Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : RUMOR YANG MEMBUAT LAURA TERDIAM
Pagi itu, suasana rumah singgah terasa lebih tenang dari biasanya. Laura sedang duduk di ruang tengah sambil membaca beberapa catatan kuliahnya. Sesekali dia menandai bagian penting dengan pulpen, berusaha berkonsentrasi meskipun pikirannya masih teringat pada banyaknya hadiah yang diberikan Hero kepadanya kemarin.
Laura tanpa sadar tersenyum kecil ketika mengingat wajah Hero yang begitu serius saat mengatakan bahwa dia hanya ingin melihatnya tersenyum.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama, salah seorang pelayan datang menghampiri Laura dengan wajah sedikit ragu. Setelah berdiri beberapa langkah di depannya, pelayan itu menundukkan kepala dengan sopan.
“Nona Laura, ada seorang wanita yang datang dan ingin bertemu dengan Anda,” ujarnya.
Laura mengangkat wajah dari catatannya. “Seorang wanita? Siapa?”
“Saya kurang tahu, Nona. Dia mengatakan namanya Aurel dan ingin berbicara langsung dengan Anda.”
Nama itu membuat Laura terdiam sesaat.“Aurel?”
“Iya, Nona. Dia mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan mengenai Tuan Hero.”
Jantung Laura terasa sedikit berdebar mendengar nama Hero disebut. dia menutup buku di tangannya dan berdiri.
“Baik. Suruh dia masuk.” kata Laura dengan raut wajah penasaran.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita masuk ke ruang tengah. Penampilannya terlihat anggun dan rapi. Dari cara berjalan dan sikapnya, Laura bisa melihat bahwa wanita itu bukan orang sembarangan.
Aurel berhenti beberapa langkah di depan Laura dan menatapnya dari atas sampai bawah. Tatapan itu membuat Laura merasa sedikit tidak nyaman.
“Kamu Laura?” tanya Aurel akhirnya.
Laura mengangguk pelan. “Iya. Kamu Aurel?”
Aurel tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak terlihat ramah. “Jadi benar kamu yang tinggal di sini.”
Laura semakin bingung. “Maksudmu?”
Aurel tidak langsung menjawab dia justru melihat sekeliling rumah sebelum kembali menatap Laura.“Aku datang karena ingin melihat sendiri wanita yang akhir-akhir ini dekat dengan Hero.”
Laura diam sebentar dan dia tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini Hero tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa ada seorang wanita bernama Aurel yang memiliki hubungan khusus dengannya.
“Dekat dengan Hero?” ulang Laura pelan.
Aurel mengangguk. “Aku kira kamu sudah tahu.”
Laura menatapnya dengan wajah bingung. “Aku tidak mengerti.”
Aurel kemudian menarik napas sebelum berkata, “Aku adalah tunangan Hero.”
Kalimat itu membuat Laura benar-benar kehilangan kata-kata.
Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri diam sambil menatap Aurel. Pikiran Laura seakan berhenti bekerja. dia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari wanita yang baru pertama kali ditemuinya.
“Tunangan... Hero?” tanya Laura akhirnya dengan suara lirih.
“Iya,” jawab Aurel tenang. “Itulah sebabnya aku datang ke sini.”
Laura menundukkan pandangan. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. dia ingin menyangkal perkataan Aurel, tetapi di sisi lain dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum dirinya bertemu Hero.
Aurel kemudian kembali memperhatikan Laura.“Aku juga sudah mendengar tentangmu. Kamu masih kuliah, bukan?”
Laura mengangguk perlahan. “Iya.”
“Berarti kamu masih anak kuliahan.” kata Aurel dengan sinis.
Nada suara Aurel terdengar seperti sedang menilai nya. Laura tidak menjawab dia hanya menatap Aurel dengan tenang meskipun pikirannya semakin kacau.
Aurel menyilangkan tangannya di depan dada. “Menurutku, kamu belum pantas berada di posisi seperti ini.”
Laura mengangkat wajahnya.“Belum pantas?”
Aurel mengangguk. “Kamu masih terlalu muda dan masih sibuk dengan kuliahmu. Sementara Hero punya banyak urusan dan tanggung jawab. Menurutmu, bagaimana mungkin hubungan seperti itu bisa berjalan?”
Setiap perkataan Aurel terasa mengganggu pikirannya. Bukan karena dia langsung mempercayainya, tetapi karena Aurel berbicara seolah-olah memiliki hubungan yang sudah lama dengan Hero.
“Aku tidak datang untuk bertengkar denganmu,” lanjut Aurel. “Aku hanya ingin mengingatkan bahwa tidak semua hal yang kamu dengar dari Hero harus kamu percayai begitu saja.”
Laura menggenggam ujung bajunya tanpa sadar dia ingin bertanya lebih banyak, tetapi sesuatu di dalam dirinya menahannya.
Aurel kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu Sebelum pergi, dia sempat menoleh sekali lagi kepada Laura.
“Pikirkan baik-baik apa yang sedang kamu jalani, Laura. Kamu masih punya masa depan yang panjang. Jangan sampai keputusanmu sekarang membuatmu menyesal nanti.”
Setelah mengatakan itu, Aurel pergi meninggalkan rumah, Laura tetap berdiri di tempatnya.
Pintu yang baru saja tertutup membuat ruang tengah terasa jauh lebih sunyi. dia perlahan kembali duduk di sofa, tetapi buku yang tadi ingin dibacanya sudah tidak menarik perhatiannya lagi.
Pikirannya hanya dipenuhi satu kalimat."aku adalah tunangan Hero".
Laura menundukkan kepalanya.“Benarkah...?” gumamnya pelan.
dia mencoba mengingat semua yang pernah Hero katakan kepadanya. Hero selalu menunjukkan perhatian yang begitu besar. hero juga berkali-kali mengatakan bahwa Laura adalah mempelainya.
Namun, tidak pernah sekalipun Hero bercerita tentang Aurel, Laura menarik napas panjang.
Ada dorongan untuk langsung menghubungi Hero dan menanyakan semuanya. Namun, tangannya yang sudah mengambil ponsel kembali berhenti.
dia tidak ingin bertanya setidaknya, belum sekarang.“Kalau memang benar, kenapa Hero tidak pernah memberitahuku?” bisik Laura sambil menatap layar ponselnya.
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Laura tahu seharusnya ia mendapatkan jawaban langsung dari Hero. Tetapi untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, dia merasa ragu untuk bertanya.
Bukan karena dia tidak percaya kepada Hero sepenuhnya. melainkan karena dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menyakitinya.
Laura akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja.“Aku tidak akan bertanya kepada Hero dulu.”
dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kedatangan Aurel mungkin hanya sebuah kesalahpahaman, tetapi semakin dia mencoba melupakannya, semakin jelas suara Aurel terdengar di dalam pikirannya.
“Aku adalah tunangan Hero.”
Malam itu, ketika Hero belum juga pulang, Laura masih duduk sendirian di kamar.
Untuk pertama kalinya, senyum yang biasanya muncul setiap kali mengingat Hero tidak terlihat di wajahnya.
Ada sebuah rumor yang belum ia ketahui kebenarannya dan tanpa Hero sadari, kedatangan Aurel hari itu telah membuat Laura mulai mempertanyakan hubungan mereka.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