Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tanpa membuang waktu, Lucas merengkuh tubuh Aira yang masih tak sadarkan diri ke dalam gendongannya.
Ia memeluk wanita itu dengan amat hati-hati, seolah membawa barang paling berharga dan rapuh di dunia.
Lucas menoleh ke arah Arum dan Rizal yang berdiri cemas di dekat meja.
"Arum, Rizal, kalian berdua kembali ke dapur sekarang dan jalankan operasional seperti biasa," perintah Lucas tegas namun bernada tenang.
"Arum, tolong siapkan sup ayam hangat dan air jahe hangat. Begitu selesai, minta staf antarkan langsung ke suite room ini."
"Baik, Pak Lucas! Segera kami siapkan," jawab Arum sigap seraya memberi isyarat pada Rizal untuk menyertainya kembali ke dapur utama.
Lucas lalu memalingkan pandangan tajamnya pada asisten pribadinya.
"Randy, kamu ikut dokter pribadi sekarang ke laboratorium. Dalam waktu setengah jam, aku harus sudah tahu hasil tes kesuburanku yang sebenarnya!"
"Siap, Tuan Lucas. Saya akan pastikan prosesnya berjalan secepat mungkin," balas Randy membungkuk hormat, lalu bergegas pergi menyusul langkah dokter.
Setelah memberikan instruksi, Lucas melangkah lebar menelusuri koridor VIP menuju President Suite Room tempatnya menginap.
Dengan perlahan, ia mendaratkan tubuh Aira di atas ranjang king size yang empuk dan menyelimutinya hingga sebatas dada.
Lucas duduk di tepi ranjang, menatap lekat-lekat wajah pucat Aira yang kini terlihat begitu pasrah. Jemarinya terulur, mengusap lembut beberapa helai rambut yang menutupi kening wanita itu.
"Siapa sebenarnya kamu, Aira?" gumam Lucas lirih dengan dada berdebar kencang.
"Dan, apakah di dalam tubuhmu benar-benar ada benih dariku?"
Sementara Aira masih terlelap dalam tidur nyenyaknya di atas ranjang suite room, di laboratorium medis rumah sakit pribadi milik keluarga Lucas, dokter senior sibuk memeriksa ulang sampel sel spermatozoa Lucas yang tersimpan di dalam sistem penyimpanan khusus.
Mikroskop canggih digunakan untuk meneliti pergerakan, jumlah, dan kualitas sel tersebut secara mendalam.
Hasil tes kilat yang telah diverifikasi ulang dengan cermat itu menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan dimana sel spermatozoa Lucas sepenuhnya aktif, sehat, dan memiliki tingkat kesuburan yang sangat tinggi.
Vonis mandul bertahun-tahun lalu jelas merupakan kesalahan fatal dari pihak laboratorium lama.
Tepat setengah jam kemudian, dokter melangkah keluar dari ruang pemeriksaan dan menyerahkan lembaran berkas resmi kepada Randy yang menunggu di koridor dengan wajah tegang.
"Tuan Randy, ini hasil pemeriksaannya," ujar dokter tegas.
Randy membaca lembaran kertas tersebut dengan cepat.
Mata sang asisten pribadi melebar seketika, dadanya berdebar keras melihat angka dan analisis yang tertera di sana.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Randy langsung menekan tombol panggilan cepat ke ponsel atasannya.
Di dalam suite room, ponsel pribadi Lucas yang berada di dalam saku kemejanya bergetar.
Lucas yang sedang duduk di sisi ranjang Aira segera mengangkat panggilan tersebut.
"Bagaimana, Randy?" desak Lucas langsung pada inti pertanyaan, suaranya terdengar begitu menuntut dan penuh ketegangan.
"Tuan Lucas.," suara Randy di seberang telepon bergetar hebat antara rasa syok dan bahagia.
