Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Suara kebasan cambuk berkepala baja yang menghantam daging berulang kali akhirnya mereda setelah lima menit yang amat menyiksa. Asap tipis dari aroma darah yang pekat melayang di udara lembap ruang eksekusi bawah tanah itu.
Cateline, Helena, dan Hazel terkulai lemas dalam cengkeraman rantai besi. Punggung mereka bertiga hancur, terbalut jalur-jalur luka merona merah kehitaman yang terus meneteskan darah segar ke atas lantai semen. Suara erangan pilu, rintihan napas terengah-engah, dan isak tangis yang kehabisan tenaga bergaung menyayat hati di dalam keheningan.
Arlend berdiri secara perlahan dari kursi kulit mewahnya. Langkah kakinya yang mantap mendekat, menghentikan derap sepatu kulitnya tepat di depan tiga tiang besi tempat mereka terikat.
Dengan jemari tangannya yang tegap dan bersih, Arlend memiringkan kepalanya sedikit. Mata elangnya yang dingin menyapu tubuh tiga wanita yang kini bersimbah darah di bawah kakinya—seseorang yang pernah menganggapnya 'anjing', dan seorang lagi yang tak ia kenali sama sekali.
"Lihat..." pangkas Arlend dengan suara rendah, berat, dan sarat akan nada ejekan yang begitu kejam. "Baru lima menit."
Arlend menyunggingkan senyam miring yang teramat kelam di sudut bibirnya—sebuah senyuman penuh keangkuhan mutlak yang membuat bulu kuduk Gideon sekalipun merinding.
"Kalian merintih bagaikan binatang yang disembelih hanya karena lima menit cambukan tipis ini?" tekan Arlend dengan intonasi tajam beracun, melangkah satu kali memitigasi jarak. "Selama dua tahun... kalian menyiksaku, mencambukku, dan merendahkan harga diriku setiap hari tanpa ampun. Jadi anggap saja ini... baru permulaan dari neraka sejati yang aku siapkan untuk kalian."
Cateline meratapi nasibnya dengan tubuh yang menggigil parah. "T-Tuan Victor... ampun... jangan siksa kami lagi..." cicitnya pasrah dengan bibir pecah bercak darah.
Arlend melirik Gideon dingin. Atas isyarat mata sang Raja Mafia, Gideon segera memutar kunci pengait pada tiang besi.
CRANG! CRANG! CRANG!
Rantai besi berat itu terlepas dan jatuh menghantam lantai. Tubuh Cateline dan Helena seketika ambruk bebas ke atas lantai semen yang dingin bagaikan karung beras yang dibuang. Mereka menjerit menahan sakit yang luar biasa saat punggung mereka yang terluka terbuka menghantam permukaan semen yang kasar.
"Bawa tubuh sampah kalian keluar dari markasku," pangkas Arlend tanpa memandang mereka sedikit pun, menyilangkan kedua tangannya di balik punggung tegapnya. "Pergi."
Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa dan ketakutan mati yang membakar otak mereka, Cateline dan Helena merangkak di atas tanah. Dengan langkah yang terengah-engah, gemetar, dan tertatih-tatih parah, kedua wanita yang biasanya tampil anggun dan sombong itu memaksakan kaki mereka berdiri. Mereka saling memapah satu sama lain dengan linangan air mata dan darah yang mengalir menetes membasahi celana, melangkah pergi keluar dari ruangan itu bagaikan pengemis yang diusir.
Sementara itu, Hazel masih terbaring lemah di atas lantai semen dingin.
Luka cambukan di punggungnya terasa membakar bagaikan disiram air raksa, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan hancurnya hati Hazel. Tubuhnya rampingnya gemetar hebat, peluh dingin membasahi dahinya. Hazel tidak mau berdiri. Ia tidak memiliki dorongan atau tenaga lagi untuk melangkah. Pandangan matanya yang sembap dan berkaca-kaca menatap lurus pada ujung sepatu kulit Arlend.
