NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - TANDA KEBERADAAN MANUSIA LAIN

Hawa dingin fajar di persimpangan jalan komersial Distrik Barat perlahan menyapu permukaan pelataran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Luna bergerak menyeberang jalan raya dengan langkah siluman, memanfaatkan bayangan bangkai truk tangki yang melintang sebagai peneduh pergerakannya. Di belakangnya, Steve menyusul dengan kewaspadaan penuh, mengamati celah atap seng kanopi SPBU yang berkarat dengan pipa besi tebal siap mengayun di genggaman tangannya.

Suasana di area SPBU itu nampak hening membisu. Keempat mesin dispenser pengisian bahan bakar berdiri kaku di atas fondasi semen, sementara pintu kaca minimarket di bagian belakang telah hancur berantakan. Namun, bau khas yang tercium di udara bukan hanya sekadar aroma bensin basi atau debu tanah kering, melainkan ada sengatan samar asap kayu terbakar yang belum sepenuhnya sirna oleh embusan angin pagi.

"Bau asapnya datang dari arah lorong belakang minimarket ini, Luna," bisik Steve seraya menunjuk sudut bangunan menggunakan ujung pipa besinya.

Luna mengangguk halus, mengisyaratkan Steve untuk tetap berada di garis kanan perlindungan. Dengan busur recurve yang sudah terpasang anak panah di tali sangkutnya, mantan taruna itu melangkah perlahan mengitari dinding luar minimarket SPBU. Sepatu taktisnya menapak tanpa suara di atas permukaan semen yang tertutup lapisan pasir tipis.

Saat keduanya memutari sudut belakang bangunan—sebuah area tersembunyi yang terlindung dari pandangan jalan raya utama oleh tumpukan wadah sampah besi besar—sebuah pemandangan mencolok langsung menyapa indra penglihatan mereka.

Di tengah sudut pelataran belakang yang teduh itu, terdapat lingkaran susunan batu bata merah yang ditata rapi. Di dalam lingkaran batu tersebut, tertumpuk sisa-sisa arang kayu hitam dan abu pembakaran yang masih meninggalkan jejak jelaga pekat.

Luna berlutut pelan di samping batu bata tersebut. Ia melepas sarung tangan taktisnya, mengulurkan dua jarinya mendekati tumpukan abu di bagian tengah tanpa menyentuhnya secara langsung.

"Masih ada sisa hawa hangat dari dasar arangnya," kata Luna dengan vokal berbisik yang amat tenang.

"Api ini tidak dibakar beberapa hari lalu. Seseorang menyalakannya tadi malam dan baru memadamkannya dengan siraman air sedikit menjelang subuh," lanjut Luna memberikan analisis taktis yang presisi.

Steve menyusul berlutut di sisi lain lingkaran batu, matanya yang tajam menyapu setiap detail benda yang berserakan di sekitar tempat pembakaran tersebut.

"Lihat ini, Luna," panggil Steve seraya memungut sebuah kaleng makanan kosong yang penyok dari balik tumpukan sampah.

Kaleng bekas makanan kornet daging itu tampak masih bersih dari karat, dengan garis potongan penutup yang sangat rapi menggunakan alat pembuka kaleng modern. Di sampingnya, berserakan tiga buah bungkus plastik makanan siap saji militer bertuliskan sandi produksi instrumen logistik standar.

"Ini bukan sisa makanan warga lokal yang panik," gumam Steve seraya mengamati bungkus plastik tersebut dengan kening berkerut.

"Ransel logistik standar seperti ini biasanya cuma dimiliki oleh unit militer, petugas keamanan swasta, atau kelompok penyintas yang punya persenjataan dan jaringan pasokan yang sangat rapi," tambah Steve memberikan penilaian logisnya.

Luna memanjangkan pengamatannya ke dinding semen minimarket di balik tempat pembakaran. Di atas permukaan semen berwarna abu-abu itu, terdapat torehan simbol garis silang bercat semprot hitam dengan tulisan angka "04" di bagian tengahnya. Cat semprot itu bahkan tampak masih agak berkilat, menandakan goresannya belum lama mengering.

"Mereka menandai wilayah ini sebagai pos persinggahan sementara atau jalur patroli rutin," kata Luna seraya menunjuk garis silang tersebut.

"Angka nol empat ini kemungkinan besar adalah kode identifikasi kelompok atau penanda wilayah operasional mereka di Distrik Barat," lanjut Luna menerangkan.

Steve berdiri tegap, mencengkeram erat pipa besinya seraya menyapu pandangan ke arah pintu darurat belakang minimarket yang agak terbuka sedikit.

"Menurutmu, berapa orang yang berkumpul di sini tadi malam?" tanya Steve penuh perhatian.

Luna mengamati deretan jejak sepatu bot bergigi dalam yang bertebaran di atas tanah berpasir di sekitar tempat pembakaran. Ia menghitung variasi ukuran pijakan, arah garis gesekan sol, serta jumlah bekas dudukan di atas peti kayu terdekat.

"Paling sedikit ada lima sampai enam orang," jawab Luna mantap seraya mendongak menatap Steve.

"Mereka semua memakai sepatu bot taktis berbobot berat. Dari sudut tumpukan sisa kayu dan selongsong peluru kosong ukuran sembilan milimeter di pojokan itu, mereka sangat terlatih dan bersenjata api," jelas Luna membeberkan bukti-bukti fisik di lapangan.