"Hasil analisis laboratorium resmi menyatakan bahwa kondisi kesuburan Anda seratus persen normal dan sangat tinggi. Vonis masa lalu itu murni kesalahan teknis laboratorium."
Randy menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Chef Aira positif hamil benih Anda, Tuan. Dan, Anda tidak mandul."
Mendengar ucapan Randy, Lucas membeku seketika. Ponsel di genggamannya serasa nyaris terlepas.
Kalimat 'Chef Aira hamil benih Anda. Anda tidak mandul' berulang kali bergema menghantam dinding dadanya, menyulut sebuah gelombang kebahagiaan dan haru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia menatap wajah Aira yang masih belum sadarkan diri.
Tak berselang lama, terdengar suara rintihan pelan keluar dari bibir pucat Aira.
Perlahan-lahan, kelopak matanya yang berat bergetar lalu terbuka, menyesuaikan pandangan dengan pendar cahaya lampu gantung bernuansa keemasan yang hangat.
Rasa pusing masih menyisakan di kepalanya, namun aroma teh jahe hangat dan wangi mint yang menenangkan segera menyapa indra penciumannya.
Aira mengedipkan matanya beberapa kali hingga pandangannya yang samar menjadi jernih kembali.
Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah langit-langit kamar yang begitu megah, berpadu dengan gorden sutra tebal yang terurai rapi. Ini bukan area dapur, bukan pula rumah dinasnya.
Aira menggeser pandangannya ke samping dan melihat sesosok pria bertubuh tegap dengan kemeja tergulung hingga siku duduk di tepi ranjang tepat di sebelahnya.
Wajah tampan berahang tegas itu menatapnya dengan bauran rasa cemas, haru, dan kehangatan yang amat dalam.
"Kamu sudah sadar?" tanya Lucas dengan suara yang sangat lembut.
Aira mencoba mengingat dimana beberapa saat sebelum ia pingsan mendadak berputar cepat di dalam kepalanya.
Pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah pemilik Hotel Bintang Purnamasekaligus pria yang pernah menghabiskan malam membara bersamanya di kamar ini.
"Pak Lucas?" bisik Aira terbata-bata, berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih lemas.
"Kenapa saya ada di sini? Maafkan saya, tadi saya pingsan di depan Bapak."
Sebelum Aira sempat merapikan selimutnya atau beranjak turun dari tempat tidur, jemari kekar Lucas bergerak perlahan menyentuh punggung tangan Aira yang dingin.
Sentuhan itu hangat dan mantap, membuat napas Aira tertahan seketika.
"Jangan bergerak dulu, Aira. Tubuhmu masih sangat lemas," ucap Lucas sambil menahan pergerakan Aira agar tetap bersandar nyaman di tumpukan bantal empuk.
Aira menatap tangan Lucas yang menggenggam tangannya dengan bingung.
Tatapan mata pria itu tidak lagi mengandung misteri seperti malam itu, melainkan sebuah kepastian yang amat kuat.
"Pak Lucas, makanan Bapak tadi—"
"Lupakan soal makanan tadi atau tugas dapurmu hari ini," potong Lucas seraya mengusap lembut punggung tangan Aira dengan ibu jarinya.
"Dokter baru saja memeriksamu."
Dada Aira berdebar kencang. Wajahnya meringis pelan mengingat rasa mual hebat yang menyerangnya sejak pagi.
"Dokter? Apa, saya sakit parah, Pak? Saya cuma kelelahan dan masuk angin biasa—"
"Kamu tidak sakit, Aira," ujar Lucas memotong kalimatnya lagi.
Pria itu mendekatkan duduknya, menatap lurus ke dalam iris mata Aira dengan pendar kebahagiaan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.
"Kamu sedang mengandung," tutur Lucas perlahan namun tegas di setiap kata.
"Usia kandunganmu baru beberapa minggu. Dan anak yang sedang kamu kandung sekarang adalah anakku."
Deg!