Kenapa aku harus lari? Ke mana aku harus pergi saat pria yang selalu aku lindungi justru menatapku sebagai musuh? pikir Hazel pilu, enggan menggerakkan kakinya sedikit pun.
Melihat Hazel yang tetap berbaring kaku tak mau bangkit, mata elang Arlend menyempit. Aura kegelapan di sekitar tubuhnya kian pekat dan menusuk. Ia tidak menyukai tatapan penuh luka yang dilayangkan gadis ini padanya—tatapan yang terasa begitu membingungkan dan mengusik sudut hatinya yang sudah membeku.
Arlend melangkah, berdiri persis di samping tubuh Hazel yang terkapar lemas. Ia menundukkan kepalanya, menatap Hazel dari ketinggian dengan raut wajah yang teramat dingin dan angkuh.
"Kau pikir kau punya keistimewaan untuk menetap di sini?" cetus Arlend dengan suara berat yang menekan hingga ke tulang, tanpa sekelumit pun kehangatan Sagara yang dulu.
Hazel memejamkan matanya rapat-rapat, mengabaikan cairan hangat air mata yang kembali menetes melewati pipinya yang pucat. "Bunuh saja aku, Kak... Kalau memang itu bisa memuaskan dendammu..." bisik Hazel lirih dengan suara serak parah.
Arlend terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang menyiratkan kekejaman tanpa batas.
"Membunuhmu?" pangkas Arlend tajam. "Nyawamu tidak secantik itu untuk kuambil di tempatku. Aku tidak butuh drama atau air mata muak dari keluarga Adeline lagi di sini."
Arlend memutar badannya membelakangi Hazel, menyapu jas hitam mewahnya dengan kibasan tangan yang teramat angkuh.
"Pergi dari hadapanku," pangkas Arlend dengan nada suara menusuk yang tak menerima penolakan. "Sebelum aku berubah pikiran dan menyuruh pengawalku melempar tubuh lemasmu itu ke dasar laut."
Arlend menundukkan pandangannya, mengunci mata Hazel dengan pendar bahaya yang kian membara. Senyuman miring yang teramat dingin dan kelam terukir di bibirnya.
"Kau..." bisik Arlend, menatap keteguhan di mata Hazel. "Kau yang menantangku, Gadis Kecil."
Arlend memutar tubuhnya membelakangi Hazel, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan anggun yang teramat angkuh. Kekejamannya sebagai Raja Mafia tak memberikan ruang sedikit pun untuk pengampunan bagi siapa pun yang berani menatapnya dengan pembangkangan.
"Bawa dia ke laut," perintah Arlend tegas pada dua pengawal berbadan raksasa di belakangnya. "Dan ceburkan dia ke tengah samudra."
Arlend berhenti sejenak di ambang pintu, memiringkan wajahnya sedikit tanpa menoleh sepenuhnya pada Hazel yang masih terbaring di lantai.
"Berterima kasihlah padaku..." tekan Arlend dengan nada suara yang begitu dingin, berat, dan menusuk hingga ke tulang. "Karena untukmu... aku berikan kematian yang jauh lebih mudah."
"Bawa dia!" seru Gideon memberi perintah.
Dua pengawal bertubuh tegap langsung melangkah maju. Mereka menyambar kedua lengan Hazel secara kasar, memapah dan menyeret tubuh lemas gadis itu keluar dari ruang eksekusi. Hazel tidak memberontak. Ia hanya menatap punggung tegap Arlend yang kian menjauh dengan air mata yang menetes lirih membasahi pipinya yang pucat.
Hazel dimasukkan secara paksa ke dalam kursi belakang sebuah mobil SUV armor hitam. Pintu mobil ditutup rapat dengan dentuman keras, lalu kendaraan mewah itu melaju kencang meninggalkan markas, membelah malam menuju tebing lautan lepas.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...