Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 25
Kenzie menatap Yuri dengan matanya yang bulat jernih, lalu tiba-tiba mengulurkan kedua tangan mungilnya ke arah Yuri seraya mengedipkan mata dengan polosnya.
"Tante Cantik... mau gendong Kenzie dong! Papi keberatan, kasihan Papi udah capek!" berceloteh bocah itu tanpa rasa canggung sedikit pun.
Adhiyaksa tertawa renyah, merapikan letak kacamatanya sambil geleng-geleng kepala.
"Aduh, Kenzie... kamu ini baru ketemu Tante Yuri langsung manja begini. Jangan merepotkan Tante Yuri, Nak."
"Nggak apa-apa, Mas Adhi," sahut Yuri dengan binar mata yang mendadak melunak hangat. Ia mengambil alih Kenzie ke dalam pelukannya. Anehnya, rasa sesak dan amarah yang sempat membakar dadanya gara-gara tingkah Sandra seketika menguap begitu menyentuh pipi gembul anak itu.
"Aduh, pinter banget sih Kenzie... Wangi lagi! Kenzie ke sini sama Tante Reina, ya?"
"Iya, Tante!" seru Kenzie antusias seraya memeluk leher Yuri erat-erat.
"Tadi di jalan Kenzie lihat dinosaurus besar! Terus Kenzie bilang sama Tante Reina, mau pamer ke Papi! Papi tadi janji mau ajak Kenzie beli es krim!"
Reina, adik Adhiyaksa, tertawa kecil seraya mendekat dan mengusap bahu keponakannya.
"Maaf ya Mbak Yuri, anak ini kalau udah ketemu Papinya memang mendadak aktif seribu persen. Dari tadi di mobil ngoceh terus nanyain Papinya lagi rapat sama siapa."
"Iya Mbak Reina, sama sekali nggak mengganggu kok," balas Yuri tulus, tersenyum manis ke arah Reina.
Ajeng yang berdiri di balik meja bar tak sanggup lagi menahan rasa gemasnya. Ia membawa nampan berisi satu cangkir cokelat panas dengan ukiran foam berlampis marshmallow lucu di atasnya.
"Aduh, anak ganteng calon bos masa depan!" puji Ajeng heboh, menaruh cangkir cokelat itu di meja kayu tempat Yuri dan Adhiyaksa duduk tadi.
"Nih, Tante Ajeng racikin cokelat panas spesial pakai marshmallow karakter dinosaurus buat Kenzie!"
Mata Kenzie seketika membelalak lebar, memekik gembira di dalam dekapan Yuri.
"WAAAH! Dinosaurus! Papi, lihat! Ada dinosaurus di dalam gelas!"
Adhiyaksa tersenyum tipis, memandu Yuri untuk duduk kembali di kursi seraya mengusap lembut kepala putranya.
"Ucapin apa sama Tante Ajeng dan Tante Yuri, Nak?"
"Makasih Tante Cantik Ajeng! Makasih Tante Cantik Yuri!" seru Kenzie polos dengan nada menggebu-gebu, membuat mereka semua di meja itu tertawa renyah.
Kenzie duduk di pangkuan Yuri dengan sangat nyaman, menyuap marshmallow dengan sendok kecilnya. Tangan kecilnya sesekali menyentuh pipi Yuri.
"Tante Yuri... Tante Yuri temannya Papi ya? Tante kok cantik banget sih? Wangi bunga kayak Mama..."
Kata 'Mama' yang meluncur polos dari bibir bocah enam tahun itu sempat membuat suasana meja mendadak hening sejenak. Adhiyaksa menghentikan ketukan jarinya di atas meja, menatap putranya dengan sorot mata yang sarat akan rasa haru namun tetap tegar.
"Kenzie..." panggil Adhiyaksa lembut.
"Tante Yuri ini teman Papi yang sangat hebat. Hari ini Tante Yuri lagi ada urusan penting sama Papi."
