Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Ego Remaja 13.
Embusan napas Reyhan yang hangat di ceruk lehernya perlahan menjauh, namun cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Novia tidak serta-merta mengendur.
Cowok itu menatap Novia untuk sekian detik dengan tatapan yang begitu pekat, seolah ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokannya namun enggan untuk diluncurkan.
Perlahan, dengan sisa kendali diri yang dia kumpulkan dari puing-puing kemarahannya, Reyhan melepaskan cekalannya.
Dia mundur dua langkah. Menjauhkan tubuhnya, mengembalikan jarak dingin yang biasa membentang di antara mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Reyhan berbalik dan berjalan menuju ruang tengah. Langkahnya tidak lagi cepat, melainkan terhuyung oleh beban emosi yang baru saja meledak.
Brak!
Novia terlonjak di tempatnya berdiri.
Bunyi hantaman keras itu bukan berasal dari pintu, melainkan dari tinju mentah Reyhan yang menghantam permukaan tembok granit di dekat sofa.
Cowok itu bertumpu pada tembok dengan kepala tertunduk, bahunya naik-turun menahan napas yang patah-patah.
Novia mematung di ambang pintu kamarnya. Kemarahan yang tadi meletup-letup di dadanya mendadak surut, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke sekujur tubuh.
Matanya melebar menatap cairan merah kental yang mulai menetes dari sela-sela buku jari Reyhan, mengotori lantai granit putih di bawahnya.
Suasana apartemen seketika berubah menjadi sunyi yang mencekam.
Hanya ada suara deru AC dan detak jantung Novia yang berpacu gila.
Perlahan, ego Novia runtuh. Rasa bersalah yang teramat sangat menghunjam dadanya, lebih menyakitkan daripada bentakan-bentakan Reyhan di dalam mobil tadi.
"Rey..." Panggilan Novia hanya berupa bisikan lirih yang langsung lenyap ditelan keheningan.
Reyhan tidak menyahut. Dia tidak menoleh sedikit pun.
Dengan gerakan kaku, cowok itu membalikkan tubuhnya lalu merebahkan diri di atas sofa panjang tanpa melepaskan sepatu atau melonggarkan kemeja sekolahnya yang kusut. Dia memiringkan tubuhnya membelakangi posisi Novia, lalu menarik selimut wol abu-abu hingga menutupi separuh wajahnya.
Novia melangkah pelan dari posisinya, mendekati area ruang tengah dengan ritme kaki yang sengaja disamarkan.
Dia berdiri beberapa meter di belakang sofa, menatap punggung tegap yang kini tampak begitu rapuh dan lelah.
Cowok yang selalu dipuja sebagai sang penyelamat di sekolah, sang ketua OSIS tanpa celah, kini tergeletak tak berdaya di ruang tengah apartemen sepi yang dipaksakan menjadi rumah mereka.
Novia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih.
'Gue keterlaluan' batinnya merutuk.
Kalimat-kalimat tajam yang dia lontarkan tadi kembali terngiang. Dia menuduh Reyhan robot tak berhati, padahal cowok itu baru saja mempertaruhkan seluruh reputasi bersihnya di depan Satpol PP dan guru BK demi melindunginya dari ruang detensi dinas sosial.
Dan tentang Laura... Novia meremas ujung kausnya. Apakah dia punya hak untuk sebut buta emosi seperti itu?, sementara status pernikahan ini hanyalah hitam di atas kertas perjodohan paksa orang tua mereka?
Waktu terus bergulir.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Novia tidak bisa masuk ke kamarnya untuk tidur. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan darah yang menetes dari tangan Reyhan terus membayangi kesadarannya.
Ketika jam dinding digital di sudut ruangan menunjukkan pukul dua dini hari, suasana di luar apartemen mulai diguyur hujan deras.
Gemericik air yang menghantam kaca jendela besar membuat suasana kabin apartemen semakin terasa dingin dan sunyi.
Novia memantapkan hatinya. Dia berjalan ke arah dapur, membuka lemari kabinet atas, dan mengambil kotak P3K plastik berwarna putih dengan lambang palang merah di atasnya. Tangannya agak gemetar saat memegang botol antiseptik, kasa pembalut, dan salep luka.
Dengan langkah super hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Novia melangkah mendekati sofa tempat Reyhan berbaring.
Napas cowok itu terdengar sudah teratur dan berat, menandakan bahwa dia telah terlelap ke dalam tidur yang melelahkan akibat terkurasnya emosi sepanjang hari.
Novia berlutut di lantai samping sofa, menyejajarkan tubuhnya dengan posisi Reyhan. Wajah cowok itu saat tidur terlihat sangat berbeda. Garis rahangnya yang biasa mengeras kini tampak lebih rileks, meskipun guratan lelah di area bawah matanya tidak bisa disembunyikan.
Pandangan Novia turun ke bawah selimut.
Tangan kanan Reyhan yang terluka terkulai di atas permukaan luar selimut, seolah sengaja dibiarkan agar tidak bergesekan dengan kain. Kondisinya tampak mengenaskan.
Buku-buku jarinya bengkak, memar kebiruan, dengan sisa darah kering yang mulai mengeras di pinggirannya.
Novia menahan napasnya sejenak. Dengan gerakan yang sangat lambat, dia membuka tutup botol antiseptik. Dia menuangkan sedikit cairan itu ke atas selembar kapas steril.
"Maaf," bisik Novia teramat lirih, hampir tak terdengar di antara deru suara hujan di luar.
Dia mengulurkan tangannya, bersiap menempelkan kapas itu ke luka di tangan Reyhan. Tepat ketika ujung kapas yang dingin menyentuh kulit luar buku jari Reyhan yang terluka, kelopak mata cowok itu bergerak sedikit.
Novia menghentikan gerakannya seketika. Jantungnya mencelos ke lambung.
Dia menahan napas, menatap cemas ke arah wajah Reyhan, menunggu apakah cowok itu akan terbangun dan kembali membentaknya, atau justru membiarkannya menyelesaikan apa yang seharusnya dia lakukan sejak awal.
......................
...****************...
Tbc,