Steve melangkah mendekati sudut tumpukan peti, memungut satu selongsong peluru kuningan kecil yang berkilat diterpa sinar matahari fajar. Pria berbadan tegap itu mengamati ukiran angka di dasar selongsong tersebut sebelum mengantonginya.

"Penyintas bersenjata api adalah ancaman yang jauh lebih sulit diprediksi daripada rombongan 'Toge Mentah'," kata Steve seraya menyunggingkan senyum tegar, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak meningkat di antara mereka.

"Zombie berkepala jamur itu cuma bergerak pakai naluri lapar, tapi kelompok manusia bersenjata seperti ini punya taktik, posisi tembak, dan rasa haus akan pasokan logistik yang bisa bikin mereka menembak siapa saja tanpa bertanya," tambah Steve membumikan analisisnya.

Luna berdiri dari posisinya, membetulkan pegangan busur recurve-nya seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh kehangatan dan rasa percaya pada rekan di sampingnya.

"Tapi kita tidak bergerak tanpa taktik, Steve. Kita punya posisi tersembunyi, keahlian navigasi Nancy, dan kendaraan armor Onad," balas Luna lembut, memberikan suntikan dorongan moral yang kuat.

Steve menatap mata kelam Luna, menyerap ketenangan jiwa dari kepemimpinan sang taruna yang selalu berhasil menjaga stabilitas mental seluruh tim. Chemistry yang kian erat di antara mereka berdua membuat kewaspadaan tinggi ini terasa tidak melumpuhkan, melainkan justru mengasah fokus tempur mereka.

Luna merogoh saku rompinya, mengeluarkan unit walkie-talkie berdaya rendah yang telah disesuaikan frekuensinya oleh Nancy. Ia menekan tombol bicara seraya mendekatkan mikrofón ke bibirnya.

"Luna memanggil Nancy. Apakah posisimu aman?" bisik Luna dengan suara yang sangat rendah.

Suara desis frekuensi radio terdengar halus sebelum vokal jernih Nancy menyahut dari balik speaker kecil.

"Nancy di sini, Luna. Posisi truk Onad aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar jalan utama tempat kami berhenti. Bagaimana situasi patroli kalian?" tanya Nancy penuh rasa cemas yang tertahan.

"Kami menemukan bekas tempat perkemahan sementara di belakang SPBU," panggil Luna melaporkan temuan lapangan.

"Abu pembakarannya masih hangat. Ada sisa logistik militer, selongsong peluru sembilan milimeter, dan penanda cat semprot kode '04'. Ada kelompok asing bersenjata yang baru saja meninggalkan tempat ini beberapa jam lalu," papar Luna mendetail.

Terdengar hembusan napas kaget dari Nancy di ujung frekuensi radio, disusul suara bisikan samar Onad yang terkejut dari balik kabin.

"Kode '04'..." gumam Nancy di radio seraya terdengar suara gesekan jemarinya di atas layar tablet digital.

"Aku sedang memindai gelombang radio terenkripsi di Distrik Barat. Sejauh ini belum ada lalu lintas suara yang bocor di frekuensi umum, tapi keberadaan mereka berarti area SPBU ini adalah wilayah jelajah aktif," saran Nancy memberikan kewaspadaan intelijen.

"Onad, bagaimana dengan kesiapan alat penguras bahan bakar?" tanya Luna mengalihkan komunikasi.

Suara Onad mendadak menyahut di radio, vokalnya yang biasanya penuh lelucon kini terdengar jauh lebih serius walau tetap menyisakan gaya khasnya.

"Eke sudah siapkan dua selang spiral bertekanan sama empat jeriken besi lima puluh liter di bak belakang, Jeng Luna!" sahut Onad dari radio.

"Truk tangki merah putih di pelataran SPBU itu kunci keselamatan mobil ganteng Eke. Kalau kita bisa amankan solarnya tanpa memicu perhatian kelompok asing itu, kita bisa tancap gas secepatnya!" lanjut Onad bersemangat.

Luna menatap Steve yang mengangguk mantap di sisinya.

"Dengar, Nancy," instruksi Luna tegas melalui radio.

"Bawa truk Onad merapat perlahan ke pelataran samping SPBU ini. Gunakan jalur bawah pohon peneduh agar tidak terlihat mencolok dari kejauhan. Endru dan Onad tetap jaga kewaspadaan barikade bak truk, sementara Steve dan aku akan mengamankan kran buangan truk tangki solar," perintah Luna merancang strategi eksekusi.

"Diterima, Komandan. Kami bergerak ke posisimu sekarang," tutup Nancy seraya mengakhiri sambungan radio.

Luna memasukkan kembali walkie-talkie ke sakunya, lalu berpaling menatap Steve dengan pandangan kepemimpinan yang penuh kehangatan.

"Kita amankan solarnya dengan cepat dan rapi, Steve. Sebelum kelompok pembuat abu hangat ini memutuskan untuk kembali ke pos mereka," kata Luna tegas.

"Siap laksanakan, Komandan. Pipa besi dan bahuku siap jadi benteng utamamu," balas Steve seraya menyunggingkan senyum khasnya yang menenangkan.

Di belakang minimarket SPBU yang dipenuhi tanda-tanda keberadaan manusia asing itu, Luna dan Steve berdiri siap dalam posisi taktis penuh, menyatukan kekuatan dan rasa saling percaya untuk memandu seluruh tim mereka melewati marabahaya baru di Kota Mati Cordyceps.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!