Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Sembari menunggu theo, eca mencari obat yang semalam dia beli di minimarket, dengan cemas dia mencari di keliling kamar itu, theopun kembali ke kamar sambil membawa dompet eca yg sudah ditemukan
"Duh...obatnya dimana ya? Males banget kalau balik ke minimarket dan apotek lagi, nenek pasti sendirian nungguin gue" gumam eca
Derap langkah theo terhenti saat mendapati kekacauan kecil di sudut kamarnya. Matanya yang tajam menangkap kegelisahan perempuan itu, sementara tangan kirinya membawa kantung plastik kecil berlogo apotek yang sempat tertinggal di dasbor motor Rian sejak semalam. Gumaman cemas tentang orang tua di rumah itu mau tak mau mengusik relung hatinya, menghidupkan kembali memori saat perempuan itu mengigau ketakutan dalam demam tingginya.
theo melangkah mendekat, melempar kantung obat itu tepat ke samping dompet di ranjang. Ia sengaja mendengus kasar, memasang tampang sedingin mungkin demi mengubur rasa iba yang mendadak melintas.
"Nggak usah obrak-abrik lemari gue kayak tikus kelaparan,"
sindir theo datar seraya memasukkan jemarinya ke saku jins. Rahang tegasnya mengeras sesaat, menatap wajah pucat yang tampak tertekan itu.
"Anak buah gue udah amanin semuanya. Obat lo utuh, dompet lo nggak kurang sepeser pun."
Ia membuang pandangan ke arah jendela, menyembunyikan secercah kelegaan yang enggan ia akui secara terang-terangan.
"Cepat rapikan barang-barang lo. Gue antar lo pulang sekarang sebelum nenek lo mikir cucunya diculik preman."
Eca yang terharu tiba-tiba reflek berlari dan memeluk theo sembari menangis.
"Terimakasih banyak, gue nggak tau musti bilang apa lagi sama lo, gue nggak mau kehilangan nenek gue untuk yang ke 2 kalinya lagi"
Tubuh theo menegang seketika, seolah seluruh persendiannya terkunci mati. Isak tangis yang bergetar di dadanya mengirimkan gelombang panas yang membakar rongga dadanya, mengaburkan udara pagi yang dingin. Kedua tangannya menggantung canggung di udara, bimbang antara mendorong raga rapuh itu menjauh atau membalas rengkuhannya yang terasa teramat tulus.
Setiap tetes air mata yang membasahi kaus tipisnya mengikis habis arogansi yang ia agung-agungkan. theo memejamkan mata sesaat, menelan ludah getir guna meredam ritme jantungnya yang berdentum liar di balik tulang rusuk. Kehangatan yang merayap dari pelukan ini terasa asing, berbahaya, namun anehnya enggan ia sudahi.
Mengembuskan napas panjang nan berat, perlahan satu telapak tangannya yang besar mendarat ragu di punggung perempuan itu, menepuknya kaku sebanyak dua kali.
"Nangis mulu kerja lo, bikin baju gue basah aja,"
gumam theo serak, memalingkan pandangannya ke lorong sepi demi menyembunyikan semburat merah di parasnya. Ia menarik diri perlahan, lalu mencengkeram kedua pundak sang gadis dengan tegas.
"Nenek lo nggak bakal kenapa-kenapa. Sekarang ambil barang lo, kita berangkat."
Eca yang segera mengusap sisa-sisa air matanya sesegera mungkin membereskan barang-barangnya.
"Sorry...lo pasti gak suka ya lihat cewek cengeng gini terus?pasti lu risih ya?"
"Okey, ayo kita berangkat sekarang" ajak eca pada theo
Theo berdeham pelan, menyembunyikan gejolak asing yang sempat memporak-porandakan ketenangannya. Rasa hangat dari tetesan air mata di dadanya masih tertinggal, meninggalkan sensasi aneh yang buru-buru ia abaikan. Lelaki jangkung itu memutar kunci motor besar di jemarinya dengan gerakan lincah, memasang kembali topeng angkuhnya yang sempat retak.
"Bagus kalau lo sadar tampang lo makin jelek pas mewek,"
cetus theo santai, melangkah mendahului menuju pintu utama tanpa menoleh ke belakang.
Udara luar yang dingin langsung menyambut saat ia membuka gerbang samping garasi, memperlihatkan moge hitam legamnya yang terparkir gagah. theo mengambil satu helm cadangan dari rak, lalu menyodorkannya tanpa banyak basa-basi hingga membentur pelan dada gadis itu. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus, mengabaikan debar samar di dadanya sendiri.
"Pakai yang benar. Pegangan yang kencang nanti, gue nggak punya waktu buat bawa motor pelan-pelan."
"Naik motor ini?Gue gak nyampek tau,tinggi banget jok belakangnya"
"Awas ya! Lo jangan ngebut-ngebut takut gue" ucap eca sambil kebingungan untuk menaiki moge milik theo
Theo menghela napas panjang, memasang helm hitamnya sendiri lalu mengancingkan talinya dengan gerakan santai. Rengetan itu terdengar menggelikan di telinganya, mengingatkannya betapa mungil figur perempuan di hadapannya ini jika disandingkan dengan tunggangan kesayangannya. Namun, bayangan wajah pucat gadis itu saat mengigau semalam mendadak melintas, menahan niat theo untuk melontarkan ledekan yang lebih pedas.
Tanpa banyak bicara, theo menaiki motor besarnya lebih dulu. Kakinya yang jenjang menjejak kokoh ke aspal, menahan bobot mesin agar tetap seimbang. Tangan kanannya terulur ke samping, membuka telapak tangannya lebar-lebar tepat di hadapan perempuan itu.
"Injak pijakan kaki sebelah kiri, terus pegang bahu gue. Jangan banyak mikir, buruan naik,"
titah theo dengan suara berat yang teredam kaca helm.
theo menyalakan mesin. Raungan knalpot membelah keheningan pagi, menggetarkan lantai garasi. Meski matanya menatap lurus ke depan, theo sengaja tidak langsung menarik gas, memberi jeda waktu agar penumpangnya bisa bersiap tanpa perlu terjungkal ke belakang.
"Pegangin yang bener, ntar kalau jatuh kita berdua lagi!"
"I-ini...memang condong kedepan gini posisi duduknya? Licin banget lagi dudukan belakangnya, kalau pantatku kepeleset gimana?"
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