Jantung Aira seolah berhenti berdetak saat kalimat itu meluncur tajam menghantam kesadarannya.
Wajahnya yang sudah pucat kian memutih, menatap Lucas dengan raut syok dan tidak percaya.
"B-bukankah, malam itu Bapak sendiri yang mengatakan kalau Bapak mandul?" bisik Aira dengan suara bergetar hebat.
Matanya mulai berkaca-kaca, teringat jelas bisikan penenang pria itu di dalam kegelapan malam yang membuat Aira akhirnya pasrah menyerahkan keperawanannya.
Aira menarik tangannya perlahan dari genggaman Lucas, menatap pria itu dengan pandangan penuh prasangka.
"Apa, Bapak membohongi saya malam itu? Bapak sengaja memanfaatkan saya?"
Melihat kepanikan dan raut terluka di wajah Aira, Lucas dengan cepat meraih kembali jemari Aira, menahannya dengan lembut namun penuh penekanan agar wanita itu tidak makin ketakutan.
"Tidak, Aira. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak pernah berniat membohongimu," tegas Lucas, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aira tanpa ada kebohongan sedikit pun.
Lucas menarik napas panjang, meredakan ketegangan di antara mereka.
"Bertahun-tahun lalu, dokter pribadiku menyatakan kalau aku mandul akibat vonis medis yang salah. Malam itu, aku sungguh percaya bahwa aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan pada wanita mana pun. Itu sebabnya aku mengatakan hal itu padamu."
Aira terpaku, bibirnya sedikit terbuka mendengar penjelasan jujur dari pria berwibawa di hadapannya.
"Tapi, baru saja hasil tes laboratorium terbaruku keluar. Dokter menyatakan kalau pemeriksaan masa lalu itu murni kesalahan teknis. Aku sehat, Aira, dan benih yang tumbuh di dalam rahimmu sekarang murni anakku."
Aira menyentuh perut ratanya dengan jemari bergetar.
Rasa tidak percaya, haru, dan bingung berkecamuk hebat di dalam dadanya.
Di saat mantan suaminya mencampakkannya dan mengejeknya'mandul', takdir justru memberinya mukjizat berupa seorang bayi dari pria paling berpengaruh di hotel ini.
"Anak kita?" gumam Aira lirih, air mata haru akhirnya menetes melewati pipinya.
Lucas mendekat, menyapu air mata di pipi Aira menggunakan ibu jarinya dengan teramat lembut.
"Ya, Aira. Anak kita. Mulai detik ini, kamu dan bayi di dalam kandunganmu adalah prioritas utamaku."
Mendengar penjelasannya, pikiran Aira bukannya tenang, malah langsung melayang ke nasib masa depannya.
Wajahnya panik, kedua matanya menatap Lucas dengan raut penuh ketakutan.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Pak?" bisik Aira cemas, suaranya sedikit bergetar.
"Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya butuh pekerjaan ini. Saya janji akan tetap profesional memimpin dapur!"
Lucas yang mendengarnya sempat terpaku sejenak, sebelum akhirnya tawa renyahnya pecah menyapu keheningan kamar suite.
Tawa yang begitu lepas, melepaskan seluruh ketegangan yang menyelimuti mereka sejak tadi.
"Memotong gaji atau memecatmu?" ujar Lucas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya gemas.
"Aira, kamu ini sedang mengandung anakku, calon pewaris Hotel Bintang Purnama. Kenapa berpikir aku akan memecatmu?"
Aira mengedipkan matanya bingung, pipinya merona tipis menahan malu.
Lucas menatapnya hangat, lalu mengusap lembut punggung tangan Aira.
"Kamu tetap boleh bekerja sebagai Head Chef sesuai keinginanmu. Tapi ada syaratnya: kamu harus menjaga kesehatanmu dan tidak boleh terlalu lelah. Dan, nanti kita akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu secara menyeluruh." ucap Lucas.
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu