NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 002 - Panas di Telapak Tangan

Perih di telapak tangan kirinya tidak kunjung surut. Gu Yuan meraba tepi cermin di dalam saku, merasakan panas sisa yang perlahan memudar menjadi dingin logam biasa. Kulit telapaknya melepuh membentuk lingkaran merah kehitaman, terasa nyeri berdenyut setiap kali ia mengepalkan jemari.

Ia berjalan cepat ke sudut bilik, menyambar periuk tanah liat di atas tungku arang kecil. Air di dalamnya sudah mendidih sejak sebelum fajar, menyemburkan uap tipis berbau kapur.

Dua batang dupa bukanlah waktu yang lama. Jika ia hanya duduk diam menunggu jubah biru itu membawanya ke gua air terjun, kepalanya akan terpisah dari leher sebelum matahari menyentuh pucuk pohon pinus. Kabur sekarang lewat jalan setapak depan barak juga tindakan bunuh diri; menara pengawas di gerbang timur memiliki tiga pemanah yang bertugas mengawasi setiap murid kerja paksa yang berkeliaran di luar jam tugas.

Suara langkah kaki kembali terdengar dari luar. Lebih cepat dari perkiraannya.

Luo Biao rupanya tidak menunggu di balai dalam. Pria itu sudah berdiri di balik pintu bambu bersama rekannya, menendang bagian bawah kusen dengan tumit sepatu bot kulitnya.

“Gu Yuan! Dua batang dupa sudah lewat,” teriak pria berpipi cekung itu dari luar, nadanya meninggi dengan ketidaksabaran yang kentara. “Jangan membuat Tetua Mo menunggu satu tarikan napas pun. Keluar sekarang!”

Gu Yuan menarik napas pendek. Ia mengangkat periuk tanah liat panas itu menggunakan secarik kain lap compang-camping, lalu menuangkan sebagian air mendidih ke mangkuk gerabah kasar.

Ia tidak boleh terlihat tenang, tetapi ia juga tidak boleh terlihat mencurigakan. Di mata pengawas seperti Luo Biao, ketakutan yang kikuk adalah hal lumrah bagi murid rendahan yang terbiasa hidup tertindas.

“Buka pintunya sendiri atau aku dobrak?!” seru suara dari luar lagi, disusul derak palang kayu yang terdorong.

Gu Yuan sengaja tersandung ke arah pintu.

Prang!

Mangkuk gerabah terlepas dari genggamannya, menghantam lantai tanah tepat saat palang pintu terdorong lepas dari kancingnya. Air mendidih menyiram punggung kaki kiri Gu Yuan yang hanya beralaskan sandal jerami rapuh. Rasa panas menyengat langsung membakar kulit kakinya hingga memerah matang seketika.

Gu Yuan jatuh berlutut di tanah, memegangi pergelangan kakinya sambil terbatuk hebat. Batuknya kering dan parau, diselingi erangan menahan sakit yang terdengar memilukan. Air matanya menetes keluar secara alami akibat rasa panas yang mendadak menyerang kulit kakinya.

Pintu terbuka lebar. Luo Biao melangkah masuk dengan alis bertaut rapat, disusul rekannya yang menutup hidung karena bau uap asam dari lantai becek bilik itu.

“Sialan! Apa yang kau lakukan, bocah bodoh?!” bentak Luo Biao sambil menendang pecahan mangkuk gerabah ke sudut dinding. “Kau mau membakar diri sendiri sebelum sempat menerima pil berkah?”

“Senior… maafkan saya…” Gu Yuan terbatuk lagi, suaranya serak dan tersengal-sengal di lantai tanah, tangannya mencengkeram kaki yang memerah. “Saya terburu-buru… air pembersih luka kemarin tumpah… batuk darah saya kambuh sejak bekerja di tambang belerang bawah semalam…”

Pria jangkung di samping Luo Biao mundur selangkah, menatap kaki Gu Yuan yang melepuh dengan jijik. “Luo Biao, jangan biarkan dia mengotori jubah sutra biru pemberian tetua. Darah kotor dari batuknya bisa merusak serat kain. Tetua Mo sangat teliti soal kebersihan wadah.”

Mendengar kata wadah, tatapan Luo Biao sedikit berubah. Ia melirik jubah sutra biru yang masih terlipat rapi di atas dipan reyot, lalu menatap Gu Yuan yang terkapar di lantai sambil memegangi dadanya yang kembang-kempis tak teratur.

Bagi mereka, Gu Yuan bukan manusia; ia hanyalah bejana darah berjalan. Namun bejana yang rusak atau terkontaminasi penyakit paru tambang sebelum waktu ritual bisa membuat Tetua Mo murka kepada pengawas yang membawanya.

Luo Biao meludah ke lantai, tepat sejengkal dari jari tangan Gu Yuan. “Dasar sampah tidak berguna. Diberi rezeki langit malah menyiram kaki sendiri.”

