bertanya dengan nada cemas yang tulus, "Bagaimana kondisimu? Kau... baik-baik saja, kan?"Xiao Luo menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa hangat mulai mengalir kembali ke sekujur tubuhnya setelah berganti dengan pakaian kering yang ia bawa dari dunia modern. Ia menggeleng pelan, meyakinkan pria di hadapannya.

​"Aku baik-baik saja, Da Bao," jawab Xiao Luo dengan suara yang kini jauh lebih stabil. "Hanya sedikit lelah dan kedinginan. Tapi, berendam di air laut tadi benar-benar pengalaman yang tidak ingin kulakukan dua kali seumur hidupku."

​Shen Munchen—yang masih mengenakan jubah kasar beratribut petugas logistik—tersenyum tipis, sorot matanya menyiratkan kelegaan sekaligus rasa terima kasih. Ia menarik sebuah kursi kayu usang dan duduk di dekat ranjang.

​"Kerja bagus," puji Shen Munchen pelan, memastikan suaranya tidak terlalu keras hingga terdengar ke luar bilik. "Aktingmu di depan Paman Li dan yang lainnya tadi sangat natural. Tidak ada celah sedikit pun yang mencurigakan."

​Xiao Luo ikut duduk di tepi ranjang, merapikan helai rambutnya yang masih sedikit lembap. "Tentu saja. Aku sudah membayangkannya berulang-ulang sejak kemarin. Lagi pula, kalau sampai gagal di babak pertama, rencana kita ke depannya pasti akan berantakan."

​Suasana di dalam ruangan kecil itu mendadak hening. Di luar, suara deburan ombak dan angin malam yang menghantam dinding kayu seakan menjadi latar belakang yang sempurna bagi dua orang dari dimensi berbeda ini untuk menyusun langkah berikutnya.

​"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Xiao Luo serius. "Paman Li tadi bilang, besok pagi mereka akan menginterogasiku. Bagaimana kita meyakinkan para petinggi di sini bahwa identitasku sebagai Xin Xia adalah benar?"

​Shen Munchen mengetukkan jarinya pelan di atas meja kayu, berpikir sejenak sebelum menjawab. "Jangan khawatir. Jauh sebelum kamu datang malam ini, aku sudah menemui Tuan Xin dan menceritakan garis besar rencana ini. Beliau sangat mendukung, mengingat mendiang keponakannya memang seusia denganmu dan memiliki perawakan yang tidak jauh berbeda."

​Ia mencondongkan tubuhnya, merendahkan nada bicaranya. "Besok pagi, saat interogasi dimulai, kamu cukup akui bahwa kamu adalah Xin Xia. Ceritakan bahwa keluargamu tewas dalam insiden perampokan kapal dagang beberapa tahun lalu, dan kamu berhasil melarikan diri ke pulau terpencil sebelum akhirnya terdampar lagi di sini. Detail-detail kecilnya sudah dihafal oleh Tuan Xin, jadi beliau akan membenarkan pernyataanmu jika ada yang bertanya."

​Xiao Luo mengangguk paham. "Baiklah, aku akan mengingat skenario itu di luar kepala. Tapi... bagaimana dengan urusan kita setelah ini? Apakah aku akan terus tinggal di gubuk ini bersamamu?"

​Pertanyaan itu membuat Shen Munchen terdiam sedetik. Ia melirik sekeliling kamar sempit itu, lalu kembali menatap Xiao Luo dengan pandangan rumit.

​"Tentu saja tidak di sini," jawab Shen Munchen dengan nada rendah. "Tempat ini terlalu sempit dan sering diawasi oleh petugas lain. Begitu identitasmu sah sebagai Xin Xia, aku akan meminta izin kepada Paman Li untuk memindahkanmu ke kediaman keluarga Xin. Dengan begitu, kamu bisa tinggal dengan layak sekaligus mempermudah akses kita untuk berkoordinasi."

​Xiao Luo merenungkan rencana tersebut. Masuk akal dan jauh lebih aman. Tinggal di dekat keluarga Xin akan memberikan legitimasi sosial yang kuat di pulau pengasingan ini, sekaligus melindunginya dari tatapan curiga para penjaga lain.

​"Ide bagus," sahut Xiao Luo mantap. "Kalau begitu, aku serahkan urusan birokrasinya padamu. Mulai besok, aku resmi menjadi Xin Xia."

​Shen Munchen tersenyum, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan sejak terdampar di tempat terasing ini. "Terima kasih, Xiao Luo. Aku tahu taruhannya terlalu besar bagimu, terutama setelah kamu memutuskan melepas pekerjaanmu di dunia sana."

​Mendengar itu, Xiao Luo mendengus pelan, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman geli. "Pekerjaan itu? Ah, jangan sebut-sebut lagi. Lantai marmer licin dan amukan Nona Liu Ning sudah menjadi masa lalu bagiku. Dibandingkan melayani orang-orang egois di sana, merintis masa depan di sini jauh lebih menantang."

​"Kamu benar-benar wanita yang unik," komentar Shen Munchen diiringi tawa kecil yang tertahan.

​"Tentu saja. Kalau tidak unik, mana mungkin aku bisa tersesat ke dimensi ini dan bekerja sama dengan mantan jenderal," balas Xiao Luo telak.

​Keduanya tertawa kecil pelan, mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan sejak beberapa jam lalu. Kehadiran Xiao Luo di sisi Shen Munchen tidak hanya menjadi kunci penyelamatan bagi keluarga besar mereka, tetapi juga secercah harapan baru di tengah pekatnya malam pengasingan.

​"Sekarang, istirahatlah," ujar Shen Munchen sambil berdiri dan merapikan jaketnya. "Besok pagi hari yang panjang menanti kita. Aku akan berjaga di luar bilik agar tidak ada orang yang usil mendekat."

​"Mau ke mana?" tanya Xiao Luo spontan saat melihat pria itu beranjak.

​"Tentu saja berjaga. Ini bilik khusus penjaga, dan aku harus tetap bersikap profesional di hadapan yang lain agar penyamaran ini sempurna," jawab Shen Munchen dengan seringai tipis.

​Xiao Luo mengangguk pelan. "Baiklah. Selamat malam, Da Bao."

​"Selamat malam, Xin Xia."

​Pintu kayu berderit pelan saat Shen Munchen melangkah keluar, meninggalkan Xiao Luo sendiri di atas ranjang yang hangat. Di dalam kegelapan malam pulau pengasingan itu, babak baru kehidupan Xiao Luo resmi dimulai.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
sabar nyonya tua
kaylla salsabella
hayo jodoh xiao Lou tuan muda atau jendral muchen
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!