Reina mengusap lengan abangnya pelan, lalu menoleh ke Yuri dengan tatapan ramah. "Mbak Yuri, Mbak tak usah canggung ya. Sejak almarhumah mbak ipar meninggal dua tahun lalu, Kenzie memang jarang banget mau dekat sama perempuan asing. Baru kali ini dia mendadak manja dan mau digendong begini. Sepertinya Kenzie nyaman banget sama Mbak."
Yuri merapikan poni Kenzie yang sedikit menutupi dahi bocah itu dengan penuh kasih sayang.
"Saya juga senang banget ketemu Kenzie, Mbak Reina. Rasanya adem banget dengar celotehnya."
"Papi!" Kenzie mendongak, menatap Adhiyaksa dengan ekspresi menuntut yang menggemaskan.
"Nanti Tante Yuri ikut kita beli es krim kan? Katanya Papi mau beli es krim yang banyak!"
Adhiyaksa tertawa pelan, membetulkan posisi duduknya lalu menatap Yuri dengan binar mata tegas yang kembali profesional, namun terselip kehangatan implisit di dalamnya.
Adhiyaksa memandang Yuri dan Kenzie dengan binar mata yang melunak hangat.
"Bagaimana, Mbak Yuri? Janji es krim untuk Kenzie ini sepertinya butuh kepastian dari jagoannya langsung," goda Adhiyaksa pelan, memberikan ruang bagi Yuri untuk sejenak lepas dari himpitan dendam.
Yuri menunduk, menatap wajah polos Kenzie yang menengadah menantikannya dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Usapan jemari kecil Kenzie di pipinya terasa begitu tulus dan hangat, sebuah sentuhan tanpa kepalsuan yang sudah sekian lama tak Yuri rasakan dari siapa pun.
Anehnya, setiap kepalan emosi, rasa sesak di dada, serta bayang-bayang kebusukan Abimana dan Sandra yang sempat membakar pikirannya, perlahan-lahan luruh. Kehadiran bocah enam tahun ini bagaikan oase di tengah gurun amarahnya. Mengisi ulang energinya yang sempat terkuras, menggantikannya dengan ketenangan jiwa yang begitu dalam dan mantap.
"Tentu saja Tante ikut, Kenzie..." jawab Yuri lembut seraya tersenyum amat manis, mengusap pipi gembul Kenzie dengan kasih sayang yang meluap.
"Tante mau beli es krim yang paling besar sama Kenzie dan Papi."
"HURAAAY! Janji ya, Tante!" pekik Kenzie gembira, melingkarkan kembali kedua lengan mungilnya di leher Yuri dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu dengan manja.
Yuri memeluk tubuh kecil itu erat-erat, memejamkan matanya sejenak untuk menghirup aroma minyak telon dan bedak bayi yang menenangkan dari tubuh Kenzie. Hatinya yang dulu sempat beku dan penuh dendam mendadak merasa utuh kembali. Ia sadar, perjuangan ini bukan hanya untuk membalas sakit hatinya, melainkan untuk membela harga dirinya agar ia bisa melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bahagia, mungkin bersama orang-orang yang tulus seperti mereka.
Reina yang memperhatikan dari samping tersenyum haru, menyenggol lengan kakaknya pelan.
"Lihat deh, Mas Adhi. Mbak Yuri sama Kenzie kok malah kelihatan kayak udah kenal lama ya? Kenzie lengket banget."
Adhiyaksa terkekeh renyah, menyesap cangkir kopinya seraya menatap Yuri lekat-lekat lewat kacamata peraknya.
"Mbak Yuri punya energi yang tenang dan hangat. Anak kecil itu jujur, Kenzie bisa merasakan ketulusannya."
Yuri mendongak, menyambut tatapan Adhiyaksa dengan senyuman anggun yang kini jauh lebih lepas dan percaya diri.
"Terima kasih ya, Mas Adhi, Mbak Reina... dan Kenzie," tutur Yuri tulus dengan suara yang stabil dan berwibawa.
"Kehadiran Kenzie benar-benar bikin pikiran saya terang benderang lagi. Saya merasa punya energi penuh buat menuntaskan semua ini."
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