Ia mendengus pendek, lalu menoleh ke rekannya. “Beri dia minyak gosok murahan dari pos jaga. Kita bawa dia saat lonceng tengah hari berdentang tiga kali. Saat itu Tetua Mo baru selesai memeriksa tungku utama di balai obat.”

“Tapi Tetua Mo meminta dia sebelum kabut naik…” bisik si pria jangkung ragu.

“Tetua ingin darah yang tenang, bukan bangkai yang muntah nanah di atas altar,” potong Luo Biao dingin. Ia menatap Gu Yuan yang masih meringkuk di tanah. “Tengah hari. Kalau saat lonceng ketiga berbunyi kau belum berdiri di depan pintu barak dengan jubah biru itu terpasang, aku akan menyeretmu dengan rantai anjing. Paham?!”

Gu Yuan mengangguk lemah, kepalanya terkulai ke lantai. “Terima kasih atas kemurahan hati Senior Luo… saya pasti siap…”

Kedua pengawas itu melangkah keluar tanpa menutup pintu dengan rapat. Suara sepatu bot mereka berderak menjauh menyusuri jalan setapak tanah liat.

Begitu derap langkah mereka benar-benar menghilang di ujung lorong barak, batuk Gu Yuan berhenti seketika.

Ia perlahan bangkit berdiri. Napasnya kembali teratur dan terukur. Matanya menatap punggung kakinya yang melepuh merah. Rasa perihnya menyengat, tetapi luka bakar tingkat ringan ini adalah harga murah untuk membeli waktu tambahan hingga tengah hari—sekitar empat jam dari sekarang.

Gu Yuan menutup kembali pintu biliknya. Karena kait kayu sudah patah terdorong sepatu Luo Biao, ia menyeret peti kayu tua berisi perkakas tambang untuk mengganjal daun pintu dari dalam.

Ia duduk bersila di atas dipan bambu yang berderit menahan bobot tubuhnya. Tangan kirinya meraba cermin perunggu di balik jubah abu-abunya. Permukaannya kini dingin, mengendapkan rahasia kelam yang baru saja ia saksikan.

‘Tengah hari,’ batin Gu Yuan, menghitung di dalam kepala. ‘Empat jam. Pergantian regu pengawal gerbang berlangsung saat lonceng tengah hari berdentang. Tapi mereka tidak akan membiarkan barak luar tanpa penjagaan.’

Dinding bilik bambu barak murid luar sangat tipis, hanya terbuat dari anyaman bilah bambu kasar yang disumbat jerami dan lumpur kering. Dari arah bilik sebelah kanan yang kosong sejak sebulan lalu karena penghuninya tewas tertimbun runtuhan batu tambang, tiba-tiba terdengar suara derit langkah pelan.

Dua pasang kaki melangkah berjingkat di atas lantai kayu bilik sebelah.

Gu Yuan membekukan gerakannya. Ia menempelkan telinganya ke celah anyaman bambu, menahan napas serendah mungkin.

Suara bisikan pelan merayap menembus celah anyaman.

“Kunci gerbang barak timur sudah dipasang gembok ganda,” bisik sebuah suara yang terdengar seperti salah satu murid senior pengawal gerbang. “Tetua Mo memberi instruksi agar tidak ada satu pun murid luar yang diizinkan keluar ke area tambang sampai malam ini. Rombongan tumbal kali ini ada sepuluh orang.”

“Bagaimana dengan anak di bilik sebelah? Luo Biao bilang dia melepuh terkena air mendidih.”

“Biarkan saja. Dia tidak akan bisa lari dengan kaki melepuh seperti itu. Begitu lonceng tengah hari berbunyi, kita kunci jalur lorong dapur dari luar. Kalau dia mencoba melarikan diri lewat saluran air limbah, regu panah menara barat sudah bersiap menembak siapa pun yang merayap di parit.”

“Bagus. Pastikan racun penenang sudah dicampur ke dalam bubur jatah makan siang mereka. Tetua Mo tidak ingin ada yang meronta saat digiring ke gua air terjun.”

Bisikan itu berakhir dengan suara decit pintu bilik sebelah yang ditutup pelan, disusul derak kunci gembok yang diputar dari luar.

Gu Yuan menarik kepalanya dari dinding bambu. Wajahnya gelap di bawah temaram cahaya fajar yang menyusup lewat celah atap.

Sepuluh murid buruh telah dijadwalkan menjadi tumbal, sementara seluruh jalur keluar barak ditutup jebakan dan kuncian berlapis. Racun penenang dicampurkan ke bubur dapur, gerbang timur dikunci ganda, dan regu pemanah bersiaga di sepanjang parit limbah.

Jalan keluarnya semakin sempit. Jika ia ingin menembus kepungan ini, ia harus menguji rute gerbang sebelum bubur beracun itu dibagikan.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!