Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.Perdebatan
"Tuan Sean, Anda bisa mendengar saya? Tolong jangan memejamkan mata," ucap Tera sambil menepuk-nepuk pipi Sean dengan cemas.
Napasnya terengah-engah. Tubuh pria ini sangat tegap dan berat, jauh melampaui kapasitas fisik rata-rata Tera yang bertubuh ramping.
"Buka matamu! Jangan berani-berani pingsan di sini! Aku baru saja mempertaruhkan nyawaku untuk menarik mu dari bom berjalan itu!"
Kelopak mata Sean bergerak samar. Sepasang manik mata gelap yang tajam itu mengerjap perlahan, mencoba memfokuskan pandangan di tengah rasa pening yang hebat akibat benturan.
Wajah pertama yang dia lihat adalah seorang gadis muda dengan napas memburu, pelipis yang lecet, dan sepasang mata bulat yang memancarkan kecerdasan sekaligus kekhawatiran yang amat sangat.
"Kau_" suara Sean terdengar sangat serak, nyaris tenggelam oleh suara gemeretak api dari mobilnya yang hangus.
"Iya, ini aku! Dokter yang akan menyelamatkan nyawamu kalau kau mau bekerja sama!" cetus Tera ceplas-ceplos. Tanpa membuang waktu, Tera menyusupkan lengan kanan Sean ke atas pundaknya.
"Ayo berdiri! Kita harus segera menjauh sebelum tangki cadangan mobilmu ikut meledak!"
Tera mengerahkan seluruh tenaga yang dia miliki.
Kakinya yang hanya terbalut sepatu flat murah terasa lecet dan perih, tetapi dia mengabaikan rasa sakit itu.
Dengan tubuh yang gemetar menahan beban Sean yang tingginya hampir seratus sembilan puluh sentimeter, Tera berhasil membawa pria itu berdiri.
Sean, meskipun lemas dan terluka, mencoba bertumpu pada kakinya sendiri agar tidak sepenuhnya membebani gadis asing yang mendadak muncul bagai malaikat pelindung ini.
Mereka tertatih-tatih naik kembali ke bahu jalan raya di atas jembatan. Tera menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalanan ini sepi, tetapi beberapa ratus meter di depan, sebuah mobil MPV keluarga berwarna silver tampak melaju dengan kecepatan sedang.
Tanpa ragu-ragu, Tera berdiri di tengah jalan. Dia melambai-lambaikan tangan kirinya dengan panik, sementara tangan kanannya tetap mengunci pinggang Sean agar pria itu tidak ambruk.
"Stop! Tolong! Ada korban kecelakaan!" teriak Tera sekuat tenaga.
Mobil silver itu mengerem mendadak, menyisakan bunyi decitan ban yang memilukan di atas aspal.
Sang pengemudi, seorang pria paruh baya, membuka kaca jendela dengan wajah panik sekaligus curiga melihat dua orang bersimbah darah di tepi jalan.
"Ada apa, Mbak?!"
"Pak, tolong kami! Mobil pria ini baru saja meledak di bawah jembatan. Dia butuh pertolongan medis segera. Tolong antarkan kami ke rumah sakit!" mohon Tera dengan tatapan memelas yang sangat meyakinkan.
Melihat kondisi Sean yang mengerikan dengan darah di kepalanya, rasa kemanusiaan sang sopir akhirnya mengalahkan rasa takutnya.
"Naik ke belakang, Mbak! Cepat!"
Tera dengan susah payah memapah Sean masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Begitu pintu tertutup dan mobil melaju, Tera langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Sean, tindakan refleks seorang dokter.
Namun, begitu jari-jarinya nempel pada kulit Sean, sensasi hangat yang aneh itu kembali mendesir di sepanjang lengannya.
Pria itu menghela napas panjang, seolah rasa sakit di kepalanya mendadak berkurang drastis begitu tangan Tera menyentuhnya.
"Pak Sopir," seru Tera ke depan. "Tolong ambil jalur kiri di perempatan depan. Kita ke Rumah Sakit Medika Sehat. Itu rumah sakit tipe C terdekat dari sini, jaraknya hanya sepuluh menit. Lukanya harus segera dijahit dan dia butuh pemindaian CT-scan ringan untuk memastikan tidak ada pendarahan di dalam kepalanya."
Mendengar instruksi Tera, Sean yang bersandar di jok mobil tiba-tiba membuka matanya sepenuhnya.
Meskipun wajahnya pucat, aura angkuh dan berwibawa dari seorang penguasa bisnis tidak hilang sedikit pun.
"Tidak," potong Sean dengan suara rendah namun dingin dan penuh penekanan.
"Jangan ke sana. Jalan terus. Masuk ke jalan tol utama."
Tera mengerutkan keningnya, menatap Sean dengan pandangan tidak percaya.
"Apa kamu bilang? Tidak? Tuan Sean yang terhormat, kepalamu itu sedang meneteskan darah dan merusak jok mobil orang lain! Kamu butuh penanganan darurat segera!"
"Jalan lurus, Pak," ulang Sean kepada sopir, sama sekali mengabaikan protes Tera.
"Antarkan saya ke Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa di pusat kota."
Sopir mobil tampak kebingungan, melirik dari kaca spion tengah. "Mm_ yang mana yang benar ini, Mas, Mbak? Rumah sakit internasional itu jaraknya hampir satu jam dari sini, apalagi kalau macet."
"Satu jam?!" Tera langsung meledak.
Dia berbalik sepenuhnya menghadap Sean, menatap pria itu seolah dia baru saja kehilangan akal sehatnya.
"Kamu ini bodoh atau bagaimana, sih? Di dalam dunia medis, ada yang namanya golden hour! Waktu emas untuk menyelamatkan nyawa pasien! Kamu mau mati kehabisan darah di tengah jalan hanya demi gengsi masuk rumah sakit internasional kelas atas? Pikirkan keselamatanmu, Tuan Keras Kepala!"
Sean menatap Tera datar. Di mata orang lain, bentakan Tera mungkin adalah tiket gratis menuju kehancuran karier atau bahkan nyawa, mengingat siapa Sean sebenarnya.
Namun, di mata Sean, keberanian gadis ini justru terlihat sangat menggelikan.
"Saya tidak akan mati hanya karena luka kecil ini," jawab Sean tenang, meskipun suaranya masih sedikit lemah. "Dan saya tidak bisa dirawat di rumah sakit sembarangan yang fasilitasnya tidak memadai untuk_, kondisi saya."
"Kondisi apa? Kondisi keangkuhan tingkat tinggi?" balas Tera menyambar perkataan Swan begitu saja.
"Dengar ya, menjahit luka robek di kepala itu keahlian dasar semua dokter umum, bahkan anak koas pun bisa! Kamu tidak perlu dokter spesialis lulusan Harvard hanya untuk menempelkan perban di jidatmu itu!"
Sang sopir yang mendengarkan perdebatan itu hanya bisa menelan ludah. Baru kali ini dia melihat ada seorang gadis berani memarahi seorang pria berpenampilan elite dengan kata-kata se kasar itu di tengah situasi hidup dan mati.
"Fasilitas di sana lengkap," kata Sean lagi, menutup matanya seolah enggan berdebat lebih panjang.
"Dan itu rumah sakit rekomendasi. Pak Sopir, jalan terus. Saya akan membayar Anda sepuluh kali lipat dari harga sewa mobil ini untuk satu jam perjalanan."
Mendengar kata "membayar sepuluh kali lipat", mata sang sopir langsung berbinar. "Baik, Mas! Siap! Kita langsung meluncur ke pusat kota!"
Tera hanya bisa menepuk dahinya sendiri dengan frustrasi.
"Hebat. Luar biasa. Kekuasaan uang memang selalu menang," gerutu Tera ketus. Dia melipat tangannya di dada, cemberut sambil menatap ke luar jendela.
"Jangan salahkan aku ya kalau di tengah jalan kamu tiba-tiba pingsan dan aku terpaksa melakukan tindakan darurat pakai pulpen atau pisau lipat seadanya."
Sean tidak membalas, tetapi sudut atas bibirnya yang berdarah terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar.
Sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terasa rusak dan kacau, perlahan-lahan mulai merasakan ketenangan yang belum pernah dia rasakan selama bertahun-tahun.
Dan dia tahu pasti, sumber ketenangan itu berada tepat di sampingnya.
Yuk komen dulu sebelum lanjut.
sean anaknya siapa ini?